SILABUS
Nama Sekolah : MTSN Bagor
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : VII/II
Standar Kompetensi : Menulis
16.Mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman melalui kegiatan menulis kreatif puisi
No SK
Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan Belajar
Indikator
Penilaian
Alokasi Waktu
Sumber/Sarana/Prasarana
Jenis Tagihan
Bentuk
Jenis Instrumen
16
16.1 Menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam
Teknik penulisan puisi kreatif serta unsur-unsur yang terkandung
Keindahan lingkungan alam sekitar
Guru menjelaskan mengenai materi teknik-teknik penulisan puisi kreatif beserta unsur-unsurnya
Memberikan contoh puisi kepada siswa bertemakan tentang keindahan alam
Membimbing siswa untuk menulis puisi yang berkenaan dengan keindahan alam
Mengevaluasi dan menilai hasil tulisan puisi siswa
Siswa Mampu,
Memahami teknik-teknik penuliasan puisi kreatif serta unsur-unsurnya
Menuliskan puisi yang berkenaan dengan keindahan alam
Menanggapi tulisan puisi yang di hasilkan
Menjawab pertanyaan dari guru tentang puisi yang ditulis
Tulis
Unjuk kerja
Lisan
Lisan
Subjektif
Jelaskan teknik-teknik penulisan puisi kreatif
Tuliskan sebuah puisi yang berkenaan dengan keindahan alam
Jelaskan unsur-unsur puisi yang terkandung
dalam puisi yang anda tulis
6x35 menit
Contoh puisi
Teknik-teknik penulisan puisi kreatif
Buku bahasa Indonesia kelas VII
Tuhan, menghadiahkan kehidupan begitu menakjubkan. Bermain, memainkan, dimainkan, dan permainan, saling menyinergikan menjadi peristiwa.....
Senin, 09 Agustus 2010
Kumpulan Puisi (Midun Aliassyah)
SENJA DI TAPAL KUDA
Pasir mendesir bertasbih dalam heningan
Nyiur melambai tak berharap angin kan meniup.
Seloka cinta mahkota tak berraja
Nama tak berjasa, hura huru orang Madura
Sepi, sunyi, gelap tak bercahaya
Tanah tak bertuan, tapi berinduk
Rempah-rempah tak bertuah
Kering keronta si jagad marabunta.
Suara tak berkata….
Ketika penyamun melukai luka lara
Tak berdeming, tanggis mata menggangga
Air mata berbatu, laras kan menuding
Peluru menderai membabi buta. Tanpa henti!!!
Satu nyawapun tak cukup
Darah mengalir semerah samudera menimbun dosa yang terkulai.
Di kala senja tiba di Tapal Kuda.
Pasir mendesir bertasbih dalam heningan
Nyiur melambai tak berharap angin kan meniup.
Seloka cinta mahkota tak berraja
Nama tak berjasa, hura huru orang Madura
Sepi, sunyi, gelap tak bercahaya
Tanah tak bertuan, tapi berinduk
Rempah-rempah tak bertuah
Kering keronta si jagad marabunta.
Suara tak berkata….
Ketika penyamun melukai luka lara
Tak berdeming, tanggis mata menggangga
Air mata berbatu, laras kan menuding
Peluru menderai membabi buta. Tanpa henti!!!
Satu nyawapun tak cukup
Darah mengalir semerah samudera menimbun dosa yang terkulai.
Di kala senja tiba di Tapal Kuda.
cONTOH Script Berita SIARAN
Script Berita
Judul : Pascabentrokan Berdarah Di Bangkok(Thailand)
Selamat sore pemirsa/kembali lagi bersama saya Adinda Citra/Dalam Reportase sore edisi(kamis 27 Mei 2010)//
Berita utama datangnya dari Bangkok (Thailand)//Pascabentrokan berdarah antara massa kaus merah dan aparat militer Bangkok sekitar 4 hari ini/yang menewaskan setidaknya 25 orang /otoritas setempat pun berupaya mengevakuasi anak-anak dan wanita dari zona demonstrasi di Ratchapasong/Palang merah Internasional akan dilibatkan dikancah bentrokan antara aparat militer Bangkok dan massa kaos merah anti pemerintah tersebut / yang membuat pemerintah memberlakukan jam malam di Bangkok//Dan saat ini kami telah terhubung dengan reporter kami yang sedang berada di Bangkok Thailand/ya saudara Imanuel,bisa anda jelaskan suasana di sana pascabentrokan antara massa kaos merah anti pemerintah dan aparat militer Bangkok//
Immanuel:
Ya terima kasih saudari Dinda yang berada di Studio//Dapat dilaporkan suasana pascabentrokan antara massa kaos merah anti pemerintah dan aparat militer Bangkok empat hari terakhir ini/ terlihat disini jalan-jalan utama di kota Bangkok masih banyak terdapat police line dan pecahan-pecahan kaca mobil/akibat bentrok yang terjadi 4 hari terakhir ini/
Dinda :
Ya saudara Immanuel bisa anda jelaskan sebab terjadinya bentrokan berdarah yang terakhir//Dan pemberlakuan jam malam di Bangkok//
Immanuel :
Ya terima kasih saudari Dinda/sebab bentrokan berdarah yang terjadi terakhir berawal saat aparat militer Bangkok berupaya mengunci semua akses ke zona demonstrasi/seperti memutus jaringan telepon/listrik dan air/serta mendirikan sejumlah pos pemeriksaan di beberapa jalan di sekitar Ratchapasong//
Ya untuk pemberlakuan jam malam di Bangkok yang dilakukan pemerintah Thailand/telah dilaksanakan 4 hari terakhir ini pascabentrokan/kebijakan pemerintah ini diharapkan dapat memperlancar kerja Palang Merah/ untuk mengevakuasi wanita dan anak-anak dari zona demonstrasi di Ratchapasong (Bangkok/Thailand)/pemerintah Thailand berpendapat bahwa/jam malam berguna untuk menghentikan aksi demonstran bersejata//
Dan sekian berita yang dapat saya laporkan dari Bangkok (Thailand)/,Dan selanjutnya saya kembalikan lagi kepada saudari Dinda di Studio//
Dinda :
Ya terima kasih saudara Immanuel yang berada langsung di Bangkok Thailand/selamat bertugas/Dan tidak terasa 30 menit sudah kami menemani anda/dalam reportase sore edisi (Kamis 27 Mei 2010)/saya Adinda Citra dan semua kerabat kerja yang bertugas /pamit/terima kasih atas perhatiannya/Wassalam//
Judul : Pascabentrokan Berdarah Di Bangkok(Thailand)
Selamat sore pemirsa/kembali lagi bersama saya Adinda Citra/Dalam Reportase sore edisi(kamis 27 Mei 2010)//
Berita utama datangnya dari Bangkok (Thailand)//Pascabentrokan berdarah antara massa kaus merah dan aparat militer Bangkok sekitar 4 hari ini/yang menewaskan setidaknya 25 orang /otoritas setempat pun berupaya mengevakuasi anak-anak dan wanita dari zona demonstrasi di Ratchapasong/Palang merah Internasional akan dilibatkan dikancah bentrokan antara aparat militer Bangkok dan massa kaos merah anti pemerintah tersebut / yang membuat pemerintah memberlakukan jam malam di Bangkok//Dan saat ini kami telah terhubung dengan reporter kami yang sedang berada di Bangkok Thailand/ya saudara Imanuel,bisa anda jelaskan suasana di sana pascabentrokan antara massa kaos merah anti pemerintah dan aparat militer Bangkok//
Immanuel:
Ya terima kasih saudari Dinda yang berada di Studio//Dapat dilaporkan suasana pascabentrokan antara massa kaos merah anti pemerintah dan aparat militer Bangkok empat hari terakhir ini/ terlihat disini jalan-jalan utama di kota Bangkok masih banyak terdapat police line dan pecahan-pecahan kaca mobil/akibat bentrok yang terjadi 4 hari terakhir ini/
Dinda :
Ya saudara Immanuel bisa anda jelaskan sebab terjadinya bentrokan berdarah yang terakhir//Dan pemberlakuan jam malam di Bangkok//
Immanuel :
Ya terima kasih saudari Dinda/sebab bentrokan berdarah yang terjadi terakhir berawal saat aparat militer Bangkok berupaya mengunci semua akses ke zona demonstrasi/seperti memutus jaringan telepon/listrik dan air/serta mendirikan sejumlah pos pemeriksaan di beberapa jalan di sekitar Ratchapasong//
Ya untuk pemberlakuan jam malam di Bangkok yang dilakukan pemerintah Thailand/telah dilaksanakan 4 hari terakhir ini pascabentrokan/kebijakan pemerintah ini diharapkan dapat memperlancar kerja Palang Merah/ untuk mengevakuasi wanita dan anak-anak dari zona demonstrasi di Ratchapasong (Bangkok/Thailand)/pemerintah Thailand berpendapat bahwa/jam malam berguna untuk menghentikan aksi demonstran bersejata//
Dan sekian berita yang dapat saya laporkan dari Bangkok (Thailand)/,Dan selanjutnya saya kembalikan lagi kepada saudari Dinda di Studio//
Dinda :
Ya terima kasih saudara Immanuel yang berada langsung di Bangkok Thailand/selamat bertugas/Dan tidak terasa 30 menit sudah kami menemani anda/dalam reportase sore edisi (Kamis 27 Mei 2010)/saya Adinda Citra dan semua kerabat kerja yang bertugas /pamit/terima kasih atas perhatiannya/Wassalam//
PENYUSUNAN SILABUS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK MTS KELAS VII SEMESTER II
1.
2.
3.
PENYUSUNAN SILABUS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK MTS KELAS VII SEMESTER II
TUGAS MATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN BIDANG STUDI
Oleh ;
MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
Rencana Persiapan Pembelajaran
Bidang studi : Bahasa Indonesia
Jenjang : SMP
Kelas/Semester :VIII/2
I.Standar Kompetensi
10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan telepon.
II.Kompetensi Dasar
10.1 Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas tokoh dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai.
III.Indikator
Mampu mengemukakan identitas tokoh, keunggulan, dan alasan mengidolakannya dengan, pilihan kata yang sesuai.
Mampu menentukan keunggulan tokoh dengan argumen yang tepat.
Mampu menceritakan tokoh dengan pedoman kelengkapan identitas tokoh.
IV.Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu mengemukakan identitas tokoh setelah guru memberikan tugas membaca artikel yang terdapat wacana yang berisi tokoh idola.
Mampu menentukan keunggulan tokoh dengan argumen yang tepat
Mampu menceritakan tokoh dengan pedoman kelengkapan identitas tokoh dengan runtut setelah guru memberikan
V. Materi Pembelajaran
Wacana
VI.Metode Pembelajaran
1. Ceramah dan Tanya Jawab
2. Penugasan
VII.Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Awal
1.Tegur sapa.
2.Guru menjelaskan secara singkat tujuan pembelajaran
3.Siswa dan guru bertanya jawab tentang tokoh idola dan alasan siswa mengidolakannya.
4.Guru menjelaskan secara singkat materi pokok yang akan dibelajarkan.
Kegiatan Inti
a.Siswa membaca artikel tentang tokoh yang diidolakannya dan menemukan (1) identitas dan (2) keunggulan tokohnya .
b.Siswa secara klasikal bertanya jawab tentang identiatas dan keunggulan tokoh yang diidolakannya.
c.Secara perorangan, masing-masing siswa berlatih menceritakan tokoh idolanya.
d.Melalui pengundian, secara bergantian siswa ditugaskan menceritakan tokoh idolanya di depan kelas.
Kegiatan Akhir
Siswa dan guru melakukan refleksi dengan cara menentukan keteladan tokoh idola yang dapat ditiru siswa untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
VIII. Sumber Belajar
1. Artikel tentang tokoh idola
2. Buku teks penunjang.
IX.Penilaian
Tagihan:
Tugas Individu
Unjuk Kerja
Observasi untuk Penilaian Proses Pembelajaran.
Bentuk
a.Tulis/subjektif
b.Lembar Observasi
Instrumen
1)Siapakah nama tokoh idola yang kamu baca tadi?
2)Kapan dan di manakah tokoh tersebut dilahirkan?
3)Apa yang membuat tokoh tersebut diidolakan?
4)Ceritakanlah tokoh idolamu dengan mengemukakan identitas, keunggulan, dan alasan mengidolakannya!
Observasi penilaian :
Nama Siswa
Menceritakan tokoh idola dengan :
suara jelas dan intonasi yang tepat
lengkap
runtut
2.
3.
PENYUSUNAN SILABUS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK MTS KELAS VII SEMESTER II
TUGAS MATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN BIDANG STUDI
Oleh ;
MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
Rencana Persiapan Pembelajaran
Bidang studi : Bahasa Indonesia
Jenjang : SMP
Kelas/Semester :VIII/2
I.Standar Kompetensi
10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan telepon.
II.Kompetensi Dasar
10.1 Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas tokoh dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai.
III.Indikator
Mampu mengemukakan identitas tokoh, keunggulan, dan alasan mengidolakannya dengan, pilihan kata yang sesuai.
Mampu menentukan keunggulan tokoh dengan argumen yang tepat.
Mampu menceritakan tokoh dengan pedoman kelengkapan identitas tokoh.
IV.Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu mengemukakan identitas tokoh setelah guru memberikan tugas membaca artikel yang terdapat wacana yang berisi tokoh idola.
Mampu menentukan keunggulan tokoh dengan argumen yang tepat
Mampu menceritakan tokoh dengan pedoman kelengkapan identitas tokoh dengan runtut setelah guru memberikan
V. Materi Pembelajaran
Wacana
VI.Metode Pembelajaran
1. Ceramah dan Tanya Jawab
2. Penugasan
VII.Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Awal
1.Tegur sapa.
2.Guru menjelaskan secara singkat tujuan pembelajaran
3.Siswa dan guru bertanya jawab tentang tokoh idola dan alasan siswa mengidolakannya.
4.Guru menjelaskan secara singkat materi pokok yang akan dibelajarkan.
Kegiatan Inti
a.Siswa membaca artikel tentang tokoh yang diidolakannya dan menemukan (1) identitas dan (2) keunggulan tokohnya .
b.Siswa secara klasikal bertanya jawab tentang identiatas dan keunggulan tokoh yang diidolakannya.
c.Secara perorangan, masing-masing siswa berlatih menceritakan tokoh idolanya.
d.Melalui pengundian, secara bergantian siswa ditugaskan menceritakan tokoh idolanya di depan kelas.
Kegiatan Akhir
Siswa dan guru melakukan refleksi dengan cara menentukan keteladan tokoh idola yang dapat ditiru siswa untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
VIII. Sumber Belajar
1. Artikel tentang tokoh idola
2. Buku teks penunjang.
IX.Penilaian
Tagihan:
Tugas Individu
Unjuk Kerja
Observasi untuk Penilaian Proses Pembelajaran.
Bentuk
a.Tulis/subjektif
b.Lembar Observasi
Instrumen
1)Siapakah nama tokoh idola yang kamu baca tadi?
2)Kapan dan di manakah tokoh tersebut dilahirkan?
3)Apa yang membuat tokoh tersebut diidolakan?
4)Ceritakanlah tokoh idolamu dengan mengemukakan identitas, keunggulan, dan alasan mengidolakannya!
Observasi penilaian :
Nama Siswa
Menceritakan tokoh idola dengan :
suara jelas dan intonasi yang tepat
lengkap
runtut
“ANALYSIS ONE SAMPLE T-TEST” TUGAS PRAKTIKUM STATISTIK
TUGAS PRAKTIKUM STATISTIK
Oleh
MOH. BADRUS SOLICHIN
NIM 080210402002
PROGAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2009
“ANALYSIS ONE SAMPLE T-TEST”
Permasalahan 1:
Pelatih bola basket, ingin mengetahui tinggi badan mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia dengan menduga rata-rata tinggi mahasiswa 165. Dan pelatih memperoleh data dari 50 mahasiswa dan diketahui berdistribusi normal. Dan ujilah dugaan pelatih tersebut!
Tabel Tinggi Mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia
Nama Tinggi Badan
Andika Budhi Sanjaya
166 cm
Inayatul Maula
160cm
Qurrotun Ayunin
155 cm
Qori winda E
145cm
Diyan Rosmala Sari
153 cm
Rico Rosi estu P
175 cm
Kharisma Rizqi A
158 cm
Nur Aini Mufaidah
152 cm
Nura Dila Widarti
160 cm
Rumsiah
151 cm
khomsiyatus Sholehah
154 cm
Nely Sa'adaniyah
163 cm
Risma galuh suhesti
151 cm
Rindi Chrisdian
175 cm
Indah Wahyu Savitri
152 cm
Tutut Elok Prasetyow
156 cm
Riska Nur Amita
160 cm
Siti Fatimah
155 cm
Yessi Kumalasari
158 cm
Dianita Nur Holifah
158 cm
Azizatun Ni'mah
143 cm
Andhi Krisdhianto
167 cm
Era Widowati
155 cm
Ichwan Fanani
162 cm
Yuniar Arizta
172 cm
Fergie Dwita Mayasar
160 cm
Fales Eka P
170 cm
Utari Minangkaning P
160 cm
Isnani Mayasari
153 cm
Arina Arina Dwi R
153 cm
Greta Permanasari
160 cm
Bibit Dewi Windari
151 cm
Retno Ayu Deviyanti
158 cm
Salun Nafiah
156 cm
Rina Wulandari
158 cm
Maya Mega KD
162 cm
Denik Wulyawati
160 cm
Feriatul Qiptiyah
145 cm
Ali Usman
170 cm
Ugik Ghandes Arga K
153 cm
Fidiyan Nurul Hidaya
140 cm
Griffita Stefiahasti
154 cm
Dyah Yulianti
150 cm
Atut Diniyah
145 cm
Risna Cindra Sukma
156 cm
Endhika Haries Prata
165 cm
Evi Dwi Fatmayanti
165 cm
Moch. Bagus
155 cm
Ratna Yuliani
150 cm
Septiya Yuliani
163 cm
Penyelesaian Permasalahan:
Pelatih menduga tinggi badan mahasiswa Bahasa Indonesi sekitar 165 cm.
Rumusan Hipotesisnya:
Ho: Rata-rata tinggi badan 165 cm
H1: Rata-rata tinggi badan tidak sama dengan 165 cm
Hasil Interpretasinya:
T-Test
T Analisis Tabel:
Dari tabel di atas di peroleh rata-rata tinggi badan mahasiswa 157.42 dan standar devisionnya sebesar 7.693.
Analisis Tabel:
Dari tabel di atas diperoleh nilai t(hitung): 144.687 dengan probabilitas (sig): 0.000
Keputusan:
1.Menerima Ho jika terhitung>T tabel dan sig> 0.000
2.Menerima H1 jika terhitung< T tabel dan sig> 0.05
“INDEPENDENT SAMPLE T-TEST”
Permasalahan 2:
Bu Susi ingin mengetahui apakah ada perbedaan tinggi badan dan jenis kelemin antara laki-laki dan perempuan mahasiswa prodi Bahasa Indonesia!
Tabel Data
NAMA
JENIS KELAMIN
TINGGI BADAN
Andika budi sanjaya
laki-laki
166 cm
Inayatul maula
perempuan
160 cm
Qurotun ayunin
perempuan
155 cm
Qori winda E
perempuan
145 cm
Diyan Rosmala Sari
perempuan
153 cm
Rico Rosi estu P
laki-laki
175 cm
Kharisma Rizqi A
perempuan
158 cm
Nur Aini Mufaidah
perempuan
152 cm
Nura Dila Widarti
perempuan
160 cm
Rumsiah
perempuan
151 cm
khomsiyatus Sholehah
perempuan
154 cm
Nely Sa'adaniyah
perempuan
163 cm
Risma galuh suhesti
perempuan
151 cm
Rindi Chrisdian
laki-laki
175 cm
Indah Wahyu Savitri
perempuan
152 cm
Tutut Elok Prasetyowati
perempuan
156 cm
Riska Nur Amita
perempuan
160 cm
Siti Fatimah
perempuan
155 cm
Yessi Kumalasari
perempuan
158 cm
Dianita Nur Holifah
perempuan
158 cm
Azizatun Ni'mah
perempuan
143 cm
Andhi Krisdhianto
laki-laki
167 cm
Era Widowati
perempuan
155 cm
Ichwan Fanani
laki-laki
162 cm
Yuniar Arizta
laki-laki
172 cm
Fergie Dwita Mayasari
perempuan
160 cm
Fales Eka P
laki-laki
170 cm
Utari Minangkaning Putr
perempuan
160 cm
Isnani Mayasari
perempuan
153 cm
Arina Arina Dwi R
perempuan
153 cm
Greta Permanasari
perempuan
160 cm
Bibit Dewi Windari
perempuan
151 cm
Retno Ayu Deviyanti
perempuan
158 cm
Salun Nafiah
perempuan
156 cm
Rina Wulandari
perempuan
158 cm
Maya Mega KD
perempuan
162 cm
Denik Wulyawati
perempuan
160 cm
Feriatul Qiptiyah
perempuan
145 cm
Ali Usman
laki-laki
170 cm
Ugik Ghandes Arga K
perempuan
153 cm
Fidiyan Nurul Hidayah
perempuan
140 cm
Griffita Stefiahastika
perempuan
154 cm
Dyah Yulianti
perempuan
150 cm
Atut Diniyah
perempuan
145 cm
Risna Cindra Sukma
perempuan
156 cm
Endhika Haries Pratama
laki-laki
165 cm
Evi Dwi Fatmayanti
perempuan
165 cm
Moch. Bagus
laki-laki
155 cm
ratna mulyani
perempuan
150 cm
septiya ahsani
perempuan
163 cm
Penyelesaian Masalah:
Hipotesisnya;
Ho: rata-rata tinggi badan seorang laki-laki dan perempuan adalah sama.
H1: rata-rata tinggi badan seorang laki-laki dan perempuan adalah tidak sama.
T-Test
Analisis Tabel;
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata tinggi badan mahasiswa laki-laki adalah 167.70 cm dengan simpangan baku 6.147 dan standar eror mean 1.944. Sedanngkan rata-rata tinggi badan mahasiswa perempuan adalah 154.78 cm dengan simpangan baku 5.776 dan standar eror mean 0.913.
Uji Analisis F:
Terlihat bahwa F hitung untuk tinggi badan dengan equel variance assumed adalah 0.015 dengan probabolitas 0.903. Karena probabilitasnya > 0.05. maka Ho diterima karena varian laki-laki dan perempuan adalah sama.
Uji Analisis t:
Terlihat dari tabel diatas, bahwa t hitung adalah 6.252 dengan df 48 dan nilai significant= 0.000. sedangkan peneliti menggunakan taraf significant 5%. Karena berdasarkan besarnya probabilitas < 0.05 maka Psig berada pada daerah penolakan. (Maka Ho ditolak). “ONE WAY ANOVA” Permasalahan 3: Diketahui data golongan darah dan berat badan mahasiswa Bahasa Indonesia. Dan dilakukan pengujian nilai rata-rata berat badan dari 4 macam golongan darah dan kira-kira manakah yang berbeda pada taraf significant 5%? Tabel Data Gol.Darah Brt.badan O 50 Kg O 46 Kg AB 48 Kg B 38 kg O 50 Kg A 65 Kg O 45 Kg A 44 Kg A 48 Kg B 46 Kg O 50 Kg B 49 Kg O 53 Kg O 60 Kg O 44 Kg O 47 Kg A 52 Kg B 40 kg O 55 Kg O 47 Kg B 43 Kg A 57 Kg O 47,5 Kg A 50 Kg O 53 Kg O 56 Kg O 53 Kg A 50 Kg B 42 Kg AB 48 Kg A 43 Kg B 45 Kg B 50 Kg O 42 Kg A 42 Kg B 55 Kg B 47 Kg O 48 Kg O 45 Kg O 45 Kg B 40 kg O 48 Kg B 55 Kg B 37 Kg O 43 Kg B 50 Kg O 80 Kg B 44 Kg B 42 Kg B 47 Kg Penyelesaian Masalah: Ho; rata-rata berat badan dari 4 golongan darah adalah sama. H1: rata-rata berat badan dari 4 golongan darah adalah tidak sama. One way Analisis Tabel: Terlihat dari tabel di atas berat badab untuk gol.darah A adalah 161.56 kg dan gol.darah B adalah 153.47, dan gol.darah AB adalah 154.00, dan gol.darah O adalah sebesar 158.91. Data std. Devisiasi untuk gol.darah A (6.366), gol.darah B (7.609), gol.darah AB (1.414), gol darah O sebesar (7.696). Sedangkan std.eror mean adalah gol.darah A (2.122), gol.darah B (1.845), gol.darah AB (1.000), gol.darah O (1.641). Analisis Tabel: Terlihat dari tabel di atas bahwa F tabel sebesar 3.016 dan nilai probabilitasnya 0.039. karena berdasarkan besarnya probabilitas > 0.05. maka Psig berada pada daerah penerimaan. Ho diterima, sehingga rata-rata berat badan keempat gol.darah adalah sama.
“KORELASI”
Permasalahan 4:
Mahasiswi bahasa Indonesia melakukan penelitian tentang hubungan antara jarak yang ditempuh mahasiswa ke kampus dengan berat badan mahasiswa!
