Suatu kali saya menanggapi fesbuk, istilah gaul bagi facebook, seorang teman yang juga senior saya di kampus ketika masih kuliah. Teman itu kemudian membalas dengan menuliskan kode D. Serta-merta ”D” saya artikan sebagai diam. Saya merasa sakit hati. Ketika itu saya terbilang orang baru di lingkungan media jejaring sosial, jadi belum paham benar maksud kode-kode yang digunakan.
Sejak itu, tiap kali membuka fesbuk, saya agak cemas bila ”bertemu” dengan teman itu. Lama-lama saya sadar, ternyata banyak yang menggunakan kode D di ruang komentar. Saya tanya adik saya apa arti ”D”. Ternyata artinya: tertawa lebar.
Kehadiran ponsel dan media jejaring sosial—fesbuk dan twitter—harus diakui telah ikut mendorong munculnya ragam bahasa tersendiri. Istilah populernya bahasa alay, akronim dari anak lebay, yakni bahasa tulis berupa campuran bahasa gaul lisan, bahasa asing khususnya Inggris, singkatan, kode, angka, dan visualisasi. Bahasa ini berkembang di kalangan remaja, namun dalam pergaulan media jejaring sosial juga digunakan orang dewasa bahkan lansia. Semakin lama bahasa ini kian berkembang sehingga seorang dewasa yang telat memiliki akun, seperti saya, perlu waktu adaptasi sebentar. Bahasa alay pada dasarnya memanfaatkan bahasa prokem anak muda Ibu Kota, ragam bahasa yang berkembang di akhir 1980-an, dan kemudian jadi ragam bahasa media jejaring sosial yang khas. Dalam pergaulan media jejaring sosial, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar malah membuat orang tampak aneh, kaku, dan lucu.
Di sini saya tak hendak menganalisis faktor penyebab pemunculan bahasa alay, apalagi mengangkat contoh kasus demi kasus yang bertaburan di media jejaring sosial. Tentu saya ikut prihatin karena bahasa alay banyak digunakan kalangan remaja, kelompok usia yang masih harus belajar disiplin berbahasa. Menurut data Kemenkominfo, pengakses internet terbanyak adalah remaja, mencapai 64 persen. Indonesia berada di peringkat tiga dunia sebagai pengguna media jejaring sosial (26 juta), setelah Amerika Serikat (130 juta) dan Inggris (28 juta). Bayangkan, 26 juta dari 234,2 juta penduduk Indonesia (Data BPS 2010) menggunakan bahasa alay, kendati frekuensi penggunaannya terbanyak di kalangan remaja. Bisa disimpulkan, selama media jejaring sosial dan SMS ponsel digunakan, bahasa alay akan terus berkembang.
Prinsip bahasa alay sederhana: yang penting teman-teman menangkap pesan yang disampaikan. Meski bahasa prokem juga tak seragam karena tergantung kepada daerah, misalnya bahasa prokem Tegal, masih ada aturan tak tertulis dalam penggunaannya. Penggunaan partikel untuk menekankan emosi tertentu (deh, nih, dong, sih) dan sisipan (-ok- pada bapak menjadi bokap, pada nyak jadi nyokap) masih bisa ditelusuri.
Dalam bahasa alay, orang bebas menyingkat bahasa resmi, Indonesia maupun Inggris, menambah unsur visual, angka, tanda, dan kode. Biasanya dalam menyingkat kata, unsur vokal dihilangkan, dan tatkala semua kata disingkat, teman harus paham. Tahu sama tahu.
Beberapa contoh bahasa alay: ”Aq ke rmhx hr ni” (aku pergi ke rumahnya sore hari ini), ”mkcih, ya” (terima kasih, ya), ”otw ke rmh” (on the way ke rumah), ”gapapa” (tidak apa-apa), ”))” (kode untuk senyum, sering ditulis pada akhir komentar, misalnya ”I luph u:))”), ”P” atau ”Piiis” (peace artinya ”damai, jangan marah, dong”). Masih banyak lagi.
Kesimpulan apakah yang bisa dipetik dari bahasa alay? Pemeo ”bahasa menunjukkan bangsa” tampaknya tak lagi berlaku, digeser pemeo ”bahasa menunjukkan media”.
By: Rainy MP Hutabarat Cerpenis
Tuhan, menghadiahkan kehidupan begitu menakjubkan. Bermain, memainkan, dimainkan, dan permainan, saling menyinergikan menjadi peristiwa.....
Minggu, 26 September 2010
Bahasa, Pengertian Pragmatik
Pengertian Pragmatik
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions).
Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut ‘fungsi komunikatif’ (Purwo, 1990:2).
Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut:
(1) “Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa”. Di sini, “pengertian/pemahaman bahasa” menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya.
(2) “Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu”.
(Nababan, 1987: 2)
Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana, 1993: 177). Menurut Verhaar (1996: 14), pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal “ekstralingual” yang dibicarakan.
Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo, 1990: 31).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran.
Fenomena Pragmatik
Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis, (b) praanggapan (presupposition), (c) tindak ujaran (speech acts), dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo, 1990: 17).
Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono, 1995: 217).
Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono, 1995: 219). Menurut Nababan (1987: 46), praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu, dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat, dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut:
(1) Wanita Indonesia membeli burung.
terdapat praanggapan bahwa:
(3.1) Ada seorang wanita Indonesia, dan
(3.2) Ada burung.
Jika kedua praanggapan itu diterima, maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca.
Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu, tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo, 1990: 19). Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22), mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni:
1. Tindak lokusi, yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu.
Sebagai contoh:
(4) Jari tangan jumlahnya lima.
Kalimat (4) di atas, diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya.
2. Tindak ilokusi, yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Contoh:
(5) Saya tidak dapat datang.
Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa, bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun, tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu, tetapi untuk melakukan sesuatu, yakni meminta maaf.
3. Tindak perlokusi, yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya. Sebagai contoh:
(6) Kunjungilah restoran Oshin!
Tersedia bermacam-macam masakan Jepang, Cina, dan Eropa.
Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga, handai taulan, dan rekan sekerja Anda. Dijamin halal.
Dalam wacana di atas, ditemukan penggunaan tindak perlokusi. Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran- selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang, Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal.
Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson, 1983: 97). Pertama, konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. Kedua, konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. Ketiga, konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. Keempat, konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. Sebagai contoh:
(7) A : Jam berapa sekarang?
B : Korannya sudah datang.
Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama, sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan.
Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. dalam penelitian ini. Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona.
Deiksis
1. Pengertian Deiksis
Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘menunjuk’ atau ‘menunjukkan’. Dalam KBBI (1991: 217), deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa; kata tunjuk pronomina, ketakrifan, dan sebagainya.
Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217), deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan.
Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, 1977: 637 via Djajasudarma, 1993: 43). Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi, yaitu kata atau frase yang menunjuk kata, frase atau ungkapan yang akan diberikan. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan, 1997: 6).
Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara, yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons, 1977: 638 via Setiawan, 1997: 6).
Berdasarkan beberapa pendapat, dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk, pronomina, dan sebagainya. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora.
Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata deiktis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.
2. Jenis Deiksis
Deiksis ada lima macam, yaitu deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan, 1987: 40).
a. Deiksis Persona
Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon, yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara), berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons, 1977: 638 via Djajasudarma, 1993: 44).
Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.
Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo, 1984: 106). Oleh karenanya, untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora, maka kalimatnya harus diubah, yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. (Setiawan, 1997: 8).
Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut, baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal.
Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua, kata ganti persona ketiga, baik tunggal, seperti bentuk dia, ia, -nya maupun bentuk jamak, seperti bentuk sekalian dan kalian, dapat bersifat endofora dan eksofora. Oleh karena bersifat endofora, maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan, 1997: 9).
Deiksis persona merupakan deiksis asli, sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu.
b. Deiksis Tempat
Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia- membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan “yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan, 1987: 41). Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat.
(8) a. Duduklah kamu di sini.
b. Di sini dijual gas Elpiji.
Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit, yakni sebuah kursi atau sofa. Pada kalimat (8b), acuannya lebih luas, yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Dalam banyak bahasa, deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala” (Inggris: tense) (Nababan, 1987: 41). Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris.
(9) a. I bought a book.
b. I am buying a book.
Meskipun tanpa keterangan waktu, dalam kalimat (9a) dan (9b), penggunaan deiksis waktu sudah jelas. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci, dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu; umpamanya, yesterday, last year, now, dan sebagainya. Contoh dalam bahasa Inggris:
(10) a. I bought the book yesterday.
b. I bought the book 2 years ago.
d. Deiksis Wacana
Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987: 42). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dsb. Sebagai contoh.
(11) a. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya.
b. Karena aromanya yang khas, mangga itu banyak dibeli.
Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman yang sudah disebut sebelumnya, sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian.
e. Deiksis Sosial
Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan, 1987: 42). Dalam bahasa Jawa umpamanya, memakai kata nedo dan kata dahar (makan), menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara, pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut “tingkatan bahasa”, dalam bahasa Jawa, ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua, atau ngoko, madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga, dan ngoko, madyo, kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. Aspek berbahasa seperti ini disebut “kesopanan berbahasa”, “unda-usuk”, atau ”etiket berbahasa” (Geertz, 1960 via Nababan, 1987: 42-43).
C. Bentuk Pronomina Persona
Jika ditinjau dari segi artinya, pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Jika dilihat dari segi fungsinya, dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan -dalam macam kalimat tertentu- juga predikat. Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono, 1997: 170).
Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona, yaitu persona pertama, persona kedua dan persona ketiga (Lyons, 1997: 276 via Setiawan, 1997: 9). Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P, 1988: 172 via Setiawan, 1997: 9).
Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono, 1997: 172). Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel.
Tabel 1: Pronomina Persona
Persona Makna
Tunggal Jamak
Netral Eksklusif Inklusif
Pertama saya, aku, daku, ku-, -ku kami kita
Kedua engkau, kamu, Anda, dikau, kau-, -mu kalian, kamu (sekalian), Anda (sekalian)
Ketiga ia, dia, beliau, -nya mereka, -nya
a) Pronomina Persona Pertama
Dalam Bahasa Indonesia, pronomina persona pertama tunggal adalah saya, aku, dan daku. Bentuk saya, biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Bentuk saya, dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang dimilikinya, misalnya: rumah saya, paman saya. Pronomina persona pertama aku, lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk, yaitu -ku dan ku-. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku, pada umumnya digunakan dalam karya sastra.
Selain pronomina persona pertama tunggal, bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak, yakni kami dan kita. Kami bersifat eksklusif; artinya, pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. Sebaliknya, kita bersifat inklusif; artinya, pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis, tetapi juga pendengar/pembaca, dan mungkin pula pihak lain.
b) Pronomina Persona Kedua
Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud, yakni engkau, kamu Anda, dikau, kau- dan -mu. Pronomina persona kedua engkau, kamu, dan -mu, dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama; orang yang status sosialnya lebih tinggi; orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau status sosial.
Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Selain itu, pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi, sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus; dalam hubungan bersemuka, tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab.
Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak, yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian, kamu sekalian. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau- dan -mu.
c) Pronomina Persona Ketiga
Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia, dia, -nya dan beliau. Dalam posisi sebagai subjek, atau di depan verba, ia dan dia sama-sama dapat dipakai. Akan tetapi, jika berfungsi sebagai objek, atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan, hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat, yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Dari keempat pronomina tersebut, hanya dia, -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik.
Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain; misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya.
Akan tetapi, pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi, kata mereka kadang-kadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai, misalnya usul mereka, rumah mereka.
D. Makna Deiksis Pronomina Persona
Menurut Kridalaksana (2001: 132), makna adalah maksud pembicaran; pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia; hubungan, dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa, atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya; cara menggunakan lambang-lambang bahasa.
Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua, yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi, sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer, 1995: 29).
Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya, dapat dibagankan sebagai berikut.
(b) konsep/makna
(a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen)
Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung, sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa; hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut.
Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. Oleh karena itu, banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya, dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer, 1994: 288).
Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda, makna bahasa dapat terdiri dari bermacam-macam jenisnya. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna, yaitu makna afektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekatensi, makna emotif, makna gereflekter, makna idesional, makna intensi, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna piktorial, makna proposisional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna stilistika, dan makna tematis. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna, yaitu (1) makna konseptual, (2) makna konotatif, (3) makna stilistika, (4) makna afektif, (5) makna reflektif, (6) makna kolokatif, dan (7) makna tematik (Chaer, 1995: 59).
Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas, yaitu makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual, makna referensial, makna non-referensial, makna denotatif, makna konotatif, makna konseptual, makna asosiatif, makna kata, makna istilah, makna idiom, dan makna pribahasa.
Menurut Djajasudarma (1993: 6), makna terdiri atas beberapa jenis, yaitu: makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif/emotif, makna gramatikal, makna leksikal, makna konstruksi, makna referensial, makna majas (kiasan), makna inti, makna idesional, makna proposisi, makna piktorial.
Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma, 1993: 7). Perhatikan contoh.
(12) ”Apakah saudara tidak mau mengakuinya?” kata Pak Polisi.
(Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian).
(13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini.
(Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung, dan akan datang ke rumah penutur).
Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna, yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). Pada kalimat (12), kata saudara bermakna ‘panggilan pada seseorang’, sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit ‘kerabat’.
Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma, 1993: 8). Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit, kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Sebagai contoh.
(14) “Bapak sedang sakit, sekarang,” kata Ibu.
(Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya).
(15) “Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru,” kata salah seorang staf karyawan.
(Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut).
Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna, dari makna sempit ke makna meluas. Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit ‘orang tua kandung’, sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas ‘panggilan untuk laki-laki dewasa’.
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma, 1993: 9). Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer, 1994: 292). Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya (Chaer, 1995: 66). Sebagai contoh.
(16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia.
Pada kalimat (16) di atas, makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian, yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian.
Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif), ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma, 1993: 9).
Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya. Menurut Djajasudarma (1993: 11), makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer, 1994: 291). Sebagai contoh.
(17) A: “Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani,” kata Dian kepada Dani.
B: “Benarkah?” sahut Dani. “Saya juga bertemu beliau kemarin.”
Dari contoh di atas, jelas bahwa, pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian, sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani.
Berbeda dengan makna referensial, makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. Misalnya kata-kata seperti dan, atau, dan karena.
Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi, misalnya, makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma, 1993: 12). Perhatikan contoh berikut.
(18) Rumahnya jauh dari sini.
Pada kalimat (18) di atas, enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan, dalam hal ini adalah rumah.
Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer, 1994: 289). Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). Sebagai contoh.
(19) a. Tikus itu mati diterkam kucing.
b. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam.
Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus, sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Namun, dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia, yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus.
Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi (Chaer, 1995: 62). Sebagai contoh.
(20) a. Adik menendang bola.
b. Adik menulis surat.
Dari contoh di atas, dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna ‘pelaku’, menendang bermakna ‘aktif’, dan bola bermakna ‘sasaran’. Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna ‘pelaku’, menulis bermakna ‘aktif’, dan surat bermakna ‘hasil’.
Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. Setiap ujaran (klausa, kalimat, wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma, 1993: 15). Perhatikan contoh berikut.
(21) Ali adalah seorang laki-laki.
Pada contoh kalimat (21) di atas, yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali.
Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan, atau perasaan benci. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma, 1993: 16). Sebagai contoh.
(22) a. Kenapa kau sebut nama dia.
b. Ia tinggal di gang yang becek itu.
Dari kedua contoh di atas, dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang, yang diucapkan oleh lawan tuturnya. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial dengan perasaan jijik.
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer, 1994: 290). Sebagai contoh, dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimat-kalimat berikut.
(23) a. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
b. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
c. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu.
Dari ketiga kalimat di atas, penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. Pada kalimat (23a), kata kepala bermakna ‘bagian anggota tubuh’; kalimat (23b), kata kepala bermakna ‘pimpinan’; dan pada kalimat (23c), kata kepala bermakna ‘bagian atas surat’.
Menurut Alieva, dkk dalam bukunya yang berjudul “Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori”, makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba, baik transitif maupun intransitif, sebagai sebutan kalimat. Pada kedua makna ini, pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. Sebagai subjek (S) jamak, pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. Sebagai contoh.
(24) Saudara berhak membunuh saya, kita bermusuhan.
(25) Saya dan Dar berpandang-pandangan, sesudah perempuan itu masuk ke dalam.
(26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi.
Untuk ketiga contoh di atas, dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal, pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini.
Dari beberapa teori di atas, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya, ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. Namun, tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. Untuk itu, peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna, yaitu teori dari Alieva, dkk, yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. Selain itu, ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut, maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna.
E. Fungsi Deiksis Pronomina Persona
Dalam tataran tata bahasa atau gramatika, diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal, yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal, kategori gramatikal, dan peran gramatikal. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.
S P O K
(a). Fungsi
(b). Kategori
(c). Peran
Fungsi gramatikal berupa “kotak-kotak kosong” yang diberi nama subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud, sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina, verba, atau adjektiva. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif, pasien, objek, benefaktif, lokatif, instrumental, dan sebagainya (Chaer, 1995: 9)
Charles J. Fillmore, yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus, dalam karangannya “Case for Case” (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. Modalitas berkenaan dengan negasi, kala, aspek, dan adverbia. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik, maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. Hanya argumen di sini diberi nama kasus. Dalam versi 1971, Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent), pengalami (experiencer), tujuan (object), alat (means), keadaan/tempat/waktu yang sudah (source), keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal), dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer, 1995: 21).
Wallace L. Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok, yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. Artinya, KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB, seperti dalam kalimat Ibu membeli gula; sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer, 1995: 21-22).
Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent, patient, experince, benefactive, locative, compliment, dll. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu, sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik, dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer, 1995: 22).
Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Tatabahasa Kasus” (1989: 68), mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus, yaitu:
a. Kasus Agentif (A)
Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba; kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan; nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. Sebagai contoh.
(27) Tom memangkas mawar.
Pada contoh (27) di atas, bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar.
b. Kasus Benefaktif (B)
Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba; nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk, bagi, buat, demi. Sebagai contoh.
(28) Joan membakar kue buat Louise.
Pada contoh (28) di atas, yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise, karena dalam konstruksi kalimat tersebut, bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba.
c. Kasus Komitatif
Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan, bersama, dan. Sebagai contoh.
(29) Rony berdagang mobil dengan Budi.
d. Kasus Datif (D)
Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba; nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada, terhadap. Contoh.
(30) Saya setia kepada istri saya.
(31) Kami berbakti terhadap negara.
e. Kasus Faktitif (F)
Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba, atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba; nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. Contoh.
(32) Tony membangun bangsal.
f. Kasus Objektif (O)
Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral; kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. Contoh.
(33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau.
g. Kasus Ergatif (E)
Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif, yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. Contoh.
(34) Rakit itu bergerak.
John menggerakkan rakit itu.
John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatan-
h. Kasus Instrumental (I)
Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. Sebagai contoh.
(35) Mary membuka laci itu dengan kunci.
i. Kasus Lokatif (L)
Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi, tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Penanda kasus lokatif ini adalah di, ke, dari. Contoh.
(36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja.
Menurut Alieva, dkk, dalam bukunya yang berjudul “Bahasa Indonesia, deskripsi dan teori” fungsi deiksis meliputi:
a. Sebagai penunjuk kepunyaan
Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina, dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). Misalnya: bentuk rumahku, rumah saya, rumah mereka.
b. Sebagai perangkai preposisi.
Artinya bahwa, bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi, seperti bentuk preposisi kepada, oleh, dll. Bentuk pronomina, seperti halnya bentuk enklitis, tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. Sebagai contoh.
(37) Kakak memberikan buku itu kepadaku.
(38) Ibu merahasiakan semua itu, karena takut diketahui olehnya.
Pada contoh kalimat (37) dan (38), terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi.
c. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku
Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. Sebagai contoh.
(39) Perginya terlambat: “Engkau salah”, kataku.
Untuk contoh kalimat (39), bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung.
Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. Sebagai contoh.
(40) Saya sudah dilihatnya.
d. Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku
Untuk menyatakan objek pelaku, bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. Dalam pemakaiannya, bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. Sebagai contoh.
(41) Sudah lama dia tidak melewatiku.
e. Sebagai penunjuk postpositif
Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. Fungsi yang demikian, yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik, timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. Dalam bahasa kesusastraan, fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. Sebagai contoh: kawannya Salim.
J. S. Badudu dalam bukunya “Pelik-pelik Bahasa Indonesia” (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona, yaitu:
a. Sebagai penunjuk kepunyaan
Dalam hal ini, yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku, -mu, -nya, dll tersebut, melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku; rumah + -mu = rumah kepunyaanmu; rumah + -nya =rumah kepunyaannya. Bandingkan dengan rumah paman, rumah Amir. Makna “pemilikan” bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah, melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan).
b. Sebagai alat pembentuk kata benda
Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan.
(43) Kuakui itu adalah salahku sendiri.
c. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik
Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku.
(45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti?
d. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik
Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin.
(47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu.
e. Sebagai kata sandang penentu
Contoh: (48) Masa hanya kopi saja, mana kuenya?
f. Sebagai pembentuk kata keterangan
Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini.
g. Sebagai penunjuk
Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya.
(-nya = penyakit seperti itu)
h. Bersama-sama dengan awalan se- menyatakan superlatif
Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali gagal juga.
Dalam penelitian ini, teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. Namun, dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan, hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. Untuk itu, peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva, dkk, yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut, peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data.
F. Majalah Bobo
Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca, dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan, tengah bulanan, mingguan, dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya, dibedakan atas majalah berita, wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu pengetahuan tertentu, dan sebagainya (KBBI, 1991: 615).
Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya, yaitu setiap hari Kamis. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek, dongeng, cerita bergambar. Selain itu, majalah Bobo juga memuat tentang profil, ilmu pengetahuan, liputan, dari teman (Apa Kabar, Bo?, halamanku, ensiklobobo, arena kecil, uji imajinasi, tak disangka).
G. Cerita Pendek
Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI, 1991: 187).
Dalam arti umum, cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. Dalam arti kata khusus, merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari, tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif, kesadaran baru, keputusan yang menentukan). Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). Dialog, impian, flash back, dan sebagainya, sering dipergunakan (pengaruh dari film). Bahasa-bahasanya sederhana, tetapi sugestif (Hartoko dan B. Rahmanto, 1986: 132).
Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti, 2000: 9). Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya.
Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik, yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman, 1984: 15).
Ringkasnya, cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression ‘pemadatan’, concentration ‘pemusatan’, dan intensity ‘pendalaman’, yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu.
H. Kerangka Pikir
Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu, baik benda, orang maupun tempat. Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani.
Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat, jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas, makna kebersamaan/jamak, makna tunggal, makna luas, dan makna sempit. Seperti halnya makna deiksis, teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan, fungsi perangkai preposisi, fungsi pelaku/agent, fungsi objektif, fungsi pengalam, fungsi benefaktif, fungsi komitatif, dan fungsi sapaan.
Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona, makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra, khususnya karya sastra anak, ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto, 1993: 15). Dengan menggunakan metode agih, diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk, makna dan fungsi deiksis pronomina persona.
Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek, yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah, sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk, makna dan fungsi deiksis pronomina persona.
Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak, pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak, dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak.
Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan, yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem, yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya.
Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana, yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya.
Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut.
Gambar 1: Skema Kerangka Pikir
I. Penelitian yang Relevan
Penelitian ini bukan merupakan penelitian awal. Artinya bahwa, sebelum penelitian ini, sudah ada penelitian-penelitian yang mengangkat tema atau topik yang sama. Adapun penelitian-penelitian tersebut adalah:
a Penelitian dari Pebruana Dwi Astuti yang berjudul: Penggunaan Deiksis Pronomina Persona Pada Kumpulan Cerita Pendek Dua Tengkorak Kepala. Isi dari penelitian ini adalah:
1. Bentuk deiksis pronomina persona yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Dua Tengkorak Kepala berupa: (a) persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, saya dan -ku, (b) persona pertama jamak meliputi kami dan kita, (c) persona kedua tunggal meliputi kamu, Anda, -mu, kau dan engkau, (d) persona kedua jamak meliputi kalian, (e) persona ketiga tunggal meliputi dia, ia, -nya, beliau, dan almarhum, (f) persona ketiga jamak meliputi mereka.
2. Peran deiksis yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Dua Tengkorak Kepala meliputi: (a) deiksis pronomina persona pertama tunggal dan jamak yang berperan sebagai pembicara, (b) deiksis pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak yang berperan sebagai lawan bicara atau pendengar, (c) deiksis pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak yang berperan sebagai sasaran atau yang dibicarakan.
3. Variasi semantis yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Dua Tengkorak Kepala hanya satu, yaitu persona kedua untuk merujuk persona pertama.
b Penelitian dari Tanti Yuliani yang berjudul: Analisis Deiksis Persona Pada Kumpulan Cerita Pendek Derabat. Isi dari penelitian adalah:
1. Bentuk deiksis persona yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Derabat adalah: (a) bentuk deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, saya dan -ku, (b) bentuk deiksis persona pertama jamak meliputi kami dan kita, (c) bentuk deiksis persona kedua tunggal meliputi kamu, Anda, -mu, dan kau, (d) bentuk deiksis persona ketiga tunggal meliputi dia, ia,-nya, dan (e) bentuk deiksis persona ketiga jamak meliputi mereka.
2. Bentuk deiksis persona yang paling sering muncul adalah deiksis persona pertama tunggal diikuti deiksis persona ketiga tunggal, kedua tunggal, ketiga jamak, dan pertama jamak.
3. Peran deiksis yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Derabat adalah: (a) deiksis persona pertama tunggal berperan sebagai pembicara, (b) deiksis persona pertama jamak berperan sebagai pembicara, pendengar, maupun sasaran, (c) deiksis persona kedua baik tunggal maupun jamak berperan sebagai lawan bicara atau pendengar, (d) deiksis persona ketiga baik tunggal maupun jamak berperan sebagai sasaran atau yang dibicarakan.
Dari simpulan tersebut di atas, dapat diketahui penggunaan deiksis pronomina persona pada orang dewasa. Penggunaan deiksis pronomina persona pada anak-anak yang sering muncul pada bahasa anak belum pernah diungkapkan. Sehingga pada penelitian ini akan diteliti mengenai penggunaan deiksis pronomina persona pada anak-anak yang akan diteliti melalui penggunaan bahasa dalam cerita pendek anak.
Selain itu, penelitian-penelitian tersebut juga membahas tentang bentuk, peran, variasi semantis dan frekuensi kemunculan deiksis persona. Sedangkan di dalam penelitian ini, selain mengkaji hal-hal tersebut -bentuk-, juga mengkaji mengenai makna dan fungsi deiksis pronomina persona dalam kumpulan cerita pendek.
Oleh: Sidon. Bandung
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions).
Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut ‘fungsi komunikatif’ (Purwo, 1990:2).
Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut:
(1) “Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa”. Di sini, “pengertian/pemahaman bahasa” menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya.
(2) “Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu”.
(Nababan, 1987: 2)
Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana, 1993: 177). Menurut Verhaar (1996: 14), pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal “ekstralingual” yang dibicarakan.
Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo, 1990: 31).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran.
Fenomena Pragmatik
Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis, (b) praanggapan (presupposition), (c) tindak ujaran (speech acts), dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo, 1990: 17).
Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono, 1995: 217).
Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono, 1995: 219). Menurut Nababan (1987: 46), praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu, dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat, dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut:
(1) Wanita Indonesia membeli burung.
terdapat praanggapan bahwa:
(3.1) Ada seorang wanita Indonesia, dan
(3.2) Ada burung.
Jika kedua praanggapan itu diterima, maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca.
Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu, tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo, 1990: 19). Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22), mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni:
1. Tindak lokusi, yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu.
Sebagai contoh:
(4) Jari tangan jumlahnya lima.
Kalimat (4) di atas, diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya.
2. Tindak ilokusi, yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Contoh:
(5) Saya tidak dapat datang.
Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa, bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun, tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu, tetapi untuk melakukan sesuatu, yakni meminta maaf.
3. Tindak perlokusi, yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya. Sebagai contoh:
(6) Kunjungilah restoran Oshin!
Tersedia bermacam-macam masakan Jepang, Cina, dan Eropa.
Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga, handai taulan, dan rekan sekerja Anda. Dijamin halal.
Dalam wacana di atas, ditemukan penggunaan tindak perlokusi. Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran- selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang, Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal.
Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson, 1983: 97). Pertama, konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. Kedua, konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. Ketiga, konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. Keempat, konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. Sebagai contoh:
(7) A : Jam berapa sekarang?
B : Korannya sudah datang.
Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama, sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan.
Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. dalam penelitian ini. Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona.
