Selasa, 15 Maret 2011

POTRET GAYA BAHASA DALAM CERPEN TERBANG KARYA AYU UTAMI: TINJAUAN ILMU STILISTIKA

POTRET GAYA BAHASA DALAM CERPEN TERBANG KARYA AYU UTAMI: TINJAUAN ILMU STILISTIKA


Oleh Kelompok:

1. ERIECK NORMADIANSYAH (070210402098)
2. MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
3. FERI ANGGRIAWAN (080210402011)
4. ABDUL WARIS GUNAWAN (080210402033)
5. NUNUNG WAHYU HIDAYAT (080210402037)






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011



A. PENDAHULUAN

Cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang habis dibaca sekali duduk. Menurut Soeharianto (1982), cerpen adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau sedikit tokoh yang terdapat di dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra itu. Jadi jenis cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan menjadi cerita pendek, jika ruang lingkup permasalahannya tidak memenuhi persyaratan sebagai cerpen.
Di dalam penulisan karya sastra seperti cerpen untuk menyampaikan pikiran pengarang yakni melalui bahasa. Bahasa dalam karya sastra merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian atau konvensi dari masyarakat. Bahasa yang digunakan di dalam karya sastra cenderung menyimpang dari kaidah kebahasaan, bahkan menggunakan bahasa yang dianggap aneh atau khas. Penyimpangan penggunaan bahasa dalam karya sastra, menurut Riffaterre (dalam Supriyanto, 2009: 2) disebabkan oleh tiga hal yaitu displacing of meaning (pengganitan arti), dan creating of meaning (perusakan atau penyimpangan arti), dan creating of meaning (penciptaan arti).
Oleh karena banyak penyimpangan arti di dalam karya sastra, maka pengamatan atau pengkajian terhadap karya sastra (cerpen) khususnya dilihat dari gaya bahasanya sering dilakukan. Pengamatan terhadap karya sastra (cerpen) melalui pendekatan struktur untuk menghubungkan suatu tulisan dengan pengalaman bahasanya disebut sebagai analisis stilistika.
Salah satu cerpen yang sangat menarik untuk dikaji menggunakan analisis stilistika adalah cerpen Terbang karya Ayu Utami. Cerpen ini menarik untuk dikaji karena mengandung banyak gaya bahasa. Sehingga dari kelebihan itulah disini peniliti menentukan rumusan masalah berdasarkan analisa gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen Terbang karya Ayu Utami yang ditinjau dari ilmu stilistika.




B. TINJAUAN TEORI

1. Definisi Stilistika
Analisis stilistika menaruh perhatian pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Persoalan yang menjadi fokus perhatian stilistika adalah pemakaian bahasa yang menyimpang dari bahasa sehari-hari, atau disebut bahasa khas dalam wacana sastra. Penyimpangan penggunaan bahasa bisa berupa penyimpangan terhaap kaidah bahasa, banyaknya pemakaian bahasa daerah, dan pemakaian bahasa asing atau unsur-unsur asing. Penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan tersebut diduga dilakukan untuk tujuan tertentu.
Pusat perhatian stilistika adalah penggunaan bahasa (gaya bahasa) secara literer dan sehari-hari. Sebagai stylist, seseorang harus mampu menguasai norma bahasa pada masa yang sama dengan bahasa yang dipakai dalam karya sastra. Penggunaan gaya bahasa juga diarahkan oleh bentuk karya sastra yang ingin dihasilkan. Misalnya, gaya penataan prosa fiksi (cerpen) berbeda dengan gaya penataan bentuk puisi. Dalam cerpen, selain fokus dalam alur cerita, penulis dapat menggunakan gaya bahasa dan bahasa kiasan agar cerpen yang dihasilkan lebih hidup dan menarik pembaca.
Salah satu cerpen yang sarat dengan gaya bahasa dan bahasa kiasan adalah Cerpen Terbang karya Ayu Utami. Hampir di setiap paragrafnya terdapat gaya bahasa yang menggunakan kata kiasan sehingga pembaca diajak untuk menikmati kalimat demi kalimat, bukan hanya menikmati alur ceritanya saja. Jadi dari kelebihan cerpen inilah peniliti mengambil

2. Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan pengungkapan ide, gagasan, pikiran-pikiran seorang penulis yang meliputi hierarki kebahasaan yaitu kata, frasa, klausa, bahkan wacana untuk menghadapi situasi tertentu. Selain itu gaya bahasa juga sebagai pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tulis.
Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas citraan, pola rima, matra yang digunakan sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra. Jadi majas merupakan bagian dari gaya bahasa. Majas merupakan peristiwa pemakaian kata yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau menyimpang dari arti harfiah (Aminudddin. 1995). Gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati pengarang.
Meskipun ada banyak macam gaya bahasa ataupun majas, di dalam analisis ini peniliti hanya menekankan pada kenyataan macam majas yang terdapat dalam cerpen Terbang karya Ayu Utami ini. Berikut daftar gaya bahasa yang terdapat dalam cerita.
a) Alegori
Adalah cara menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
b) Simile
Adalah pengungkapan dengan menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung seperi layaknya, bagaikan, bagai dan seperti.
c) Metafora
Adalah pengungkapan berupa perbandingan analogis satu hal dengan hal lain, dengan menghilangkan kata-kata seperti, layaknya, bagaikan.
d) Aptronim
adalah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan.
e) Litotes
Adalah ungkapan berupa mengkecilkan fakta dengan tujuan untuk merendahkan diri.
f) Hiperbola
Adalah cara pengungkapan dengan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk akal.
g) Personifikasi
Adalah cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
h) Eksklamasio
Adalah ungkapan dengan menggunakan kata seru. Misalnya wah, ahh, ohh, lho, dll.






C. PEMBAHASAN

1) Hiperbola
Adalah cara pengungkapan dengan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk akal. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa hiperbola:

Lagian, meski persentase lebih kecil pun, kalau kita kena lotre buruk, meledak ya meledak, nyemplung ke laut ya nyemplung ke laut. Itu namanya sial, kalau bukan takdir. (Paragraf 6)

Analisis gaya bahasa hiperbola di atas begitu nampak pada maksud tokoh yang begitu melebih-lebihkan dugaan yang belum dialaminya. Padahal kalau dipikir secara rasional dugaan itu hanyalah sebuah perasaan takut (menghantu-hantui/ trauma) yang dialami tokoh hendak naik pesawat terbang.

2) Metafora
Adalah pengungkapan berupa perbandingan analogis satu hal dengan hal lain, dengan menghilangkan kata-kata seperti, layaknya, bagaikan. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa metafora:

Statistik mengatakan, moda transportasi pembunuh paling besar adalah lalu lintas darat. Begitu katanya. Kecelakaan maut motor lebih banyak daripada kecelakaan pesawat. Itu statistik. (Paragraf 4)

Analisis metafora pada kutipan cerita di atas nampak pada usaha membandingkan kecelakaan maut motor lebih banyak daripada kecelakaan pesawat hal ini dilakukan pengarang tanpa menggunakan kata-kata seperti, ataupun bagaikan untuk menegaskan gaya bahasa metafora.

3) Personifikasi
Adalah cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa personifikasi:

Adam Air terbang tanpa alat navigasi. Adam Air jeblug di laut. Mandala jatuh waktu lepas landas. Garuda meledak ketika mendarat. Semua terjadi dalam satu tahun! (Paragraf 6)

Analisis personifikasi pada kutipan cerita di atas terbukti pada usaha penginsanan terhadap benda mati sebagai manusia yang dilakukan pengarang nampak pada nama macam-macam pesawat yang mengalami kecelakaan. Nama macam-macam pesawat itu diibaratkan manusia yang mengalami musibah tanpa adanya dugaan dan perkiraan sebelum musibah menimpa.