Nama
Jarak Tempat Ke Kampus
Berat Badan
Andika Budhi Sanjaya
± 1 Km
50 Kg
Inayatul Maula
± 0,5 Km
46 Kg
Qurrotun Ayunin
± 1 Km
48 Kg
Qori winda E
± 1 Km
38 kg
Diyan Rosmala Sari
± 0,5 Km
50 Kg
Rico Rosi estu P
± 1 Km
65 Kg
Kharisma Rizqi A
± 0,4 Km
45 Kg
Nur Aini Mufaidah
± 1 Km
44 Kg
Nura Dila Widarti
± 1 Km
48 Kg
Rumsiah
± 0,5 Km
46 Kg
khomsiyatus Sholehah
± 0,3 Km
50 Kg
Nely Sa'adaniyah
± 7 Km
49 Kg
Risma galuh suhesti
± 1,5 Km
53 Kg
Rindi Chrisdian
± 6 Km
60 Kg
Indah Wahyu Savitri
± 0,2 Km
44 Kg
Tutut Elok Prasetyowati
± 0,5 Km
47 Kg
Riska Nur Amita
± 0,5 Km
52 Kg
Siti Fatimah
± 0,2 Km
40 kg
Yessi Kumalasari
± 0,5 Km
55 Kg
Dianita Nur Holifah
± 0,5 Km
47 Kg
Azizatun Ni'mah
± 0,8 Km
43 Kg
Andhi Krisdhianto
± 1 Km
57 Kg
Era Widowati
± 0,2 Km
47,5 Kg
Ichwan Fanani
± 2 Km
50 Kg
Yuniar Arizta
± 2 Km
53 Kg
Fergie Dwita Mayasari
± 0,5 Km
56 Kg
Fales Eka P
± 1 Km
53 Kg
Utari Minangkaning Putri
± 1 Km
50 Kg
Isnani Mayasari
± 1 Km
42 Kg
Arina Arina Dwi R
± 1 Km
48 Kg
Greta Permanasari
± 0,5 Km
43 Kg
Bibit Dewi Windari
± 0,5 Km
45 Kg
Retno Ayu Deviyanti
± 1 Km
50 Kg
Salun Nafiah
± 0,6 Km
42 Kg
Rina Wulandari
± 1 Km
42 Kg
Maya Mega KD
± 1 Km
55 Kg
Denik Wulyawati
± 1 Km
47 Kg
Feriatul Qiptiyah
± 1 Km
48 Kg
Ali Usman
± 2 Km
45 Kg
Ugik Ghandes Arga K
± 0,3 Km
45 Kg
Fidiyan Nurul Hidayah
± 0,5 Km
40 kg
Griffita Stefiahastika P
± 1 Km
48 Kg
Dyah Yulianti
± 1 Km
55 Kg
Atut Diniyah
± 1 Km
37 Kg
Risna Cindra Sukma
± 1 Km
43 Kg
Endhika Haries Pratama
± 1 Km
50 Kg
Evi Dwi Fatmayanti
± 1 Km
80 Kg
Moch. Bagus
± 0,2 Km
44 Kg
Penyelesaian Masalah:
H0: korelasi antara dua variable adalah sama dengan nol (tidak ada hubungan )
H1: korelasi antara dua varibel adalah tidak sama dengan nol(ada hubunngan)
Correlations
Analisis Data :
Dari table di atas dapat di ketahui bahwa rata-rata jarak tempuh mahasiswa prodi bahasa Indonesia adalah 15.225 dengan standar devisiasi 44.8654 km dan rata-rata berat badannya adlah 48.49 kg dengan standart devisiasi sebesar 7.173.
Analisis Data:
Psig = 0.113, karena > 0.05 sehingga H0 diterima .yang artinya tidak ada hubungan antara jarak tempuh dengan berat badan. Kalaupun ada korelasi tersebut hanya sebesar 0.227
Kesimpulannya adalah bahwa ada korelasi antara jarak yang ditempuh ke kampus dengan berat badan
“REGRESI”
Permasalahan 5:
Dibawah ini terdapat tabel data jarak tempuh mahasiswa ke kampus denga biaya hidup mahasiswa.tentukan model regresi dari data dibawah ini!
Jarak Tempat Ke Kampus
Biaya Hidup (1 Bulan)
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 800,000.00
± 0,5 Km
Rp 600,000.00
± 1 Km
Rp 600,000.00
± 0,4 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 0,5 Km
Rp 700,000.00
± 0,3 Km
Rp 200,000.00
± 7 Km
Rp 200,000.00
± 1,5 Km
Rp 200,000.00
± 6 Km
Rp 250,000.00
± 0,2 Km
Rp 400,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 600,000.00
± 0,2 Km
Rp 400,000.00
± 0,5 Km
Rp 300,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 0,8 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 0,2 Km
Rp 400,000.00
± 2 Km
Rp 400,000.00
± 2 Km
Rp 600,000.00
± 0,5 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 800,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 600,000.00
± 1 Km
Rp 450,000.00
± 0,6 Km
Rp 300,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 800,000.00
± 2 Km
Rp 600,000.00
± 0,3 Km
Rp 600,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 450,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 0,2 Km
Rp 320,000.00
Analisis Permasalahan:
H0: koefisien regresi tidak signifikan.
H1: koefisien regresi signifikan.
Regression
Analisis Tabel:
Dari data di atas diketahui rata-rata jarak tempuh mahasiswa adalah 1.03km dan rata-rata biaya hidup adalah 459400.00 dengan standart devisiasi yang akan dianalisis lebih lanjut.
Analisis Tabel:
Berdasarkan tabel diatas diketahui nilai probaboilitasnya adalah 0.035 dan karena probabilitas > 0.05 maka H0 diterima sedangkan kerelasi antara jarak tempuh ke kampus dan berat badan diterima.
Analisis Data:
Diketahui R sebesar 0.259a menunjukkan bahwa korelasi antara jarak tempuh dan biaya hidup tidak terlalu lemah. R squere adalah 0.067.berarti 6.7 adalah variasi dari jarak tmpuh dan sisanya dari factor lain.
Analisis Tabel:
Dari data di atas diketahui nilai F adalah 3.459 dengan probabilitas sebesar 0.069a > 0.05 sehingga H0 diterima dan rata-rata kedua populasi sama.
Persamaan regresi Y= 490662.1+-30292.8x
Konstanta 490662.1 menyatakan bahwa jika tidak ada hubunngan jarak tempuh dengan biaya hidup mahasiswa koefisien regresi sebesar -30292.8,menyatakan bahwa setiap penambahan (+)1 km jarak tempuh meningkatkan berat badan sebesar -30292.8
Uji t digunakan untuk menguji signifikan konstanta dan setiap variable independent,diketahui:
H0 = koefisien regresi tidak signifikan.
H1 = koefisien regresi signifikan .
Keputusan:
Pada tabel di atas diketahui bahwa t sebesar 19.008 dengan probabilitas 0.000 < 0.05 maka H0 ditolak.karena H0 ditolak maka koefisien rebresi signifikan.
Maka model persamaan regresi Y= = 490662.1+-30292.8x signifikan.
Oleh
MOH. BADRUS SOLICHIN
NIM 080210402002
PROGAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2009
“ANALYSIS ONE SAMPLE T-TEST”
Permasalahan 1:
Pelatih bola basket, ingin mengetahui tinggi badan mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia dengan menduga rata-rata tinggi mahasiswa 165. Dan pelatih memperoleh data dari 50 mahasiswa dan diketahui berdistribusi normal. Dan ujilah dugaan pelatih tersebut!
Tabel Tinggi Mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia
Nama Tinggi Badan
Andika Budhi Sanjaya
166 cm
Inayatul Maula
160cm
Qurrotun Ayunin
155 cm
Qori winda E
145cm
Diyan Rosmala Sari
153 cm
Rico Rosi estu P
175 cm
Kharisma Rizqi A
158 cm
Nur Aini Mufaidah
152 cm
Nura Dila Widarti
160 cm
Rumsiah
151 cm
khomsiyatus Sholehah
154 cm
Nely Sa'adaniyah
163 cm
Risma galuh suhesti
151 cm
Rindi Chrisdian
175 cm
Indah Wahyu Savitri
152 cm
Tutut Elok Prasetyow
156 cm
Riska Nur Amita
160 cm
Siti Fatimah
155 cm
Yessi Kumalasari
158 cm
Dianita Nur Holifah
158 cm
Azizatun Ni'mah
143 cm
Andhi Krisdhianto
167 cm
Era Widowati
155 cm
Ichwan Fanani
162 cm
Yuniar Arizta
172 cm
Fergie Dwita Mayasar
160 cm
Fales Eka P
170 cm
Utari Minangkaning P
160 cm
Isnani Mayasari
153 cm
Arina Arina Dwi R
153 cm
Greta Permanasari
160 cm
Bibit Dewi Windari
151 cm
Retno Ayu Deviyanti
158 cm
Salun Nafiah
156 cm
Rina Wulandari
158 cm
Maya Mega KD
162 cm
Denik Wulyawati
160 cm
Feriatul Qiptiyah
145 cm
Ali Usman
170 cm
Ugik Ghandes Arga K
153 cm
Fidiyan Nurul Hidaya
140 cm
Griffita Stefiahasti
154 cm
Dyah Yulianti
150 cm
Atut Diniyah
145 cm
Risna Cindra Sukma
156 cm
Endhika Haries Prata
165 cm
Evi Dwi Fatmayanti
165 cm
Moch. Bagus
155 cm
Ratna Yuliani
150 cm
Septiya Yuliani
163 cm
Penyelesaian Permasalahan:
Pelatih menduga tinggi badan mahasiswa Bahasa Indonesi sekitar 165 cm.
Rumusan Hipotesisnya:
Ho: Rata-rata tinggi badan 165 cm
H1: Rata-rata tinggi badan tidak sama dengan 165 cm
Hasil Interpretasinya:
T-Test
T Analisis Tabel:
Dari tabel di atas di peroleh rata-rata tinggi badan mahasiswa 157.42 dan standar devisionnya sebesar 7.693.
Analisis Tabel:
Dari tabel di atas diperoleh nilai t(hitung): 144.687 dengan probabilitas (sig): 0.000
Keputusan:
1.Menerima Ho jika terhitung>T tabel dan sig> 0.000
2.Menerima H1 jika terhitung< T tabel dan sig> 0.05
“INDEPENDENT SAMPLE T-TEST”
Permasalahan 2:
Bu Susi ingin mengetahui apakah ada perbedaan tinggi badan dan jenis kelemin antara laki-laki dan perempuan mahasiswa prodi Bahasa Indonesia!
Tabel Data
NAMA
JENIS KELAMIN
TINGGI BADAN
Andika budi sanjaya
laki-laki
166 cm
Inayatul maula
perempuan
160 cm
Qurotun ayunin
perempuan
155 cm
Qori winda E
perempuan
145 cm
Diyan Rosmala Sari
perempuan
153 cm
Rico Rosi estu P
laki-laki
175 cm
Kharisma Rizqi A
perempuan
158 cm
Nur Aini Mufaidah
perempuan
152 cm
Nura Dila Widarti
perempuan
160 cm
Rumsiah
perempuan
151 cm
khomsiyatus Sholehah
perempuan
154 cm
Nely Sa'adaniyah
perempuan
163 cm
Risma galuh suhesti
perempuan
151 cm
Rindi Chrisdian
laki-laki
175 cm
Indah Wahyu Savitri
perempuan
152 cm
Tutut Elok Prasetyowati
perempuan
156 cm
Riska Nur Amita
perempuan
160 cm
Siti Fatimah
perempuan
155 cm
Yessi Kumalasari
perempuan
158 cm
Dianita Nur Holifah
perempuan
158 cm
Azizatun Ni'mah
perempuan
143 cm
Andhi Krisdhianto
laki-laki
167 cm
Era Widowati
perempuan
155 cm
Ichwan Fanani
laki-laki
162 cm
Yuniar Arizta
laki-laki
172 cm
Fergie Dwita Mayasari
perempuan
160 cm
Fales Eka P
laki-laki
170 cm
Utari Minangkaning Putr
perempuan
160 cm
Isnani Mayasari
perempuan
153 cm
Arina Arina Dwi R
perempuan
153 cm
Greta Permanasari
perempuan
160 cm
Bibit Dewi Windari
perempuan
151 cm
Retno Ayu Deviyanti
perempuan
158 cm
Salun Nafiah
perempuan
156 cm
Rina Wulandari
perempuan
158 cm
Maya Mega KD
perempuan
162 cm
Denik Wulyawati
perempuan
160 cm
Feriatul Qiptiyah
perempuan
145 cm
Ali Usman
laki-laki
170 cm
Ugik Ghandes Arga K
perempuan
153 cm
Fidiyan Nurul Hidayah
perempuan
140 cm
Griffita Stefiahastika
perempuan
154 cm
Dyah Yulianti
perempuan
150 cm
Atut Diniyah
perempuan
145 cm
Risna Cindra Sukma
perempuan
156 cm
Endhika Haries Pratama
laki-laki
165 cm
Evi Dwi Fatmayanti
perempuan
165 cm
Moch. Bagus
laki-laki
155 cm
ratna mulyani
perempuan
150 cm
septiya ahsani
perempuan
163 cm
Penyelesaian Masalah:
Hipotesisnya;
Ho: rata-rata tinggi badan seorang laki-laki dan perempuan adalah sama.
H1: rata-rata tinggi badan seorang laki-laki dan perempuan adalah tidak sama.
T-Test
Analisis Tabel;
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata tinggi badan mahasiswa laki-laki adalah 167.70 cm dengan simpangan baku 6.147 dan standar eror mean 1.944. Sedanngkan rata-rata tinggi badan mahasiswa perempuan adalah 154.78 cm dengan simpangan baku 5.776 dan standar eror mean 0.913.
Uji Analisis F:
Terlihat bahwa F hitung untuk tinggi badan dengan equel variance assumed adalah 0.015 dengan probabolitas 0.903. Karena probabilitasnya > 0.05. maka Ho diterima karena varian laki-laki dan perempuan adalah sama.
Uji Analisis t:
Terlihat dari tabel diatas, bahwa t hitung adalah 6.252 dengan df 48 dan nilai significant= 0.000. sedangkan peneliti menggunakan taraf significant 5%. Karena berdasarkan besarnya probabilitas < 0.05 maka Psig berada pada daerah penolakan. (Maka Ho ditolak). “ONE WAY ANOVA” Permasalahan 3: Diketahui data golongan darah dan berat badan mahasiswa Bahasa Indonesia. Dan dilakukan pengujian nilai rata-rata berat badan dari 4 macam golongan darah dan kira-kira manakah yang berbeda pada taraf significant 5%? Tabel Data Gol.Darah Brt.badan O 50 Kg O 46 Kg AB 48 Kg B 38 kg O 50 Kg A 65 Kg O 45 Kg A 44 Kg A 48 Kg B 46 Kg O 50 Kg B 49 Kg O 53 Kg O 60 Kg O 44 Kg O 47 Kg A 52 Kg B 40 kg O 55 Kg O 47 Kg B 43 Kg A 57 Kg O 47,5 Kg A 50 Kg O 53 Kg O 56 Kg O 53 Kg A 50 Kg B 42 Kg AB 48 Kg A 43 Kg B 45 Kg B 50 Kg O 42 Kg A 42 Kg B 55 Kg B 47 Kg O 48 Kg O 45 Kg O 45 Kg B 40 kg O 48 Kg B 55 Kg B 37 Kg O 43 Kg B 50 Kg O 80 Kg B 44 Kg B 42 Kg B 47 Kg Penyelesaian Masalah: Ho; rata-rata berat badan dari 4 golongan darah adalah sama. H1: rata-rata berat badan dari 4 golongan darah adalah tidak sama. One way Analisis Tabel: Terlihat dari tabel di atas berat badab untuk gol.darah A adalah 161.56 kg dan gol.darah B adalah 153.47, dan gol.darah AB adalah 154.00, dan gol.darah O adalah sebesar 158.91. Data std. Devisiasi untuk gol.darah A (6.366), gol.darah B (7.609), gol.darah AB (1.414), gol darah O sebesar (7.696). Sedangkan std.eror mean adalah gol.darah A (2.122), gol.darah B (1.845), gol.darah AB (1.000), gol.darah O (1.641). Analisis Tabel: Terlihat dari tabel di atas bahwa F tabel sebesar 3.016 dan nilai probabilitasnya 0.039. karena berdasarkan besarnya probabilitas > 0.05. maka Psig berada pada daerah penerimaan. Ho diterima, sehingga rata-rata berat badan keempat gol.darah adalah sama.
“KORELASI”
Permasalahan 4:
Mahasiswi bahasa Indonesia melakukan penelitian tentang hubungan antara jarak yang ditempuh mahasiswa ke kampus dengan berat badan mahasiswa!
Nama
Jarak Tempat Ke Kampus
Berat Badan
Andika Budhi Sanjaya
± 1 Km
50 Kg
Inayatul Maula
± 0,5 Km
46 Kg
Qurrotun Ayunin
± 1 Km
48 Kg
Qori winda E
± 1 Km
38 kg
Diyan Rosmala Sari
± 0,5 Km
50 Kg
Rico Rosi estu P
± 1 Km
65 Kg
Kharisma Rizqi A
± 0,4 Km
45 Kg
Nur Aini Mufaidah
± 1 Km
44 Kg
Nura Dila Widarti
± 1 Km
48 Kg
Rumsiah
± 0,5 Km
46 Kg
khomsiyatus Sholehah
± 0,3 Km
50 Kg
Nely Sa'adaniyah
± 7 Km
49 Kg
Risma galuh suhesti
± 1,5 Km
53 Kg
Rindi Chrisdian
± 6 Km
60 Kg
Indah Wahyu Savitri
± 0,2 Km
44 Kg
Tutut Elok Prasetyowati
± 0,5 Km
47 Kg
Riska Nur Amita
± 0,5 Km
52 Kg
Siti Fatimah
± 0,2 Km
40 kg
Yessi Kumalasari
± 0,5 Km
55 Kg
Dianita Nur Holifah
± 0,5 Km
47 Kg
Azizatun Ni'mah
± 0,8 Km
43 Kg
Andhi Krisdhianto
± 1 Km
57 Kg
Era Widowati
± 0,2 Km
47,5 Kg
Ichwan Fanani
± 2 Km
50 Kg
Yuniar Arizta
± 2 Km
53 Kg
Fergie Dwita Mayasari
± 0,5 Km
56 Kg
Fales Eka P
± 1 Km
53 Kg
Utari Minangkaning Putri
± 1 Km
50 Kg
Isnani Mayasari
± 1 Km
42 Kg
Arina Arina Dwi R
± 1 Km
48 Kg
Greta Permanasari
± 0,5 Km
43 Kg
Bibit Dewi Windari
± 0,5 Km
45 Kg
Retno Ayu Deviyanti
± 1 Km
50 Kg
Salun Nafiah
± 0,6 Km
42 Kg
Rina Wulandari
± 1 Km
42 Kg
Maya Mega KD
± 1 Km
55 Kg
Denik Wulyawati
± 1 Km
47 Kg
Feriatul Qiptiyah
± 1 Km
48 Kg
Ali Usman
± 2 Km
45 Kg
Ugik Ghandes Arga K
± 0,3 Km
45 Kg
Fidiyan Nurul Hidayah
± 0,5 Km
40 kg
Griffita Stefiahastika P
± 1 Km
48 Kg
Dyah Yulianti
± 1 Km
55 Kg
Atut Diniyah
± 1 Km
37 Kg
Risna Cindra Sukma
± 1 Km
43 Kg
Endhika Haries Pratama
± 1 Km
50 Kg
Evi Dwi Fatmayanti
± 1 Km
80 Kg
Moch. Bagus
± 0,2 Km
44 Kg
Penyelesaian Masalah:
H0: korelasi antara dua variable adalah sama dengan nol (tidak ada hubungan )
H1: korelasi antara dua varibel adalah tidak sama dengan nol(ada hubunngan)
Correlations
Analisis Data :
Dari table di atas dapat di ketahui bahwa rata-rata jarak tempuh mahasiswa prodi bahasa Indonesia adalah 15.225 dengan standar devisiasi 44.8654 km dan rata-rata berat badannya adlah 48.49 kg dengan standart devisiasi sebesar 7.173.
Analisis Data:
Psig = 0.113, karena > 0.05 sehingga H0 diterima .yang artinya tidak ada hubungan antara jarak tempuh dengan berat badan. Kalaupun ada korelasi tersebut hanya sebesar 0.227
Kesimpulannya adalah bahwa ada korelasi antara jarak yang ditempuh ke kampus dengan berat badan
“REGRESI”
Permasalahan 5:
Dibawah ini terdapat tabel data jarak tempuh mahasiswa ke kampus denga biaya hidup mahasiswa.tentukan model regresi dari data dibawah ini!
Jarak Tempat Ke Kampus
Biaya Hidup (1 Bulan)
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 800,000.00
± 0,5 Km
Rp 600,000.00
± 1 Km
Rp 600,000.00
± 0,4 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 0,5 Km
Rp 700,000.00
± 0,3 Km
Rp 200,000.00
± 7 Km
Rp 200,000.00
± 1,5 Km
Rp 200,000.00
± 6 Km
Rp 250,000.00
± 0,2 Km
Rp 400,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 600,000.00
± 0,2 Km
Rp 400,000.00
± 0,5 Km
Rp 300,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 0,8 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 0,2 Km
Rp 400,000.00
± 2 Km
Rp 400,000.00
± 2 Km
Rp 600,000.00
± 0,5 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 800,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 0,5 Km
Rp 600,000.00
± 1 Km
Rp 450,000.00
± 0,6 Km
Rp 300,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 800,000.00
± 2 Km
Rp 600,000.00
± 0,3 Km
Rp 600,000.00
± 0,5 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 500,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 450,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 1 Km
Rp 400,000.00
± 0,2 Km
Rp 320,000.00
Analisis Permasalahan:
H0: koefisien regresi tidak signifikan.
H1: koefisien regresi signifikan.
Regression
Analisis Tabel:
Dari data di atas diketahui rata-rata jarak tempuh mahasiswa adalah 1.03km dan rata-rata biaya hidup adalah 459400.00 dengan standart devisiasi yang akan dianalisis lebih lanjut.
Analisis Tabel:
Berdasarkan tabel diatas diketahui nilai probaboilitasnya adalah 0.035 dan karena probabilitas > 0.05 maka H0 diterima sedangkan kerelasi antara jarak tempuh ke kampus dan berat badan diterima.
Analisis Data:
Diketahui R sebesar 0.259a menunjukkan bahwa korelasi antara jarak tempuh dan biaya hidup tidak terlalu lemah. R squere adalah 0.067.berarti 6.7 adalah variasi dari jarak tmpuh dan sisanya dari factor lain.
Analisis Tabel:
Dari data di atas diketahui nilai F adalah 3.459 dengan probabilitas sebesar 0.069a > 0.05 sehingga H0 diterima dan rata-rata kedua populasi sama.
Persamaan regresi Y= 490662.1+-30292.8x
Konstanta 490662.1 menyatakan bahwa jika tidak ada hubunngan jarak tempuh dengan biaya hidup mahasiswa koefisien regresi sebesar -30292.8,menyatakan bahwa setiap penambahan (+)1 km jarak tempuh meningkatkan berat badan sebesar -30292.8
Uji t digunakan untuk menguji signifikan konstanta dan setiap variable independent,diketahui:
H0 = koefisien regresi tidak signifikan.
H1 = koefisien regresi signifikan .
Keputusan:
Pada tabel di atas diketahui bahwa t sebesar 19.008 dengan probabilitas 0.000 < 0.05 maka H0 ditolak.karena H0 ditolak maka koefisien rebresi signifikan.
Maka model persamaan regresi Y= = 490662.1+-30292.8x signifikan.
ETIKA SOSIAL PADA TOKOH NOVEL KAWIN KONTRAK KARYA SAIFUR ROHMAN
ETIKA SOSIAL PADA TOKOH NOVEL KAWIN KONTRAK KARYA SAIFUR ROHMAN
(Sebagai Tugas Ujian Akhir Semester Prosa Fiksi dan Drama)
Oleh:
MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan hasil imajinasi dan kreativitas seorang pengarang. Pengarang menulis tentang apa saja yang menimbulkan keharuan batinnya, dan mendorong untuk berpikir, mencernakan dan mensublimasikan apa yang dilihat, didengar, dirasakannya, dialaminya, dan akhirnya dia mencipta (Lubis,1996:37). Selanjutnya Lubis (1996:53) mengemukakan bahwa kreativitas seorang sastrawan adalah kemampuan untuk mengapresiasi manusia dan kehidupannya, pengalaman masyarakatnya, sejarah bangsanya, dan negerinya, lingkungan hidupnya, kebudayaan dan sistem nilai bangsanya baik yang homogen maupun yang beragam. Sastra coba mengarah kepada persoalan budaya, mencoba memahami kehidupan, melihat persoalan kehidupan, memberikan makna dan mencari dasar persoalan.