Deiksis
1. Pengertian Deiksis
Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘menunjuk’ atau ‘menunjukkan’. Dalam KBBI (1991: 217), deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa; kata tunjuk pronomina, ketakrifan, dan sebagainya.
Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217), deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan.
Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, 1977: 637 via Djajasudarma, 1993: 43). Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi, yaitu kata atau frase yang menunjuk kata, frase atau ungkapan yang akan diberikan. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan, 1997: 6).
Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara, yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons, 1977: 638 via Setiawan, 1997: 6).
Berdasarkan beberapa pendapat, dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk, pronomina, dan sebagainya. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora.
Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata deiktis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.
2. Jenis Deiksis
Deiksis ada lima macam, yaitu deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan, 1987: 40).
a. Deiksis Persona
Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon, yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara), berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons, 1977: 638 via Djajasudarma, 1993: 44).
Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.
Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo, 1984: 106). Oleh karenanya, untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora, maka kalimatnya harus diubah, yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. (Setiawan, 1997: 8).
Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut, baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal.
Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua, kata ganti persona ketiga, baik tunggal, seperti bentuk dia, ia, -nya maupun bentuk jamak, seperti bentuk sekalian dan kalian, dapat bersifat endofora dan eksofora. Oleh karena bersifat endofora, maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan, 1997: 9).
Deiksis persona merupakan deiksis asli, sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu.
b. Deiksis Tempat
Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia- membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan “yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan, 1987: 41). Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat.
(8) a. Duduklah kamu di sini.
b. Di sini dijual gas Elpiji.
Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit, yakni sebuah kursi atau sofa. Pada kalimat (8b), acuannya lebih luas, yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Dalam banyak bahasa, deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala” (Inggris: tense) (Nababan, 1987: 41). Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris.
(9) a. I bought a book.
b. I am buying a book.
Meskipun tanpa keterangan waktu, dalam kalimat (9a) dan (9b), penggunaan deiksis waktu sudah jelas. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci, dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu; umpamanya, yesterday, last year, now, dan sebagainya. Contoh dalam bahasa Inggris:
(10) a. I bought the book yesterday.
b. I bought the book 2 years ago.
d. Deiksis Wacana
Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987: 42). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dsb. Sebagai contoh.
(11) a. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya.
b. Karena aromanya yang khas, mangga itu banyak dibeli.
Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman yang sudah disebut sebelumnya, sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian.
e. Deiksis Sosial
Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan, 1987: 42). Dalam bahasa Jawa umpamanya, memakai kata nedo dan kata dahar (makan), menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara, pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut “tingkatan bahasa”, dalam bahasa Jawa, ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua, atau ngoko, madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga, dan ngoko, madyo, kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. Aspek berbahasa seperti ini disebut “kesopanan berbahasa”, “unda-usuk”, atau ”etiket berbahasa” (Geertz, 1960 via Nababan, 1987: 42-43).
C. Bentuk Pronomina Persona
Jika ditinjau dari segi artinya, pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Jika dilihat dari segi fungsinya, dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan -dalam macam kalimat tertentu- juga predikat. Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono, 1997: 170).
Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona, yaitu persona pertama, persona kedua dan persona ketiga (Lyons, 1997: 276 via Setiawan, 1997: 9). Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P, 1988: 172 via Setiawan, 1997: 9).
Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono, 1997: 172). Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel.
Tabel 1: Pronomina Persona
Persona Makna
Tunggal Jamak
Netral Eksklusif Inklusif
Pertama saya, aku, daku, ku-, -ku kami kita
Kedua engkau, kamu, Anda, dikau, kau-, -mu kalian, kamu (sekalian), Anda (sekalian)
Ketiga ia, dia, beliau, -nya mereka, -nya
a) Pronomina Persona Pertama
Dalam Bahasa Indonesia, pronomina persona pertama tunggal adalah saya, aku, dan daku. Bentuk saya, biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Bentuk saya, dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang dimilikinya, misalnya: rumah saya, paman saya. Pronomina persona pertama aku, lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk, yaitu -ku dan ku-. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku, pada umumnya digunakan dalam karya sastra.
Selain pronomina persona pertama tunggal, bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak, yakni kami dan kita. Kami bersifat eksklusif; artinya, pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. Sebaliknya, kita bersifat inklusif; artinya, pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis, tetapi juga pendengar/pembaca, dan mungkin pula pihak lain.
b) Pronomina Persona Kedua
Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud, yakni engkau, kamu Anda, dikau, kau- dan -mu. Pronomina persona kedua engkau, kamu, dan -mu, dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama; orang yang status sosialnya lebih tinggi; orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau status sosial.
Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Selain itu, pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi, sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus; dalam hubungan bersemuka, tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab.
Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak, yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian, kamu sekalian. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau- dan -mu.
c) Pronomina Persona Ketiga
Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia, dia, -nya dan beliau. Dalam posisi sebagai subjek, atau di depan verba, ia dan dia sama-sama dapat dipakai. Akan tetapi, jika berfungsi sebagai objek, atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan, hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat, yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Dari keempat pronomina tersebut, hanya dia, -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik.
Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain; misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya.
Akan tetapi, pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi, kata mereka kadang-kadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai, misalnya usul mereka, rumah mereka.
D. Makna Deiksis Pronomina Persona
Menurut Kridalaksana (2001: 132), makna adalah maksud pembicaran; pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia; hubungan, dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa, atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya; cara menggunakan lambang-lambang bahasa.
Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua, yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi, sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer, 1995: 29).
Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya, dapat dibagankan sebagai berikut.
(b) konsep/makna
(a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen)
Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung, sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa; hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut.
Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. Oleh karena itu, banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya, dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer, 1994: 288).
Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda, makna bahasa dapat terdiri dari bermacam-macam jenisnya. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna, yaitu makna afektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekatensi, makna emotif, makna gereflekter, makna idesional, makna intensi, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna piktorial, makna proposisional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna stilistika, dan makna tematis. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna, yaitu (1) makna konseptual, (2) makna konotatif, (3) makna stilistika, (4) makna afektif, (5) makna reflektif, (6) makna kolokatif, dan (7) makna tematik (Chaer, 1995: 59).
Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas, yaitu makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual, makna referensial, makna non-referensial, makna denotatif, makna konotatif, makna konseptual, makna asosiatif, makna kata, makna istilah, makna idiom, dan makna pribahasa.
Menurut Djajasudarma (1993: 6), makna terdiri atas beberapa jenis, yaitu: makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif/emotif, makna gramatikal, makna leksikal, makna konstruksi, makna referensial, makna majas (kiasan), makna inti, makna idesional, makna proposisi, makna piktorial.
Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma, 1993: 7). Perhatikan contoh.
(12) ”Apakah saudara tidak mau mengakuinya?” kata Pak Polisi.
(Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian).
(13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini.
(Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung, dan akan datang ke rumah penutur).
Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna, yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). Pada kalimat (12), kata saudara bermakna ‘panggilan pada seseorang’, sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit ‘kerabat’.
Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma, 1993: 8). Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit, kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Sebagai contoh.
(14) “Bapak sedang sakit, sekarang,” kata Ibu.
(Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya).
(15) “Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru,” kata salah seorang staf karyawan.
(Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut).
Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna, dari makna sempit ke makna meluas. Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit ‘orang tua kandung’, sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas ‘panggilan untuk laki-laki dewasa’.
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma, 1993: 9). Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer, 1994: 292). Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya (Chaer, 1995: 66). Sebagai contoh.
(16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia.
Pada kalimat (16) di atas, makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian, yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian.
Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif), ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma, 1993: 9).
Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya. Menurut Djajasudarma (1993: 11), makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer, 1994: 291). Sebagai contoh.
(17) A: “Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani,” kata Dian kepada Dani.
B: “Benarkah?” sahut Dani. “Saya juga bertemu beliau kemarin.”
Dari contoh di atas, jelas bahwa, pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian, sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani.
Berbeda dengan makna referensial, makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. Misalnya kata-kata seperti dan, atau, dan karena.
Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi, misalnya, makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma, 1993: 12). Perhatikan contoh berikut.
(18) Rumahnya jauh dari sini.
Pada kalimat (18) di atas, enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan, dalam hal ini adalah rumah.
Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer, 1994: 289). Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). Sebagai contoh.
(19) a. Tikus itu mati diterkam kucing.
b. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam.
Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus, sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Namun, dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia, yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus.
Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi (Chaer, 1995: 62). Sebagai contoh.
(20) a. Adik menendang bola.
b. Adik menulis surat.
Dari contoh di atas, dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna ‘pelaku’, menendang bermakna ‘aktif’, dan bola bermakna ‘sasaran’. Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna ‘pelaku’, menulis bermakna ‘aktif’, dan surat bermakna ‘hasil’.
Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. Setiap ujaran (klausa, kalimat, wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma, 1993: 15). Perhatikan contoh berikut.
(21) Ali adalah seorang laki-laki.
Pada contoh kalimat (21) di atas, yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali.
Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan, atau perasaan benci. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma, 1993: 16). Sebagai contoh.
(22) a. Kenapa kau sebut nama dia.
b. Ia tinggal di gang yang becek itu.
Dari kedua contoh di atas, dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang, yang diucapkan oleh lawan tuturnya. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial dengan perasaan jijik.
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer, 1994: 290). Sebagai contoh, dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimat-kalimat berikut.
(23) a. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
b. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
c. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu.
Dari ketiga kalimat di atas, penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. Pada kalimat (23a), kata kepala bermakna ‘bagian anggota tubuh’; kalimat (23b), kata kepala bermakna ‘pimpinan’; dan pada kalimat (23c), kata kepala bermakna ‘bagian atas surat’.
Menurut Alieva, dkk dalam bukunya yang berjudul “Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori”, makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba, baik transitif maupun intransitif, sebagai sebutan kalimat. Pada kedua makna ini, pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. Sebagai subjek (S) jamak, pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. Sebagai contoh.
(24) Saudara berhak membunuh saya, kita bermusuhan.
(25) Saya dan Dar berpandang-pandangan, sesudah perempuan itu masuk ke dalam.
(26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi.
Untuk ketiga contoh di atas, dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal, pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini.
Dari beberapa teori di atas, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya, ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. Namun, tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. Untuk itu, peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna, yaitu teori dari Alieva, dkk, yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. Selain itu, ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut, maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna.
E. Fungsi Deiksis Pronomina Persona
Dalam tataran tata bahasa atau gramatika, diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal, yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal, kategori gramatikal, dan peran gramatikal. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.
S P O K
(a). Fungsi
(b). Kategori
(c). Peran
Fungsi gramatikal berupa “kotak-kotak kosong” yang diberi nama subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud, sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina, verba, atau adjektiva. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif, pasien, objek, benefaktif, lokatif, instrumental, dan sebagainya (Chaer, 1995: 9)
Charles J. Fillmore, yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus, dalam karangannya “Case for Case” (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. Modalitas berkenaan dengan negasi, kala, aspek, dan adverbia. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik, maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. Hanya argumen di sini diberi nama kasus. Dalam versi 1971, Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent), pengalami (experiencer), tujuan (object), alat (means), keadaan/tempat/waktu yang sudah (source), keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal), dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer, 1995: 21).
Wallace L. Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok, yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. Artinya, KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB, seperti dalam kalimat Ibu membeli gula; sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer, 1995: 21-22).
Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent, patient, experince, benefactive, locative, compliment, dll. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu, sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik, dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer, 1995: 22).
Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Tatabahasa Kasus” (1989: 68), mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus, yaitu:
a. Kasus Agentif (A)
Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba; kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan; nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. Sebagai contoh.
(27) Tom memangkas mawar.
Pada contoh (27) di atas, bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar.
b. Kasus Benefaktif (B)
Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba; nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk, bagi, buat, demi. Sebagai contoh.
(28) Joan membakar kue buat Louise.
Pada contoh (28) di atas, yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise, karena dalam konstruksi kalimat tersebut, bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba.
c. Kasus Komitatif
Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan, bersama, dan. Sebagai contoh.
(29) Rony berdagang mobil dengan Budi.
d. Kasus Datif (D)
Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba; nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada, terhadap. Contoh.
(30) Saya setia kepada istri saya.
(31) Kami berbakti terhadap negara.
e. Kasus Faktitif (F)
Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba, atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba; nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. Contoh.
(32) Tony membangun bangsal.
f. Kasus Objektif (O)
Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral; kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. Contoh.
(33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau.
g. Kasus Ergatif (E)
Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif, yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. Contoh.
(34) Rakit itu bergerak.
John menggerakkan rakit itu.
John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatan-
h. Kasus Instrumental (I)
Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. Sebagai contoh.
(35) Mary membuka laci itu dengan kunci.
i. Kasus Lokatif (L)
Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi, tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Penanda kasus lokatif ini adalah di, ke, dari. Contoh.
(36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja.
Menurut Alieva, dkk, dalam bukunya yang berjudul “Bahasa Indonesia, deskripsi dan teori” fungsi deiksis meliputi:
a. Sebagai penunjuk kepunyaan
Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina, dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). Misalnya: bentuk rumahku, rumah saya, rumah mereka.
b. Sebagai perangkai preposisi.
Artinya bahwa, bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi, seperti bentuk preposisi kepada, oleh, dll. Bentuk pronomina, seperti halnya bentuk enklitis, tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. Sebagai contoh.
(37) Kakak memberikan buku itu kepadaku.
(38) Ibu merahasiakan semua itu, karena takut diketahui olehnya.
Pada contoh kalimat (37) dan (38), terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi.
c. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku
Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. Sebagai contoh.
(39) Perginya terlambat: “Engkau salah”, kataku.
Untuk contoh kalimat (39), bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung.
Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. Sebagai contoh.
(40) Saya sudah dilihatnya.
d. Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku
Untuk menyatakan objek pelaku, bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. Dalam pemakaiannya, bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. Sebagai contoh.
(41) Sudah lama dia tidak melewatiku.
e. Sebagai penunjuk postpositif
Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. Fungsi yang demikian, yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik, timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. Dalam bahasa kesusastraan, fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. Sebagai contoh: kawannya Salim.
J. S. Badudu dalam bukunya “Pelik-pelik Bahasa Indonesia” (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona, yaitu:
a. Sebagai penunjuk kepunyaan
Dalam hal ini, yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku, -mu, -nya, dll tersebut, melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku; rumah + -mu = rumah kepunyaanmu; rumah + -nya =rumah kepunyaannya. Bandingkan dengan rumah paman, rumah Amir. Makna “pemilikan” bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah, melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan).
b. Sebagai alat pembentuk kata benda
Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan.