4) Simile
Adalah pengungkapan dengan menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung seperi layaknya, bagaikan, bagai dan seperti. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa simile:

Mesin pesawat propeler sudah menyala. Derunya seperti makhluk hidup terkena bronkitis, penyakit yang sudah lama tidak disebut-sebut di negeri ini. (Paragraf 8)

Analisis simile pada kutipan cerita di atas yakni pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata seperti sebagai pengibaratan mesin pesawat yang sudah menyala dengan makhluk hidup yang terkena bronkitis.

5) Litotes
Adalah ungkapan berupa mengkecilkan fakta dengan tujuan untuk merendahkan diri. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa litotes:

Aku memandang ke bandara yang kecil, yang lebih pantas disebut rumah besar ketimbang pelabuhan. (Paragraf 7)

Analisis litotes pada kutipan cerita di atas nampak pada pengungkapan berupa mengkecilkan fakta dengan tujuan untuk merendahkan. Hal ini dilukiskan pengarang pada pengungkapan tokoh dalam menilai bandara yang seharusnya berukuran luas dan megah disamarkan berukuran kecil seperti rumah.

6) Alegori
Adalah cara menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa alegori:

Seorang peneliti lapangan. Seorang peneliti yang biasa di alam bebas. Di hutan. Bukan di lab. Di goa. Di padang rumput berpasir. Ia mengenakan kaca mata. Perawakannya keras. Otot kedang tangannya tegas. Urat- urat pada lengannya mencuat. (Paragraf 12)

Analisis alegori pada kutipan cerita di atas dilakukan pengarang dengan menggambarkan postur seorang peniliti lapangan dengan menggunakan bahasa kiasan yang alamiah atau berkaitan dengan fenomena yang ada pada seorang peniliti lapangan tersebut.

7) Aptronim
adalah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa aptronim:

Ia memiliki wajah lelaki baik. Lelaki baik adalah lelaki yang tidak tengil atau sesumbar, tidak sok tahu atau menggurui. Meski tidak berarti lelaki baik-baik. (Paragraf 17)

Analisis aptronim pada kutipan cerita di atas nampak pada pemberian nama salah satu tokoh cerita yang cocok dengan sifat atau peringainya. Hal ini dilakukan pengarang dalam pemberian nama pada laki-laki yang memiliki sifat baik.

8) Eksklamasio
Adalah ungkapan dengan menggunakan kata seru. Misalnya wah, ahh, ohh, lho, dll. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa eksklamasio:

Ohhh, berhati haluskan dia. “Jadi motret apa?”

Analisis eksklamasio pada kutipan cerita di atas terdapat pada penggunaan kata ‘Ohhh’ sebagai pengungkapan rasa ketakjuban, kagum, atupun heran. Terungkap ketika seseorang melihat ataupun tahu akan sesuatu hal yang baru atau beda.

D. KESIMPULAN
Dari analisis cerpen Terbang karya Ayu Utami yang ditinjau dari ilmu stilistika dapat disimpulkan bahwa di dalam cerpen tersebut mengandung gaya bahasa yang terdiri dari hiperbola, personifikasi, metafora, simile, litotes, alegori, aptronim dan eksklamasio. Gaya bahasa tersebut dimanfaatkan pengarang sebagai usaha memberikan efek estetis atau keindahan dalam cerita. Walaupun sebenarnya, tema yang diangkat Ayu Utami dalam cerpen Terbang ini merupakan tema yang sederhana, tetapi dengan kejelian dan teknik penulisan pengarang yang begitu baik maka cerpen ini menjadi karya sastra yang luar biasa. Hal keluarbiasaan itu nampak pada kekayaan gaya bahasa yang ada dalam cerita, sehingga begitu nikmat jika dibaca oleh pembaca. Hal ini menjadikan karya Ayu Utami menjadi lebih hidup dan berbeda degan karya lainnya.