Analisis karya sastra ini menggunakan karya sastra berbentuk novel, karena novel menceritakan berbagai macam kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan dengan karya sastra lain. Di samping itu, novel merupakan prosa panjang yang menunjukkan tokoh-tokoh, menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Sudjiman, 1991:55). Semua itu merupakan hasil imajinatif pengarang yang diperoleh dari perenungan dalam kehidupan nyata.
Novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman diterbitkan oleh PT. Grasindo, Jakarta tahun2006. Novel tersebut mengungkapkan kawin kontrak Charles (dari London) dengan Rina (penghuni vila lereng Gunung Muria dan Paina (kampung Semanding) Jepara. Kawin kontrak diartikan sebagai perkawinan berlaku sampai masa tertentu. Apabila masa itu telah datang, perkawinan terputus dengan sendirinya tanpa melalui proses perceraian. Ditinjau dari hukum kontrak, kawin kontrak terklasifikasi dalam kontrak innominaat yakni keseluruhan kaidah hukum yang mengkaji berbagai kontrak yang timbul, tumbuh, dan hidup dalam masyarakat. Kontrak ini belum dikenal pada saat KUH Perdata diundangkan (Salim, 2005:4). Untuk menyikapi permasalahan tersebut penulis menganalisis novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman dari dimensi etika sosial, karena karya sastra merupakan objek yang dapat dikaji dari berbagai disiplin ilmu termasuk dari segi etika sosial. Gejala-gejala etika sosial manusia yang ditangkap pengarang dapat dituangkan ke dalam sebuah karya sastra dan dipadukan dengan pengalaman batin pengarang menjadi sebuah pengetahuan baru yang mampu menciptakan cara berpikir manusia yang berbeda.
Penggambaran-penggambaran tentang cara pandang seseorang dalam kehidupan akan dituangkan oleh pengarang melalui perilaku tokoh yang dikemukakan dalam karya sastra. Pengalaman jiwa pengarang yang memuat berbagai sudut pandang kehidupan terlihat lewat ciri-ciri para tokoh imajinasinya. Melalui tingkah laku tokoh-tokoh yang ditampilkan inilah pengarang melukiskan kehidupan manusia dengan berbagi konflik yang timbul di dalamnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan :
1)Bagaimanakah analisis tokoh pada novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman?
2)Bagaimanakah etika sosial pada tokoh novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman?
I.3 Tujuan Penulisan
1)Mengetahui analisis tokoh pada novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman.
2)Mengetahui etika sosial pada tokoh novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Struktur Karya Sastra
Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagi unsur (pembangun)-nya. Di satu pihak, strukutur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams,1981:68). Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk suatu kesatuan yang utuh.
Kajian struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secara cermat fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan.
Begitu pula dengan karya sastra berbentuk novel, yang menceritakan berbagai macam kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan dengan karya sastra lain. Di samping itu, novel merupakan prosa panjang yang menunjukkan tokoh-tokoh, menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Sudjiman, 1991:55). Semua itu merupakan hasil imajinatif pengarang yang diperoleh dari perenungan dalam kehidupan nyata.
Novel terbentuk dari struktur yang sama dengan karya sastra lain, seperti adanya judul, tema, perwatakan dan penokohan, latar serta konflik. Tetapi analisis ini menitik beratkan pada penokohan dalam cerita novel Kawin Kontrak.
2.2 Definisi Tokoh
Tokoh adalah pelukisan mengenai tokoh cerita baik keadaan lahir maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya dan sebagainya (Suharianto 1982:31). Lalu mengapa menganalisis tokoh utama? karena tokoh utama pada karya sastra akan memberikan gambaran banyak tentang pandangan hidup, sikap, keyakinan, dan adat istiadat, dan tentunya untuk memperjelas pembaca dalam mengetahui keseluruhan isi cerita yang digambarkan oleh pengarang. Tulisan-tulisan yang dituangkan pengarang melalui tokoh utama yang diciptakannya sering menimbulkan tanggapan bahwa jiwa tokoh ciptaannya itu sesuai dengan cara pandang yang dikemukakan oleh seorang tokoh filsafat. Pemikiran-pemikiran tokoh filsafat merupakan salah satu sumber utama bagi pengarang untuk menuangkan ide-idenya maupun ide seseorang ke dalam sebuah karya sastra.
Tokoh dalam sebuah cerita dibagi menjadi dua macam, yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Tokoh utama paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian. Tokoh bawahan adalah tokoh yang kehadirannya ada keterkaitan dengan tokoh utama secara langsung maupun tidak langsung.
2.3 Etika Sosial dalam Karya Sastra
Fenomena di dalam bermasyarakat, baik masyarakat modern maupun masyarakat tradisional selalu ada norma etika. Norma tersebut disusun berdasarkan kesepakatan umum [seperti adat, kebiasaan, kelaziman (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:439)]. Sehubungan dengan itu Mungin Eddy Wibowo (2001:6) mengartikan etika sebagai cabang filsafat yang membicarakan nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Pendapat tersebut diperjelas oleh Abdulkadir Muhammad (2005:66) yang menyatakan bahwa etika merupakan ilmu tentang kebiasaan yang baik.
Etika memiliki hubungan sangat relevan dengan aspek sosiologi. Hubunganya terbukti yakni, sosiologi digunakan untuk memahami etika. Hal demikian dapat dimengerti karena banyak kajian etika yang dapat dipahami secara professional. Hubungan etika dengan sosiologi ialah sama -sama mempelajari dan mengupas masalah perilaku. Perbuatan manusia yang timbul dari kehendak ilmu sosiologi mempersoalkan kehidupan bermasyarakat dan etika dari sisi tingkah laku (Yatimin Abdullah, 2006:397-398). Berkaitan dengan hal tersebut Poedjawijatna (2003:39), berpendapat bahwa hubungan antara etika dan sosial menghasilkan produk pranata sosial. Istilah tersebut diartikan sebagai suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nila-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat.
Menyikapi pranata sosial, orang harus menemukan ukuran baik dan buruk. Untuk melakukan hal tersebut peneliti dapat menggunakan teori deontologis dan teleologis. Bahanuddin Salam dalam bukunya yang berjudul Etika Sosial menyatakan bahwa secara deontologis, sesuatu dikatakan baik apabila yang bersangkuatan berkemauan baik. Selain itu sesuatu dikatakan baik apabila suatu dilakukan demi kewajiban. Teori teleologis ber pendapat bahwa sesuatu dinilai baik berdasarkan akibat yang ditimbulkan tindakan itu. Apabila suatu tindakan hasilnya baik, maka tindakan itu dinilai baik (1997:71-72).
2.4 Sinopsis Novel Kawin Kontrak
Charles seorang pemuda kelahiran Birmingham, menetap di London pergi ke Jepara, Jawa Tengah untuk berinvestasi mebel. Di sela-sela kehidupannya ia isi dengan berkunjung tempat tinggal Rina (pasangan kawin kontrak) di vila, lereng Gunung Muria. Perlu digarisbawahi bahwa perkawinan antara Charles dan Rina hanya sebatas kawin kontrak. Oleh karena itu Charles tidak dapat berbuat apa-apa ketika Rina memasukkan laki-laki lain ke vilanya. Dalam kawin kontrak tidak tercantumkan bahwa Rina harus setia. Tidak berapa lama Rina tidak dihiraukan oleh Charles. Ia berusaha untuk mencintai perempuan lain yaitu Paina, di kampung Semanding, Jepara. Untuk dapat kawin kontrak dengan Paina, Charles membutuhkan perantara Rosa, lonte (pelacur) sekaligus mucikari yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal Paina. Berkat pendekatan Rosa terhadap Mbok Pedhet (ibu Paina), Charles berhasil kawin kontrak dengan Paina, meskipun pada awalnya ayah Paina (Pak Mo Pedhet) sangat membenci Charles. Malang melintang nasib Paina, sebelum menikah dengan Charles, Paina sudah diperkosa ole h ayah sendiri sehingga Bisri (pacar Paina) ketika berkoitus dengan Paina sangat kecewa, karena Paina sudah tidak gadis (ibarat botol yang sudah dibuka tutupnya). Demikian pula Charles, ia sangat kecewa ketika berbulan madu dengan Paina ia sudah tidak gadis lagi.
Bisri yang kecewa terhadap kondisi Paina, menduga Paina telah dinodai oleh Charles. Oleh karena itu pada suatu malam, Charles ketika berada di rumah Rosa digrebeg warga kampung yang dikomandoi Bisri. Charles dipukuli warga yang mengakibatkan Charl es dirawat di rumah sakit. Demikian juga Charles, begitu berbulan madu tahu bahwa Paina sudah tidak gadis lagi menduga bahwa Paina sudah dinodai oleh Bisri. Hal ini mengakibatkan Paina dianiaya oleh Charles. Paina diminta oleh Charles untuk menandatangani pembebasan tanah, Paina tidak bersedia menandatanganinya. Dalam keadaan demikian Paina berlari melapor diri kepada lurah yang berakibat berurusan dengan polisi. Nasib menentukan lain, akhirnya Paina menjadi narapidana di Nusakambangan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Analisis Tokoh Pada Novel Kawin Kontrak
Tokoh dalam sebuah cerita, merupakan unsur yang harus ada di dalam karya sastra. Burhan Nurgiantoro (2000:165) mengartikan tokoh sebagai pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Arif Furchan dan H. Agus Maimun dalam buku Studi Tokoh (2005:6-7) menyatakan bahwa tujuan studi tokoh umumnya adalah untuk mencapai pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan. Tujuan lain dari studi model ini adalah untuk menyusun dalam pengertian kita terhadap komunitas tertentu tempat tokoh-tokoh itu hidup. Yang lebih penting lagi, seorang individu akan banyak mengungkapkan motivasi, aspirasi, dan ambisinya tentang kehidupan dalam masyarakatnya. Berkaitan dengan hal tersebut deskripsi penokohan atau tokoh dalam novel Kawin Kontrak dapat diketahui sebagai berikut.
Paina
Tokoh utama dalam novel Kawin Kontrak adalah Paina. Dalam hal ini Paina adalah tokoh yangdiutamakan penceritanya. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Dapat dikatakan bahwa tokoh Paina hadir dalam setiap kejadian. Dalam novel Kawin Kontrak, Paina putri hasil perkawinan antara Mbok Pedhet dengan Pak Mo Pedhet. Sosok Paina mempunyai kelebihan. Ia bagaikan mutiara dan sorot matanya sangat dalam. Ia berusia tujuh belas, hampir delapan bel as tahun, ia rajin, dan trengginas. Dalam hal ini Paina diincar Rosa untuk dijadikan gundik. Hal ini misalnya terdapat pada percakapan berikut:
“Kamu tahu, Mbok,” Pak Mo menekan suaranya lebih daripada menekan hawa yang membuncah dalam dada. “Dia mau menjerumuskan anak kita.”
“Menjerumuskan bagaimana?”
“Kamu nggak tahu kerjanya apa?” Mbok Pedhet geleng.
“Coba saya tebak.”
“Jadi pelacur, itu maksudmu?”
“Bukan. Maksudku, lebih dari itu.”
“Jadi demenan, gundik orang bule itu.”
“Bukan.”
“Lantas?”
“Dia itu pedagang?”
“Iya, pedagang manusia.”
Kemudian, Pak Mo menceritakan pekerjaan Rosa itu. Juga, tentang kedatangan warga kampung sebelah yang menawarkan anak gadisnya ke rumah Rosa. Menurutnya, gadis itu akan ditampung bersama gadis-gadis lain. Setelah dirasa sukup, baru dibawa ke kota besar. Bisa ke Semarang, Surabaya, Jakarta, bahkan Singapura maupun Malaysia.
(Kawin Kontrak, 2006:60)
Charles
Tokoh novel Kawin Kontrak, Charles terklasifikasi tokoh utama. Ia seorang bule dari London. Kedatangan Charles ke Jepara, Indonesia bermisi untuk mendapatkan materi yang melimpah ruah. Charles melakukan kawin kontrak dengan Rina dan Paina termotivasi agar dapat berinvestasi dan mendapat proyek besar di Indonesia. Tanpa menikahi perempuan Indonesia, Charles kesulitan memperoleh apa yang ia inginkan dan ia harapkan. Hal itu dapat disimak sebagai berikut:
Sudahlah diri Rina juga merupakan bagian dari penjelmaan padang golf di sana. Ladang perkebunan teh itu tidak akan pernah terbeli tanpa nama Rina di atas sertifikat yang ditandatangani pihak agraria. Tanpa perempuan pribumi yang tolol dan cuma mengandalkan kemaluan itu, Charles tak pernah mendapatkan apa-apa. Bahkan, sejengkal tanah pun tidak.
(Kawin Kontrak, 2006:67)
Pernyataan tersebut diperjelas melalui kutipan percakapan antara Paina dan Rina, sebagai berikut:
“Apakah kamu kawin kontrak?”Paina mengangguk.
“Dan surat persetujuan itu dibawa Charles?” Sekali lagi Paina mengangguk.
“Peristiwa itu sama saja dengan yang kualami. Dulu aku juga melakukan kawin kontrak dengan Charles, tetapi kemudian ia menyodorkan lembar demi lembar untuk memperluas usahanya. Semua tanah dibeli atas namaku. Semua usaha didirikan atas namaku, dan ketika aku sudah tidak dibutuhkan, aku dilempar, aku dibuang seperti sampah. Aku sama t idak bergunanya dengan air comberan karena masyarakat sendiri sudah memandangku sebagai pelacur.”
(Kawin Kontrak, 2006:229)
Hal seperti itu dialami juga oleh Paina. Charles memaksa Paina untuk menandatangani pembelian tanah dan membuat usaha. Dalam hal ini Paina bersikeras tidak mau menandatangani hal itu.
Sampai suatu hari di suatu pagi, Charles membawa map berisi lembaran kertas putih tertulis rapi. Charles langsung mendatangi Paina yang masih sibuk di dapur, kemudian berkata, “Aku ingin kamu menandatangani kertas ini, ini, dan yang bermaterei ini.” Paina mengernyitkan kening. Langsung teringat perkataan Rina, perempuan yang bermaksud membunuhnya beberapa hari yang lalu. Tanda tangan untuk pembelian tanah, untuk bikin usaha.
(Kawin Kontrak, 2006:231)
Rina
Tokoh Rina terklasifikasi dalam tokoh tambahan. Ia adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu. Ia mudah dikenal dan dipahami, serta cenderung stereotip (Burhan Murgiantoro, 2000:182) Rina dalam novel Kawin Kontrak sebagai seorang penghuni vila, di lereng Gunungan Muria. Ia berprofesi sebagai pelacur, berkawin kontrak dengan Charles asli Birmingham. Dalam perkawinannya dengan Charles, Rina menandatangani semua usaha Charles. Semua tanah yang dibeli Charles atas nama Rina, akan tetapi setelah Rina tidak dibutuhkan ia ditinggalkan.
Rosa
Tokoh Rosa dalam novel Kawin Kontrak sama halnya dengan tokoh Rina. Ia terklasifikasi dalam tokoh tambahan. Perbedaannya Rina hanya berprofesi sebagai pelacur sedangkan Rosa selain sebagai pelacur, sebagai gundik orang bule, sekaligus pedagang perempuan. Rosa menampung gadis-gadis, setelah dirasa cukup kemudian dibawa ke kota: Semarang, Surabaya, Jakarta, bahkan Singapura, dan Malaysia.
3.2 Etika Sosial Pada Tokoh Novel Kawin Kontrak
M. Yatimin Abdullah (2006:4) mendefinisikan etika berdasarkan etimologi. Bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti adat istiadat (kebiasaan). Pendapat tersebut diperjelas oleh Bernard T. Adney dalam bukunya yang berjudul Etika Sosial Lintas Budaya (2000:131) menyatakan bahwa suatu pendekatan umum pada etika ialah usaha untuk mendapatkan prinsip-prinsip moral dasar yang ada di balik semua aturan, hukum, dan ajaran ajaran al-kitab.
Berkaitan dengan hal tersebut Poedjawijatna (2003:39) berpendapat bahwa hubungan antara etika dan sosial menghasilkan produk pranata sosial. Istilah tersebut diartikan sebagai suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nila-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat. Dalam novel Kawin Kontrak, perkawinan Charles dengan Rina tidak ada ikatan apa pun sehingga ketika Charles meninggalkan Rina sebelum bertolak dari Bandara Sukarno-Hatta, di vila Rina sudah ada laki-laki lain. Dalam keadaan demikian pikiran dan perassan Charles berada “di samping jalan” antara berhak memiliki gadis itu atau membiarkan dia berkeliaran memasukkan laki-laki lain. Untuk memperoleh gambaran secara konkret dapat dilihat kutipan di bawah ini:
Ia ingat meninggalkan Rina pas sebelum bertolak dari bandara Sukarno -Hatta. Bahkan pakaian, paspor, cerutu, dan alat pencukur jenggot pun disiapkan Rina dengan rajin, setelah cium pipi kanankiri, sebuah mercy sudah menunggu di halaman rumah.
Ah, betapa cepatnya ia memasukkan laki-laki lain di rumah yang aku bangun, pikirannya geram.
“Hah! Dasar pelacur,” umpatnya.
Charles bangkit dari kursi malasnya, mengencangkan piama, kemudian masuk ke dalam. Entahlah ia harus jengkel atau abai saja sebab ia merasa antara berhak untuk memiliki gadis itu atau membiarkan dia berkeliaran dengan memasukkan laki -laki lain. Dalam perjanjian kawin kontrak itu memang tidak tercantumkan bahwa ia harus setia.
Rina, yang merasa tidak dihiraukan, mengikuti saja dari belakang. Belum sempurna benar dia berpakaian. Kutangnya pun belum terkancingkan. Melewati pintu, tampak Charles tak menoleh.
(Kawin Kontrak, 2006:21-22)
Berdasarkan karakterisasi, pengarang melukiskan sosok Rina melalui tampilan tokoh. Hal tersebut diutarakan bahwa penampilan tokoh dimasksud misalnya, pakaian apa yang dikenakan atau bagaimana ekspresinya (Albertine Minderop, 2005:10). Dalam hal ini Rina sosok pelacur digambarkan kutangnya belum terkancing ketika mengikuti Charles dari belakang. Untuk melukiskan Charles sebagai sosok eksekutif digambarkan memakai piama, duduk di kursi malas. Di sisi lain Charles ketika hendak naik pesawat di bandara Sukarno -Hatta membawa paspor, cerutu, dan alat pencukur jenggot.
Berdasarkan etika sosial, Rina terklasifikasi sebagai seorang istri yang tidak menghormati, dan tidak setia kepada Charles. Baru saja ditinggal Charles, ia memasukkan pria lain. Dengan kata lain perilaku Rina sebagai sosok istri tidak etis. Rina terkalsifikasi wanita ekstrem. Sebaiknya, Rina sebagai seorang istri harus menunjukkan kesetiaan kepada suaminya. Ketidaksetiaan Rina kepada suaminya (Charles) sama halnya tidak menjaga keutuhan rumah tangga. Charles sebagai orang Barat penganut free sex (seks bebas). Hal itu didukung teori bahwa lelaki adalah tukang selingkuh bawaan. Oleh karena itu laki -laki tidak cocok untuk monogami. Kesetiaan pada suatu pasangan hanyalah kamuflase (John M. Gottman dan Nan Silver (2001:17)). Oleh karena itu selain kawin kontrak dengan Rina, Charles juga kawin kontrak dengan Paina. Hal ini tampak melalui percakapan sebagai berikut:
“Ya, aku tahu kekecewaanmu Bisri. Tapi Paina sendiri tampaknya memilih bule itu.” “Kawin kontrak, maksud Pak Mo?”
Pak Mo mengangguk mantap. “Betul, Bis. Tidak ada yang lebih aman selain kawin kontrak, Bisri.“
Perkawinan itu telah ditentukan harinya. Selasa, Selasa itu tiga, dan legi itu empat, berarti jatuh pada angka tujuh. Tujuh adalah angka keberuntungan Paina yang lahir pada Kamis Kliwon. Biar saja tanpa harus menanyai si bule itu lahir hari apa. Itu tak penting bagi keluarga Pak Mo, juga Charles sendiri.
Dan memang, kawin itu tidak harus mendatangkan penghulu. Cukup dengan k ertas bermaterei Rp 6.000, ditandatangani Pak Mo dan Charles. Isinya sederhana. Diterangkan pihak pertama adalah Pak Mo Pedhet yang menyewakan anaknya, Paina kepada pihak kedua Charles. Seperti dilansir surat perjanjian itu, keduanya sepakat bahwa Paina dibawa Charles ke rumah baru untuk dijadikan istri. Istri kontrakan tepatnya.
(Kawin Kontrak, 2006:189-191)
Amir Syarifuddin (2006:100) mengartikan, kawin kontrak disebut juga dengan nikah mut’ah (nikah muaqqat). Yaitu perkawinan untuk masa tertentu dalam arti pada waktu akad nikah dinyatakan berlaku ikatan perkawinan masa tertentu, yang bila masa itu telah datang, perkawinan terputus dengan sendirinya tanpa melalui proses perceraian. Perkawinan jenis ini hukumnya haram atau terlarang. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, kawin kontrak merupakan suatu tindakan yang melanggar kode etik sosial. Manusia pada dasarnya merupakan bagian dari kelompok masyarakat. Dalam hal ini manusia sebagai makhluk sosial, ia merupakan bagian kehidupan masyarakat. Atas dasar hal tersebut, kawin kontrak Charles tentu mendapat reaksi. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut:
Berpasang-pasang mata mengintip dari balik dinding kayu yang bolong, dari balik cendela yang terbuka. Sedikit, dan dari orang yang sekedar berkeru mun di bawah pohon jambu. Pak Mo tahu, tapi sesungguhnya dia tidak ingin mau tahu.
(Kawin Kontrak, 2006:193)
Reaksi tersebut menunjukkan hakikatnya manusia selalu ingin tahu. Mereka mengintip dari balik dinding kayu berlubang. Ada juga yang mengintip dari balik jendela yang terbuka sedikit. Selain itu ada yang berkerumun di bawah pohon jambu. Sesuatu yang unik, mereka tidak mendekat secara langsung. Hal ini karena warga sekitar menyikapi kawin kontrak sebagai suatu yang tidak normatif. Sesuatu yang perlu diketahui, walaupun status Charles hanya kawin kontrak, Charles mendambakan Paina masih perawan. Charles sangat kecewa ketika mengetahui Paina sudah tidak perawan. Hal ini dapat disimak melalui kutipan sebagai berikut:
“Paina. Tatap mataku. Jangan menunduk begitu. Siapa yang telah mendahuluiku sebelum malam ini. Siapa? Siapa?! Katakan!”
Dia berdiri membelakangi. Di dalam kepalanya sebetulnya tidak terbesit perihal uang yang telah dikeluarkan, tetapi dengan lubang yang tidak lagi disegel dengan selembar selaput, yang baru sesaat tadi dimasuki oleh salah satu anggota badannya. Kenapa semua itu tidak diceritakan Paina dan ketika Charles begitu berharap akan teriakan “Sakit, sakit, sakit”, ternyata tidak membuahkan apa apa selain mulut yang terkatup.
(Kawin Kontrak, 2006:194-196)
Pria seburuk apa pun dan sejelek-jeleknya manusia ketika menikahi seorang wanita pastinya akan mempertanyakan keperawanan istrinya. Begitu pula yang dialami tokoh Charles melihat Paina sudah tidak perawan, ia sangat kecewa. Bagi Charles uang/(harta benda) yang diberikan kepada Paina tidak dipermasalahkan. Kesalahan Paina, ia tidak menceritakan kepada Charles bahwa dirinya sudah tidak perawan karena diperkosa oleh ayah sendiri (audipus elektra). Dalam hal ini, Paina menyalahi kode etik sosial. Masyarakat sampai saat ini belum mengakui keabsahan kawin kontrak. Mereka memandang bahwa perempuan yang melakukan kawin kontrak sama halnya pelacur. Ia tidak dihargai oleh masyarakat. Hal ini dapat disimak melalui dialog antara Rina dengan Paina sebagai berikut:
“Peristiwa itu sama saja dengan yang kualami. Dulu juga aku melakukan kawin kontrak dengan Charles, tetapi kemudian ia menyodorkan lembar demi lembar untuk memperluas usahanya. Semua tanah dibeli atas namaku. Semua usaha didirikan atas namaku, dan ketika aku sudah tidak dibutuhkan, aku dilempar, aku dibuang seperti sampah. Aku sama tidak bergunanya dengan air comberan karena masyarakat sendiri sudah memandangku sebagai pelacur.”
“Sebentar, cegah Paina.
Perempuan itu menoleh.
“Bolehkah saya tahu nama Anda?”
“ Rina namaku. Selamat tinggal.”
(Kawin Kontrak, 2006:229)
Ketika Charles meminta Paina menandatangani kertas bermaterei untuk bisnis dengan pribumi, imajinasi Paina ke arah perkataan Rina, kemudian ia terpaksa berlari ke polisi. Dalam keadaan demikian Charles tidak mengejarnya. Charles tahu bahwa secara konvensi faktual, masyarakat sekitar tetap akan membela orang pribumi. Apabila Charles mengejar Paina sama halnya Charles mati secara hara kiri.
Charles langsung mendatangi Paina yang masih sibuk di dapur, kemudian berkata “Aku ingin kamu menandatangani kertas ini, ini, dan yang bermaterei ini.