(43) Kuakui itu adalah salahku sendiri.
c. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik
Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku.
(45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti?
d. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik
Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin.
(47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu.
e. Sebagai kata sandang penentu
Contoh: (48) Masa hanya kopi saja, mana kuenya?
f. Sebagai pembentuk kata keterangan
Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini.
g. Sebagai penunjuk
Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya.
(-nya = penyakit seperti itu)
h. Bersama-sama dengan awalan se- menyatakan superlatif
Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali gagal juga.
Dalam penelitian ini, teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. Namun, dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan, hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. Untuk itu, peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva, dkk, yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut, peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data.
F. Majalah Bobo
Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca, dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan, tengah bulanan, mingguan, dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya, dibedakan atas majalah berita, wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu pengetahuan tertentu, dan sebagainya (KBBI, 1991: 615).
Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya, yaitu setiap hari Kamis. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek, dongeng, cerita bergambar. Selain itu, majalah Bobo juga memuat tentang profil, ilmu pengetahuan, liputan, dari teman (Apa Kabar, Bo?, halamanku, ensiklobobo, arena kecil, uji imajinasi, tak disangka).
G. Cerita Pendek
Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI, 1991: 187).
Dalam arti umum, cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. Dalam arti kata khusus, merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari, tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif, kesadaran baru, keputusan yang menentukan). Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). Dialog, impian, flash back, dan sebagainya, sering dipergunakan (pengaruh dari film). Bahasa-bahasanya sederhana, tetapi sugestif (Hartoko dan B. Rahmanto, 1986: 132).
Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti, 2000: 9). Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya.
Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik, yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman, 1984: 15).
Ringkasnya, cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression ‘pemadatan’, concentration ‘pemusatan’, dan intensity ‘pendalaman’, yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu.
H. Kerangka Pikir
Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu, baik benda, orang maupun tempat. Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani.
Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat, jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas, makna kebersamaan/jamak, makna tunggal, makna luas, dan makna sempit. Seperti halnya makna deiksis, teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan, fungsi perangkai preposisi, fungsi pelaku/agent, fungsi objektif, fungsi pengalam, fungsi benefaktif, fungsi komitatif, dan fungsi sapaan.
Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona, makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra, khususnya karya sastra anak, ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto, 1993: 15). Dengan menggunakan metode agih, diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk, makna dan fungsi deiksis pronomina persona.
Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek, yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah, sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk, makna dan fungsi deiksis pronomina persona.
Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak, pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak, dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak.
Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan, yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem, yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya.
Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana, yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya.
Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut.
Gambar 1: Skema Kerangka Pikir
I. Penelitian yang Relevan
Penelitian ini bukan merupakan penelitian awal. Artinya bahwa, sebelum penelitian ini, sudah ada penelitian-penelitian yang mengangkat tema atau topik yang sama. Adapun penelitian-penelitian tersebut adalah:
a Penelitian dari Pebruana Dwi Astuti yang berjudul: Penggunaan Deiksis Pronomina Persona Pada Kumpulan Cerita Pendek Dua Tengkorak Kepala. Isi dari penelitian ini adalah:
1. Bentuk deiksis pronomina persona yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Dua Tengkorak Kepala berupa: (a) persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, saya dan -ku, (b) persona pertama jamak meliputi kami dan kita, (c) persona kedua tunggal meliputi kamu, Anda, -mu, kau dan engkau, (d) persona kedua jamak meliputi kalian, (e) persona ketiga tunggal meliputi dia, ia, -nya, beliau, dan almarhum, (f) persona ketiga jamak meliputi mereka.
2. Peran deiksis yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Dua Tengkorak Kepala meliputi: (a) deiksis pronomina persona pertama tunggal dan jamak yang berperan sebagai pembicara, (b) deiksis pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak yang berperan sebagai lawan bicara atau pendengar, (c) deiksis pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak yang berperan sebagai sasaran atau yang dibicarakan.
3. Variasi semantis yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Dua Tengkorak Kepala hanya satu, yaitu persona kedua untuk merujuk persona pertama.
b Penelitian dari Tanti Yuliani yang berjudul: Analisis Deiksis Persona Pada Kumpulan Cerita Pendek Derabat. Isi dari penelitian adalah:
1. Bentuk deiksis persona yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Derabat adalah: (a) bentuk deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, saya dan -ku, (b) bentuk deiksis persona pertama jamak meliputi kami dan kita, (c) bentuk deiksis persona kedua tunggal meliputi kamu, Anda, -mu, dan kau, (d) bentuk deiksis persona ketiga tunggal meliputi dia, ia,-nya, dan (e) bentuk deiksis persona ketiga jamak meliputi mereka.
2. Bentuk deiksis persona yang paling sering muncul adalah deiksis persona pertama tunggal diikuti deiksis persona ketiga tunggal, kedua tunggal, ketiga jamak, dan pertama jamak.
3. Peran deiksis yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Derabat adalah: (a) deiksis persona pertama tunggal berperan sebagai pembicara, (b) deiksis persona pertama jamak berperan sebagai pembicara, pendengar, maupun sasaran, (c) deiksis persona kedua baik tunggal maupun jamak berperan sebagai lawan bicara atau pendengar, (d) deiksis persona ketiga baik tunggal maupun jamak berperan sebagai sasaran atau yang dibicarakan.
Dari simpulan tersebut di atas, dapat diketahui penggunaan deiksis pronomina persona pada orang dewasa. Penggunaan deiksis pronomina persona pada anak-anak yang sering muncul pada bahasa anak belum pernah diungkapkan. Sehingga pada penelitian ini akan diteliti mengenai penggunaan deiksis pronomina persona pada anak-anak yang akan diteliti melalui penggunaan bahasa dalam cerita pendek anak.
Selain itu, penelitian-penelitian tersebut juga membahas tentang bentuk, peran, variasi semantis dan frekuensi kemunculan deiksis persona. Sedangkan di dalam penelitian ini, selain mengkaji hal-hal tersebut -bentuk-, juga mengkaji mengenai makna dan fungsi deiksis pronomina persona dalam kumpulan cerita pendek.
Oleh: Sidon. Bandung
Senin, 23 Agustus 2010
Puisi-Puisi Midun Aliassyah
SENJA DI TAPAL KUDA
Oleh: Midun Aliassyah
Pasir mendesir bertasbih dalam heningan
Nyiur melambai tak berharap angin kan meniup.
Seloka cinta mahkota tak berraja
Nama tak berjasa, hura huru orang Madura
Sepi, sunyi, gelap tak bercahaya
Tanah tak bertuan, tapi berinduk
Rempah-rempah tak bertuah
Kering keronta si jagad marabunta.
Suara tak berkata….
Ketika penyamun melukai luka lara
Tak berdeming, tanggis mata menggangga
Air mata berbatu, laras kan menuding
Peluru menderai membabi buta. Tanpa henti!!!
Satu nyawapun tak cukup
Darah mengalir semerah samudera menimbun dosa yang terkulai.
Di kala senja tiba di Tapal Kuda.
27/10/09
HITAMNYA KERUDUNG PUTIH
Manis menepis batu bercahaya
Bulan berkaca pada indera
Langit terma’tuf titik kuasa
Rasi khatulistiwa negeri Arabia.
Ukhti melawat lewat senja
Melerai tangis, menguak tabir pahala
Pagi sumringah senyum menggaga
Iman bergaris, kerudung aib tiada
Kalbu tersirat ayat-ayat cinta.
Indah tak lagi perawan bunga kamboja
Lebur melunak binatang lajang membahana
Langkah tak lagi surga,
Niat menjadi hina,
Suci terhasut dosa,
Takdir di garis benang hitam pekat, tiada tara ampunan dosa-dosa.
28/10/09
DUA KELAMIN
Gadis manis bersolek rupa
Indah di mata menjelma ratu Issabella
Hijau paras, pink menggoda
Susu mengendap tak malu bertukik
Otot berjaya muncul di paha
Pinggul bergaya ala Luna Maya.
Ohhh, gadis manis bersolek rupa…
Jalan bergaya missunivers mancanegara
Malu tak dirasa, akal tak ada guna
Acuh menjadi hina, lambaian menjadi gaya.
Gadis manis bersolek rupa
Berkelamin dua di usia senja.
28/10/09
KEMBANG PERAWAN
Kau bejana dalam darahmu
Sejilat suci mengalir keprawanan
Derai wajah merpati jinak di telapak
Ayu merayu cinta di ambang pintu.
Kau tahu setiap orang kan memburu?
Pahit manisnya madu ditelan surgamu.
Kumbang keliaran malam tak bertumpu
Barisan jari antri menyapamu:
mendekatimu, merayumu, mencumbumu,
tak satupun lekukan tubuhmu terasa manis keperawanan.
Kau kembang perawan tua
Menghisap rasa kepala muda
Manis kau kikis, busuk kau hina
Malang jejaka hati kau paksa.
28/10/09
SUMPAH PENGEMIS
Batu terkikis palu mendayu
Kering meronta, tongkat sang pemburu
Jarum menusuk, jiwa kan diburu
Bebas kau paksa merdeka tapi sengsara.
Janji sehati pertiwi bersaksi
Langit melerai, bintang mengedip
Malam bersujud kaki menumpu.
Lidah kau kunci tangan kau buka.
Maklumat berjanji…..
“Kami pengemis ingin demokrasi,
Kami pengemis ingin disebut menteri,
Kami pengemis ingin moderenisasi.”
Sumpah serapah janji menghutang.
Hidup menggantung, miskin Berjaya
Satu meminta, lain merana
Malu tak dirasa etika tak ada guna.
28/10/09
GEMPA
(Gemerlap Pancaran-Mu)
Gemerlap Pancaran Mu
Di kala senja menyapa
Tak seorangpun tahu, akan kehadiran murka Mu.
Padang gemerlap pancaran Mu
Dari tanah kami berpijak
Memancarkan seruan kiamat
Meluluh lantahkan jiwa nyawa kami
Anak-anak kami menangis hilang dari pangkuan induknya.
Gemerlap pancaran Mu
Meluap di saat kami lalai akan firman Mu
Erat-erat kami kokohkan daya
Rapuh, tergoyah begitu saja.
Di Padang terjadi gempa!
03/10/09
TOBATNYA SEORANG MARABUNTA
Wajah tersipu air munajah
Tangan berwudlu niat kan diucap
Basuh menyapu hadats menghilang
Ikhlas menggetarkan jiwa
Masuk ke celah-celah kecil berongga
Menutup dosa, membika takwa.
Kalimat tasbih memuja
Deretan asma Mu menjelma menjadi cahya
Tuhanku……
Hamba pendusta dari segala
Durhaka kepada sang bunda
Hina, kotor, aids adalah jiwa
Aku pecandu, penghisap sabu-sabu
Perawan tua bahkan aku daya.
Kaki termangu, sujud di atas pangkuan Mu!.
28/10/09
MUSYAFIR
Telah berapa lama sudah,
Aku terdampar di lubang lumpur kehidupan
Tak jua beranajak pergi, tak urung niat hatiku ini.
Mungkinkah, aku harus arungi samudera kehidupan?
Tuk bangkit dari keterpurukan ini.
Akankah kulepaskan buanayang penuh kesialan ini.
Jika kebangkitan adalah matahari, kapan ia terbit menghampiri?
Tidakkah harusnya ia setombakdhuha
Dan cerahnya sebinar mata menggantung harap.
Akankah kurajut lagi kehidupan fana ini.
Akankah ku akui diriku ini?
Ku musyafir….
Aku musyafir….
Dalam jiwaku terobsesi, saatnya bangkit….
Berdiri….
Beranjak….
Berlari….
Mengejar ketertinggalan waktu yang terbuang
Ku tatap cakrawala kehidupan!
Setapak demi setapak ku arungi
Dalam diri ku harap karunia Ilahi
Ku sanjungkan hidup ini
Ku korbankan, pertaruhkan jiwa dan raga suci.
Senin, 09 Agustus 2010
CERPEN URIP NGURIP
URIP NGURIP
Oleh: Midun Aliassyah
Bilamana impian adalah matahari? Kapan ia akan terbit menghampiri dan menyudahi keluh, kesah dan penderitaan tiada akhirnya ini! Harusnya ia sebongkah pijar mengiringi jalan hidup ini, cerah cahayanya sebinar mata menggantung harap. Tapi semua ini tak ada, tak nyala! Hanya takdir bisu penuh kilu ini yang melumatku tiada kasih dan haru, menyebabkan aku tetap tak berranjak, dan penuh belepotan di kubangan lumpur kesialan ini. Oh tidak Ya Tuhan….
”Titititit…tititit!!!” Jam beker karatan berbunyi tersendat-sendat di balik bantal kusam nan bau kecut, dengan bersarung angsa yang tak lagi ceria, satu betina dan tiga anak berrenang tanpa busana, di air tak berwarna. Bantal kusam yang tak lagi jelas identitasnya! Ya, karena sarung bantal itu sudah tak layak untuk menjadi landasan kepala, luntur dari kewajaran. Tapi di balik kekusamannya, tersimpan berjuta-juta impian. Impian yang selalu menjadi angan, tak kunjung tiba menghampiri sang pemimpi. Hanya bisa menemani tidur, dan selalu menjadi cahya terang dalam imajinasi pikiran.
Sumringah, udara pagi ini yang masih basah oleh bulu-bulu embun. Sang surya malu-malu menampakkan dirinya menyambut hangatnya kehidupan, tapi tak mampu menutupi auranya dibalik awan yang menjadi temeng persembunyian di kala malam. Kilau cahya violate menerawang cakrawala Pertiwi, yang begitu kaya akan sumber alam dan nabati. Hingga membuat orang lain tertarik akan keelokan yang dimilikinya, dan mengakibatkan buta atas apa yang harus dimiliki pribadi sendiri. Padahal hanya untuk sekedar memiliki dan menikmati!! Memiliki kemakmuran dan kelayakan hidup bagi makhluk bernyawa yang bersarang di dalamnya. Jelas-jelas mereka ditakdirkan memiliki kelebihan dari pada makhluk lainnya. Ia diberi akal, tetapi ia hanya bisa pintar dalam melipat gandakan jumlah keturunan, dengan semboyan “banyak anak banyak rejeki.” Bussettt, tapi kenyataannya sekarang sudah gak berlaku bang! Sekarang tu bukan jaman bemo lagi, tapi sudah jamannya busway gitu!! Trus, kemudian mereka tak mampu menyuapinya! Membuat Ia selalu menangis merintih dan kecewa. Karena Ia merasa diacuhkan oleh menungso yang hidup serba dengan ketololan, berkembang biak di dalam kelaknatan, dan tak merasa punya dosa atas apa yang dilakukan. Sungguh-sungguh biadab kau? ”Menungso,” lebih pantas menyebutnya.