E. DAFTAR RUJUKAN
Aminudddin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.
http://beningembun-apriliasya.blogspot.com/2010/07/kajian-stilistika-terhadap-cerpen.html
http://cerpenkompas.wordpress.com/tag/ayu-utami/
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. 2002. Jakarta: Balai Pustaka.
Kridalaksana, Harimutri. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Semarang : IKIP Semarang Press.

Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.





F. CERPEN

TERBANG
Oleh: Ayu Utami

Aku yang ngotot agar kami terbang terpisah. Kubatalkan satu tiket yang telah dipesan suamiku. Tiket murah pula, sehingga aku harus membayar besar untuk perubahan jadwal. Tapi, biar saja. Aku merasa lebih aman begini. Terbang terpisah darinya.
Kamu terlalu dramatis, Ari. Katanya. ………Tidak. Aku ini sangat realistis, Jati. Bantahku.
Sejak dua anak kami sudah bisa tidak ikut dalam perjalanan, sejak kami telah bisa meninggalkan mereka di rumah, aku memutuskan untuk tak akan terbang bersama suami dalam satu pesawat lagi. Atau terbang pada waktu bersamaan. Salah satu di antara kami harus terbang lebih dulu. Setelah pesawatnya dipastikan mendarat dengan selamat, barulah yang lain boleh berangkat. Ini keputusanku yang harus dilaksanakan. Jika suamiku menelikung tidak menurut—seperti kemarin ia mengurus tiket kami—ia akan tahu rasa. Aku membatalkan tiketku dan memesan sendiri.
Statistik mengatakan, moda transportasi pembunuh paling besar adalah lalu lintas darat. Begitu katanya. Kecelakaan maut motor lebih banyak daripada kecelakaan pesawat. Itu statistik.
Statistik juga bilang, kalau kepalamu ditaruh di kompor dan kakimu dibekukan di freezer, suhu tubuh di perutmu normal. Bantahku. Bagaimana kita mau mengabaikan fakta: Adam Air terbang tanpa alat navigasi. Adam Air jeblug di laut. Mandala jatuh waktu lepas landas. Garuda meledak ketika mendarat. Semua terjadi dalam satu tahun!
Lagian, meski persentase lebih kecil pun, kalau kita kena lotre buruk, meledak ya meledak, nyemplung ke laut ya nyemplung ke laut. Itu namanya sial, kalau bukan takdir. Karena itulah, daripada dua-dua dari kita kena takdir, lebih baik salah satu saja. Paling tidak, dengan begitu anak kita tidak jadi yatim piatu.
Tak ada lagi cerita terbang bersama atau bersamaan.
Titik.
Aku mengunci gesper sabuk pengaman. Mesin pesawat propeler sudah menyala. Derunya seperti makhluk hidup terkena bronkitis, penyakit yang sudah lama tidak disebut-sebut di negeri ini. Kini orang lebih mengenal infeksi saluran pernapasan atas alias ISPA. Kira-kira begitu aku merasa derau mesin baling-baling ini. Setiap saat bisa batuk darah. Lalu kolaps. Aku memandang ke bandara yang kecil, yang lebih pantas disebut rumah besar ketimbang pelabuhan. Suamiku tampak di sana, berdiri kacak pinggang, menunggu saat melambai hingga pesawat lenyap di udara, di atas gunung-gunung yang berkeliling.
Aku menelan ludah. Terbang adalah menyetorkan nyawa kepada perusahaan angkutan umum. Kita bisa mengambilnya kembali. Bisa juga tidak. Dan tak ada rente. Kalau untung, hanya ada tiba dengan selamat.