Paina mengernyitkan kening. Langsung teringat perkataan Rina.
“Tidak Charles, aku tidak mau tanda tangan di kertas apa saja sampai kapanpun.”
“Aku akan melapor ke polisi!”
Paina langsung memanfaatkan untuk kabur lewat pintu depan sekuat tenaga.
Ia harus lari, lari, lari.
Ketika Paina menoleh ke belakang, Charles hanya berdir i di ambang pintu. Bule itu takkan berani keluar rumah mengejar gadis kampung. Sebab, dia tahu betul, sekumpulan orang di sekitarnya tetap akan membela pribumi. Karena itu, Charles tidak mau cari mati.
(Kawin Kontrak, 2006:231-233)
Perjuangan Paina melapor ke polisi, menjadikan Paina masuk Nusakambangan. Teori hidup dengan fakta sosial sering terjadi tidak sinkron. Itulah kenyataan yang dialami oleh Paina. Menyikapi hal tersebut peneliti berpersepsi bahwa dalam menjalani hidup/(interaksi sosial), manusia tidak cukup hanya bermodalkan kesungguhan dan kejujuran. Dalam interaksi sosial diperlukan pendidikan tinggi, kearifan, dan memiliki kekuatan (eksistensi) agar tidak mudah diperdaya dan terdepak dari kondisi sosial.
BAB IV
KESIMPULAN
Kawin kontrak merupakan novel karya Saifur Rohman. Novel tersebut mengungkap fenomena kawin kontrak, yang di lakukan oleh Charles (dari Birmingham London) dengan Rina (penghuni vila lereng Gunung Muria), dan Paina (kampung Semanding) dari Jepara. Unsur intrinsik yang dominan dalam novel tersebut adalah penokohan. Tokoh utama Charles dan Paina, sedangkan Rina dan Rosa sebagai tokoh tambahan. Kawin kontrak dari pandangan Islam juga disebut sebagai nikah mut’ah (kesenangan) atau muaqqat (nikah dalam durasi waktu tertentu).
Dimensi etika sosial, kawin kontrak merupakan tidak etis atau dianggap haram untuk dilakukan. Begitu pula seperti yang dilakukan oleh Charles, Rina, maupun Paina dianggap ekstrem oleh masyarakat. Kawin kontrak termasuk nikah lacur. Dalam cerita Charles bertemu dengan Rina (PSK di vila lereng Gunung Muria), menikah untuk sementara waktu, tidak sejalan dengan semangat perkawinan yaitu membentuk keluarga sakinah dan mengembangkan keturunan. Demikian pula perkawinan Charles dengan Paina. Perkawinannya mirip dengan zina, karena dilakukan hanya untuk bersenang-senang. Akad nikah seharusnya bersifat mutlak. Oleh karena itu pembatasan dalam akad nikah tidaklah dibenarkan.
Berdasarkan hasil evaluasi pembahasan makalah di atas, diketahui nasib buruk yang menimpa Paina dan Rina bukanlah terjadi karena mereka bertemperamen buruk. Fenomena itu terjadi karena keterbatasan mereka menyikapi hidup. Paina dan Rina berpendidikan rendah, inferior, dan tidak memiliki eksistensi. Dengan tidak bermodalkan hal tersebut, Paina dan Rina dapat diperdaya oleh Charles dengan mudahnya.
Manfaat yang dapat diambil dari cerita novel Kawin Kontrak untuk menghadapi hidup di zaman sekarang ini, yakni sebaiknya sebagai makhluk sosial seharusnya di zaman seperti sekarang ini sudah selayaknya berpendidikan tinggi, memiliki kearifan, pengetahuan dan mudah bergaul di lingkungan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Yatimin. 2005. Pengantar Studi Etika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Lubis, Mochtar. 1996. Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Minderop, Albertine. 2005. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Moeliono, Anton M. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Rohman, Saifur. 2006. Kawin Kontrak. Jakarta: PT Grasindo.
Salam, Burhanuddin. 2005. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan manusia. Jakarta: PT Rineka.
(Sebagai Tugas Ujian Akhir Semester Prosa Fiksi dan Drama)
Oleh:
MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan hasil imajinasi dan kreativitas seorang pengarang. Pengarang menulis tentang apa saja yang menimbulkan keharuan batinnya, dan mendorong untuk berpikir, mencernakan dan mensublimasikan apa yang dilihat, didengar, dirasakannya, dialaminya, dan akhirnya dia mencipta (Lubis,1996:37). Selanjutnya Lubis (1996:53) mengemukakan bahwa kreativitas seorang sastrawan adalah kemampuan untuk mengapresiasi manusia dan kehidupannya, pengalaman masyarakatnya, sejarah bangsanya, dan negerinya, lingkungan hidupnya, kebudayaan dan sistem nilai bangsanya baik yang homogen maupun yang beragam. Sastra coba mengarah kepada persoalan budaya, mencoba memahami kehidupan, melihat persoalan kehidupan, memberikan makna dan mencari dasar persoalan.
Analisis karya sastra ini menggunakan karya sastra berbentuk novel, karena novel menceritakan berbagai macam kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan dengan karya sastra lain. Di samping itu, novel merupakan prosa panjang yang menunjukkan tokoh-tokoh, menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Sudjiman, 1991:55). Semua itu merupakan hasil imajinatif pengarang yang diperoleh dari perenungan dalam kehidupan nyata.
Novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman diterbitkan oleh PT. Grasindo, Jakarta tahun2006. Novel tersebut mengungkapkan kawin kontrak Charles (dari London) dengan Rina (penghuni vila lereng Gunung Muria dan Paina (kampung Semanding) Jepara. Kawin kontrak diartikan sebagai perkawinan berlaku sampai masa tertentu. Apabila masa itu telah datang, perkawinan terputus dengan sendirinya tanpa melalui proses perceraian. Ditinjau dari hukum kontrak, kawin kontrak terklasifikasi dalam kontrak innominaat yakni keseluruhan kaidah hukum yang mengkaji berbagai kontrak yang timbul, tumbuh, dan hidup dalam masyarakat. Kontrak ini belum dikenal pada saat KUH Perdata diundangkan (Salim, 2005:4). Untuk menyikapi permasalahan tersebut penulis menganalisis novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman dari dimensi etika sosial, karena karya sastra merupakan objek yang dapat dikaji dari berbagai disiplin ilmu termasuk dari segi etika sosial. Gejala-gejala etika sosial manusia yang ditangkap pengarang dapat dituangkan ke dalam sebuah karya sastra dan dipadukan dengan pengalaman batin pengarang menjadi sebuah pengetahuan baru yang mampu menciptakan cara berpikir manusia yang berbeda.
Penggambaran-penggambaran tentang cara pandang seseorang dalam kehidupan akan dituangkan oleh pengarang melalui perilaku tokoh yang dikemukakan dalam karya sastra. Pengalaman jiwa pengarang yang memuat berbagai sudut pandang kehidupan terlihat lewat ciri-ciri para tokoh imajinasinya. Melalui tingkah laku tokoh-tokoh yang ditampilkan inilah pengarang melukiskan kehidupan manusia dengan berbagi konflik yang timbul di dalamnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan :
1)Bagaimanakah analisis tokoh pada novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman?
2)Bagaimanakah etika sosial pada tokoh novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman?
I.3 Tujuan Penulisan
1)Mengetahui analisis tokoh pada novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman.
2)Mengetahui etika sosial pada tokoh novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Struktur Karya Sastra
Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagi unsur (pembangun)-nya. Di satu pihak, strukutur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams,1981:68). Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk suatu kesatuan yang utuh.
Kajian struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secara cermat fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan.
Begitu pula dengan karya sastra berbentuk novel, yang menceritakan berbagai macam kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan dengan karya sastra lain. Di samping itu, novel merupakan prosa panjang yang menunjukkan tokoh-tokoh, menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Sudjiman, 1991:55). Semua itu merupakan hasil imajinatif pengarang yang diperoleh dari perenungan dalam kehidupan nyata.
Novel terbentuk dari struktur yang sama dengan karya sastra lain, seperti adanya judul, tema, perwatakan dan penokohan, latar serta konflik. Tetapi analisis ini menitik beratkan pada penokohan dalam cerita novel Kawin Kontrak.
2.2 Definisi Tokoh
Tokoh adalah pelukisan mengenai tokoh cerita baik keadaan lahir maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya dan sebagainya (Suharianto 1982:31). Lalu mengapa menganalisis tokoh utama? karena tokoh utama pada karya sastra akan memberikan gambaran banyak tentang pandangan hidup, sikap, keyakinan, dan adat istiadat, dan tentunya untuk memperjelas pembaca dalam mengetahui keseluruhan isi cerita yang digambarkan oleh pengarang. Tulisan-tulisan yang dituangkan pengarang melalui tokoh utama yang diciptakannya sering menimbulkan tanggapan bahwa jiwa tokoh ciptaannya itu sesuai dengan cara pandang yang dikemukakan oleh seorang tokoh filsafat. Pemikiran-pemikiran tokoh filsafat merupakan salah satu sumber utama bagi pengarang untuk menuangkan ide-idenya maupun ide seseorang ke dalam sebuah karya sastra.
Tokoh dalam sebuah cerita dibagi menjadi dua macam, yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Tokoh utama paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian. Tokoh bawahan adalah tokoh yang kehadirannya ada keterkaitan dengan tokoh utama secara langsung maupun tidak langsung.
2.3 Etika Sosial dalam Karya Sastra
Fenomena di dalam bermasyarakat, baik masyarakat modern maupun masyarakat tradisional selalu ada norma etika. Norma tersebut disusun berdasarkan kesepakatan umum [seperti adat, kebiasaan, kelaziman (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:439)]. Sehubungan dengan itu Mungin Eddy Wibowo (2001:6) mengartikan etika sebagai cabang filsafat yang membicarakan nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Pendapat tersebut diperjelas oleh Abdulkadir Muhammad (2005:66) yang menyatakan bahwa etika merupakan ilmu tentang kebiasaan yang baik.
Etika memiliki hubungan sangat relevan dengan aspek sosiologi. Hubunganya terbukti yakni, sosiologi digunakan untuk memahami etika. Hal demikian dapat dimengerti karena banyak kajian etika yang dapat dipahami secara professional. Hubungan etika dengan sosiologi ialah sama -sama mempelajari dan mengupas masalah perilaku. Perbuatan manusia yang timbul dari kehendak ilmu sosiologi mempersoalkan kehidupan bermasyarakat dan etika dari sisi tingkah laku (Yatimin Abdullah, 2006:397-398). Berkaitan dengan hal tersebut Poedjawijatna (2003:39), berpendapat bahwa hubungan antara etika dan sosial menghasilkan produk pranata sosial. Istilah tersebut diartikan sebagai suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nila-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat.
Menyikapi pranata sosial, orang harus menemukan ukuran baik dan buruk. Untuk melakukan hal tersebut peneliti dapat menggunakan teori deontologis dan teleologis. Bahanuddin Salam dalam bukunya yang berjudul Etika Sosial menyatakan bahwa secara deontologis, sesuatu dikatakan baik apabila yang bersangkuatan berkemauan baik. Selain itu sesuatu dikatakan baik apabila suatu dilakukan demi kewajiban. Teori teleologis ber pendapat bahwa sesuatu dinilai baik berdasarkan akibat yang ditimbulkan tindakan itu. Apabila suatu tindakan hasilnya baik, maka tindakan itu dinilai baik (1997:71-72).
2.4 Sinopsis Novel Kawin Kontrak
Charles seorang pemuda kelahiran Birmingham, menetap di London pergi ke Jepara, Jawa Tengah untuk berinvestasi mebel. Di sela-sela kehidupannya ia isi dengan berkunjung tempat tinggal Rina (pasangan kawin kontrak) di vila, lereng Gunung Muria. Perlu digarisbawahi bahwa perkawinan antara Charles dan Rina hanya sebatas kawin kontrak. Oleh karena itu Charles tidak dapat berbuat apa-apa ketika Rina memasukkan laki-laki lain ke vilanya. Dalam kawin kontrak tidak tercantumkan bahwa Rina harus setia. Tidak berapa lama Rina tidak dihiraukan oleh Charles. Ia berusaha untuk mencintai perempuan lain yaitu Paina, di kampung Semanding, Jepara. Untuk dapat kawin kontrak dengan Paina, Charles membutuhkan perantara Rosa, lonte (pelacur) sekaligus mucikari yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal Paina. Berkat pendekatan Rosa terhadap Mbok Pedhet (ibu Paina), Charles berhasil kawin kontrak dengan Paina, meskipun pada awalnya ayah Paina (Pak Mo Pedhet) sangat membenci Charles. Malang melintang nasib Paina, sebelum menikah dengan Charles, Paina sudah diperkosa ole h ayah sendiri sehingga Bisri (pacar Paina) ketika berkoitus dengan Paina sangat kecewa, karena Paina sudah tidak gadis (ibarat botol yang sudah dibuka tutupnya). Demikian pula Charles, ia sangat kecewa ketika berbulan madu dengan Paina ia sudah tidak gadis lagi.
Bisri yang kecewa terhadap kondisi Paina, menduga Paina telah dinodai oleh Charles. Oleh karena itu pada suatu malam, Charles ketika berada di rumah Rosa digrebeg warga kampung yang dikomandoi Bisri. Charles dipukuli warga yang mengakibatkan Charl es dirawat di rumah sakit. Demikian juga Charles, begitu berbulan madu tahu bahwa Paina sudah tidak gadis lagi menduga bahwa Paina sudah dinodai oleh Bisri. Hal ini mengakibatkan Paina dianiaya oleh Charles. Paina diminta oleh Charles untuk menandatangani pembebasan tanah, Paina tidak bersedia menandatanganinya. Dalam keadaan demikian Paina berlari melapor diri kepada lurah yang berakibat berurusan dengan polisi. Nasib menentukan lain, akhirnya Paina menjadi narapidana di Nusakambangan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Analisis Tokoh Pada Novel Kawin Kontrak
Tokoh dalam sebuah cerita, merupakan unsur yang harus ada di dalam karya sastra. Burhan Nurgiantoro (2000:165) mengartikan tokoh sebagai pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Arif Furchan dan H. Agus Maimun dalam buku Studi Tokoh (2005:6-7) menyatakan bahwa tujuan studi tokoh umumnya adalah untuk mencapai pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan. Tujuan lain dari studi model ini adalah untuk menyusun dalam pengertian kita terhadap komunitas tertentu tempat tokoh-tokoh itu hidup. Yang lebih penting lagi, seorang individu akan banyak mengungkapkan motivasi, aspirasi, dan ambisinya tentang kehidupan dalam masyarakatnya. Berkaitan dengan hal tersebut deskripsi penokohan atau tokoh dalam novel Kawin Kontrak dapat diketahui sebagai berikut.
Paina
Tokoh utama dalam novel Kawin Kontrak adalah Paina. Dalam hal ini Paina adalah tokoh yangdiutamakan penceritanya. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Dapat dikatakan bahwa tokoh Paina hadir dalam setiap kejadian. Dalam novel Kawin Kontrak, Paina putri hasil perkawinan antara Mbok Pedhet dengan Pak Mo Pedhet. Sosok Paina mempunyai kelebihan. Ia bagaikan mutiara dan sorot matanya sangat dalam. Ia berusia tujuh belas, hampir delapan bel as tahun, ia rajin, dan trengginas. Dalam hal ini Paina diincar Rosa untuk dijadikan gundik. Hal ini misalnya terdapat pada percakapan berikut:
“Kamu tahu, Mbok,” Pak Mo menekan suaranya lebih daripada menekan hawa yang membuncah dalam dada. “Dia mau menjerumuskan anak kita.”
“Menjerumuskan bagaimana?”
“Kamu nggak tahu kerjanya apa?” Mbok Pedhet geleng.
“Coba saya tebak.”
“Jadi pelacur, itu maksudmu?”
“Bukan. Maksudku, lebih dari itu.”
“Jadi demenan, gundik orang bule itu.”
“Bukan.”
“Lantas?”
“Dia itu pedagang?”
“Iya, pedagang manusia.”
Kemudian, Pak Mo menceritakan pekerjaan Rosa itu. Juga, tentang kedatangan warga kampung sebelah yang menawarkan anak gadisnya ke rumah Rosa. Menurutnya, gadis itu akan ditampung bersama gadis-gadis lain. Setelah dirasa sukup, baru dibawa ke kota besar. Bisa ke Semarang, Surabaya, Jakarta, bahkan Singapura maupun Malaysia.
(Kawin Kontrak, 2006:60)
Charles
Tokoh novel Kawin Kontrak, Charles terklasifikasi tokoh utama. Ia seorang bule dari London. Kedatangan Charles ke Jepara, Indonesia bermisi untuk mendapatkan materi yang melimpah ruah. Charles melakukan kawin kontrak dengan Rina dan Paina termotivasi agar dapat berinvestasi dan mendapat proyek besar di Indonesia. Tanpa menikahi perempuan Indonesia, Charles kesulitan memperoleh apa yang ia inginkan dan ia harapkan. Hal itu dapat disimak sebagai berikut:
Sudahlah diri Rina juga merupakan bagian dari penjelmaan padang golf di sana. Ladang perkebunan teh itu tidak akan pernah terbeli tanpa nama Rina di atas sertifikat yang ditandatangani pihak agraria. Tanpa perempuan pribumi yang tolol dan cuma mengandalkan kemaluan itu, Charles tak pernah mendapatkan apa-apa. Bahkan, sejengkal tanah pun tidak.
(Kawin Kontrak, 2006:67)
Pernyataan tersebut diperjelas melalui kutipan percakapan antara Paina dan Rina, sebagai berikut:
“Apakah kamu kawin kontrak?”Paina mengangguk.
“Dan surat persetujuan itu dibawa Charles?” Sekali lagi Paina mengangguk.
“Peristiwa itu sama saja dengan yang kualami. Dulu aku juga melakukan kawin kontrak dengan Charles, tetapi kemudian ia menyodorkan lembar demi lembar untuk memperluas usahanya. Semua tanah dibeli atas namaku. Semua usaha didirikan atas namaku, dan ketika aku sudah tidak dibutuhkan, aku dilempar, aku dibuang seperti sampah. Aku sama t idak bergunanya dengan air comberan karena masyarakat sendiri sudah memandangku sebagai pelacur.”
(Kawin Kontrak, 2006:229)
Hal seperti itu dialami juga oleh Paina. Charles memaksa Paina untuk menandatangani pembelian tanah dan membuat usaha. Dalam hal ini Paina bersikeras tidak mau menandatangani hal itu.
Sampai suatu hari di suatu pagi, Charles membawa map berisi lembaran kertas putih tertulis rapi. Charles langsung mendatangi Paina yang masih sibuk di dapur, kemudian berkata, “Aku ingin kamu menandatangani kertas ini, ini, dan yang bermaterei ini.” Paina mengernyitkan kening. Langsung teringat perkataan Rina, perempuan yang bermaksud membunuhnya beberapa hari yang lalu. Tanda tangan untuk pembelian tanah, untuk bikin usaha.
(Kawin Kontrak, 2006:231)
Rina
Tokoh Rina terklasifikasi dalam tokoh tambahan. Ia adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu. Ia mudah dikenal dan dipahami, serta cenderung stereotip (Burhan Murgiantoro, 2000:182) Rina dalam novel Kawin Kontrak sebagai seorang penghuni vila, di lereng Gunungan Muria. Ia berprofesi sebagai pelacur, berkawin kontrak dengan Charles asli Birmingham. Dalam perkawinannya dengan Charles, Rina menandatangani semua usaha Charles. Semua tanah yang dibeli Charles atas nama Rina, akan tetapi setelah Rina tidak dibutuhkan ia ditinggalkan.
Rosa
Tokoh Rosa dalam novel Kawin Kontrak sama halnya dengan tokoh Rina. Ia terklasifikasi dalam tokoh tambahan. Perbedaannya Rina hanya berprofesi sebagai pelacur sedangkan Rosa selain sebagai pelacur, sebagai gundik orang bule, sekaligus pedagang perempuan. Rosa menampung gadis-gadis, setelah dirasa cukup kemudian dibawa ke kota: Semarang, Surabaya, Jakarta, bahkan Singapura, dan Malaysia.
3.2 Etika Sosial Pada Tokoh Novel Kawin Kontrak
M. Yatimin Abdullah (2006:4) mendefinisikan etika berdasarkan etimologi. Bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti adat istiadat (kebiasaan). Pendapat tersebut diperjelas oleh Bernard T. Adney dalam bukunya yang berjudul Etika Sosial Lintas Budaya (2000:131) menyatakan bahwa suatu pendekatan umum pada etika ialah usaha untuk mendapatkan prinsip-prinsip moral dasar yang ada di balik semua aturan, hukum, dan ajaran ajaran al-kitab.
Berkaitan dengan hal tersebut Poedjawijatna (2003:39) berpendapat bahwa hubungan antara etika dan sosial menghasilkan produk pranata sosial. Istilah tersebut diartikan sebagai suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nila-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat. Dalam novel Kawin Kontrak, perkawinan Charles dengan Rina tidak ada ikatan apa pun sehingga ketika Charles meninggalkan Rina sebelum bertolak dari Bandara Sukarno-Hatta, di vila Rina sudah ada laki-laki lain. Dalam keadaan demikian pikiran dan perassan Charles berada “di samping jalan” antara berhak memiliki gadis itu atau membiarkan dia berkeliaran memasukkan laki-laki lain. Untuk memperoleh gambaran secara konkret dapat dilihat kutipan di bawah ini:
Ia ingat meninggalkan Rina pas sebelum bertolak dari bandara Sukarno -Hatta. Bahkan pakaian, paspor, cerutu, dan alat pencukur jenggot pun disiapkan Rina dengan rajin, setelah cium pipi kanankiri, sebuah mercy sudah menunggu di halaman rumah.
Ah, betapa cepatnya ia memasukkan laki-laki lain di rumah yang aku bangun, pikirannya geram.
“Hah! Dasar pelacur,” umpatnya.
Charles bangkit dari kursi malasnya, mengencangkan piama, kemudian masuk ke dalam. Entahlah ia harus jengkel atau abai saja sebab ia merasa antara berhak untuk memiliki gadis itu atau membiarkan dia berkeliaran dengan memasukkan laki -laki lain. Dalam perjanjian kawin kontrak itu memang tidak tercantumkan bahwa ia harus setia.
Rina, yang merasa tidak dihiraukan, mengikuti saja dari belakang. Belum sempurna benar dia berpakaian. Kutangnya pun belum terkancingkan. Melewati pintu, tampak Charles tak menoleh.
(Kawin Kontrak, 2006:21-22)
Berdasarkan karakterisasi, pengarang melukiskan sosok Rina melalui tampilan tokoh. Hal tersebut diutarakan bahwa penampilan tokoh dimasksud misalnya, pakaian apa yang dikenakan atau bagaimana ekspresinya (Albertine Minderop, 2005:10). Dalam hal ini Rina sosok pelacur digambarkan kutangnya belum terkancing ketika mengikuti Charles dari belakang. Untuk melukiskan Charles sebagai sosok eksekutif digambarkan memakai piama, duduk di kursi malas. Di sisi lain Charles ketika hendak naik pesawat di bandara Sukarno -Hatta membawa paspor, cerutu, dan alat pencukur jenggot.
Berdasarkan etika sosial, Rina terklasifikasi sebagai seorang istri yang tidak menghormati, dan tidak setia kepada Charles. Baru saja ditinggal Charles, ia memasukkan pria lain. Dengan kata lain perilaku Rina sebagai sosok istri tidak etis. Rina terkalsifikasi wanita ekstrem. Sebaiknya, Rina sebagai seorang istri harus menunjukkan kesetiaan kepada suaminya. Ketidaksetiaan Rina kepada suaminya (Charles) sama halnya tidak menjaga keutuhan rumah tangga. Charles sebagai orang Barat penganut free sex (seks bebas). Hal itu didukung teori bahwa lelaki adalah tukang selingkuh bawaan. Oleh karena itu laki -laki tidak cocok untuk monogami. Kesetiaan pada suatu pasangan hanyalah kamuflase (John M. Gottman dan Nan Silver (2001:17)). Oleh karena itu selain kawin kontrak dengan Rina, Charles juga kawin kontrak dengan Paina. Hal ini tampak melalui percakapan sebagai berikut:
“Ya, aku tahu kekecewaanmu Bisri. Tapi Paina sendiri tampaknya memilih bule itu.” “Kawin kontrak, maksud Pak Mo?”
Pak Mo mengangguk mantap. “Betul, Bis. Tidak ada yang lebih aman selain kawin kontrak, Bisri.“
Perkawinan itu telah ditentukan harinya. Selasa, Selasa itu tiga, dan legi itu empat, berarti jatuh pada angka tujuh. Tujuh adalah angka keberuntungan Paina yang lahir pada Kamis Kliwon. Biar saja tanpa harus menanyai si bule itu lahir hari apa. Itu tak penting bagi keluarga Pak Mo, juga Charles sendiri.