”Habis manis sepah di buang.” Seperti inilah kondisi negeriku. Negeri mimpiku. Ditinggal begitu saja oleh Orang- yang tak bertanggung jawab. Tiga setengah abad sudah, Negeri impianku dirampas mahkotanya. Hilang dari kejayaan, tak lagi perawan, ternoda dari kelicikan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ia dibodohkan dari pengetahuan. Otak ditumpulkan, dimelaratkan! Cecungok-cecungok jadi budak. Budak yang tak terbayar jauh dari kebebasan. Menyebabkan Negeri mimpiku lemah tak berdaya, tak lagi berharap menggapai cita. Terpendam selama-lamanya di dalam angan dan asa.
Ya, beginilah!! Sungguh malang Negeri mimpiku. Cecungok-cecungoknya malas akan kemakmuran. Lumpuh memperdayakan sumber pangan. Buta akan kekayaan. ”Ya, beginilah!! Malang nasibku, seperti malangnya Negeri mimpiku.”
####
”Hidup.”
Apa makna itu sebenarnya? Sebuah anugerah yang tak terhinggakah? Ataukah sebuah kutukan takdir hidup, tak berarah, tak bertujuan yang menakdirkan aku seperti ini! Hidup yang hilang dari kebahagiaan, bermelodi penderitaan dan kegelisahan.
Waktu bergulir. Pagi menuju siang, siang menuju malam, dan menjadi hari. Seperti keadaanku sekarang ini, tak menentu! Tiap hari kutelusuri Ibu kota. Ku langkahi trotoar jalan. Ku masuki ruko-ruko yang bersegel di kacanya ”DIBUTUHKAN KARYAWAN!!” Ku terawang koran-koran, hingga ludes bagian kolom lowongan kerja. Tapi percuma, tak ada hasil yang seperti kuharapkan! Maklumlah, aku Cuma lulusan ijazah menengah pertama. Padahal dipersyaratan tak dibutuhkan, dan Orang-orang atasan juga sudah mewajibkan belajar sembilan tahun. Tapi hanya saja bagi anak-anak terpelajar. Sedangkan aku sendiri, bukan anak terpelajar! Kurang ajar? Iya.,,
Memang benar, aku adalah orang yang terlaknat. Terlaknat dari orang-orang cendikiawan yang secara, pendidikan terpenuhi. Bisa makan tiga kali sehari, ada orang tua yang selalu mengasihi, meninabobokkan setiap hari, di didik mulai usia kecil hingga besar, mengenalkan Tuhannya, mendewasakan, serta memiliki cita-cita dan mimpi. ”Cita-cita dan mimpi??”
”Uppsss….!!!”
Tapi semua itu berbeda!! Semua itu tak terjadi di dalam peta hidupku. Hidup sebatang kara, tak ada orang tua mengasihi dan menyayangi, semenjak musibah beruntun yang terjadi di bandara udara Yogyakarta dan melenyapkan semua keluargaku. Sungguh tragis, dan waktu itu pula rasanya aku ingin mati saja bersama mereka.
Semenjak usia 14 tahun hingga aku sekarang ini, aku hidup sebagai marabunta. Hidup di jalanan adalah hidupku. Tidak mengenal Tuhan adalah idealisku. Nyawa adalah tekadku. Tetapi walaupun begitu, aku adalah orang yang mempunyai impian. Impian yang hanya orang tertentu saja yang berani memimpikannya. Dan akulah salah satu orang tertentu saja itu!!
####
”Rip, mau jadi apa kau nantinya?” tegur Cak To ketika masuk kontrakan reot Urip.
”Tiap hari kerjaannya tidur melulu!” Terlihat, Urip tidur terlentang di atas kasur tripleknya. Dengan kedua tangan tertindih, terlipat di bawah kepala, dan kaki berselonjor dengan malasnya.
”Belum waktunya dapat kerjaan Cak!!” jawab Urip sekenanya.
”Waktunya kapan? Bukannya kamu kemarin ke kota ngelamar kerjaan?”
”Hasilnya nihil!!” dengan santainya Urip menyalakan rokok kretek di depan Cak To, dengan asap mbako lenteng cap murahan.
”Terus, inikah contoh pemuda yang mempunyai mimpi seperti yang kau katakan kemarin?” marah Cak To. “Pekerjaannya hanya tidur, menganggur tiap harinya.”
”Dasar pemuda gelandangan, tak punya kerjaan. Terlaknat!!”
”Brukkkk!!!” Dibantingnya pintu reot kontrakan Urip. Kemudian Cak To
meninggalkannya dengan amarah besar.
Memang salahku, aku jadi gelandangan? Tak seharusnya kau memarahi dan memakiku. Seharusnya Orang yang tak bertanggung jawablah, yang pantas kau umpati!! ”Gelandangan tak tau diri. Masuk negeriku tanpa permisi. Merampas harta yang kami miliki. Perempuan kami kau gagahi, laki-laki kau budaki. Kau bodohi negeri kami, tak lagi kami punya mimpi! Gelandangan kau suburi, hingga subur saat ini. Terlaknat! Kau sungguh penghianat!!”
” Tuhan …,” keluh Urip kepada Tuhannya.
“Aku ingin bermimpi. Aku ingin seperti burung, terbang bebas mengitari Negeri mimpi. Menyadarkan cecungok-cecungok yang tak tau diri. Aku ingin Negeri mimpiku seperti pelangi tempatnya para bidadari, selalu berwarna-warni memancarkan kemilau cahya keceriaan dan kedamaian. Aku ingin Negeri mimpiku kuat, kokoh berpondasi melambungkan cita-cita dan mimpi tinggi.” Urip terdiam dalam angan-angan yang selalu merisaukan dirinya.
####
”Maaf mas, di sini hanya membutuhkan karyawan yang minimal berijazah menengah atas, dan tentunya memiliki pengalaman dalam hal bekerja!!”
”Oh ya?” jawab Urip sinis. ”Tidak berartikah ijazah menengah pertama? ”Lihat mbak, aku memiliki nilai sembilan di mata pelajaran ilmu sosial dan PPKN!!”
”Tapi Mas…,” sanggah pelayan toko.
Naiknya emosi Urip. ”Apa ini kurang cukup untuk membuktikan, kalau aku ini berpendidikan dan berpengalaman?”
”Sretttt!!!” ditariknya kembali ijazah oleh Urip.
”Masya Allah,” sebut pelayan. ”Orang ini apa gak punya kesabaran ya? Amit-amit dehh…”
Dengan perasaan ngilu dan kecewa, keluarlah Urip dari toko ”Busana Bayi” itu.
”Dasar perempuan sekarang, cantik-cantik cerewet!” umpat kesal Urip.
”Mentang-mentang punya ijazah tinggi, semena-mena saja membuat persyaratan demi kualitas pelayan. Apalagi atas dasar untuk masa depan lah! Memang kurang ajar tu orang. Bisanya cuma semena-mena saja sama orang sepertiku. Cuiihhh….”
Lanjut omel Urip sambil jalan. ”Terus nantinya menjadi alasan sebagai tuntutan perkembangan dan kemajuan jaman, demi masa depan anak bangsa lah. Dan pastinya mereka akan mendiskriminasi orang-orang bawahan yang tak berpendidikan tinggi sepertiku!!” Dalam batinnya. ”Pasti ini pengaruh kebijakan Orang atasan, yang semena-mena saja mewajibkan belajar sembilan tahun. Menetapkan kebijakan tanpa menyadari keadaan sekitar! Beginilah sikap Orang-orang atasan, yang tak sudi melihat orang bawahan. Jika posisinya sudah di atas, yang bawah ditekan! Dan dampaknya ya, seperti aku ini. He..he..he..!!” tawa kecil Urip terhadap dirinya.
Menujulah Urip ke kontrakkannya. Yang sebetulnya kontrakkanya tak layak disebut kontrakkan dan disewakan. Karena dilihat dari tempatnya, berada di kolong jembatan layang. Bangunannya, beratap seng teyeng bekas buangan. Berdinding kardus mie rayapan. Berlantai tanah uraian sampah!! ”Hiii..., rumah tikus cocoknya.”
Udara panas, pengap, bau busuk sampah. Mau tidur siang-siang gini tak nyenyak, karena suara bising kendaraan yang melintas di atas atap kontrakkan Urip. Rebahan saja enaknya, sambil berandai-andai saja aku.…??? Tiba-tiba saja di kala Urip sedang nyantai-nyantainya terdengar suara teriakkan keras dari luar kontrakkan.
”Bang Urippp... keluar sekarang! Aku mau ngomong penting ma Abang!” teriakkan keras Narti dari depan pintu kontrakkan Urip. Dari dalam kontrakkan menyahut.
”Ya Neng, sayangku, cintaku!!” ”Kreekkk!!!” sambil melangkah Urip membukakan pintu.
”Sayang, sayang!! Ngaca dulu siapa Abang??”
”Gitu aja marah. Kalau marah kelihatan tuanya lo...!!” rayu Urip.
”Ada apa sa-yang….!! Eh, maksudku Neng Narti. Siang panas gini teriak-teriak manggilin Abang. Minta dikawinin ya??” Urip keluar kontrakan dengan wajah dan rambut awut-awutan.
”Heh, ngawur!!!” bentak Narti. ”Ini masalah serius Bang.”
”Gini Bang!!!” jelas Narti. ”Aku ke sini disuruh Babe untuk menagih uang kontrakan yang belum Abang bayar. Tiga bulan Bang!” Narti menodongkan tangannya di depan dada Urip.
”Waduhh!!!” Tiga bulan!! Segitu banyaknya! Pakai apa aku membayarnya! Sekarang gopekpun tak ada di kantongku. Cari kerjaan, tak ada yang mau menerimaku! Beginilah nasib gelandangan sejati. Selalu susah, gelisah, karena uang!! Uang untuk bayar kontrakkan dan beli makan.
Lalu, Urip memberanikan diri untuk berbicara jujur sesuai dengan keadaannya sekarang ke Narti.
”Maaf Neng, bukannya abang tidak mau melunasi pembayaran sekarang! Tapi kondisi keuanganku sekarang tidak mendukung. Alias, tidak punya uang sama sekali! Sumpah Neng!!!” keluh Urip menaruh muka belas kasihan ke Narti.
Muka Narti memerah, setelah mendengar penjelasan Urip. ”Alasan saja kau Bang!! Tiap akhir bulan, hanya janji kosong yang kau bayarkan. Bulan pertama, Abang tak membayar karena belum dapat kerjaan. Bulan kedua, dengan alasan yang sama. Bulan ketiga, sekarang!!” memuncaknya amarah Narti. ”Abang tidak bisa membayar, karena beralasan belum dapat kerjaan! Iyakan??!!”
Urip hanya bisa diam mendengarkan marahan Narti.
”Mana janji Abang ke Narti? Kalau Abang akan cari kerjaan mapan. Cari uang sebanyak-banyaknya, untuk membelikan cincin berlian untuk Narti. Mana janji ngelamar Narti? Mana rasa cinta Abang ?!” dengan marah Narti menangis, meneteskan air mata kekecewaan.
”Aku benci Abang. Benci, benci!!!” dipukul-pukulinya dada Urip, dengan kedua tangan putih Narti.
Narti meninggalkan Urip dengan keterpanaan. Keterpanaan yang ia tinggal karena kekecewaannya atas kelakuan Urip. Kelakuan yang selama ini ia harapkan sebagai cinta sejatinya. Tapi, cinta itu hanya omong-kosong, tak berisi dan tak pula terjadi. Sungguh memudar begitu cepat rasa cinta tulus Narti kepada Urip. Pupus harapan dan tak lagi bisa ditegakkan. Begitu dalamnya cinta Narti, dan begitu pula kekecewaan Narti. Begitu dalam dan dalam, tak dapat terbayangkan! Membuat Narti berjanji pada dirinya, ia takkan memaafkan Urip! Tidak akan!! Tidak akan memaafkan dan meninggalkan cintanya untuk selama-lamanya. Sampai kapanpun!!
####
Esok harinya Urip mendatangi rumah Narti, anak pemilik kontrakan yang ditinggalinya, alias Cak To orang asli Surabaya. Ia ingin meminta maaf atas kelakuan yang diperbuatnya kemarin.
Sesampai di depan rumah, Urip ditanya Cak To atas maksud dan tujuan kedatangannya. Sedari tadi Cak To enak-enakan ngopi di emperan rumah.
Malu-malu Urip nyamperin dan bertanya kepada Cak To. Kira-kira kekasih Narti sedang di mana, dan bagaimana gerangan???
”Narti, aku jodohkan!!!”
Gubrakk… Apa? Tidak salah dengarkah daku? Narti mau dijodohkan. Dengan siapa? Tidak denganku kah!! Siapa yang merebut hati kekasihku, Narti. Siapa dia, Siapa?? Apakah dia pemuda mapan daripada aku? Tampan, kaya, punya kerjaan, banyak uang! Dan apakah dia sanggup membelikan cincin berlian, seperti apa yang aku janjikan kepada Narti?
”Kenapa Cak? Kenapa anak Cak tidak dinikahkan saja denganku??”
”Narti anakku, anak kandungku! Terserah aku, mau aku jodohkan dengan siapa? Yang penting tidak aku jodohkan dengan pemuda gelandangan, yang tak punya pekerjaan sepertimu!!” jawab ketus Cak To.
Setelah Urip mendengar penjelasan Cak To, ia meninggalkan halaman rumah Narti kekasihnya. Dengan perasaan kecewa tanpa daya. Hancur. Dan gagal sudah cinta dan impian Urip, untuk hidup abadi berdampingan bersama Narti di Negeri mimpinya.
Sementara, pada jeda yang di buat bisu oleh Urip, sewaktu langit meriah oleh benda-benda berpijar, dan ketika sebuah lagu sedu yang menyeret kembali ke masa lalu Urip bersama Narti. Tergambar wajah sang kekasih, malu-malu berrada dalam pelukan Urip. Kesunyian udara malam bergerak mendesaukan suara manja sang kekasih. Bulan melengkungkan senyum manisnya. Bersiaplah…. Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan mu, dan meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu.
”Aku tak tau dengan hidupku!! Hancur hidupku. Hancur harapanku. Begitu hancurnya, menjadi abu yang tak mungkin disatukan kembali.”