Aku sesungguhnya sangat takut. Penyiksaan akan berlangsung tujuh jam, termasuk transit dan ganti pesawat. Tapi selalu ada cara untuk survive. Kusetorkan diriku yang cemas, yang bertanggung jawab, yang berkeringat dingin membayangkan anak-anakku kehilangan ibu yang menghangatkan mereka dalam sayap-sayapku, yang menitikkan air mata atas jerih payah suami bagi kami. Kusetorkan diriku yang itu bersama jiwaku ke kotak hitam di kokpit. Jati, kalau ada apa-apa denganku, aku yang kamu miliki ada di kotak hitam itu, ya.
Yang duduk di kursi sekarang adalah aku yang lain. Aku yang kuat untuk menghadapi kengerian. Yaitu, aku yang tak bertanggung jawab. Aku yang tak memiliki suami ataupun anak-anak. Aku yang lajang petualang.
Dan lihatlah. Seorang lelaki tergesa-tergesa melewati pramugari yang cemberut karena ia membuat penerbangan telat jadwal. Ia meletakkan bagasi ke dalam kabin di atas kepalaku. Ia mengangguk kepadaku sebelum duduk di kursi sebelahku. Terhidu bau tubuhnya. Bau hangat manusia. Aku membalas ringan dia, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Pesawat mulai ber- gerak. Jati melambai di bawah sana. Aku membalas. Selamat tinggal!
Kira-kira dia adalah seorang peneliti. Seorang peneliti lapangan. Seorang peneliti yang biasa di alam bebas. Di hutan. Bukan di lab. Di goa. Di padang rumput berpasir. Ia mengenakan kaca mata. Perawakannya keras. Otot kedang tangannya tegas. Urat- urat pada lengannya mencuat. Itulah yang dapat terlihat jika aku tak mau jelas-jelas menoleh kepadanya. Pada ransel yang diletakkan di bawah kursi depan, tersangkut botol minum aluminium SIGG. Dengan stiker “kurangi plastik”. Ia mengenakan sepatu gunung Eiger.
Ataukah dia orang film. Film dokumenter lingkungan. Ah, aku tak bisa melihat lipatan perutnya, meskipun ia mengenakan T-shirt kelabu yang dimasukkan di balik kemeja korduroi hitam yang terbuka. Ia pasti memiliki six-pac yang lumayan. Dari kulit jemarinya, kira-kira ia empat puluhan.
Sebetulnya, sudah lama aku tak ingin ngobrol dengan orang seperjalanan. Sia-sia. Lebih baik baca buku daripada menghabiskan waktu dengan makhluk yang tak memberi kita pengetahuan dan tak akan kita ingat lagi. Setidaknya, buku menambah isi kepala. Manusia sering-sering cuma menghabiskan urat kepala.
Kukeluarkan buku. Kuletakkan di pangkuan, sebab aku sulit membaca ketika lepas landas dan lampu tanda kenakan sabuk belum mati. Java Man. Garniss Curtis, Carl Swisher & Roger Lewin. Aku ingin memejamkan mata dan berdoa, tapi kulihat lelaki di sebelahku bergerak. Gerakan mencontek judul buku, kutahu dengan sudut mataku. Ah, tebakanku takkan jauh. Ia orang lapangan, bergerak di sekitar soal lingkungan.
Aku menyadari pesawat ini tak punya lampu tanda kenakan sabuk pengaman. Sialan. Kuno amat. Setelah burung bronkitis ini terbang mendatar, aku menarik napas lega yang pertama, dan mulai membaca lagi. Kutangkap lagi dengan sudut mataku, ia bereaksi terhadap bacaanku. Ah! Kupergoki saja dia. Sambil bisa kuperhatikan sekalian, seperti apa mukanya.