Dan memang, kawin itu tidak harus mendatangkan penghulu. Cukup dengan k ertas bermaterei Rp 6.000, ditandatangani Pak Mo dan Charles. Isinya sederhana. Diterangkan pihak pertama adalah Pak Mo Pedhet yang menyewakan anaknya, Paina kepada pihak kedua Charles. Seperti dilansir surat perjanjian itu, keduanya sepakat bahwa Paina dibawa Charles ke rumah baru untuk dijadikan istri. Istri kontrakan tepatnya.
(Kawin Kontrak, 2006:189-191)
Amir Syarifuddin (2006:100) mengartikan, kawin kontrak disebut juga dengan nikah mut’ah (nikah muaqqat). Yaitu perkawinan untuk masa tertentu dalam arti pada waktu akad nikah dinyatakan berlaku ikatan perkawinan masa tertentu, yang bila masa itu telah datang, perkawinan terputus dengan sendirinya tanpa melalui proses perceraian. Perkawinan jenis ini hukumnya haram atau terlarang. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, kawin kontrak merupakan suatu tindakan yang melanggar kode etik sosial. Manusia pada dasarnya merupakan bagian dari kelompok masyarakat. Dalam hal ini manusia sebagai makhluk sosial, ia merupakan bagian kehidupan masyarakat. Atas dasar hal tersebut, kawin kontrak Charles tentu mendapat reaksi. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut:
Berpasang-pasang mata mengintip dari balik dinding kayu yang bolong, dari balik cendela yang terbuka. Sedikit, dan dari orang yang sekedar berkeru mun di bawah pohon jambu. Pak Mo tahu, tapi sesungguhnya dia tidak ingin mau tahu.
(Kawin Kontrak, 2006:193)
Reaksi tersebut menunjukkan hakikatnya manusia selalu ingin tahu. Mereka mengintip dari balik dinding kayu berlubang. Ada juga yang mengintip dari balik jendela yang terbuka sedikit. Selain itu ada yang berkerumun di bawah pohon jambu. Sesuatu yang unik, mereka tidak mendekat secara langsung. Hal ini karena warga sekitar menyikapi kawin kontrak sebagai suatu yang tidak normatif. Sesuatu yang perlu diketahui, walaupun status Charles hanya kawin kontrak, Charles mendambakan Paina masih perawan. Charles sangat kecewa ketika mengetahui Paina sudah tidak perawan. Hal ini dapat disimak melalui kutipan sebagai berikut:
“Paina. Tatap mataku. Jangan menunduk begitu. Siapa yang telah mendahuluiku sebelum malam ini. Siapa? Siapa?! Katakan!”
Dia berdiri membelakangi. Di dalam kepalanya sebetulnya tidak terbesit perihal uang yang telah dikeluarkan, tetapi dengan lubang yang tidak lagi disegel dengan selembar selaput, yang baru sesaat tadi dimasuki oleh salah satu anggota badannya. Kenapa semua itu tidak diceritakan Paina dan ketika Charles begitu berharap akan teriakan “Sakit, sakit, sakit”, ternyata tidak membuahkan apa apa selain mulut yang terkatup.
(Kawin Kontrak, 2006:194-196)
Pria seburuk apa pun dan sejelek-jeleknya manusia ketika menikahi seorang wanita pastinya akan mempertanyakan keperawanan istrinya. Begitu pula yang dialami tokoh Charles melihat Paina sudah tidak perawan, ia sangat kecewa. Bagi Charles uang/(harta benda) yang diberikan kepada Paina tidak dipermasalahkan. Kesalahan Paina, ia tidak menceritakan kepada Charles bahwa dirinya sudah tidak perawan karena diperkosa oleh ayah sendiri (audipus elektra). Dalam hal ini, Paina menyalahi kode etik sosial. Masyarakat sampai saat ini belum mengakui keabsahan kawin kontrak. Mereka memandang bahwa perempuan yang melakukan kawin kontrak sama halnya pelacur. Ia tidak dihargai oleh masyarakat. Hal ini dapat disimak melalui dialog antara Rina dengan Paina sebagai berikut:
“Peristiwa itu sama saja dengan yang kualami. Dulu juga aku melakukan kawin kontrak dengan Charles, tetapi kemudian ia menyodorkan lembar demi lembar untuk memperluas usahanya. Semua tanah dibeli atas namaku. Semua usaha didirikan atas namaku, dan ketika aku sudah tidak dibutuhkan, aku dilempar, aku dibuang seperti sampah. Aku sama tidak bergunanya dengan air comberan karena masyarakat sendiri sudah memandangku sebagai pelacur.”
“Sebentar, cegah Paina.
Perempuan itu menoleh.
“Bolehkah saya tahu nama Anda?”
“ Rina namaku. Selamat tinggal.”
(Kawin Kontrak, 2006:229)
Ketika Charles meminta Paina menandatangani kertas bermaterei untuk bisnis dengan pribumi, imajinasi Paina ke arah perkataan Rina, kemudian ia terpaksa berlari ke polisi. Dalam keadaan demikian Charles tidak mengejarnya. Charles tahu bahwa secara konvensi faktual, masyarakat sekitar tetap akan membela orang pribumi. Apabila Charles mengejar Paina sama halnya Charles mati secara hara kiri.
Charles langsung mendatangi Paina yang masih sibuk di dapur, kemudian berkata “Aku ingin kamu menandatangani kertas ini, ini, dan yang bermaterei ini.
Paina mengernyitkan kening. Langsung teringat perkataan Rina.
“Tidak Charles, aku tidak mau tanda tangan di kertas apa saja sampai kapanpun.”
“Aku akan melapor ke polisi!”
Paina langsung memanfaatkan untuk kabur lewat pintu depan sekuat tenaga.
Ia harus lari, lari, lari.
Ketika Paina menoleh ke belakang, Charles hanya berdir i di ambang pintu. Bule itu takkan berani keluar rumah mengejar gadis kampung. Sebab, dia tahu betul, sekumpulan orang di sekitarnya tetap akan membela pribumi. Karena itu, Charles tidak mau cari mati.
(Kawin Kontrak, 2006:231-233)
Perjuangan Paina melapor ke polisi, menjadikan Paina masuk Nusakambangan. Teori hidup dengan fakta sosial sering terjadi tidak sinkron. Itulah kenyataan yang dialami oleh Paina. Menyikapi hal tersebut peneliti berpersepsi bahwa dalam menjalani hidup/(interaksi sosial), manusia tidak cukup hanya bermodalkan kesungguhan dan kejujuran. Dalam interaksi sosial diperlukan pendidikan tinggi, kearifan, dan memiliki kekuatan (eksistensi) agar tidak mudah diperdaya dan terdepak dari kondisi sosial.
BAB IV
KESIMPULAN
Kawin kontrak merupakan novel karya Saifur Rohman. Novel tersebut mengungkap fenomena kawin kontrak, yang di lakukan oleh Charles (dari Birmingham London) dengan Rina (penghuni vila lereng Gunung Muria), dan Paina (kampung Semanding) dari Jepara. Unsur intrinsik yang dominan dalam novel tersebut adalah penokohan. Tokoh utama Charles dan Paina, sedangkan Rina dan Rosa sebagai tokoh tambahan. Kawin kontrak dari pandangan Islam juga disebut sebagai nikah mut’ah (kesenangan) atau muaqqat (nikah dalam durasi waktu tertentu).
Dimensi etika sosial, kawin kontrak merupakan tidak etis atau dianggap haram untuk dilakukan. Begitu pula seperti yang dilakukan oleh Charles, Rina, maupun Paina dianggap ekstrem oleh masyarakat. Kawin kontrak termasuk nikah lacur. Dalam cerita Charles bertemu dengan Rina (PSK di vila lereng Gunung Muria), menikah untuk sementara waktu, tidak sejalan dengan semangat perkawinan yaitu membentuk keluarga sakinah dan mengembangkan keturunan. Demikian pula perkawinan Charles dengan Paina. Perkawinannya mirip dengan zina, karena dilakukan hanya untuk bersenang-senang. Akad nikah seharusnya bersifat mutlak. Oleh karena itu pembatasan dalam akad nikah tidaklah dibenarkan.
Berdasarkan hasil evaluasi pembahasan makalah di atas, diketahui nasib buruk yang menimpa Paina dan Rina bukanlah terjadi karena mereka bertemperamen buruk. Fenomena itu terjadi karena keterbatasan mereka menyikapi hidup. Paina dan Rina berpendidikan rendah, inferior, dan tidak memiliki eksistensi. Dengan tidak bermodalkan hal tersebut, Paina dan Rina dapat diperdaya oleh Charles dengan mudahnya.
Manfaat yang dapat diambil dari cerita novel Kawin Kontrak untuk menghadapi hidup di zaman sekarang ini, yakni sebaiknya sebagai makhluk sosial seharusnya di zaman seperti sekarang ini sudah selayaknya berpendidikan tinggi, memiliki kearifan, pengetahuan dan mudah bergaul di lingkungan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Yatimin. 2005. Pengantar Studi Etika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Lubis, Mochtar. 1996. Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Minderop, Albertine. 2005. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Moeliono, Anton M. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Rohman, Saifur. 2006. Kawin Kontrak. Jakarta: PT Grasindo.
Salam, Burhanuddin. 2005. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan manusia. Jakarta: PT Rineka.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
(Sebagai Tugas Ujian Akhir Semester Pengantar Teknologi Informasi)
Oleh:
MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan bangsa itu sendiri. Mengingat sangat pentingnya bagi kehidupan, maka pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil maksimal seperti yang diharapkan. Untuk mencapainya, salah satu yang harus dilakukan sebagai seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, seorang pendidik dituntut paham akan mengetahui dan memahami komponen pembelajaran dengan baik. Karena jika semua komponen disatukan, maka proses belajar-mengajar akan berjalan lancar. Seperti halnya di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, yakni diharapkan peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain dengan mengemukakan gagasan dan perasaan melalui lisan maupun tulisan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis. Serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, serta kemampuan penguasaan teknologi informasi dan komputer. Untuk itu perlu adanya penunjang media pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Diharapkan nantinya peserta didik tidak gaptek (gagap teknologi) terhadap kemajuan teknologi dan di saat menyongsong era globalisasi di masa sekarang dan mendatang.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Mengetahui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah berkembang pesat dalam semua aspek kehidupan. Tidak terkecuali di dalam dunia pendidikan. Di mana dalam proses pembelajaran menggunakan media berbasis komputer yang dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, LCD, dan perangkat audio lainnya. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai suatu perubahan di dalam dunia pendidikan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau pembelajaran dengan menggunakan media tradisional.
Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, seorang guru diharapkan mampu menggunakan media presentasi yang berbasis komputer demi meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran media berbasis TIK. Misalnya media pembelajaran berbasis komputer digunakan dalam proses pembelajaran puisi, drama, atau keterampilan berbahasa lainnya.
Menurut Azhar Arsyad (Media Pembelajaran:45.2007), media berbasis komputer yang digunakan dalam proses pembelajaran dapat memberikan manfaat besar, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi tingkat pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan, di samping komputer menampilkan perpaduan antar teks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian. Media komputer tersebut membantu proses belajar mengajar yang berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan oleh pendidik, sehingga tujuan pembelajaran akan diterima oleh siswa dengan mudah menyerap materi pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh pendidik atau guru.
BAB III
PEMBAHASAN
1.Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Mengingat bahwa mutu suatu hasil didikan sangatlah ditentukan oleh mutu kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Maka dari itu perlu adanya upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Salah satunya dengan memanfaatkan media berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang sangat canggih dan beragam fasilitasnya. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran media berbasis TIK yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan media komputer di dalam kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan media komputer ini juga diharapkan guna mendorong guru untuk selalu melakukan refleksi diri, agar dapat mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ada di saat proses kegiatan pembelajarannya. Sehingga memudahkan guru untuk mencari solusi untuk mengatasi permasalahan yang dialami pada saat proses pembelajaran di dalam kelas.
Keefektifan pembelajaran berbasis TIK dengan menggunakan media komputer dapat meningkatkan kemampuan peserta didik pada ke empat aspek keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran keempat aspek berbahasa tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan media audio visual, video dan mengakses internet dengan memanfaatkan layanan e-mail (surat elektronik). Media berbasis TIK ini perlu dikembangkan oleh pendidik dalam rangka menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan serta menantang peserta didik untuk menguasai teknologi informasi di masa sekarang ini.
Salah satu keuntungan menggunakan media berbasis komputer dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah bahwa materi yang disajikan dengan media komputer dapat menyajikan konteks situasi dengan mudah dan jelas. Soalnya di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik perlu mengetahui konteks situasi di mana suatu ungkapan digunakan atau dikenal dengan ungkapan-ungkapan (kata maupun kalimat) yang digunakan saat berkomunikasi dengan lawan bicaranya di saat situasi formal ataupun digunakan dalam situasi nonformal. Situasi semacam ini tidak mudah diajarkan kepada peserta didik dengan tidak memanfaatkan media, untuk itu cara mengatasi kesulitan ini guru dapat memanfaatkan media komputer.
Media komputer juga akan sangat membantu guru dalam menyediakan bahan-bahan yang otentik, akurat dan instan. Hal ini dapat dilakukan oleh guru, misalnya dengan memanfaatkan internet untuk pencarian bahan-bahan seperti artikel atau wacana yang mendukung kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Internet juga dapat dimanfaatkan guru untuk mengakses e-mail, yakni guru dapat memanfaatkannya untuk memperlihatkan contoh buku harian yang ditulisnya melalui e-mail. Tulisan itu bisa tentang pengalaman-pengalaman, puisi ataupun cerita pendek. Kemudian peserta didik diminta membuka e-mail dari gurunya, dan diharapkan peserta didik juga mampu menuliskan pengalaman atau kegiatan yang mereka rasakan melalui e-mail untuk dikirimkan kepada gurunya.
Selain itu keuntungan lain dari media berbasis komputer, yaitu guru dapat menyajikan materi dengan efektif dan efisien. Banyak hal yang dapat disajikan oleh guru ketika guru mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebagai contoh, guru dapat mengajarkan puisi atau drama melalui fasilitas MP3 atau DVD yang terdapat pada komputer, sehingga relatif mudah pengoperasiannya jika dibandingkan dengan penggunaan tape-recorder. Bagi siswa sendiri, juga dipermudah untuk menyimak dan mempresentasikan hasil simakkan puisi atau drama yang diperdengar dari MP3 atau DVD tersebut.
Fasilitas komputer yang lain seperti program Microsoft Office, wallpaper, animasi, dan media player lainnya dapat juga digunakan sebagai media penunjang yang digunakan oleh guru untuk membelajarkan keterampilan berbahasa Indonesia. Dengan tujuan memudahkan peserta didik untuk memahami materi pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh guru.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian mengenai “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia” di atas dapat disimpulkan, bahwa proses pembelajaran yang efektif merupakan persyaratan utama untuk menuju peningkatan mutu pendidikan. Keefektifan penggunaan pembelajaran berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dengan menggunakan media komputer merupakan salah satu alat untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami dan mempelajari ke empat macam aspek keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran keempat aspek berbahasa tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan media audio visual, video dan mengakses internet atau memanfaatkan layanan e-mail (surat elektronik).
Penggunaan media berabasis computer juga perlu memperhatikan tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan diperoleh. Dengan tujuan agar penggunaan media berbasis computer tersebut efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran pada saat dimanfaatkan, seperti dalam hal mengajarkan puisi atau drama yaitu dengan memanfaatkan fasilitas MP3 atau DVD yang terdapat pada komputer. Selain itu keuntungan lain dari media berbasis komputer, yakni memanfaatkan layanan internet untuk pencarian bahan-bahan pembelajaran seperti artikel atau wacana yang mendukung kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Fasilitas-fasilitas tersebut selain menarik bagi peserta didik juga tentu akan menyajikan materi secara lebih riil yang diberikan oleh guru atau pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. (2007). Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nana Sudjana, Ahmad Rivai. (2005). Pemanfaattan Media Komputer untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Sinar Baru Algendindo.
Sadiman, Arief S., R. Rahardjo, Anung Haryono, Rahardjito. (1990). Media
Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: CV Rajawali.
Sriningsih, Retno. Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbantuan Komputer Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara. Tersedia di: (http//www.uny.ac.id/ pdf). Diakses pada tanggal 30 Mei 2010.
Universitas Bangka Belitung. Artikel: Pentingnya Komputer Sebagai Alat Bantu Pembelajaran. Tersedia di: (http//www.ubb.ac.id). Diakses pada tanggal 30 Mei 2010.
(Sebagai Tugas Ujian Akhir Semester Pengantar Teknologi Informasi)
Oleh:
MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan bangsa itu sendiri. Mengingat sangat pentingnya bagi kehidupan, maka pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil maksimal seperti yang diharapkan. Untuk mencapainya, salah satu yang harus dilakukan sebagai seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, seorang pendidik dituntut paham akan mengetahui dan memahami komponen pembelajaran dengan baik. Karena jika semua komponen disatukan, maka proses belajar-mengajar akan berjalan lancar. Seperti halnya di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, yakni diharapkan peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain dengan mengemukakan gagasan dan perasaan melalui lisan maupun tulisan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis. Serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, serta kemampuan penguasaan teknologi informasi dan komputer. Untuk itu perlu adanya penunjang media pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Diharapkan nantinya peserta didik tidak gaptek (gagap teknologi) terhadap kemajuan teknologi dan di saat menyongsong era globalisasi di masa sekarang dan mendatang.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Mengetahui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah berkembang pesat dalam semua aspek kehidupan. Tidak terkecuali di dalam dunia pendidikan. Di mana dalam proses pembelajaran menggunakan media berbasis komputer yang dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, LCD, dan perangkat audio lainnya. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai suatu perubahan di dalam dunia pendidikan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau pembelajaran dengan menggunakan media tradisional.
Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, seorang guru diharapkan mampu menggunakan media presentasi yang berbasis komputer demi meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran media berbasis TIK. Misalnya media pembelajaran berbasis komputer digunakan dalam proses pembelajaran puisi, drama, atau keterampilan berbahasa lainnya.
Menurut Azhar Arsyad (Media Pembelajaran:45.2007), media berbasis komputer yang digunakan dalam proses pembelajaran dapat memberikan manfaat besar, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi tingkat pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan, di samping komputer menampilkan perpaduan antar teks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian. Media komputer tersebut membantu proses belajar mengajar yang berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan oleh pendidik, sehingga tujuan pembelajaran akan diterima oleh siswa dengan mudah menyerap materi pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh pendidik atau guru.
BAB III
PEMBAHASAN
1.Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Mengingat bahwa mutu suatu hasil didikan sangatlah ditentukan oleh mutu kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Maka dari itu perlu adanya upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Salah satunya dengan memanfaatkan media berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang sangat canggih dan beragam fasilitasnya. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran media berbasis TIK yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan media komputer di dalam kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan media komputer ini juga diharapkan guna mendorong guru untuk selalu melakukan refleksi diri, agar dapat mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ada di saat proses kegiatan pembelajarannya. Sehingga memudahkan guru untuk mencari solusi untuk mengatasi permasalahan yang dialami pada saat proses pembelajaran di dalam kelas.
Keefektifan pembelajaran berbasis TIK dengan menggunakan media komputer dapat meningkatkan kemampuan peserta didik pada ke empat aspek keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran keempat aspek berbahasa tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan media audio visual, video dan mengakses internet dengan memanfaatkan layanan e-mail (surat elektronik). Media berbasis TIK ini perlu dikembangkan oleh pendidik dalam rangka menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan serta menantang peserta didik untuk menguasai teknologi informasi di masa sekarang ini.
Salah satu keuntungan menggunakan media berbasis komputer dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah bahwa materi yang disajikan dengan media komputer dapat menyajikan konteks situasi dengan mudah dan jelas. Soalnya di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik perlu mengetahui konteks situasi di mana suatu ungkapan digunakan atau dikenal dengan ungkapan-ungkapan (kata maupun kalimat) yang digunakan saat berkomunikasi dengan lawan bicaranya di saat situasi formal ataupun digunakan dalam situasi nonformal. Situasi semacam ini tidak mudah diajarkan kepada peserta didik dengan tidak memanfaatkan media, untuk itu cara mengatasi kesulitan ini guru dapat memanfaatkan media komputer.
Media komputer juga akan sangat membantu guru dalam menyediakan bahan-bahan yang otentik, akurat dan instan. Hal ini dapat dilakukan oleh guru, misalnya dengan memanfaatkan internet untuk pencarian bahan-bahan seperti artikel atau wacana yang mendukung kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Internet juga dapat dimanfaatkan guru untuk mengakses e-mail, yakni guru dapat memanfaatkannya untuk memperlihatkan contoh buku harian yang ditulisnya melalui e-mail. Tulisan itu bisa tentang pengalaman-pengalaman, puisi ataupun cerita pendek. Kemudian peserta didik diminta membuka e-mail dari gurunya, dan diharapkan peserta didik juga mampu menuliskan pengalaman atau kegiatan yang mereka rasakan melalui e-mail untuk dikirimkan kepada gurunya.
Selain itu keuntungan lain dari media berbasis komputer, yaitu guru dapat menyajikan materi dengan efektif dan efisien. Banyak hal yang dapat disajikan oleh guru ketika guru mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebagai contoh, guru dapat mengajarkan puisi atau drama melalui fasilitas MP3 atau DVD yang terdapat pada komputer, sehingga relatif mudah pengoperasiannya jika dibandingkan dengan penggunaan tape-recorder. Bagi siswa sendiri, juga dipermudah untuk menyimak dan mempresentasikan hasil simakkan puisi atau drama yang diperdengar dari MP3 atau DVD tersebut.
Fasilitas komputer yang lain seperti program Microsoft Office, wallpaper, animasi, dan media player lainnya dapat juga digunakan sebagai media penunjang yang digunakan oleh guru untuk membelajarkan keterampilan berbahasa Indonesia. Dengan tujuan memudahkan peserta didik untuk memahami materi pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh guru.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian mengenai “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia” di atas dapat disimpulkan, bahwa proses pembelajaran yang efektif merupakan persyaratan utama untuk menuju peningkatan mutu pendidikan. Keefektifan penggunaan pembelajaran berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dengan menggunakan media komputer merupakan salah satu alat untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami dan mempelajari ke empat macam aspek keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran keempat aspek berbahasa tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan media audio visual, video dan mengakses internet atau memanfaatkan layanan e-mail (surat elektronik).
Penggunaan media berabasis computer juga perlu memperhatikan tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan diperoleh. Dengan tujuan agar penggunaan media berbasis computer tersebut efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran pada saat dimanfaatkan, seperti dalam hal mengajarkan puisi atau drama yaitu dengan memanfaatkan fasilitas MP3 atau DVD yang terdapat pada komputer. Selain itu keuntungan lain dari media berbasis komputer, yakni memanfaatkan layanan internet untuk pencarian bahan-bahan pembelajaran seperti artikel atau wacana yang mendukung kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Fasilitas-fasilitas tersebut selain menarik bagi peserta didik juga tentu akan menyajikan materi secara lebih riil yang diberikan oleh guru atau pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. (2007). Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nana Sudjana, Ahmad Rivai. (2005). Pemanfaattan Media Komputer untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Sinar Baru Algendindo.
Sadiman, Arief S., R. Rahardjo, Anung Haryono, Rahardjito. (1990). Media
Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: CV Rajawali.
Sriningsih, Retno. Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbantuan Komputer Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara. Tersedia di: (http//www.uny.ac.id/ pdf). Diakses pada tanggal 30 Mei 2010.
Universitas Bangka Belitung. Artikel: Pentingnya Komputer Sebagai Alat Bantu Pembelajaran. Tersedia di: (http//www.ubb.ac.id). Diakses pada tanggal 30 Mei 2010.
Pelangi Bercahaya Luka (nASKAH cERPEN)
Pelangi Bercahaya Luka
Oleh: Midun Aliassyah
“Maaf pemirsi. Apa benar ini rumah bapak Timbol?”
Di balik pintu sesosok manusia parubaya terkejut akan kedatangan seseorang yang tidak dikenalnya. Sesosok manusia parubaya ini bertubuh kurus, bermuka kumusan, keriput, dan model rambut awut-awutan yang megambarkan, inilah sosok pak Timbol. Ia berprofesi keseharianya sebagai tukang pengais sampah masyarakat sekitar kota Purwokerto.
Tak dinyana. Tak ada undangan, tak ada kaper putih masuk rumah: dipercayai sebagai tanda-tanda akan kedatangan tamu agung, jika ada kaper putih masuk ke rumah seseorang. Tapi tanda-tanda seperti itu tidak muncul di rumah pak Timbul, baik hari ini ataupun hari-hari sebelumnya.
Pak Timbol masih terpana dengan sosok orang dihadapannya. Sesosok yang bertamu ini lain dari pada orang-orang yang dikenal di desanya. Batin pak Timbol bicara, apa ini tamu agung atau seorang mandor yang mau menyita rumah saya. Tapi memangnya ini tanah siapa? Lhawong ini lho tanah warisan dari bebuyutku, bahkan tanah rumah ini sudah ada sertifikatnya. Wes gak mungkin, jangan berprasangka buruk ke orang lain. Huhh… pak Timbol menguatkan hatinya.