Upssss!!!!! Insting ku menjalar. Memutar memori, dari nol derajat ke batas normal Sembilan puluh derajat. Ada sesuatu, yang membuat ku tak sanggup melupakan dan memendamnya begitu saja. Tunggu dulu. Ada satu hal yang tidak bisa hancur begitu saja. Dan tidak bisa hancur, karena alasan di tinggalkan cinta Narti. Tak bisa. Tidak bisa hancur dalam hidupku!! Yaitu, Negeri mimpiku.
”Akan kuwujudkan negeriku!!!” Ku bangun istana megah di dalamnya. Ku sunting bidadari pelangi untuk permaisuriku. Ku olah hasil buminya: melimpah ruah rempah-rempah. Ku angkat harkat martabatnya. Ku bebaskan dari orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ku bidik cecungok-cecungoknya. Ku jabat gelandangan jadi menteri-menterinya. Merdekalah budaknya. Tegak berdiri kokoh dan berwibawa, di mata negara lain. Sungguh-sungguh impianku. Ku ingin mulai lagi dari lembaran baru dalam hidupku. Saatnya bangkit, berdiri, beranjak, berlari mengejar ketertinggalan waktu yang telah terbuang dengan sia-sia begitu saja. Dan akhirnya….
”Oh, begitu bangga aku menjadi Orang nomor satu. Bangga atas impianku!!” Bangga Urip atas Negeri mimpinya. Mimpi yang hanya menjadi semu, dan tak beralur begitu saja dalam dirinya.
####
BIODATA PENULIS
Nama : Midun Aliassyah.
Tempat/ Tgl.Lahir : Nganjuk, 30 Agustus 1989
Status : Mahasiswa (Pndk. Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Jember).
Alamat : Jln. Sumatra IV, No. 84, Sumbersari, Jember, Jawa Timur.
No. HP : 085730031156/ 081331468766
Blog/ e-mail : www.midun_aliassyah.blogspot.com/ cah_solih@ymail.com
Oleh: Midun Aliassyah
Bilamana impian adalah matahari? Kapan ia akan terbit menghampiri dan menyudahi keluh, kesah dan penderitaan tiada akhirnya ini! Harusnya ia sebongkah pijar mengiringi jalan hidup ini, cerah cahayanya sebinar mata menggantung harap. Tapi semua ini tak ada, tak nyala! Hanya takdir bisu penuh kilu ini yang melumatku tiada kasih dan haru, menyebabkan aku tetap tak berranjak, dan penuh belepotan di kubangan lumpur kesialan ini. Oh tidak Ya Tuhan….
”Titititit…tititit!!!” Jam beker karatan berbunyi tersendat-sendat di balik bantal kusam nan bau kecut, dengan bersarung angsa yang tak lagi ceria, satu betina dan tiga anak berrenang tanpa busana, di air tak berwarna. Bantal kusam yang tak lagi jelas identitasnya! Ya, karena sarung bantal itu sudah tak layak untuk menjadi landasan kepala, luntur dari kewajaran. Tapi di balik kekusamannya, tersimpan berjuta-juta impian. Impian yang selalu menjadi angan, tak kunjung tiba menghampiri sang pemimpi. Hanya bisa menemani tidur, dan selalu menjadi cahya terang dalam imajinasi pikiran.
Sumringah, udara pagi ini yang masih basah oleh bulu-bulu embun. Sang surya malu-malu menampakkan dirinya menyambut hangatnya kehidupan, tapi tak mampu menutupi auranya dibalik awan yang menjadi temeng persembunyian di kala malam. Kilau cahya violate menerawang cakrawala Pertiwi, yang begitu kaya akan sumber alam dan nabati. Hingga membuat orang lain tertarik akan keelokan yang dimilikinya, dan mengakibatkan buta atas apa yang harus dimiliki pribadi sendiri. Padahal hanya untuk sekedar memiliki dan menikmati!! Memiliki kemakmuran dan kelayakan hidup bagi makhluk bernyawa yang bersarang di dalamnya. Jelas-jelas mereka ditakdirkan memiliki kelebihan dari pada makhluk lainnya. Ia diberi akal, tetapi ia hanya bisa pintar dalam melipat gandakan jumlah keturunan, dengan semboyan “banyak anak banyak rejeki.” Bussettt, tapi kenyataannya sekarang sudah gak berlaku bang! Sekarang tu bukan jaman bemo lagi, tapi sudah jamannya busway gitu!! Trus, kemudian mereka tak mampu menyuapinya! Membuat Ia selalu menangis merintih dan kecewa. Karena Ia merasa diacuhkan oleh menungso yang hidup serba dengan ketololan, berkembang biak di dalam kelaknatan, dan tak merasa punya dosa atas apa yang dilakukan. Sungguh-sungguh biadab kau? ”Menungso,” lebih pantas menyebutnya.
”Habis manis sepah di buang.” Seperti inilah kondisi negeriku. Negeri mimpiku. Ditinggal begitu saja oleh Orang- yang tak bertanggung jawab. Tiga setengah abad sudah, Negeri impianku dirampas mahkotanya. Hilang dari kejayaan, tak lagi perawan, ternoda dari kelicikan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ia dibodohkan dari pengetahuan. Otak ditumpulkan, dimelaratkan! Cecungok-cecungok jadi budak. Budak yang tak terbayar jauh dari kebebasan. Menyebabkan Negeri mimpiku lemah tak berdaya, tak lagi berharap menggapai cita. Terpendam selama-lamanya di dalam angan dan asa.
Ya, beginilah!! Sungguh malang Negeri mimpiku. Cecungok-cecungoknya malas akan kemakmuran. Lumpuh memperdayakan sumber pangan. Buta akan kekayaan. ”Ya, beginilah!! Malang nasibku, seperti malangnya Negeri mimpiku.”
####
”Hidup.”
Apa makna itu sebenarnya? Sebuah anugerah yang tak terhinggakah? Ataukah sebuah kutukan takdir hidup, tak berarah, tak bertujuan yang menakdirkan aku seperti ini! Hidup yang hilang dari kebahagiaan, bermelodi penderitaan dan kegelisahan.
Waktu bergulir. Pagi menuju siang, siang menuju malam, dan menjadi hari. Seperti keadaanku sekarang ini, tak menentu! Tiap hari kutelusuri Ibu kota. Ku langkahi trotoar jalan. Ku masuki ruko-ruko yang bersegel di kacanya ”DIBUTUHKAN KARYAWAN!!” Ku terawang koran-koran, hingga ludes bagian kolom lowongan kerja. Tapi percuma, tak ada hasil yang seperti kuharapkan! Maklumlah, aku Cuma lulusan ijazah menengah pertama. Padahal dipersyaratan tak dibutuhkan, dan Orang-orang atasan juga sudah mewajibkan belajar sembilan tahun. Tapi hanya saja bagi anak-anak terpelajar. Sedangkan aku sendiri, bukan anak terpelajar! Kurang ajar? Iya.,,
Memang benar, aku adalah orang yang terlaknat. Terlaknat dari orang-orang cendikiawan yang secara, pendidikan terpenuhi. Bisa makan tiga kali sehari, ada orang tua yang selalu mengasihi, meninabobokkan setiap hari, di didik mulai usia kecil hingga besar, mengenalkan Tuhannya, mendewasakan, serta memiliki cita-cita dan mimpi. ”Cita-cita dan mimpi??”
”Uppsss….!!!”
Tapi semua itu berbeda!! Semua itu tak terjadi di dalam peta hidupku. Hidup sebatang kara, tak ada orang tua mengasihi dan menyayangi, semenjak musibah beruntun yang terjadi di bandara udara Yogyakarta dan melenyapkan semua keluargaku. Sungguh tragis, dan waktu itu pula rasanya aku ingin mati saja bersama mereka.
Semenjak usia 14 tahun hingga aku sekarang ini, aku hidup sebagai marabunta. Hidup di jalanan adalah hidupku. Tidak mengenal Tuhan adalah idealisku. Nyawa adalah tekadku. Tetapi walaupun begitu, aku adalah orang yang mempunyai impian. Impian yang hanya orang tertentu saja yang berani memimpikannya. Dan akulah salah satu orang tertentu saja itu!!
####
”Rip, mau jadi apa kau nantinya?” tegur Cak To ketika masuk kontrakan reot Urip.
”Tiap hari kerjaannya tidur melulu!” Terlihat, Urip tidur terlentang di atas kasur tripleknya. Dengan kedua tangan tertindih, terlipat di bawah kepala, dan kaki berselonjor dengan malasnya.
”Belum waktunya dapat kerjaan Cak!!” jawab Urip sekenanya.
”Waktunya kapan? Bukannya kamu kemarin ke kota ngelamar kerjaan?”
”Hasilnya nihil!!” dengan santainya Urip menyalakan rokok kretek di depan Cak To, dengan asap mbako lenteng cap murahan.
”Terus, inikah contoh pemuda yang mempunyai mimpi seperti yang kau katakan kemarin?” marah Cak To. “Pekerjaannya hanya tidur, menganggur tiap harinya.”
”Dasar pemuda gelandangan, tak punya kerjaan. Terlaknat!!”
”Brukkkk!!!” Dibantingnya pintu reot kontrakan Urip. Kemudian Cak To
meninggalkannya dengan amarah besar.
Memang salahku, aku jadi gelandangan? Tak seharusnya kau memarahi dan memakiku. Seharusnya Orang yang tak bertanggung jawablah, yang pantas kau umpati!! ”Gelandangan tak tau diri. Masuk negeriku tanpa permisi. Merampas harta yang kami miliki. Perempuan kami kau gagahi, laki-laki kau budaki. Kau bodohi negeri kami, tak lagi kami punya mimpi! Gelandangan kau suburi, hingga subur saat ini. Terlaknat! Kau sungguh penghianat!!”
” Tuhan …,” keluh Urip kepada Tuhannya.
“Aku ingin bermimpi. Aku ingin seperti burung, terbang bebas mengitari Negeri mimpi. Menyadarkan cecungok-cecungok yang tak tau diri. Aku ingin Negeri mimpiku seperti pelangi tempatnya para bidadari, selalu berwarna-warni memancarkan kemilau cahya keceriaan dan kedamaian. Aku ingin Negeri mimpiku kuat, kokoh berpondasi melambungkan cita-cita dan mimpi tinggi.” Urip terdiam dalam angan-angan yang selalu merisaukan dirinya.
####
”Maaf mas, di sini hanya membutuhkan karyawan yang minimal berijazah menengah atas, dan tentunya memiliki pengalaman dalam hal bekerja!!”
”Oh ya?” jawab Urip sinis. ”Tidak berartikah ijazah menengah pertama? ”Lihat mbak, aku memiliki nilai sembilan di mata pelajaran ilmu sosial dan PPKN!!”
”Tapi Mas…,” sanggah pelayan toko.
Naiknya emosi Urip. ”Apa ini kurang cukup untuk membuktikan, kalau aku ini berpendidikan dan berpengalaman?”
”Sretttt!!!” ditariknya kembali ijazah oleh Urip.
”Masya Allah,” sebut pelayan. ”Orang ini apa gak punya kesabaran ya? Amit-amit dehh…”
Dengan perasaan ngilu dan kecewa, keluarlah Urip dari toko ”Busana Bayi” itu.
”Dasar perempuan sekarang, cantik-cantik cerewet!” umpat kesal Urip.
”Mentang-mentang punya ijazah tinggi, semena-mena saja membuat persyaratan demi kualitas pelayan. Apalagi atas dasar untuk masa depan lah! Memang kurang ajar tu orang. Bisanya cuma semena-mena saja sama orang sepertiku. Cuiihhh….”
Lanjut omel Urip sambil jalan. ”Terus nantinya menjadi alasan sebagai tuntutan perkembangan dan kemajuan jaman, demi masa depan anak bangsa lah. Dan pastinya mereka akan mendiskriminasi orang-orang bawahan yang tak berpendidikan tinggi sepertiku!!” Dalam batinnya. ”Pasti ini pengaruh kebijakan Orang atasan, yang semena-mena saja mewajibkan belajar sembilan tahun. Menetapkan kebijakan tanpa menyadari keadaan sekitar! Beginilah sikap Orang-orang atasan, yang tak sudi melihat orang bawahan. Jika posisinya sudah di atas, yang bawah ditekan! Dan dampaknya ya, seperti aku ini. He..he..he..!!” tawa kecil Urip terhadap dirinya.
Menujulah Urip ke kontrakkannya. Yang sebetulnya kontrakkanya tak layak disebut kontrakkan dan disewakan. Karena dilihat dari tempatnya, berada di kolong jembatan layang. Bangunannya, beratap seng teyeng bekas buangan. Berdinding kardus mie rayapan. Berlantai tanah uraian sampah!! ”Hiii..., rumah tikus cocoknya.”
Udara panas, pengap, bau busuk sampah. Mau tidur siang-siang gini tak nyenyak, karena suara bising kendaraan yang melintas di atas atap kontrakkan Urip. Rebahan saja enaknya, sambil berandai-andai saja aku.…??? Tiba-tiba saja di kala Urip sedang nyantai-nyantainya terdengar suara teriakkan keras dari luar kontrakkan.
”Bang Urippp... keluar sekarang! Aku mau ngomong penting ma Abang!” teriakkan keras Narti dari depan pintu kontrakkan Urip. Dari dalam kontrakkan menyahut.
”Ya Neng, sayangku, cintaku!!” ”Kreekkk!!!” sambil melangkah Urip membukakan pintu.
”Sayang, sayang!! Ngaca dulu siapa Abang??”
”Gitu aja marah. Kalau marah kelihatan tuanya lo...!!” rayu Urip.
”Ada apa sa-yang….!! Eh, maksudku Neng Narti. Siang panas gini teriak-teriak manggilin Abang. Minta dikawinin ya??” Urip keluar kontrakan dengan wajah dan rambut awut-awutan.
”Heh, ngawur!!!” bentak Narti. ”Ini masalah serius Bang.”
”Gini Bang!!!” jelas Narti. ”Aku ke sini disuruh Babe untuk menagih uang kontrakan yang belum Abang bayar. Tiga bulan Bang!” Narti menodongkan tangannya di depan dada Urip.
”Waduhh!!!” Tiga bulan!! Segitu banyaknya! Pakai apa aku membayarnya! Sekarang gopekpun tak ada di kantongku. Cari kerjaan, tak ada yang mau menerimaku! Beginilah nasib gelandangan sejati. Selalu susah, gelisah, karena uang!! Uang untuk bayar kontrakkan dan beli makan.
Lalu, Urip memberanikan diri untuk berbicara jujur sesuai dengan keadaannya sekarang ke Narti.