Ia memiliki wajah lelaki baik. Lelaki baik adalah lelaki yang tidak tengil atau sesumbar, tidak sok tahu atau menggurui. Meski tidak berarti lelaki baik-baik. Lelaki baik-baik, yaitu yang setia kepada keluarga, bisa saja sa- ngat menyebalkan dan suka membual demi menegakkan citra kepala keluarga. Lelaki baik adalah lelaki yang menyenangkan untuk diajak ngobrol bersama, meski belum tentu baik untuk hidup bersama.
Nah! Ia tertangkap basah sedang mencontek!
Aku tersenyum padanya. Toh tadi juga kami sudah saling mengangguk.
“Sudah pernah baca?” tanyaku.
“Boleh lihat?”
Dan tentu saja kami jadi bercakap-cakap. Ia memang lelaki baik. Kebanyakan lelaki punya beban untuk tampak lebih tahu dari perempuan. Tapi dia tidak. Dia banyak bertanya tentang duniaku. (Kebanyakan lelaki lebih suka menjawab tentang diri sendiri. Jika kita tidak bertanya, mereka akan membikin pertanyaannya sendiri dan menjawab sendiri.) Dari cara bertanyanya, ia mirip wartawan dari koran atau majalah yang baik pula. Jadi, apa kerjanya?
“Macam-macam sudah saya coba,” katanya. “Saya pernah kerja di pertambangan. Saya pernah kerja di kapal.”
“Di kapal?”
“Di kapal, jadi juru masak, jadi fotografer….”
“Jadi juru masak?”
“Iya. Jadi juru masak di kapal. Jadi fotografer di kapal….”
Tak bisa tidak aku menyimak dia dari rambut ke sepatu, mencari jejak-jejak pekerjaan itu. Ia memiliki gestur yang rendah hati. Barangkali ia lebih pekerja badan ketimbang peneliti.
“Jadi penjahit juga pernah. Beternak ayam juga pernah. Mencoba kebun kelapa sawit kecil-kecilan pernah juga….”
Kini aku mencari-cari tanda jika ia berbohong. Atau sedikitnya bercanda. Tapi wajahnya tulus seperti hewan.
“Jadi, kenapa ayam-ayam negeri itu bisa bertelur tanpa dijantani? Ayam kampung tidak begitu, kan?” tanyaku, juga tulus, tapi juga mengetes.
Ia kelihatan senang dengan kata itu. Dijantani. “Sesungguhnya, buat saya itu juga misterius.”
Ia tidak memberi aku jawaban yang memuaskan. Tapi ia menceritakan rincian pengalaman yang membuat aku percaya bahwa ia tidak berbohong. Ia tidak mengaku-ngaku peternak ayam, berkebun kelapa sawit, juru masak, fotografer. Jadi, apa yang dikerjakannya di kepulauan Indonesia timur ini? Memotret perburuan ikan paus?
Tebakanku tidak terlalu meleset.
“Memotret. Tapi bukan ikan paus. Biar orang lain saja yang mengerjakan itu. Saya… tidaklah saya motret binatang dibunuh.”
Oh, berhati haluskan dia. “Jadi motret apa?”
“Saya,” ia berdehem, “saya mencari sebanyak-banyaknya orang pendek. Orang katai. Saya potret mereka. Pernah dengar tentang Manusia Liang Bua?”
“Untuk siapa? Untuk proyek sendiri?” “Untuk satu majalah luar negeri.”
Lalu ia bercerita betapa sarjana asing senang mencari jejak manusia purba di Indonesia. Persis yang saya baca di buku ini, sahutku. Dan kami tenggelam sejenak dalam halaman-halaman dan referensi yang sempat diingat. Tangan kami tanpa sengaja bersentuhan ketika menelusuri spekulasi yang terdedah, lembar demi lembar. Dan pada lembar-lembar berikutnya aku tak tahu apakah persentuhan itu tetap tak sengaja.
Ia bercerita tentang dua spesies manusia pada sebuah zaman. Yang lebih purba dan yang lebih baru. Pada sebuah titik, yang lebih purba punah. Dialah manusia neanderthal, dengan ciri-ciri bertulang kepala lebih ceper dan tulang alis lebih menonjol. Tapi, sebelum mereka punah, dua spesies itu ada bercampur pula. Maka, keturunan manusia yang lebih purba masih kadang-kadang ditemukan di kehidupan sekarang. Ciri-cirinya, bertulang kepala lebih ceper dan tulang alis lebih menonjol. “Seperti saya, barangkali.” Ia nyengir lucu.