“Iya benar, ini rumah pak Timbol. Saya sendiri orangnya. Memangnya bapak ke sini ada maksud dan tujuan apa?” pak Timbol menjawab pertanyaan dari orang asing yang ada dihadapannya. Dan kemudian pak Timbol mempersilahkan masuk.
“Ohya Pak, mari silahkan duduk. Maaf rumahnya kotor.”
“Ohh, tidak usah Pak. Terimakasih. Berdiri saja gak apa-apa. Saya bertamu sebentar kok.” Sang tamu kemudian menjelaskan maksud kedatanganya ke rumah pak Timbol.
“Langsung saja Pak. Maksud dan tujuan saya bertamu ke rumah Bapak, mau menyampaikan bahwa nanti akan ada tamu orang kaya dan kru TV yang datang ke sini. Orang kaya itu akan tinggal di rumah bapak. Bapak mau kan rumahnya masuk TV?,” tamu berjas rapi yang datang dari Jakarta itu terus membujuk dan merayu Pak Timbol dengan iming-iming masuk TV.
“Tapi untuk apa tho Pak? Lhawong rumahku kayak gubug gini mau di masukkan TV. Ora salah to Pak??” Pak Timbol yang heran terus bertanya pada tamu yang tak dikenalnya itu.
“Nanti keluarga pak Timbol akan diliput, serta keseharian Bapak dan keluarganya seperti apa. Program ini bertujuan memberikan pengalaman berharga bagi orang-orang yang memiliki kelebihan materi. Diharapakan setelah mengikuti program ini, mereka merasakan bagaimana penderitaan atau keseharian dalam mencari nafkah orang-orang kecil seperti bapak.” Dirasa orang yang dibritahunya mangguk-mangguk yang berarti paham, ia melanjutkan penjelasannya lagi.
“Siapa tahu setelah mereka kembali, mereka bisa mengangkat nasib bapak menjadi lebih baik dari keadaan keluarga bapak sekarang ini. Dan biasanya mereka juga memberikan hadiah pada keluarga yang rumahnya mereka tempati untuk beberapa hari.” tamu itu memberikan penjelasan panjang lebar meskipun ternyata banyak kalimat yang tidak dimengerti orang yang dibritahunya. Walaupun sejak awal penjelasan tadi, pak Timbol mangguk-mangguk terus.
“Memangnya ndak ada rumah lain yang bisa ditempati selain rumah saya?”
“Menurut kami yang paling cocok ya rumah bapak Timbol ini. Sederhana, dan…. pokoknya yang paling cocok itu rumah bapak.”
“Memangnya siapa yang mau tinggal di sini pak?” istri pak Timbol yang sedari tadi mematung dan diam membisu di samping suaminya mulai ikut bicara.
Tamu itu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya dihadapan pak Timbol dan istrinya.
“Namanya Dinda, mahasiswi, anak seorang konglomerat dari Jakarta.” Setelah itu sang tamu kembali memandang pak Timbol dan istrinya. “Bagaimana pak? Bapak setuju dan bersediakah rumah Bapak untuk ditempati?”
“Apa nanti dia mau tinggal sama kami Pak? Bapak lihat sendiri rumah kami ini ndak ada bagusnya. Malahan serba reot begini!”
“Justru itu yang kami cari Pak. Nanti juga ada uang dari kru TV buat bapak. Yaa, sekitar lima ratus ribuan lah. Kan lumayan bisa dibuat makan keluarga bapak dalam waktu satu bulan.” Tamu itu menunjukan lima jarinya dihadapan pak Timbol dan istrinya. Dan tanpa terduga wajah pak Timbol sumringah melihat acungan lima jari dihadapannya.
“Tapi yang dua ratus ribu buat ongkos saya pak?!” kembali dia melanjutkan.
“Udah pak terima aja, anggap aja ini rejeki nomplok buat keluarga kita.” Desak istrinya.
Atas desakkan istri dan tamunya pak Timbol mengangguk, yang berarti tanda bahwa pak Timbol menyetujuinya.
Tiba-tiba tamu berpakaian necis plus elegan itu, tapi ini menurut penilaian pandangan pak Timbul. Menyalami dan menyerahkan uang tiga ratus ribu, sebelum ia meninggalkan kecengangan dua orang suami istri yang ditamuinya.
####
Esok harinya datang beberapa orang yang salah satunya mengaku bernama Dinda. Pak Timbol, istri dan tiga anaknya menyambut mereka dengan mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki.
Orang-orang dari kru TV menjelaskan kepada pak Timbol, bahwa keluarga pak Timbol harus bersikap seperti hari-hari biasa. Bahkan mereka menyuruh pak Timbol memakai pakaian sederhana yang biasa ia kenaka kesehariannya di rumah ataupun sedang bekerja. Hal ini diharapkan supaya lebih memberikan kesan hidup susah di monitor layar telivisi pemirsa yang melihatnya.
Selama dua hari neng Dinda (sebutan panggilan untuk tamu agungnya ini) akan tinggal di rumah pak Timbol. Yakni dengan agenda mengikuti rutinitas keseharian keluarga pak Timbol ke manapun, baik membantu istrinya mencari sayur di kebon, atau mencari kerang di sungai, dan bahkan membantu pak Timbol mencari rosokan di tempat-tempat sampah untuk dijual.
Di hari pertama saat makan Dinda mulai menanyakan lauk pauk yang biasa mereka makan.
“Ini oseng-oseng apa Bu??” tanyanya sambil mengangkat piring seng yang berisi oseng-oseng yang kelihatan menjijikkan bagi orang awam.
“Wohhh, itu oseng-oseng uler jati Neng. Jangan dinilai dari luarnya lo Neng, rasanya itu gurih kayak daging ayam kampong loo….”
“Nggak, nggak, nggakkk…. Aku enggak mau ini Bu. Terimakasih!!!” tiba-tiba Dinda menjerit histeris.
“Tapi Neng, ndak ada lauk lain selain oseng-oseng uler jati itu?!”
“Aku enggak bisa makan ini Bu, ngelihat aja aku mau muntah.” Dinda terus merajuk, meski kamera TV menyorot tingkah dan perbincangan mereka berdua. Dan anak-anak pak Timbol yang ada disekeliling mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat tamunya gadis cantik yang menunjukkan gelagat jijiknya.
“Neng coba dulu, pasti nanti Neng suka setelah mencicipinya.” Pak Timbol ikut-ikutan membujuk tamunya untuk mencoba oseng-oseng uler jati yang sehari-harinya sudah biasa menjadi lauk-pauk keluaraganya. Lauk-pauk seperti ini sudah menjadi hal pokok bagi keluarga pak Timbol, jika tidak ada rejeki lebih atau makanan pemberian para tetangganya itulah menu santapan utama.
Dinda menggeleng kuat. Dan akhirnya istri pak Timbol dengan terpaksa membelikan dan menggorengkan telur untuk Dinda. Padahal realitanya keluarga pak Timbol sendiri, sangat-sangat jarang makan dengan menyantap telur ayam sebagai lauk-pauknya.
Saat hendak tidur pun timbul masalah baru. Yakni Dinda menjerit-jerit histeris kembali saat seekor cicak merayap di dinding kamar yang di tempatinya bersama dua anak pak Timbol yang sudah beranjak dewasa.
“Aaaaaaaaa, hhiiiii, ada Ciccaaakkkk!!!!!!!!”
Jeritan Dinda itu pun menyebabkan pak Timbol dan istrinya kaget dan bangun dari tidurnya. Dan kemudian pak Timbol datang membawa sapu lidi yang ada digenggamannya, dengan susah payah akhirnya pak Timbol bisa menjites cicak yang jatuh gelagapan di lantai tanah liat kamar tidur Dinda.
####
Waktu bergulir begitu cepat, sehingga waktu dua haripun tak terasa lama untuk dilampui. Saat hari terakhir Dinda di rumah pak Timbol, ia menyuruh beberapa tukang bangunan untuk membangun rumah pak Timbol agar lebih layak sebagai tempat tinggal. Tak lupa Dinda juga membelikan perabotan rumah, seperti televisi, kasur baru beserta seprainya, dan perabotan elektronik. Selain membangunkan rumah dan membelikan perabotan baru, Dinda juga memberikan sejumlah uang untuk keluarga pak Timbol guna dimanfaatkan sebagai pegangan keperluan lain hidup mereka.
Setelah sepeninggal Dinda serta kru TV menyelesaikan syutingnya dan selesainya pembangunan rumah baru pak Timbol, tersiarlah kabar bahwa keluarga pak Timbul sekarang telah menjadi OKB (Orang Kaya Baru) di desanya. Tentu saja hal ini membuat pak Timbol dan keluarganya bangga, setelah derajatnya sekarang dapat disetarakan dengan orang-orang kaya yang ada di desanya.
Perlahan, gaya hidup keluarga pak Timbul mulai berubah. Ia tak berprofesi sebagai pengais sampah lagi. Baju-baju mahal ia beli. Makan pun tak lauk uler jati lagi, telur dan daging ayam adalah pilihannya. Rumahnya sekarang kelihatan agak mewah dibandingkan rumah-rumah tetangga dekatnya yang kelihatan kucel dan semrawut.
####
Uang memang segalanya bagi manusia. Seperti arti pentingnya uang bagi keluarga pak Timbol ini. Lama-kelamaan uang pemberian Dinda habis digunakannya untuk kebetuhan hidup yang hanya bisa mencukupi selama empat bulan. Menyebabkan pak Timbol mulai menggasak satu persatu barang-barang elektronik yang dimilikinya, yang kemudian ia jual untuk menutupi keperluan pokok hidupnya sehari-hari. Tetapi uang hasil penjualan peralatan elektronikpun tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Akhirnya mereka kembali lagi mengkonsumsi makanan sederhana yang tersedia di sekitar mereka.
“Bu, hari ini kita cari rosok lagi yaa…” dengan tak keberdayaan lagi pak Timbol ngomong ke istrinya.
“Hehh, malu tho pak. Rumah kita sekarang kan sudah kelihatan mewah, tapi mengapa bapak masih cari rosokan di tempat sampah pembuangan itu. Apa kata tetangga nantinya???” jawab ketus istri pak Timbol yang kelihatan gengsinya.
“Lalu kita mau makan apa Bu sekarang?” protes pak Timbol.
“Yaa, Bapak cari kerja yang lebih bagus derajatnya dari pemulung. Yang pakai seragam, berdasi, kayak pak Jatmiko tetangga sebelah itu lo Pak. ”
“Kamu apa sudah sinteng tho Bu?? Lhawong pak Jatmiko iku seorang PNS masak dibandingkan dengan bapak.” dan pak Timbol menambahkan penjelasannya. “Lagian kayak aku ini mau ngelamar pekerjaan pakai apa? SD aja Bapak ndak lulus. Mbokya jangan mimpi tho Bu?”
Pak Timbol tersenyum sinis setelah menjawab permintaan istrinya yang gak masuk akal. Dan dengan manyunnya istri pak Timbol, setelah mendengar penjelasan suaminya mendengus kesal akan keadaan yang dialaminya.
“Gusti Allah kok ndak adil ya Pak?”
“Lho, lho, ibu kok ngomong seperti itu tho?! Ndak baik Bu. Nanti kita bisa-bisa kualat.” Pak Timbol tertegun mendengar ucapan istrinya. Baru kali ini pak Timbol mendengar istrinya berkata seperti itu.
“Kalau gitu, kenapa hidup kita susah terus pak? Baru kaya sebentar, ehh kehimpit miskin lagi! Kenapa hidup kita ndak kaya kayak neng Dinda itulo Pak? Hidup gak pakai susah-susah cari uang, dan selalu makan enak lagi.”
“Nyesel aku masuk TV sama neng Dinda!!!” pak Timbol cemberut, kesal, memikirkan tingkah istrinya yang berbeda dari pada hidup serba miskin dulu.
“Kok sekarang Bapak yang nyesel tho? Aneh Bapak iki.”
“Dulu sewaktu masih susah, Ibu ndak pernah ngeluh sama bapak, dan sama Gusti Allah. Tapi sekarang setelah ibu tahu hidupnya orang kaya seperti apa, Ibu jadi lain dan sangat-sangat berbeda tingkahnya!!”
“Maksud Bapak lain dan berbeda bagaimana??” Tanya ketus sang istri.
“Ibu sekarang suka mengeluh. Sekarang Ibu sudah ndak mau daun singkong lagi, padahal itu kan sayuran kesukaan kamu. Ndak mau cari uler jati lagi di kebonan buat lauk kita makan. Dan tentunya Ibu sekarang sudah ndak mau bantu-bantu bapak lagi mengais rejeki di tumpukan sampah.” Ungkap pak Timbol atas kekesalan berubahnya tingkah laku sang istri.
Tanpa sepemikiran istrinya, tiba-tiba pak Timbol sudah mempersiapkan peralatan mulungnya. Ia sudah memakai sepatu buntutnya, dan capil rompeng yang berbau tak sedap setelah selama empat bulan tidak pernah dikenakannya.
“Bapak ini apa ndak tahu tho? Orang sudah kaya kan ndak perlu mengais-ngais sampah lagi untuk nyari rejeki.”
“Memangnya Ibu orang kaya tho?”
Sungguh bukan istri pak Timbol, jika kalau tidak bisa menggedekan gengsinya kepada para tetangga. Dengan ngotot kalau sekarang dia menjadi orang kaya, istri pak Timbol mengukuhkan rasa gengsinya walaupun itu kepada suaminya sendiri.
“Kata ibu-ibu tetangga, kita sekarang menjadi orang kaya di desa kita pak. Bu RT juga bilang seperti itu, sewaktu ibu ketemu belanja di warung bu Diah kemarin.”
“Yaa sudah kalau Ibu merasa orang kaya. Pokoknya bapak siang ini mau berangkat nyari rosok. Titik!!”
“Lho nanti kalau orang desa tau Bapak nyari rosok lagi, bagaimana tanggapan mereka tentang kita Pak?” protes istri pak Timbol, tetap kukuh akan rasa gengsinya.
“Kalau gak nyari rosok, keluarga kita hari ini dan seterusnya mau makan apa Bu? Kasihan anak-anakmu itu sudah sejak kemarin kelaparan. ”
Istri pak Timbol tercengang mendengarkan penjelasan suaminya. Dan rasa iba kepada tiga anaknya yang sejak kemarin tidak makan tersirat di benak istri pak Timbol. Gara-gara ia tidak bisa lagi belanja kebutuhan sembako sejak dua hari kemarin, menyebabkan dapur tak mengepul seperti biasanya. Mau ngutang di warung bu Diah, ahhh lagi-lagi gengsi yang diutamakan.
Sedangkan pak Timbol meninggalkan istrinya yang menatap dirinya dengan melas, sepeninggal keberangkatanya mencari rosok. Dan dalam benak pak Timbol menyesal, bahwa semua ini program TV lah yang telah merusak kebahagian hidupnya dan keluarganya. Hidupnya yang dulu miskin dan sederhana selalu dipenuhi rasa syukur, dan waktu mereka dimanfaatkan untuk bekerja serta beribadah, tapi sekarang? Hal itu tidak ditemukan di hidupnya yang sekarang ini. TV telah meringkusnya dengan cepat tanpa jeda dan tiba-tiba saja. Memberikan kebahagiaan kepada insannya, tapi kebahagiaan itu hanya sementara dan tidak ada bekaspun yang menjadi cahaya bagi penikmatnya. Semua itu sebenarnya hanya tipuan dan omong kosong belaka!
Oleh: Midun Aliassyah
“Maaf pemirsi. Apa benar ini rumah bapak Timbol?”
Di balik pintu sesosok manusia parubaya terkejut akan kedatangan seseorang yang tidak dikenalnya. Sesosok manusia parubaya ini bertubuh kurus, bermuka kumusan, keriput, dan model rambut awut-awutan yang megambarkan, inilah sosok pak Timbol. Ia berprofesi keseharianya sebagai tukang pengais sampah masyarakat sekitar kota Purwokerto.
Tak dinyana. Tak ada undangan, tak ada kaper putih masuk rumah: dipercayai sebagai tanda-tanda akan kedatangan tamu agung, jika ada kaper putih masuk ke rumah seseorang. Tapi tanda-tanda seperti itu tidak muncul di rumah pak Timbul, baik hari ini ataupun hari-hari sebelumnya.
Pak Timbol masih terpana dengan sosok orang dihadapannya. Sesosok yang bertamu ini lain dari pada orang-orang yang dikenal di desanya. Batin pak Timbol bicara, apa ini tamu agung atau seorang mandor yang mau menyita rumah saya. Tapi memangnya ini tanah siapa? Lhawong ini lho tanah warisan dari bebuyutku, bahkan tanah rumah ini sudah ada sertifikatnya. Wes gak mungkin, jangan berprasangka buruk ke orang lain. Huhh… pak Timbol menguatkan hatinya.
“Iya benar, ini rumah pak Timbol. Saya sendiri orangnya. Memangnya bapak ke sini ada maksud dan tujuan apa?” pak Timbol menjawab pertanyaan dari orang asing yang ada dihadapannya. Dan kemudian pak Timbol mempersilahkan masuk.
“Ohya Pak, mari silahkan duduk. Maaf rumahnya kotor.”
“Ohh, tidak usah Pak. Terimakasih. Berdiri saja gak apa-apa. Saya bertamu sebentar kok.” Sang tamu kemudian menjelaskan maksud kedatanganya ke rumah pak Timbol.
“Langsung saja Pak. Maksud dan tujuan saya bertamu ke rumah Bapak, mau menyampaikan bahwa nanti akan ada tamu orang kaya dan kru TV yang datang ke sini. Orang kaya itu akan tinggal di rumah bapak. Bapak mau kan rumahnya masuk TV?,” tamu berjas rapi yang datang dari Jakarta itu terus membujuk dan merayu Pak Timbol dengan iming-iming masuk TV.
“Tapi untuk apa tho Pak? Lhawong rumahku kayak gubug gini mau di masukkan TV. Ora salah to Pak??” Pak Timbol yang heran terus bertanya pada tamu yang tak dikenalnya itu.
“Nanti keluarga pak Timbol akan diliput, serta keseharian Bapak dan keluarganya seperti apa. Program ini bertujuan memberikan pengalaman berharga bagi orang-orang yang memiliki kelebihan materi. Diharapakan setelah mengikuti program ini, mereka merasakan bagaimana penderitaan atau keseharian dalam mencari nafkah orang-orang kecil seperti bapak.” Dirasa orang yang dibritahunya mangguk-mangguk yang berarti paham, ia melanjutkan penjelasannya lagi.
“Siapa tahu setelah mereka kembali, mereka bisa mengangkat nasib bapak menjadi lebih baik dari keadaan keluarga bapak sekarang ini. Dan biasanya mereka juga memberikan hadiah pada keluarga yang rumahnya mereka tempati untuk beberapa hari.” tamu itu memberikan penjelasan panjang lebar meskipun ternyata banyak kalimat yang tidak dimengerti orang yang dibritahunya. Walaupun sejak awal penjelasan tadi, pak Timbol mangguk-mangguk terus.
“Memangnya ndak ada rumah lain yang bisa ditempati selain rumah saya?”
“Menurut kami yang paling cocok ya rumah bapak Timbol ini. Sederhana, dan…. pokoknya yang paling cocok itu rumah bapak.”
“Memangnya siapa yang mau tinggal di sini pak?” istri pak Timbol yang sedari tadi mematung dan diam membisu di samping suaminya mulai ikut bicara.
Tamu itu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya dihadapan pak Timbol dan istrinya.
“Namanya Dinda, mahasiswi, anak seorang konglomerat dari Jakarta.” Setelah itu sang tamu kembali memandang pak Timbol dan istrinya. “Bagaimana pak? Bapak setuju dan bersediakah rumah Bapak untuk ditempati?”
“Apa nanti dia mau tinggal sama kami Pak? Bapak lihat sendiri rumah kami ini ndak ada bagusnya. Malahan serba reot begini!”
“Justru itu yang kami cari Pak. Nanti juga ada uang dari kru TV buat bapak. Yaa, sekitar lima ratus ribuan lah. Kan lumayan bisa dibuat makan keluarga bapak dalam waktu satu bulan.” Tamu itu menunjukan lima jarinya dihadapan pak Timbol dan istrinya. Dan tanpa terduga wajah pak Timbol sumringah melihat acungan lima jari dihadapannya.
“Tapi yang dua ratus ribu buat ongkos saya pak?!” kembali dia melanjutkan.
“Udah pak terima aja, anggap aja ini rejeki nomplok buat keluarga kita.” Desak istrinya.
Atas desakkan istri dan tamunya pak Timbol mengangguk, yang berarti tanda bahwa pak Timbol menyetujuinya.
Tiba-tiba tamu berpakaian necis plus elegan itu, tapi ini menurut penilaian pandangan pak Timbul. Menyalami dan menyerahkan uang tiga ratus ribu, sebelum ia meninggalkan kecengangan dua orang suami istri yang ditamuinya.
####
Esok harinya datang beberapa orang yang salah satunya mengaku bernama Dinda. Pak Timbol, istri dan tiga anaknya menyambut mereka dengan mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki.
Orang-orang dari kru TV menjelaskan kepada pak Timbol, bahwa keluarga pak Timbol harus bersikap seperti hari-hari biasa. Bahkan mereka menyuruh pak Timbol memakai pakaian sederhana yang biasa ia kenaka kesehariannya di rumah ataupun sedang bekerja. Hal ini diharapkan supaya lebih memberikan kesan hidup susah di monitor layar telivisi pemirsa yang melihatnya.
Selama dua hari neng Dinda (sebutan panggilan untuk tamu agungnya ini) akan tinggal di rumah pak Timbol. Yakni dengan agenda mengikuti rutinitas keseharian keluarga pak Timbol ke manapun, baik membantu istrinya mencari sayur di kebon, atau mencari kerang di sungai, dan bahkan membantu pak Timbol mencari rosokan di tempat-tempat sampah untuk dijual.
Di hari pertama saat makan Dinda mulai menanyakan lauk pauk yang biasa mereka makan.
“Ini oseng-oseng apa Bu??” tanyanya sambil mengangkat piring seng yang berisi oseng-oseng yang kelihatan menjijikkan bagi orang awam.
“Wohhh, itu oseng-oseng uler jati Neng. Jangan dinilai dari luarnya lo Neng, rasanya itu gurih kayak daging ayam kampong loo….”
“Nggak, nggak, nggakkk…. Aku enggak mau ini Bu. Terimakasih!!!” tiba-tiba Dinda menjerit histeris.
“Tapi Neng, ndak ada lauk lain selain oseng-oseng uler jati itu?!”
“Aku enggak bisa makan ini Bu, ngelihat aja aku mau muntah.” Dinda terus merajuk, meski kamera TV menyorot tingkah dan perbincangan mereka berdua. Dan anak-anak pak Timbol yang ada disekeliling mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat tamunya gadis cantik yang menunjukkan gelagat jijiknya.
“Neng coba dulu, pasti nanti Neng suka setelah mencicipinya.” Pak Timbol ikut-ikutan membujuk tamunya untuk mencoba oseng-oseng uler jati yang sehari-harinya sudah biasa menjadi lauk-pauk keluaraganya. Lauk-pauk seperti ini sudah menjadi hal pokok bagi keluarga pak Timbol, jika tidak ada rejeki lebih atau makanan pemberian para tetangganya itulah menu santapan utama.
Dinda menggeleng kuat. Dan akhirnya istri pak Timbol dengan terpaksa membelikan dan menggorengkan telur untuk Dinda. Padahal realitanya keluarga pak Timbol sendiri, sangat-sangat jarang makan dengan menyantap telur ayam sebagai lauk-pauknya.
Saat hendak tidur pun timbul masalah baru. Yakni Dinda menjerit-jerit histeris kembali saat seekor cicak merayap di dinding kamar yang di tempatinya bersama dua anak pak Timbol yang sudah beranjak dewasa.
“Aaaaaaaaa, hhiiiii, ada Ciccaaakkkk!!!!!!!!”
Jeritan Dinda itu pun menyebabkan pak Timbol dan istrinya kaget dan bangun dari tidurnya. Dan kemudian pak Timbol datang membawa sapu lidi yang ada digenggamannya, dengan susah payah akhirnya pak Timbol bisa menjites cicak yang jatuh gelagapan di lantai tanah liat kamar tidur Dinda.
####
Waktu bergulir begitu cepat, sehingga waktu dua haripun tak terasa lama untuk dilampui. Saat hari terakhir Dinda di rumah pak Timbol, ia menyuruh beberapa tukang bangunan untuk membangun rumah pak Timbol agar lebih layak sebagai tempat tinggal. Tak lupa Dinda juga membelikan perabotan rumah, seperti televisi, kasur baru beserta seprainya, dan perabotan elektronik. Selain membangunkan rumah dan membelikan perabotan baru, Dinda juga memberikan sejumlah uang untuk keluarga pak Timbol guna dimanfaatkan sebagai pegangan keperluan lain hidup mereka.
Setelah sepeninggal Dinda serta kru TV menyelesaikan syutingnya dan selesainya pembangunan rumah baru pak Timbol, tersiarlah kabar bahwa keluarga pak Timbul sekarang telah menjadi OKB (Orang Kaya Baru) di desanya. Tentu saja hal ini membuat pak Timbol dan keluarganya bangga, setelah derajatnya sekarang dapat disetarakan dengan orang-orang kaya yang ada di desanya.