”Maaf Neng, bukannya abang tidak mau melunasi pembayaran sekarang! Tapi kondisi keuanganku sekarang tidak mendukung. Alias, tidak punya uang sama sekali! Sumpah Neng!!!” keluh Urip menaruh muka belas kasihan ke Narti.
Muka Narti memerah, setelah mendengar penjelasan Urip. ”Alasan saja kau Bang!! Tiap akhir bulan, hanya janji kosong yang kau bayarkan. Bulan pertama, Abang tak membayar karena belum dapat kerjaan. Bulan kedua, dengan alasan yang sama. Bulan ketiga, sekarang!!” memuncaknya amarah Narti. ”Abang tidak bisa membayar, karena beralasan belum dapat kerjaan! Iyakan??!!”
Urip hanya bisa diam mendengarkan marahan Narti.
”Mana janji Abang ke Narti? Kalau Abang akan cari kerjaan mapan. Cari uang sebanyak-banyaknya, untuk membelikan cincin berlian untuk Narti. Mana janji ngelamar Narti? Mana rasa cinta Abang ?!” dengan marah Narti menangis, meneteskan air mata kekecewaan.
”Aku benci Abang. Benci, benci!!!” dipukul-pukulinya dada Urip, dengan kedua tangan putih Narti.
Narti meninggalkan Urip dengan keterpanaan. Keterpanaan yang ia tinggal karena kekecewaannya atas kelakuan Urip. Kelakuan yang selama ini ia harapkan sebagai cinta sejatinya. Tapi, cinta itu hanya omong-kosong, tak berisi dan tak pula terjadi. Sungguh memudar begitu cepat rasa cinta tulus Narti kepada Urip. Pupus harapan dan tak lagi bisa ditegakkan. Begitu dalamnya cinta Narti, dan begitu pula kekecewaan Narti. Begitu dalam dan dalam, tak dapat terbayangkan! Membuat Narti berjanji pada dirinya, ia takkan memaafkan Urip! Tidak akan!! Tidak akan memaafkan dan meninggalkan cintanya untuk selama-lamanya. Sampai kapanpun!!
####
Esok harinya Urip mendatangi rumah Narti, anak pemilik kontrakan yang ditinggalinya, alias Cak To orang asli Surabaya. Ia ingin meminta maaf atas kelakuan yang diperbuatnya kemarin.
Sesampai di depan rumah, Urip ditanya Cak To atas maksud dan tujuan kedatangannya. Sedari tadi Cak To enak-enakan ngopi di emperan rumah.
Malu-malu Urip nyamperin dan bertanya kepada Cak To. Kira-kira kekasih Narti sedang di mana, dan bagaimana gerangan???
”Narti, aku jodohkan!!!”
Gubrakk… Apa? Tidak salah dengarkah daku? Narti mau dijodohkan. Dengan siapa? Tidak denganku kah!! Siapa yang merebut hati kekasihku, Narti. Siapa dia, Siapa?? Apakah dia pemuda mapan daripada aku? Tampan, kaya, punya kerjaan, banyak uang! Dan apakah dia sanggup membelikan cincin berlian, seperti apa yang aku janjikan kepada Narti?
”Kenapa Cak? Kenapa anak Cak tidak dinikahkan saja denganku??”
”Narti anakku, anak kandungku! Terserah aku, mau aku jodohkan dengan siapa? Yang penting tidak aku jodohkan dengan pemuda gelandangan, yang tak punya pekerjaan sepertimu!!” jawab ketus Cak To.
Setelah Urip mendengar penjelasan Cak To, ia meninggalkan halaman rumah Narti kekasihnya. Dengan perasaan kecewa tanpa daya. Hancur. Dan gagal sudah cinta dan impian Urip, untuk hidup abadi berdampingan bersama Narti di Negeri mimpinya.
Sementara, pada jeda yang di buat bisu oleh Urip, sewaktu langit meriah oleh benda-benda berpijar, dan ketika sebuah lagu sedu yang menyeret kembali ke masa lalu Urip bersama Narti. Tergambar wajah sang kekasih, malu-malu berrada dalam pelukan Urip. Kesunyian udara malam bergerak mendesaukan suara manja sang kekasih. Bulan melengkungkan senyum manisnya. Bersiaplah…. Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan mu, dan meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu.
”Aku tak tau dengan hidupku!! Hancur hidupku. Hancur harapanku. Begitu hancurnya, menjadi abu yang tak mungkin disatukan kembali.”
Upssss!!!!! Insting ku menjalar. Memutar memori, dari nol derajat ke batas normal Sembilan puluh derajat. Ada sesuatu, yang membuat ku tak sanggup melupakan dan memendamnya begitu saja. Tunggu dulu. Ada satu hal yang tidak bisa hancur begitu saja. Dan tidak bisa hancur, karena alasan di tinggalkan cinta Narti. Tak bisa. Tidak bisa hancur dalam hidupku!! Yaitu, Negeri mimpiku.
”Akan kuwujudkan negeriku!!!” Ku bangun istana megah di dalamnya. Ku sunting bidadari pelangi untuk permaisuriku. Ku olah hasil buminya: melimpah ruah rempah-rempah. Ku angkat harkat martabatnya. Ku bebaskan dari orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ku bidik cecungok-cecungoknya. Ku jabat gelandangan jadi menteri-menterinya. Merdekalah budaknya. Tegak berdiri kokoh dan berwibawa, di mata negara lain. Sungguh-sungguh impianku. Ku ingin mulai lagi dari lembaran baru dalam hidupku. Saatnya bangkit, berdiri, beranjak, berlari mengejar ketertinggalan waktu yang telah terbuang dengan sia-sia begitu saja. Dan akhirnya….
”Oh, begitu bangga aku menjadi Orang nomor satu. Bangga atas impianku!!” Bangga Urip atas Negeri mimpinya. Mimpi yang hanya menjadi semu, dan tak beralur begitu saja dalam dirinya.
####
BIODATA PENULIS
Nama : Midun Aliassyah.
Tempat/ Tgl.Lahir : Nganjuk, 30 Agustus 1989
Status : Mahasiswa (Pndk. Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Jember).
Alamat : Jln. Sumatra IV, No. 84, Sumbersari, Jember, Jawa Timur.
No. HP : 085730031156/ 081331468766
Blog/ e-mail : www.midun_aliassyah.blogspot.com/ cah_solih@ymail.com
TINDAK BAHASA DARI SUDUT PENDENGAR
TINDAK BAHASA DARI SUDUT PENDENGAR
1.Pengertian
Tindak bahasa dari sudut pendengar adalah bagaimana nilai ilokusi (nilai tindak bahasa yang diidentifikasi dengan kalimat pelaku yang eksplisit), itu ditangkap atau difahami oleh lawan bicara. Di dalam satu wacana peran pembicara dan pendengar itu saling berganti dan seorang pembicara dapat menjadi pendengar dan sebaliknya. Pemikiran Searle ialah bahwa tujuan-tujuan pembicara sukar diteliti, sedang interpretasi lawan bicara tampak dari reaksi-reaksi yang diberikan pada ucapan-ucapan pembicara.
Searle tidak menerima konsep tindak lokusi yang digantinya dengan tindak proposisi, hal inilah yang mendasari Searle dalam memberi makna pada ucapan atau kalimat. Pergantian istilah ini digunakan untuk member makna yang lebih luas kepada tindak proposisi, yakni yang mencakup rujukan pada sesuatu dan juga yang membentuk pada predikasi (pengungkapan tentang perbuatan, keadaan atau hal dalam proposisi ). Menurut Searle, suatu ujaran terdiri dari dua bagian, yakni: a). suatu proposisi mencakup penunjuk fungsi ujaran yang merupakan nilai ilokusi. Penunjuk terdiri atas: urutan kata, tekanan, intonasi, tanda baca, nada, dan kata kerja perlakuan (performatives). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proposisi menurut Searle adalah suatu pengungkapan tujuan sebagaimana dipahami oleh pendengar.
Searle telah meneliti bagaimana pendengar menginterpretasi kalimat-kalimat perlakuan pembicara, kususnya kalimat-kalimat langsung. Misalnnya:
1.“Apakah kamu dapat mengangkat koper ini?”(merujuk pada mampu atau tidak mampu pendengar melakukan permintaan itu)
2.“Apa anda akan mengangkat koper ini?” (merujuk pada perilaku pendengar pada waktu mendatang)
3. “Saya ingin kau angkatkan koper ini.”(merujuk pada keinginan pembicara kepada pendengar)
4. “Apa mau mengangkatkan koper ini?” (merujuk pada kesediaan pendengar)
5. “Kalau kau angkat koper ini, saya dapat duduk.” (merujuk pada alasan permintaan kepada pendengar)
6.”Apa boleh saya minta anda untuk mengangkatkan koper ini?” (merujuk pada sikap pembicara terhadap pendengar yang terlihat dari bentuk yang dinilai sopan)
Tindak bahasa ilokusi membuahkan bentuk-bentuk yang mencerminkan keinginan dan sikap pembicara terhadap pendengar, sedangkan tindak perlokusi mencerminkan reaksi dari atau efek ujaranya pada pendengar. Seandainya seorang pembicara mengucapkan suatu ujaran atau kalimat ia mengungkapkan efek ilukusi pada pendengar, dan ia mencapai efek ini dia menyebabkan pendengar mengenal tujuan ini. Menggunakan pengetahuan aturan-aturan yang mendasari kalimat itu.
2.Relevansi Tindak Bahasa dengan Pengajaran Bahasa
Pengajaran bahasa dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif berasal dari tulisan Hymes (1972), yang pertama merumuskan definisi kemampuan komunikatif (communicative competence) sebagai kemampuan berkomunikasi dengan sesama manusia. Proses berkomunikasi tidak hanya mementingkan bentuk-bentuk bahasa bukan hanya makna kalimat yang tersirat (ilokusi), tetapi juga makna yang tersulubung dalam suatu tindak bahasa, yakni apa yang menjadi akibat atau efek yang ditimbulkan oleh seorang pembicara pada lawan bicaranya (perlokusi).
Ditinjau dari pihak pembicara terjadi tindak bahasa ilokusi yakni: mengatakan sesuatu dalam arti “berkata”. Dengan mengucapkan tindak bahasa ilokusi, seorang pembicara mengungkapkan suatu nilai ilokusi setiap. Wacana antara dua pihak selalu bermaksud untuk mencapai tujuan dari pihak pembicara dan suatu efek pada pihak pendengar. Tujuan pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa yang dirumuskan sebagai “berkomunikasi secara wajar”. Untuk mencapai tujuan ini, ada beberapa faktor yang menentukan apakah tindak bahasa ilokusi yang di ucapkan oleh pembicara itu wajar dan dapat diterima oleh lawan bicaranya atau tidak. Faktor-faktor tersebut adalah;
1)Siapa-siapa yang mengambil bagian dalam suatu wacana itu? Teman dengan teman , ayah dengan ibu, ayah dengan anak, guru dengan muridnya, kepala kantor dengan bawahannya, dokter dengan pasiennya, dan sebagainya.
2)Apa waktu wacana itu terjadi? Pagi hari, siang, sore, malam hari? Waktu kerja atau waktu senggang?
3)Apa tempat wacana itu? Di sekolah, di pasar, di rumah, di tempat ibadah, dan sebagainya.
4)Apa topik yang digunakan pada pembicara? Mengenai hal-hal yang serius , ringan, basa-basi, keagamaan, ilmiah, nasehat, dan sebagainya.
5)Apa jalur yang digunakan para pembicara? Ragam formal atau informal, tatap muka atau melalui telepon, lisan atau tulisan, bahasa daerah, nasianal, asing, rahasia (kode), dan sebagainya.
Suatu tindak bahasa dapat dikatakan wajar, apabila memperhatikan konteks atau situasi tertentu yang terdapat dalam 5 faktor di atas. Kecuali bentuk yang wajar,suatu bentuk kalimat tanya dapat mempunyai nilai lokusi atau perintah, suatu kalimat pernyataan dapat mempunyai nilai ilokusi suatu pentanyaan atau perintah, dan sebagainya. Prinsip-prinsip yang telah di jelaskan di atas harus diterapkan dalam menyajikan penggunaan bahasa untuk berkomunikasi lisan atau tulisan.
1.Pengertian
Tindak bahasa dari sudut pendengar adalah bagaimana nilai ilokusi (nilai tindak bahasa yang diidentifikasi dengan kalimat pelaku yang eksplisit), itu ditangkap atau difahami oleh lawan bicara. Di dalam satu wacana peran pembicara dan pendengar itu saling berganti dan seorang pembicara dapat menjadi pendengar dan sebaliknya. Pemikiran Searle ialah bahwa tujuan-tujuan pembicara sukar diteliti, sedang interpretasi lawan bicara tampak dari reaksi-reaksi yang diberikan pada ucapan-ucapan pembicara.
Searle tidak menerima konsep tindak lokusi yang digantinya dengan tindak proposisi, hal inilah yang mendasari Searle dalam memberi makna pada ucapan atau kalimat. Pergantian istilah ini digunakan untuk member makna yang lebih luas kepada tindak proposisi, yakni yang mencakup rujukan pada sesuatu dan juga yang membentuk pada predikasi (pengungkapan tentang perbuatan, keadaan atau hal dalam proposisi ). Menurut Searle, suatu ujaran terdiri dari dua bagian, yakni: a). suatu proposisi mencakup penunjuk fungsi ujaran yang merupakan nilai ilokusi. Penunjuk terdiri atas: urutan kata, tekanan, intonasi, tanda baca, nada, dan kata kerja perlakuan (performatives). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proposisi menurut Searle adalah suatu pengungkapan tujuan sebagaimana dipahami oleh pendengar.
Searle telah meneliti bagaimana pendengar menginterpretasi kalimat-kalimat perlakuan pembicara, kususnya kalimat-kalimat langsung. Misalnnya:
1.“Apakah kamu dapat mengangkat koper ini?”(merujuk pada mampu atau tidak mampu pendengar melakukan permintaan itu)
2.“Apa anda akan mengangkat koper ini?” (merujuk pada perilaku pendengar pada waktu mendatang)
3. “Saya ingin kau angkatkan koper ini.”(merujuk pada keinginan pembicara kepada pendengar)
4. “Apa mau mengangkatkan koper ini?” (merujuk pada kesediaan pendengar)
5. “Kalau kau angkat koper ini, saya dapat duduk.” (merujuk pada alasan permintaan kepada pendengar)
6.”Apa boleh saya minta anda untuk mengangkatkan koper ini?” (merujuk pada sikap pembicara terhadap pendengar yang terlihat dari bentuk yang dinilai sopan)
Tindak bahasa ilokusi membuahkan bentuk-bentuk yang mencerminkan keinginan dan sikap pembicara terhadap pendengar, sedangkan tindak perlokusi mencerminkan reaksi dari atau efek ujaranya pada pendengar. Seandainya seorang pembicara mengucapkan suatu ujaran atau kalimat ia mengungkapkan efek ilukusi pada pendengar, dan ia mencapai efek ini dia menyebabkan pendengar mengenal tujuan ini. Menggunakan pengetahuan aturan-aturan yang mendasari kalimat itu.
2.Relevansi Tindak Bahasa dengan Pengajaran Bahasa
Pengajaran bahasa dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif berasal dari tulisan Hymes (1972), yang pertama merumuskan definisi kemampuan komunikatif (communicative competence) sebagai kemampuan berkomunikasi dengan sesama manusia. Proses berkomunikasi tidak hanya mementingkan bentuk-bentuk bahasa bukan hanya makna kalimat yang tersirat (ilokusi), tetapi juga makna yang tersulubung dalam suatu tindak bahasa, yakni apa yang menjadi akibat atau efek yang ditimbulkan oleh seorang pembicara pada lawan bicaranya (perlokusi).
Ditinjau dari pihak pembicara terjadi tindak bahasa ilokusi yakni: mengatakan sesuatu dalam arti “berkata”. Dengan mengucapkan tindak bahasa ilokusi, seorang pembicara mengungkapkan suatu nilai ilokusi setiap. Wacana antara dua pihak selalu bermaksud untuk mencapai tujuan dari pihak pembicara dan suatu efek pada pihak pendengar. Tujuan pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa yang dirumuskan sebagai “berkomunikasi secara wajar”. Untuk mencapai tujuan ini, ada beberapa faktor yang menentukan apakah tindak bahasa ilokusi yang di ucapkan oleh pembicara itu wajar dan dapat diterima oleh lawan bicaranya atau tidak. Faktor-faktor tersebut adalah;
1)Siapa-siapa yang mengambil bagian dalam suatu wacana itu? Teman dengan teman , ayah dengan ibu, ayah dengan anak, guru dengan muridnya, kepala kantor dengan bawahannya, dokter dengan pasiennya, dan sebagainya.
2)Apa waktu wacana itu terjadi? Pagi hari, siang, sore, malam hari? Waktu kerja atau waktu senggang?
3)Apa tempat wacana itu? Di sekolah, di pasar, di rumah, di tempat ibadah, dan sebagainya.
4)Apa topik yang digunakan pada pembicara? Mengenai hal-hal yang serius , ringan, basa-basi, keagamaan, ilmiah, nasehat, dan sebagainya.
5)Apa jalur yang digunakan para pembicara? Ragam formal atau informal, tatap muka atau melalui telepon, lisan atau tulisan, bahasa daerah, nasianal, asing, rahasia (kode), dan sebagainya.
Suatu tindak bahasa dapat dikatakan wajar, apabila memperhatikan konteks atau situasi tertentu yang terdapat dalam 5 faktor di atas. Kecuali bentuk yang wajar,suatu bentuk kalimat tanya dapat mempunyai nilai lokusi atau perintah, suatu kalimat pernyataan dapat mempunyai nilai ilokusi suatu pentanyaan atau perintah, dan sebagainya. Prinsip-prinsip yang telah di jelaskan di atas harus diterapkan dalam menyajikan penggunaan bahasa untuk berkomunikasi lisan atau tulisan.
Penerapan Metode Diskusi di dalam Pembelajaran Keterampilan Menyimak
1. Pembelajaran Bahasa
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa Degeng (1989). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975) juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pebelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Sementara itu, dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA, disebutkan bahwa tujuan pemelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi (1) siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial, (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disarikan sebagai berikut. Pebelajar akan belajar bahasa dengan baik bila (1) diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994).
2. Pengertian Keterampilan Menyimak
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering pula harus menyimak, berita, cerita, pengumuman, laporan, dan sebagainya. Namun, tidak semua orang mampu menyimak dengan baik, pasdahal kemajuan masyarakat sangat tergantung pada kemampuan menyimak berbagai informasi anggota masyarakatnya. Jika seseorang banyak mendapatka informasi berarti orang itu meningkatkan pengetahuan, dan banyak pengetahuan berarti meningkatkan daya pikir.
Berbicara tentang keterampilan menyimak tidak dapat dipisahkan dari keterampilan bahasa yang lain, yaitu keterampilan berbicara, membaca, dan menulis. Keberhasilan seseorang dalam menyimak dapat diketahuai bagaimana penyimak memahami dan menyampaikan informasi secara lisan maupun tertulis. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menyimak cukup kompleks jika penyimak ingin menangkap makna yang sesungguhnya dari simakan yang mungkin tidak seutuhnya tersirat , sehingga penyimak harus berusaha mengungkapkan hal-hal yang tersirat itu.
Oleh karena itu, penyimak perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan materi simakan, artinya ia harus sering berlatih menyimak. Dengan demikian, berhasil tidaknya keterampilan siswa menyimak tidak lepas dari upaya guru dalam meningkatkan proses pembelajarannya. Hal ini dapat dilihat dari kepentingan keterampilan menyimak terhadap keterampilan bahasa yang lainnya, yakni: (1) keterampilan menyimak merupakan dasar yang cukup penting untuk keterampilan berbicara. Ada yang berbicara harus ada yang menyimak atau sebaliknya, keduanya saling membutuhkan, (2) keterampilan menyimak juga merupakan dasar bagi keterampilan membaca atau menulis, petunjuk-petunjuk disampaikan melalui bahasa lisan . Ini berarti mereka harus menyimak, (3) keterbatasan penguasaan kosakata pada saat menyimak akan menghambat kelancaran membaca dan menulis.
Berikut ini diuraikan secara singkat hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran menyimak yaitu: (1) Ciri-ciri penyimak yang baik, (2) Jenis-jenis menyimak, (3) Tahap-tahap menyimak, (4) Faktor yang mempengaruhi menyimak (5) Kendala dalam menyimak, (6)Teknik pembelajaran menyimak, (7) Materi menyimak SMP menurut Kurikulum 2004, (8) Penilaian menyimak.
3.Pengertian Metode Diskusi
Istilah metode berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.
Metode diskusi ialah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia; sedemikian kompieksnya masalah tersebut sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu jawaban saja. tetapi kita harus menggunakan segala pengetahuan kita untuk memberi pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih-dari satu jawaban yang benar sehingga harus menemukan jawaban yang paling tepat di antara sekian banyak jawaban tersebut.
Kecakapan untuk memecahkan masalah dapat dipelajari.-Untuk iru siswa harus dilatih sejak kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, karenanya dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalam hal ini diskusi merupakanjalan yang banyak memberi kemungkinan pemecahan terbaik.
Selain memberi kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari
keputusan-keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan untuk peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat.
4.Penerapan Metode Diskusi di dalam Pembelajaran Keterampilan Menyimak
Seperti telah disinggung sekilas, bahwa metode tanya jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban, malah mungkin terdapat banyak jawaban yang benar.
Berikut ini merupakan langkah-langkah pembelajaran metode diskusi di dalam pembelajaran menyimak:
1)Guru dalam pelaksanaan diskusi siswa menjaga dan memelihara ketertiban diskusi
2)Guru mendampingi siswa menyimak wacana simakan yang akan didiskusikan
3)Guru mendampingi dan memberi pengarahan seperlunya selama pelaksanaan diskusi
4)Guru tidak banyak mencampuri atau mendominasi pelaksanaan diskusi
5)Guru memberikan pengarahan apabila terjadi selisih paham serta kemacetan pelaksanaan diskusi.
6)Guru memberikan pengarahan apabila terjadi selisih paham serta kemacetan pelaksanaan diskusi
7)Guru mencatat hal-hal penting permasalahan materi simakan yang belum tuntas didiskusikan oleh siswa
8)Guru menjelaskan permasalahan materi simakan yang belum tuntas dibicarakan dalam diskusi.
Kebaikan Metode Diskusi
1.Siswa belajar bermusyawarah
2.Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetahuan masing-masing
3.Belajar menghargai pendapat orang lain
4.Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah
Kekuranganan Metode Diskusi
1.Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari poko persoalan
2.Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian.
3.Membutuhkan waktu cukup banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud
Darjowidjojo, Soenjono. 1994. Butir-butir Renungan Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Salatiga: Univeristas Kristen Satya Wacana
Degeng, I.N.S. 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP dan IPTDI
Depdikbud. 1995. Pedoman Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta: Proyek Pembinaan Sekolah Dasar
Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM
Moeleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya.
Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang
Salamun, M. 2002. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren. Tesis.. Tidak diterbitkan
Sholhah, Anik. 2000. Pertanyaan Tutor dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di UM. Skripsi. Tidak diterbitkan.
Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
Sugiono, S. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Bahasa Indonesia; VI. Jakarta: 28 Oktober—2 Nopember 1993
Suharyanto. 1999. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Yogyakarta: Depdikbud
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa Degeng (1989). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975) juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pebelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Sementara itu, dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA, disebutkan bahwa tujuan pemelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi (1) siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial, (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disarikan sebagai berikut. Pebelajar akan belajar bahasa dengan baik bila (1) diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994).
2. Pengertian Keterampilan Menyimak
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering pula harus menyimak, berita, cerita, pengumuman, laporan, dan sebagainya. Namun, tidak semua orang mampu menyimak dengan baik, pasdahal kemajuan masyarakat sangat tergantung pada kemampuan menyimak berbagai informasi anggota masyarakatnya. Jika seseorang banyak mendapatka informasi berarti orang itu meningkatkan pengetahuan, dan banyak pengetahuan berarti meningkatkan daya pikir.
Berbicara tentang keterampilan menyimak tidak dapat dipisahkan dari keterampilan bahasa yang lain, yaitu keterampilan berbicara, membaca, dan menulis. Keberhasilan seseorang dalam menyimak dapat diketahuai bagaimana penyimak memahami dan menyampaikan informasi secara lisan maupun tertulis. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menyimak cukup kompleks jika penyimak ingin menangkap makna yang sesungguhnya dari simakan yang mungkin tidak seutuhnya tersirat , sehingga penyimak harus berusaha mengungkapkan hal-hal yang tersirat itu.
Oleh karena itu, penyimak perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan materi simakan, artinya ia harus sering berlatih menyimak. Dengan demikian, berhasil tidaknya keterampilan siswa menyimak tidak lepas dari upaya guru dalam meningkatkan proses pembelajarannya. Hal ini dapat dilihat dari kepentingan keterampilan menyimak terhadap keterampilan bahasa yang lainnya, yakni: (1) keterampilan menyimak merupakan dasar yang cukup penting untuk keterampilan berbicara. Ada yang berbicara harus ada yang menyimak atau sebaliknya, keduanya saling membutuhkan, (2) keterampilan menyimak juga merupakan dasar bagi keterampilan membaca atau menulis, petunjuk-petunjuk disampaikan melalui bahasa lisan . Ini berarti mereka harus menyimak, (3) keterbatasan penguasaan kosakata pada saat menyimak akan menghambat kelancaran membaca dan menulis.
Berikut ini diuraikan secara singkat hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran menyimak yaitu: (1) Ciri-ciri penyimak yang baik, (2) Jenis-jenis menyimak, (3) Tahap-tahap menyimak, (4) Faktor yang mempengaruhi menyimak (5) Kendala dalam menyimak, (6)Teknik pembelajaran menyimak, (7) Materi menyimak SMP menurut Kurikulum 2004, (8) Penilaian menyimak.
3.Pengertian Metode Diskusi
Istilah metode berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.
Metode diskusi ialah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia; sedemikian kompieksnya masalah tersebut sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu jawaban saja. tetapi kita harus menggunakan segala pengetahuan kita untuk memberi pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih-dari satu jawaban yang benar sehingga harus menemukan jawaban yang paling tepat di antara sekian banyak jawaban tersebut.
Kecakapan untuk memecahkan masalah dapat dipelajari.-Untuk iru siswa harus dilatih sejak kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, karenanya dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalam hal ini diskusi merupakanjalan yang banyak memberi kemungkinan pemecahan terbaik.
Selain memberi kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari
keputusan-keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan untuk peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat.
4.Penerapan Metode Diskusi di dalam Pembelajaran Keterampilan Menyimak
Seperti telah disinggung sekilas, bahwa metode tanya jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban, malah mungkin terdapat banyak jawaban yang benar.
Berikut ini merupakan langkah-langkah pembelajaran metode diskusi di dalam pembelajaran menyimak:
1)Guru dalam pelaksanaan diskusi siswa menjaga dan memelihara ketertiban diskusi
2)Guru mendampingi siswa menyimak wacana simakan yang akan didiskusikan
3)Guru mendampingi dan memberi pengarahan seperlunya selama pelaksanaan diskusi
4)Guru tidak banyak mencampuri atau mendominasi pelaksanaan diskusi
5)Guru memberikan pengarahan apabila terjadi selisih paham serta kemacetan pelaksanaan diskusi.
6)Guru memberikan pengarahan apabila terjadi selisih paham serta kemacetan pelaksanaan diskusi
7)Guru mencatat hal-hal penting permasalahan materi simakan yang belum tuntas didiskusikan oleh siswa
8)Guru menjelaskan permasalahan materi simakan yang belum tuntas dibicarakan dalam diskusi.
Kebaikan Metode Diskusi
1.Siswa belajar bermusyawarah
2.Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetahuan masing-masing
3.Belajar menghargai pendapat orang lain
4.Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah
Kekuranganan Metode Diskusi
1.Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari poko persoalan
2.Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian.
3.Membutuhkan waktu cukup banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud
Darjowidjojo, Soenjono. 1994. Butir-butir Renungan Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Salatiga: Univeristas Kristen Satya Wacana
Degeng, I.N.S. 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP dan IPTDI
Depdikbud. 1995. Pedoman Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta: Proyek Pembinaan Sekolah Dasar
Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM
Moeleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya.
Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang
Salamun, M. 2002. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren. Tesis.. Tidak diterbitkan
Sholhah, Anik. 2000. Pertanyaan Tutor dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di UM. Skripsi. Tidak diterbitkan.
Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
Sugiono, S. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Bahasa Indonesia; VI. Jakarta: 28 Oktober—2 Nopember 1993
Suharyanto. 1999. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Yogyakarta: Depdikbud
Langganan:
Postingan (Atom)