Perlahan, gaya hidup keluarga pak Timbul mulai berubah. Ia tak berprofesi sebagai pengais sampah lagi. Baju-baju mahal ia beli. Makan pun tak lauk uler jati lagi, telur dan daging ayam adalah pilihannya. Rumahnya sekarang kelihatan agak mewah dibandingkan rumah-rumah tetangga dekatnya yang kelihatan kucel dan semrawut.
####
Uang memang segalanya bagi manusia. Seperti arti pentingnya uang bagi keluarga pak Timbol ini. Lama-kelamaan uang pemberian Dinda habis digunakannya untuk kebetuhan hidup yang hanya bisa mencukupi selama empat bulan. Menyebabkan pak Timbol mulai menggasak satu persatu barang-barang elektronik yang dimilikinya, yang kemudian ia jual untuk menutupi keperluan pokok hidupnya sehari-hari. Tetapi uang hasil penjualan peralatan elektronikpun tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Akhirnya mereka kembali lagi mengkonsumsi makanan sederhana yang tersedia di sekitar mereka.
“Bu, hari ini kita cari rosok lagi yaa…” dengan tak keberdayaan lagi pak Timbol ngomong ke istrinya.
“Hehh, malu tho pak. Rumah kita sekarang kan sudah kelihatan mewah, tapi mengapa bapak masih cari rosokan di tempat sampah pembuangan itu. Apa kata tetangga nantinya???” jawab ketus istri pak Timbol yang kelihatan gengsinya.
“Lalu kita mau makan apa Bu sekarang?” protes pak Timbol.
“Yaa, Bapak cari kerja yang lebih bagus derajatnya dari pemulung. Yang pakai seragam, berdasi, kayak pak Jatmiko tetangga sebelah itu lo Pak. ”
“Kamu apa sudah sinteng tho Bu?? Lhawong pak Jatmiko iku seorang PNS masak dibandingkan dengan bapak.” dan pak Timbol menambahkan penjelasannya. “Lagian kayak aku ini mau ngelamar pekerjaan pakai apa? SD aja Bapak ndak lulus. Mbokya jangan mimpi tho Bu?”
Pak Timbol tersenyum sinis setelah menjawab permintaan istrinya yang gak masuk akal. Dan dengan manyunnya istri pak Timbol, setelah mendengar penjelasan suaminya mendengus kesal akan keadaan yang dialaminya.
“Gusti Allah kok ndak adil ya Pak?”
“Lho, lho, ibu kok ngomong seperti itu tho?! Ndak baik Bu. Nanti kita bisa-bisa kualat.” Pak Timbol tertegun mendengar ucapan istrinya. Baru kali ini pak Timbol mendengar istrinya berkata seperti itu.
“Kalau gitu, kenapa hidup kita susah terus pak? Baru kaya sebentar, ehh kehimpit miskin lagi! Kenapa hidup kita ndak kaya kayak neng Dinda itulo Pak? Hidup gak pakai susah-susah cari uang, dan selalu makan enak lagi.”
“Nyesel aku masuk TV sama neng Dinda!!!” pak Timbol cemberut, kesal, memikirkan tingkah istrinya yang berbeda dari pada hidup serba miskin dulu.
“Kok sekarang Bapak yang nyesel tho? Aneh Bapak iki.”
“Dulu sewaktu masih susah, Ibu ndak pernah ngeluh sama bapak, dan sama Gusti Allah. Tapi sekarang setelah ibu tahu hidupnya orang kaya seperti apa, Ibu jadi lain dan sangat-sangat berbeda tingkahnya!!”
“Maksud Bapak lain dan berbeda bagaimana??” Tanya ketus sang istri.
“Ibu sekarang suka mengeluh. Sekarang Ibu sudah ndak mau daun singkong lagi, padahal itu kan sayuran kesukaan kamu. Ndak mau cari uler jati lagi di kebonan buat lauk kita makan. Dan tentunya Ibu sekarang sudah ndak mau bantu-bantu bapak lagi mengais rejeki di tumpukan sampah.” Ungkap pak Timbol atas kekesalan berubahnya tingkah laku sang istri.
Tanpa sepemikiran istrinya, tiba-tiba pak Timbol sudah mempersiapkan peralatan mulungnya. Ia sudah memakai sepatu buntutnya, dan capil rompeng yang berbau tak sedap setelah selama empat bulan tidak pernah dikenakannya.
“Bapak ini apa ndak tahu tho? Orang sudah kaya kan ndak perlu mengais-ngais sampah lagi untuk nyari rejeki.”
“Memangnya Ibu orang kaya tho?”
Sungguh bukan istri pak Timbol, jika kalau tidak bisa menggedekan gengsinya kepada para tetangga. Dengan ngotot kalau sekarang dia menjadi orang kaya, istri pak Timbol mengukuhkan rasa gengsinya walaupun itu kepada suaminya sendiri.
“Kata ibu-ibu tetangga, kita sekarang menjadi orang kaya di desa kita pak. Bu RT juga bilang seperti itu, sewaktu ibu ketemu belanja di warung bu Diah kemarin.”
“Yaa sudah kalau Ibu merasa orang kaya. Pokoknya bapak siang ini mau berangkat nyari rosok. Titik!!”
“Lho nanti kalau orang desa tau Bapak nyari rosok lagi, bagaimana tanggapan mereka tentang kita Pak?” protes istri pak Timbol, tetap kukuh akan rasa gengsinya.
“Kalau gak nyari rosok, keluarga kita hari ini dan seterusnya mau makan apa Bu? Kasihan anak-anakmu itu sudah sejak kemarin kelaparan. ”
Istri pak Timbol tercengang mendengarkan penjelasan suaminya. Dan rasa iba kepada tiga anaknya yang sejak kemarin tidak makan tersirat di benak istri pak Timbol. Gara-gara ia tidak bisa lagi belanja kebutuhan sembako sejak dua hari kemarin, menyebabkan dapur tak mengepul seperti biasanya. Mau ngutang di warung bu Diah, ahhh lagi-lagi gengsi yang diutamakan.
Sedangkan pak Timbol meninggalkan istrinya yang menatap dirinya dengan melas, sepeninggal keberangkatanya mencari rosok. Dan dalam benak pak Timbol menyesal, bahwa semua ini program TV lah yang telah merusak kebahagian hidupnya dan keluarganya. Hidupnya yang dulu miskin dan sederhana selalu dipenuhi rasa syukur, dan waktu mereka dimanfaatkan untuk bekerja serta beribadah, tapi sekarang? Hal itu tidak ditemukan di hidupnya yang sekarang ini. TV telah meringkusnya dengan cepat tanpa jeda dan tiba-tiba saja. Memberikan kebahagiaan kepada insannya, tapi kebahagiaan itu hanya sementara dan tidak ada bekaspun yang menjadi cahaya bagi penikmatnya. Semua itu sebenarnya hanya tipuan dan omong kosong belaka!
ASAL MULA KABUPATEN NGANJUK
ASAL MULA KABUPATEN NGANJUK
A.
kan perang dan berdirinya dynasti Isyana di Jawa Timur.
Sejak saat itu nama Anjuk Ladang mulai dikenal secara luas;
2. terungkap pula bahwa Anjuk Ladang sebagai cikal bakal Nganjuk memperoleh penghargaan sebagai Sima Swatantra yaitu daerah yang mempunyai status otonom;
3. bahwa dari latar belakang sejarah yang mendorong munculnya nama Anjuk Ladang dapat diungkap jatidiri (jiwa dan semangat) rakyat Nganjuk yang ternyata mempunyai bobot moral dan kejiwaan sangat tinggi dan luhur;
4. bukti/sumber sejarah tertulis benar-banar mempunyai nilai kredibilitas dan akurasi tinggi. Sampai saat ini prasasti Candi Lor tersimpan rapi di Museum Nasionall di Jakarta.
Berdasarkan musyawarah antara Pemrasaran dan Pembahas, agar apa yang telah dicapai dalam seminar dapat disarikan sehingga diperoleh satu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan segi objektivitas dan derajat ilmiahnya, dibentuk Tim Perumus Hasil Seminar Hari Jadi Nganjuk. Dalam keputusannya, Tim Perumus telah menetapkan :
1. Hari Jadi Nganjuk adalah tanggal 12 bulan Caitra tahun 859 Saka atau tanggal 10 April 937 Masehi;
2. Mengusulkan kepada Bupati Kepala Daerah Tk II Nganjuk agar Hari Jadi Nganjuk tanggal 10 April 937 M ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
Demikian setelah melalui semianr yang diadakan pada tanggal 21 Agustus 1993 akhirnya dapat ditentukan dengan tepat dan pas Hari Jadi Nganjuk yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
C. Penetapan Hari Jadi Nganjuk menjadi Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
Masih terdapat satu pertanyaan yang perlu dijelaskan yaitu tentang penetapan Hari Jadi Nganjuk menjadi Hari Jadi Kabupaten Nganjuk. Banyak warga masyarakat yang kurang mengerti dan bertanya apa latar belakang perihal tersebut dan kemungkinan besar inilah yang menimbulkan kontroversi selama ini.
Sebagaimana diketahui bahwa sejak semula dalam seminar telah diperdebatkan, yang dicari Hari Jadi Nganjuk atau Hari Jadi Kabupaten Nganjuk. Apabila peserta seminar terpancang pada upaya mencari Hari Jadi Kabupaten, yaitu lembaga pemerintahan yang mempunyai hak otonom, akan ditemui banyak kesulitan terutama menyangkut dokumen tertulis. Apalagi jika dipahami penentuannya didasarkan pada tanggal yang tercantum dalam serat kekancingan/besluit pengangkatan pejabat Bupati pertama maka hal itu akan sangat bersifat subjektif dan lebih berorientasi pada kekuasaan. Lebih daripada itu, besluit dari Pemeirntahan Hindia Belanda banyak yang kurang senang karena dikeluarkan oelh penjajah dan kurang sesuai dengan kondisi saat ini. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dicari alternatif yang paling tepat dan pas. Sebagai solusi atas problema tersebut kiranya dapat ditemukan pada Prasasti Candi Lor atau Prasasti Anjuk Ladang.
Prasati pada umumnya dikeluarkan oleh Raja dan berisi maklumat tentang :
1. pembentukan suatu negara/kota; 2.pemberian penghargaan/anugerah kepada daerah/rakyat yang telah berjasa; 3.pendirian suatu bangunan;
4.kewajiban/larangan atau bahkan berupa kutukan bagi yang melanggarnya;
Prasasti Candi Lor yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isyanawikrama Dharmmotunggadewa pada intinya berupa anugerah kepada rakyat dan Sima Anjuk Ladang. Tidak ada satu peristiwa bersejarah di Nganjuk yang hebatnya melebihi peristiwa yang terjadi 8 (delapan) tahun sebelum Prasasti Candi Lor dikeluarkan. Terungkap dengan jelas keterlibatan seluruh potensi masyarakat Anjuk Ladang dalam membantu perjuangan Pu Sindok menghadapi serangan musuh negara Mataran Hindu yaitu tentara Melayu Sriwijaya. Berkat bantuan sepenuhnya dari Rakyat Anjuk Ladang, Pu Sindok memperoleh kemenangan gilang gemilang dan akhirnya menjadi Raja di Medang Kahuripan. Sebagai penghargaan kepada Rakyat Anjuk Ladang diberi anugerah berupa :
1. Sima Anjuk Ladang diberi ststus daerah otonom sehingga menjadi Sima Swatantra Anjuk Ladang; 2.Pembebasan dari kewajiban membayar pajak, penghasilan yang dipeoleh dogunakan sendiri untuk membangun daerah;?
???? 3. Bangunan suci untuk upacara kebhaktian yaitu Sri Jayamerta; 4. Bangunan tugu kemenangan Jayastambha.
Dari Prasasti Anjuk Ladang dapat diketahui ada 2 (dua) hal penting yang berkaitan dengan pokok masalah yaitu :? 1. dikenalnya Anjuk Ladang, toponimi yang sangat dekat dengan ucapannya dengan Nganjuk; 2. pemberian status swatantra (otonom dan bebas pajak) kepada Sima Anjuk Ladang.
Kedua hal tersebut diatas merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, ibarat sekeping mata uang, sehingga apabila kita berbicara tentang Anjuk Ladang berarti pula membicarkan Sima Swatantra Anjuk Ladang. Dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa Anjuk Ladang adalah nama dari suatu wilayah setingkat Desa yaitu Sima, sedangkan Sima Swatantra Anjuk Ladang adalah institusi atau lembaga pemerintahannya. Mengacu pada pemikiran seperti tersebut diatas maka akhirnya Tim Perumus Hasil Seminar Hari Jadi Nganjuk menyimpulkan bahwa Hari Jadi Nganjuk adalah juga merupakan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
Demikian setelah menimbang keputusan Tim Perumus Hasil Seminar Hari Jadi Nganjuk dan memperhatikan persetujuan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Nganjuk melalui Keputusan No 008/1993, tanggal 10 Desember 1993, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk mengeluarkan Keputusan Nomor 495/1993 tanggal 28 Desember 1993 yang memutuskan bahwa Hari Jadi Nganjuk tanggal 10 April 937 M dan selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
A.
kan perang dan berdirinya dynasti Isyana di Jawa Timur.
Sejak saat itu nama Anjuk Ladang mulai dikenal secara luas;
2. terungkap pula bahwa Anjuk Ladang sebagai cikal bakal Nganjuk memperoleh penghargaan sebagai Sima Swatantra yaitu daerah yang mempunyai status otonom;
3. bahwa dari latar belakang sejarah yang mendorong munculnya nama Anjuk Ladang dapat diungkap jatidiri (jiwa dan semangat) rakyat Nganjuk yang ternyata mempunyai bobot moral dan kejiwaan sangat tinggi dan luhur;
4. bukti/sumber sejarah tertulis benar-banar mempunyai nilai kredibilitas dan akurasi tinggi. Sampai saat ini prasasti Candi Lor tersimpan rapi di Museum Nasionall di Jakarta.
Berdasarkan musyawarah antara Pemrasaran dan Pembahas, agar apa yang telah dicapai dalam seminar dapat disarikan sehingga diperoleh satu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan segi objektivitas dan derajat ilmiahnya, dibentuk Tim Perumus Hasil Seminar Hari Jadi Nganjuk. Dalam keputusannya, Tim Perumus telah menetapkan :
1. Hari Jadi Nganjuk adalah tanggal 12 bulan Caitra tahun 859 Saka atau tanggal 10 April 937 Masehi;
2. Mengusulkan kepada Bupati Kepala Daerah Tk II Nganjuk agar Hari Jadi Nganjuk tanggal 10 April 937 M ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
Demikian setelah melalui semianr yang diadakan pada tanggal 21 Agustus 1993 akhirnya dapat ditentukan dengan tepat dan pas Hari Jadi Nganjuk yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
C. Penetapan Hari Jadi Nganjuk menjadi Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
Masih terdapat satu pertanyaan yang perlu dijelaskan yaitu tentang penetapan Hari Jadi Nganjuk menjadi Hari Jadi Kabupaten Nganjuk. Banyak warga masyarakat yang kurang mengerti dan bertanya apa latar belakang perihal tersebut dan kemungkinan besar inilah yang menimbulkan kontroversi selama ini.
Sebagaimana diketahui bahwa sejak semula dalam seminar telah diperdebatkan, yang dicari Hari Jadi Nganjuk atau Hari Jadi Kabupaten Nganjuk. Apabila peserta seminar terpancang pada upaya mencari Hari Jadi Kabupaten, yaitu lembaga pemerintahan yang mempunyai hak otonom, akan ditemui banyak kesulitan terutama menyangkut dokumen tertulis. Apalagi jika dipahami penentuannya didasarkan pada tanggal yang tercantum dalam serat kekancingan/besluit pengangkatan pejabat Bupati pertama maka hal itu akan sangat bersifat subjektif dan lebih berorientasi pada kekuasaan. Lebih daripada itu, besluit dari Pemeirntahan Hindia Belanda banyak yang kurang senang karena dikeluarkan oelh penjajah dan kurang sesuai dengan kondisi saat ini. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dicari alternatif yang paling tepat dan pas. Sebagai solusi atas problema tersebut kiranya dapat ditemukan pada Prasasti Candi Lor atau Prasasti Anjuk Ladang.
Prasati pada umumnya dikeluarkan oleh Raja dan berisi maklumat tentang :
1. pembentukan suatu negara/kota; 2.pemberian penghargaan/anugerah kepada daerah/rakyat yang telah berjasa; 3.pendirian suatu bangunan;
4.kewajiban/larangan atau bahkan berupa kutukan bagi yang melanggarnya;
Prasasti Candi Lor yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isyanawikrama Dharmmotunggadewa pada intinya berupa anugerah kepada rakyat dan Sima Anjuk Ladang. Tidak ada satu peristiwa bersejarah di Nganjuk yang hebatnya melebihi peristiwa yang terjadi 8 (delapan) tahun sebelum Prasasti Candi Lor dikeluarkan. Terungkap dengan jelas keterlibatan seluruh potensi masyarakat Anjuk Ladang dalam membantu perjuangan Pu Sindok menghadapi serangan musuh negara Mataran Hindu yaitu tentara Melayu Sriwijaya. Berkat bantuan sepenuhnya dari Rakyat Anjuk Ladang, Pu Sindok memperoleh kemenangan gilang gemilang dan akhirnya menjadi Raja di Medang Kahuripan. Sebagai penghargaan kepada Rakyat Anjuk Ladang diberi anugerah berupa :
1. Sima Anjuk Ladang diberi ststus daerah otonom sehingga menjadi Sima Swatantra Anjuk Ladang; 2.Pembebasan dari kewajiban membayar pajak, penghasilan yang dipeoleh dogunakan sendiri untuk membangun daerah;?
???? 3. Bangunan suci untuk upacara kebhaktian yaitu Sri Jayamerta; 4. Bangunan tugu kemenangan Jayastambha.
Dari Prasasti Anjuk Ladang dapat diketahui ada 2 (dua) hal penting yang berkaitan dengan pokok masalah yaitu :? 1. dikenalnya Anjuk Ladang, toponimi yang sangat dekat dengan ucapannya dengan Nganjuk; 2. pemberian status swatantra (otonom dan bebas pajak) kepada Sima Anjuk Ladang.
Kedua hal tersebut diatas merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, ibarat sekeping mata uang, sehingga apabila kita berbicara tentang Anjuk Ladang berarti pula membicarkan Sima Swatantra Anjuk Ladang. Dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa Anjuk Ladang adalah nama dari suatu wilayah setingkat Desa yaitu Sima, sedangkan Sima Swatantra Anjuk Ladang adalah institusi atau lembaga pemerintahannya. Mengacu pada pemikiran seperti tersebut diatas maka akhirnya Tim Perumus Hasil Seminar Hari Jadi Nganjuk menyimpulkan bahwa Hari Jadi Nganjuk adalah juga merupakan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
Demikian setelah menimbang keputusan Tim Perumus Hasil Seminar Hari Jadi Nganjuk dan memperhatikan persetujuan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Nganjuk melalui Keputusan No 008/1993, tanggal 10 Desember 1993, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk mengeluarkan Keputusan Nomor 495/1993 tanggal 28 Desember 1993 yang memutuskan bahwa Hari Jadi Nganjuk tanggal 10 April 937 M dan selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
TUGAS TEORI BELAJAR BAHASA
TUGAS TEORI BELAJAR BAHASA
Oleh Kelompok 9:
1.MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
2.YUAIDA DWI FATMAWATI (080210402017)
3.ACHMAD WAHYUDI (080210402023)
4.ITA NUR ANDRIANA (080210402052)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
1. Pendahuluan
Pada dasarnya setiap pengajaran bahasa bertujuan agar siswa mempunyai keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa meliputi terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Jadi, secara singkat keterampilan berbahasa itu mencakup empat segi yang keempat-empatnya saling berhubungan dan tidak bisa dipisah-pisah dengan sekat yang jelas.
Keempat keterampilan tersebut digunakan oleh manusia untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Komunikasi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa. Bahasa ini diperoleh dengan menguasai empat keterampilan berbahasa. Salah satunya adalah melalui metode membaca. Membaca merupakan suatu kegiatan memahami teks bacaan dalam rangka memperoleh informasi atau pesan yang terkandung di dalam bacaan.
Menjelang tahun 1920-an, penggunaan metode membaca banyak mengalami refisi yang di pelopori oleh para pendidik Ingris dan Amerika. Salah satu pelopornya adalah West (1926), yang mengajar bahasa Ingris di India berpendapat bahwa belajar membaca jauh lebih penting dari pada orang India yang belajar bahasa Ingris ketimbang berbicara. West menganjurkan suatu penekanan pada membaca bukan hanya karena dia menganggap hal itu sebagai keterampilan yang paling bermanfaat yang harus diperoleh oleh bahasa asing, tetapi itulah yang paling mudah, suatu keterampilan dengan nialai tamabah yang paling besar bagi siswa yang paling mudah pada tahap- tahap awal siswa mempelajari bahasa.
Metode membaca pada tahun 1929-an di sekolah- sekolah menengah maupun di perguruan tinggi di Amerika Serikat mulai digunakan. Tujuannya adalah untuk memberi pelajar atau mahasiswa kemampuan untuk memahami teks ilmiah yang mereka keluhkan dalam studi mereka. Metode membaca inilah yang kemudian terus digunakan dan dikembangkan hingga saat ini.
2. Tujuan dan Teknik
Tujuan dan teknik membaca secara tegas hanya untuk melatih para siswa dalam membaca pemahaman. Metode membaca merupakan suatu teoari pengajaran bahasa yang secara tegas membatasi tujuan pengajaran bahasa pada salah satu kegunaan praktis yang dapat dicapai. Metode membaca yang sekaligus merupakan ciri utamanya adalah sebagai berikut:
1.pemisahan fase aktif dan fase pasif pembelajaran bahasa
2.pendekatan analasis tata bahasa bagi tujuan membaca pemahaman
3.penekanan pada pengalaman menbaca intensif dan ekstensif
4.penundaan pelatihan berbicara dan menulis
5.perhatian kontinyu terhadap kata-kata lisan
6.perhatian terhadap pembelajar secara individual
Teknik-teknik yang dipakai dalam metode membaca tidaklah berbeda secara radikal dari teknik-teknik yang dikembangkan dalam metode-metode terdahulu:
1.penggunaan B1 tidak dilarang
2.penggunaan B2 diadakan secara lisan
3.ucapan dan inti ujaran sangat penting
4.beberapa teknik terampil dari pengajaran membaca bahasa asing
5.control kosakata dalam bacaan sangat penting
6.control kosakata merupakan pembeda membaca intensif dan ekstensif
3. Asumsi Teoritis
Metode membaca mempunyai dasar pragmatic yang kuat. Asumsi-asumsi educationalnya sam dengan kurikulum sekolah Amerika tahun 1920-an, misalnya menyesuaikan kegiatan-kegiatan pendidikan kepada penggunaan-penggunaan praktis yang sudah ditetapkan atau ditentukan. Dengan perkataan lain, dengan metode ini diharapkan agar para siswa mempunyai keterampilan berpragmatik. Kita harus menyadari benar-benar jika ada 7 faktor penentu dalam berkomunikasi dengan bahasa yaitu:
1.siapa yang berbahasa dengan siapa
2.utnuk tujuan apa
3.dalam situasi apa atau tempat dan waktu
4.dalam konteks apa
5.dengan jalur mana lisan atau tulisan
6.media apa
7.dalam peristiwa apa
Orientasi belajar mengajar bahas berdasarkan tugas dan funsi berkomunikasi ini disebut pendekatan komunikatif. Dalam pendekatan komunikatif ini bentuk bahasa (kata, kalimat, ragam bahasa) yang dipakai selalu dikaitkan dengan factor-faktor penentu di atas. Kemampuan berbahasa yang demikian yaitu yang dapat menyesuaikan bentuk bahasa dengan factor-faktor penentu, disebut keterampila berpragmatik. Ilmu yang mengkaji hubungan bahasa (ragam dan bentuk bahasa) dengan faktor-faktor itu disebut ilmu pragmatik.
Metode pembaca timbul dari pertimbangan-pertimbangan pendidikan praktis. Hal ini sejalan denga teori eamerika tahun 1920-an. Metode itu memperkeranalkan kedalam pembelajaran bahasa beberapa elemen baru yang penting yaitu;
a)a.kemungkinan menemukan tehnik-tehnik pembelajaran bahasa yang sesuai dengan tujuan –tujuan tertentu. Dalam hal ini tujuan membaca .
b)b.pengaplikasian pengawasan kosakata pada teks-teks sebagai sarana penahapan teks-teks yang lebih baik.
c)c.penciptaan atau kreasi yang bertingkat
d)d. sehubungan dan sebagai jasa pengawasan kosa kata pengenalan dengan tehnik-tehnik membaca bagi kelas bahasa asing.
4. Kesimpulan
Metode pembelajaran direncanakan bagi sekolah-sekolah yang tujuan satu-satunya adalah untuk memperoleh pengetahuan memebaca mengenai bahasa. Teks dibagi menjadi seksi-seksi atau bagian –bagian pendek. Yang masing-masing didahului oleh suatu daftar kata yang akan di ajarkan melalui konteks trrjemahan atau gambar-gambar. Setelah suatu tahap atau disingkat kosa kata tercapai maka bacaan –bacaan tambahan dalam bentuk cerita atau novel yang di sederhanakanpun diperkenalkan untuk memudahkan sang pembelajar untuk menggabungkan atau mengkosolidasikan kosakatanya.
Daftar Pustaka
Guntur tarigan, henry.1991.metodologi pengajaran bahasa 2 .Bandung: penerbit Angkasa.
Utari subyakto,sri.1993.metodologi pengajaran bahasa. Jakarta: PT. Gramedia pustaka utama.
Oleh Kelompok 9:
1.MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
2.YUAIDA DWI FATMAWATI (080210402017)
3.ACHMAD WAHYUDI (080210402023)
4.ITA NUR ANDRIANA (080210402052)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
1. Pendahuluan
Pada dasarnya setiap pengajaran bahasa bertujuan agar siswa mempunyai keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa meliputi terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Jadi, secara singkat keterampilan berbahasa itu mencakup empat segi yang keempat-empatnya saling berhubungan dan tidak bisa dipisah-pisah dengan sekat yang jelas.
Keempat keterampilan tersebut digunakan oleh manusia untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Komunikasi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa. Bahasa ini diperoleh dengan menguasai empat keterampilan berbahasa. Salah satunya adalah melalui metode membaca. Membaca merupakan suatu kegiatan memahami teks bacaan dalam rangka memperoleh informasi atau pesan yang terkandung di dalam bacaan.
Menjelang tahun 1920-an, penggunaan metode membaca banyak mengalami refisi yang di pelopori oleh para pendidik Ingris dan Amerika. Salah satu pelopornya adalah West (1926), yang mengajar bahasa Ingris di India berpendapat bahwa belajar membaca jauh lebih penting dari pada orang India yang belajar bahasa Ingris ketimbang berbicara. West menganjurkan suatu penekanan pada membaca bukan hanya karena dia menganggap hal itu sebagai keterampilan yang paling bermanfaat yang harus diperoleh oleh bahasa asing, tetapi itulah yang paling mudah, suatu keterampilan dengan nialai tamabah yang paling besar bagi siswa yang paling mudah pada tahap- tahap awal siswa mempelajari bahasa.
Metode membaca pada tahun 1929-an di sekolah- sekolah menengah maupun di perguruan tinggi di Amerika Serikat mulai digunakan. Tujuannya adalah untuk memberi pelajar atau mahasiswa kemampuan untuk memahami teks ilmiah yang mereka keluhkan dalam studi mereka. Metode membaca inilah yang kemudian terus digunakan dan dikembangkan hingga saat ini.
2. Tujuan dan Teknik
Tujuan dan teknik membaca secara tegas hanya untuk melatih para siswa dalam membaca pemahaman. Metode membaca merupakan suatu teoari pengajaran bahasa yang secara tegas membatasi tujuan pengajaran bahasa pada salah satu kegunaan praktis yang dapat dicapai. Metode membaca yang sekaligus merupakan ciri utamanya adalah sebagai berikut:
1.pemisahan fase aktif dan fase pasif pembelajaran bahasa
2.pendekatan analasis tata bahasa bagi tujuan membaca pemahaman
3.penekanan pada pengalaman menbaca intensif dan ekstensif
4.penundaan pelatihan berbicara dan menulis
5.perhatian kontinyu terhadap kata-kata lisan
6.perhatian terhadap pembelajar secara individual
Teknik-teknik yang dipakai dalam metode membaca tidaklah berbeda secara radikal dari teknik-teknik yang dikembangkan dalam metode-metode terdahulu:
1.penggunaan B1 tidak dilarang
2.penggunaan B2 diadakan secara lisan
3.ucapan dan inti ujaran sangat penting
4.beberapa teknik terampil dari pengajaran membaca bahasa asing
5.control kosakata dalam bacaan sangat penting
6.control kosakata merupakan pembeda membaca intensif dan ekstensif
3. Asumsi Teoritis
Metode membaca mempunyai dasar pragmatic yang kuat. Asumsi-asumsi educationalnya sam dengan kurikulum sekolah Amerika tahun 1920-an, misalnya menyesuaikan kegiatan-kegiatan pendidikan kepada penggunaan-penggunaan praktis yang sudah ditetapkan atau ditentukan. Dengan perkataan lain, dengan metode ini diharapkan agar para siswa mempunyai keterampilan berpragmatik. Kita harus menyadari benar-benar jika ada 7 faktor penentu dalam berkomunikasi dengan bahasa yaitu:
1.siapa yang berbahasa dengan siapa
2.utnuk tujuan apa
3.dalam situasi apa atau tempat dan waktu
4.dalam konteks apa
5.dengan jalur mana lisan atau tulisan
6.media apa
7.dalam peristiwa apa
Orientasi belajar mengajar bahas berdasarkan tugas dan funsi berkomunikasi ini disebut pendekatan komunikatif. Dalam pendekatan komunikatif ini bentuk bahasa (kata, kalimat, ragam bahasa) yang dipakai selalu dikaitkan dengan factor-faktor penentu di atas. Kemampuan berbahasa yang demikian yaitu yang dapat menyesuaikan bentuk bahasa dengan factor-faktor penentu, disebut keterampila berpragmatik. Ilmu yang mengkaji hubungan bahasa (ragam dan bentuk bahasa) dengan faktor-faktor itu disebut ilmu pragmatik.
Metode pembaca timbul dari pertimbangan-pertimbangan pendidikan praktis. Hal ini sejalan denga teori eamerika tahun 1920-an. Metode itu memperkeranalkan kedalam pembelajaran bahasa beberapa elemen baru yang penting yaitu;
a)a.kemungkinan menemukan tehnik-tehnik pembelajaran bahasa yang sesuai dengan tujuan –tujuan tertentu. Dalam hal ini tujuan membaca .
b)b.pengaplikasian pengawasan kosakata pada teks-teks sebagai sarana penahapan teks-teks yang lebih baik.
c)c.penciptaan atau kreasi yang bertingkat
d)d. sehubungan dan sebagai jasa pengawasan kosa kata pengenalan dengan tehnik-tehnik membaca bagi kelas bahasa asing.
4. Kesimpulan
Metode pembelajaran direncanakan bagi sekolah-sekolah yang tujuan satu-satunya adalah untuk memperoleh pengetahuan memebaca mengenai bahasa. Teks dibagi menjadi seksi-seksi atau bagian –bagian pendek. Yang masing-masing didahului oleh suatu daftar kata yang akan di ajarkan melalui konteks trrjemahan atau gambar-gambar. Setelah suatu tahap atau disingkat kosa kata tercapai maka bacaan –bacaan tambahan dalam bentuk cerita atau novel yang di sederhanakanpun diperkenalkan untuk memudahkan sang pembelajar untuk menggabungkan atau mengkosolidasikan kosakatanya.
Daftar Pustaka
Guntur tarigan, henry.1991.metodologi pengajaran bahasa 2 .Bandung: penerbit Angkasa.
Utari subyakto,sri.1993.metodologi pengajaran bahasa. Jakarta: PT. Gramedia pustaka utama.
MENGANALISIS KATA, DALAM JUDUL DAN ISI NOVEL AYAT-AYAT CINTA BERDASARKAN KORIDOR BAHASA YANG DIGUNAKAN
MENGANALISIS KATA, DALAM JUDUL DAN ISI NOVEL AYAT-AYAT CINTA BERDASARKAN KORIDOR BAHASA YANG DIGUNAKAN
TUGAS MATA KULIAH BAHASA BANTU
Oleh
Moh. Badrus Solichin
NIM : 080210402002
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2008/2009
Menganalisis Kata dalam Judul & Isi Novel Ayat-Ayat Cinta Berdasarkan Koridor Bahasa Yang Digunakan.
Ayat-ayat cinta, adalah sebuah judul novel Best Seller karya Habiburrahman El Shirazy, yang buming di pasaran di awal tahun 2005. Novel yang begitu laris dan diminati di kalangan pembaca, baik kalangan lokal maupun interlokal. Mengangkat cerita kehidupan mahasiswa Indonesia di Universitas tertua di dunia, atau yang dikenal Al- Azhar dengan kisah percintaan yang bersettingkan budaya Timur Tengah dan sempat novel tersebut diangkat ke layar lebar oleh salah satu rumah produksi film di Indonesia.
Tetapi disini saya berniat tidak membahas panjang lebar mengenai isi novel tersebut, melainkan saya akan menganalisis kata yang berdasarkan koridor bahasa yang digunakan penagrang dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Pada judul atau isi novel tersebut, judul novel Aytat-ayat Cinta terdiri dari dua morfem : yaitu morfem reduplikasi utuh “Ayat-ayat” dan morfem bebas “cinta”. Berikut saya kaji secara detail dua kata tersebut :
1.Ayat
Kata “Ayat” banyak digunakan orang dalam mengidentifikasi kalimat yang ada di dalam kitab suci atau juga digunakan dalam mengidentifikasi isi kalimat-kalimat yang ada pada pasal dalam undang-undang. Penggunaan kata “Ayat” dalam Al-Qur’an, misalnya dalam menyebut surat Al-Baqarah “ayat” 13.. Kata “ayat” sendiri dilafalkan orang dengan pemenggalan struktur kata (A – yat), dan “Ayat” terdiri dari dua suku kata “(A) + (yat)” dan “((A) →vokal) dan ((-yat) →KVK)” (Ilmu Fonologi : Nazir Tohir dan I Wayan)
“Ayat”, merupakan kata serapan dari bahasa Arab ( ) yang artinya “tanda” (K. Arab – Indonesia : 2000). Orang Arab sendiri mengenal kata “Ayat” sejak para Rasul mengenalkan kitab suci yang berisi surat-surat Allah beserta beribu ratus “ayat-ayat” di dalamnya. Kitab yang menjadi pegangan dan tuntunan hidup umat muslim.
Sedangkan dalam tataran bahasa Indonesia, kata “Ayat” memiliki arti “alamat atau tanda” dan juga diartikan “beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud sebagai bagian surat dalam kitab suci Al-Qur’an”. (KBBI, BP; Jakarta 2005). Masyarakat Indonesia berasumsi, bahwa kata ayat hanya memiliki hubungan dengan suatu benda, baik benda berupa buku maupun Al-Kitab.
Negara Indonesia sudah memiliki bahasa nasional bahasa Indonesia, tetapi bahasa Indonesia memiliki anak cabang suku, budaya daerah yang pastinya memiliki ciri khas bahasa tersendiri. Dan sebaliknya kata “Ayat” di berbagai suku bahasa daerah dikenal dan memiliki makna dan arti sama, yaitu memiliki arti “tanda atau makna”, baik di dalam etnis bahasa Jawa, Madura, Sunda dan suku bangsa lainny, pelafalannya pun tetap “(A – yat)”.
Kata “Ayat” memiliki struktur dinamis, dalam artian bahwa kata “ayat” tidak mengalami perubahan Fonologis dan Linguistis di dalam tataran bahasa Indonesia maupun daerah. . Walaupun jika kata “Ayat” mengalami proses morfofonemik dengan ditambahkannya imbuhan-imbuhan, kata “Ayat” memiliki makna tetap dan tidak jauh beda pengertiannya dengan makna kata dasar. Misalnya kata “ayatullah, yang artinya ”memiliki tanda-tanda kebesaran dan kekuatan Allah”. (KBBI, BP; Jakarta 2005).
2.Cinta
Kata “Cinta” adalah satu kata yang selalu menarik untuk dibahas dan mungkin “Cinta” adalah satu hal yang takkan pernah habis untuk dibicarakan. Tak kurang sudah ratusan bahkan ribuan judul novel, lagu dan film dan mengangkat tema cinta, misalnya “Ayat-ayat Cinta”. Dan masih banyak lagi judul “cinta” lainnya. Kenapa demikian? Karena kurangnya pengertian akan konsep Nirwana sebagai suatu kondisi batin yang bebas dari nafsu, serakah, benci, dan kebodohan batin. Permasalahan seperti itu disebabkan, karena manusia tidak tau makna yang sebenarnya arti “cinta”. Pengarang novel “Ayat-ayat Cinta” pun menggunakan dua kata (Ayat-ayat) dan (kata Cinta). Kenapa ayat dikaitkan dengan kata cinta? Padahal kata ayat pasti berhubungan dengan suatu kitab, sedangkan kata cinta bermakna kasih sayang. Alasan penulis memilih kata cinta, karena dalam novel ayat-ayat cinta, cinta diartikan pengarang bahwa cinta tersebut menggambarkan rasa kasih sayang yang tulus kepada sang pencipta, karena atas rasa cintaNya kita diberi kenikmatan hidup ini. (Habiburrahman El Shirayz)
Yang menarik, timbullah pertanyaan, dari bahasa apakah kata “cinta” berasal? Banyak kaum muda mengartikan kalau kata cinta dikenal sejak terjadinya peristiwa “Valentine Day”. (www.muda.com), sedangkan peristiwa Valentine terjadi di negara Romawi sekitar tahun 496 M (Artikel, tim ISMUBA : 2007). Kalau memang benar cinta mulai dikenal sejak terjadinya peristiwa “Valentine Day”. Berarti kata cinta yang kita kenal dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Romawi !!
Di dalam bahasa Sansakerta, memang tidak kita temui kalau cinta berasal dari kata sansakerta. Tetapi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata cinta memiliki arti “suka sekali, kasih sekali, dan ingin sekali”, contohnya : “orang tuaku sangat cinta kepada kami”. Dan di dalam kamus KBBI juga dijelaskan bentuk perubahan kata “Cinta” dalam proses berimbuhan, misalnya “bercinta”, artinya : menaruh rasa cinta, sedangkan “bercintakan”, artinya kasih saying keapda”. “mencintai” artinya : menaruh rasa kasih sayang. (KBBI, Balai Pustaka : Jakarta 2005).
Dalam bahasa Pali (Budha), juga ditemukan beberapa istilah “cinta”, seperti : Piya, Pema, Rati, Kama, Tanha (jawa tresno), ruci dan sneha, yang memiliki arti rasa sayang, kesenangan, cinta kasih sayang, kesukaan, nafsu indera (birahi). (www.bahasapali.com) sedangkan dalam bahasa Jawa kata “cinta” dikenal dalam bahasa jawa “tresno”. Dalam kamus bahasa jawa kuno, kata “tresno” diartikan : pikiran, kecemasan contohnya, “witing tresno jalaran soko kulino”. (P.J. Zoet Mulder : Gramedia 1995)
3.Jadwal
Sering kita dengar, banyak orang mengatakan kata “jadual” lebih baku dari pada kata “jadwal”. Misalnya seorang guru menuliskan daftar pelajaran di tulis dengan menggunakan ejaan huruf “j-a-d-u-a-l”, bukan dengan ejaan huruf j-a-d-w-a-l”. penulisan tersebut tidak hanya digunakan oleh pengajar, pembuat kalender pun menuliskan dengan ejaan “j-a-d-u-a-l”. Jika teliti kelsalahan dan kesalahan dan kebenaran kata tersebut, maka kira-kira manakah penulisan kata yang paling benar?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang menjadi rujukan umum pengguna bahasa Indonesia. Disitu dijelaskan bahwa “Jadwal” lebih baku dari “jadual”. Diartikan kata “jadwal”, yaitu pembagian waktu berdasarkan rencana pengaturan urutan kerja: daftar/tabel kegiatan/rencana kegiatan pembagian waktu dan pelaksanaan. Dan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, juga dijelaskan perubahan bentuk dari kata “jadwal” yang menjadi “menjadwalkan” : menetapkan jadwal, “terjadwal” : sudah dijadwalkan. Contohnya, “Pesawat Garuda RI sudah terjadwal tiba di Surabaya jam 14.00.” (KBBI, Balai Pustaka ; Jakarta 2005)
Kata “Jadwal” sendiri, merupakan kata serapan dari bahasa Melayu “jadual”, yang memiliki arti “susunan acara atau perkara-perkara yang diatur mengikuti masa yang ditentukan.” (Kamus Bahasa Melayu Nusantara).
Penggunaan kata “jadwal” dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, pengarang mengartikan kata “jadwal”, yang sebenarnya menggambarkan bahwa tujuan dan cita-cita salah satu tokoh, yan harus menjadi kunci apa yang dijalankan dan harus digapainya.
TUGAS MATA KULIAH BAHASA BANTU
Oleh
Moh. Badrus Solichin
NIM : 080210402002
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2008/2009
Menganalisis Kata dalam Judul & Isi Novel Ayat-Ayat Cinta Berdasarkan Koridor Bahasa Yang Digunakan.
Ayat-ayat cinta, adalah sebuah judul novel Best Seller karya Habiburrahman El Shirazy, yang buming di pasaran di awal tahun 2005. Novel yang begitu laris dan diminati di kalangan pembaca, baik kalangan lokal maupun interlokal. Mengangkat cerita kehidupan mahasiswa Indonesia di Universitas tertua di dunia, atau yang dikenal Al- Azhar dengan kisah percintaan yang bersettingkan budaya Timur Tengah dan sempat novel tersebut diangkat ke layar lebar oleh salah satu rumah produksi film di Indonesia.
Tetapi disini saya berniat tidak membahas panjang lebar mengenai isi novel tersebut, melainkan saya akan menganalisis kata yang berdasarkan koridor bahasa yang digunakan penagrang dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Pada judul atau isi novel tersebut, judul novel Aytat-ayat Cinta terdiri dari dua morfem : yaitu morfem reduplikasi utuh “Ayat-ayat” dan morfem bebas “cinta”. Berikut saya kaji secara detail dua kata tersebut :
1.Ayat
Kata “Ayat” banyak digunakan orang dalam mengidentifikasi kalimat yang ada di dalam kitab suci atau juga digunakan dalam mengidentifikasi isi kalimat-kalimat yang ada pada pasal dalam undang-undang. Penggunaan kata “Ayat” dalam Al-Qur’an, misalnya dalam menyebut surat Al-Baqarah “ayat” 13.. Kata “ayat” sendiri dilafalkan orang dengan pemenggalan struktur kata (A – yat), dan “Ayat” terdiri dari dua suku kata “(A) + (yat)” dan “((A) →vokal) dan ((-yat) →KVK)” (Ilmu Fonologi : Nazir Tohir dan I Wayan)
“Ayat”, merupakan kata serapan dari bahasa Arab ( ) yang artinya “tanda” (K. Arab – Indonesia : 2000). Orang Arab sendiri mengenal kata “Ayat” sejak para Rasul mengenalkan kitab suci yang berisi surat-surat Allah beserta beribu ratus “ayat-ayat” di dalamnya. Kitab yang menjadi pegangan dan tuntunan hidup umat muslim.
Sedangkan dalam tataran bahasa Indonesia, kata “Ayat” memiliki arti “alamat atau tanda” dan juga diartikan “beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud sebagai bagian surat dalam kitab suci Al-Qur’an”. (KBBI, BP; Jakarta 2005). Masyarakat Indonesia berasumsi, bahwa kata ayat hanya memiliki hubungan dengan suatu benda, baik benda berupa buku maupun Al-Kitab.
Negara Indonesia sudah memiliki bahasa nasional bahasa Indonesia, tetapi bahasa Indonesia memiliki anak cabang suku, budaya daerah yang pastinya memiliki ciri khas bahasa tersendiri. Dan sebaliknya kata “Ayat” di berbagai suku bahasa daerah dikenal dan memiliki makna dan arti sama, yaitu memiliki arti “tanda atau makna”, baik di dalam etnis bahasa Jawa, Madura, Sunda dan suku bangsa lainny, pelafalannya pun tetap “(A – yat)”.
Kata “Ayat” memiliki struktur dinamis, dalam artian bahwa kata “ayat” tidak mengalami perubahan Fonologis dan Linguistis di dalam tataran bahasa Indonesia maupun daerah. . Walaupun jika kata “Ayat” mengalami proses morfofonemik dengan ditambahkannya imbuhan-imbuhan, kata “Ayat” memiliki makna tetap dan tidak jauh beda pengertiannya dengan makna kata dasar. Misalnya kata “ayatullah, yang artinya ”memiliki tanda-tanda kebesaran dan kekuatan Allah”. (KBBI, BP; Jakarta 2005).
2.Cinta
Kata “Cinta” adalah satu kata yang selalu menarik untuk dibahas dan mungkin “Cinta” adalah satu hal yang takkan pernah habis untuk dibicarakan. Tak kurang sudah ratusan bahkan ribuan judul novel, lagu dan film dan mengangkat tema cinta, misalnya “Ayat-ayat Cinta”. Dan masih banyak lagi judul “cinta” lainnya. Kenapa demikian? Karena kurangnya pengertian akan konsep Nirwana sebagai suatu kondisi batin yang bebas dari nafsu, serakah, benci, dan kebodohan batin. Permasalahan seperti itu disebabkan, karena manusia tidak tau makna yang sebenarnya arti “cinta”. Pengarang novel “Ayat-ayat Cinta” pun menggunakan dua kata (Ayat-ayat) dan (kata Cinta). Kenapa ayat dikaitkan dengan kata cinta? Padahal kata ayat pasti berhubungan dengan suatu kitab, sedangkan kata cinta bermakna kasih sayang. Alasan penulis memilih kata cinta, karena dalam novel ayat-ayat cinta, cinta diartikan pengarang bahwa cinta tersebut menggambarkan rasa kasih sayang yang tulus kepada sang pencipta, karena atas rasa cintaNya kita diberi kenikmatan hidup ini. (Habiburrahman El Shirayz)
Yang menarik, timbullah pertanyaan, dari bahasa apakah kata “cinta” berasal? Banyak kaum muda mengartikan kalau kata cinta dikenal sejak terjadinya peristiwa “Valentine Day”. (www.muda.com), sedangkan peristiwa Valentine terjadi di negara Romawi sekitar tahun 496 M (Artikel, tim ISMUBA : 2007). Kalau memang benar cinta mulai dikenal sejak terjadinya peristiwa “Valentine Day”. Berarti kata cinta yang kita kenal dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Romawi !!
Di dalam bahasa Sansakerta, memang tidak kita temui kalau cinta berasal dari kata sansakerta. Tetapi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata cinta memiliki arti “suka sekali, kasih sekali, dan ingin sekali”, contohnya : “orang tuaku sangat cinta kepada kami”. Dan di dalam kamus KBBI juga dijelaskan bentuk perubahan kata “Cinta” dalam proses berimbuhan, misalnya “bercinta”, artinya : menaruh rasa cinta, sedangkan “bercintakan”, artinya kasih saying keapda”. “mencintai” artinya : menaruh rasa kasih sayang. (KBBI, Balai Pustaka : Jakarta 2005).
Dalam bahasa Pali (Budha), juga ditemukan beberapa istilah “cinta”, seperti : Piya, Pema, Rati, Kama, Tanha (jawa tresno), ruci dan sneha, yang memiliki arti rasa sayang, kesenangan, cinta kasih sayang, kesukaan, nafsu indera (birahi). (www.bahasapali.com) sedangkan dalam bahasa Jawa kata “cinta” dikenal dalam bahasa jawa “tresno”. Dalam kamus bahasa jawa kuno, kata “tresno” diartikan : pikiran, kecemasan contohnya, “witing tresno jalaran soko kulino”. (P.J. Zoet Mulder : Gramedia 1995)
3.Jadwal
Sering kita dengar, banyak orang mengatakan kata “jadual” lebih baku dari pada kata “jadwal”. Misalnya seorang guru menuliskan daftar pelajaran di tulis dengan menggunakan ejaan huruf “j-a-d-u-a-l”, bukan dengan ejaan huruf j-a-d-w-a-l”. penulisan tersebut tidak hanya digunakan oleh pengajar, pembuat kalender pun menuliskan dengan ejaan “j-a-d-u-a-l”. Jika teliti kelsalahan dan kesalahan dan kebenaran kata tersebut, maka kira-kira manakah penulisan kata yang paling benar?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang menjadi rujukan umum pengguna bahasa Indonesia. Disitu dijelaskan bahwa “Jadwal” lebih baku dari “jadual”. Diartikan kata “jadwal”, yaitu pembagian waktu berdasarkan rencana pengaturan urutan kerja: daftar/tabel kegiatan/rencana kegiatan pembagian waktu dan pelaksanaan. Dan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, juga dijelaskan perubahan bentuk dari kata “jadwal” yang menjadi “menjadwalkan” : menetapkan jadwal, “terjadwal” : sudah dijadwalkan. Contohnya, “Pesawat Garuda RI sudah terjadwal tiba di Surabaya jam 14.00.” (KBBI, Balai Pustaka ; Jakarta 2005)
Kata “Jadwal” sendiri, merupakan kata serapan dari bahasa Melayu “jadual”, yang memiliki arti “susunan acara atau perkara-perkara yang diatur mengikuti masa yang ditentukan.” (Kamus Bahasa Melayu Nusantara).
Penggunaan kata “jadwal” dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, pengarang mengartikan kata “jadwal”, yang sebenarnya menggambarkan bahwa tujuan dan cita-cita salah satu tokoh, yan harus menjadi kunci apa yang dijalankan dan harus digapainya.
Langganan:
Postingan (Atom)