Aku memerhatikan dia. Ah, itukah yang membuat wajahnya tampak tulus seperti hewan? Penerbangan berganti di Surabaya. Mendung menggantung.
“Sekarang semua fotografer pakai digital, ya?”
“Kalau dari segi kualitas, film tetap lebih sensitif. Tapi, dari segi kepraktisan, digital memang tak terkalahkan.”
“Saya tidak suka teknologi. Teknologi membuat yang tua tidak dihargai. Semua barang elektronik cepat jadi tua dan tak berguna. Tidak adil.”
Kenapa kukeluhkan ini? Adakah diriku yang cemas dan menyadari bahwa aku tak terlalu muda lagi untuk bergenit-genit dengan lelaki?
“Kenapa,” kataku agak grogi, mencari tema baru. “kenapa kamera digital semakin tahun semakin biru pucat gambarnya?” Tapi ini bukan tema baru. Ini tema yang sama. Tentang kecemasan menjadi tua.
“Itu jeleknya kamera digital. Setiap kamera digital memang hanya untuk memotret sejumlah kali tertentu. Setelah sekian kali, kemampuannya turun sama sekali. Biasanya, sekitar seratus ribu kali. Sebetulnya, itu tertulis di buku keterangan. Tapi tidak ada yang mau baca.”
“Jadi, setiap kamera digital lahir dengan kapasitas sekitar seratus ribu kali memotret?”
“Iya. Tertulis. Cuma orang enggak mau baca.”
“Ada yang bilang, setiap lelaki juga begitu. Lahir dengan sejumlah tertentu kapasitas orgasme.”Ia diam sebentar. Lalu tawanya meledak.
“Kalau jumlah itu sudah terlewati, berarti jatahnya habis,” kataku lagi.
Ia tertawa lagi. Tapi, sesungguhnya aku tidak melucu. Aku sendiri tak tahu apa motifku. Apakah aku ingin tahu adakah teori itu benar. Ataukah, aku sesungguhnya sudah merasa intim dengan lelaki berbau manusia ini. Aku tak tahu apa yang kukatakan.
Kutemukan ia menatapku lebih lama. Dan lebih dalam. Kubalas ia sebentar. Setelah itu aku merasa wajahku hangat. Kubu- ang pandangan ke jendela. Aku lebih muda dari dia. Tapi tetap aku tak muda lagi. Dan aku beranak dua. Meskipun diriku yang bertanggung jawab telah kutitipkan bersama nyawaku di kotak hitam.
Aku ingin bertanya padanya. Jatahmu sudah diboroskan belum?
Pesawat melonjak. Bagai ada lubang besar di jalanannya. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman menyala. Aku merasa berayun ke kiri ke kanan. Seperti dalam bis malam yang mencicit di jalan licin berbatu. Aku mencoba tidak mencengkeram dahan kursi. Tapi keringat dinginku merembes sedikit di dahi.
Tiba-tiba ia menangkupkan tangannya pada tanganku di tangkai kursi. Seperti seorang suami. Kalau ada apa-apa, kita mengalaminya bersama-sama.
Aku memejamkan mata. Aku tak tahu, apakah dalam sisa perjalanan aku bersandar di bahunya.
Tapi, pesawat mendarat juga di Soekarno-Hatta. Ia membantuku mengemasi bagasi.
Aku telah di tanah lagi. Aku harus pergi ke kokpit mengambil kembali nyawa dan diriku dari kotak hitam. Nyawa dan diriku yang lebih peka dan penakut ketimbang yang duduk tadi. Ingin rasanya aku meminta lelaki berwajah baik itu menemaniku terus sampai sepotong jiwaku bergabung kembali. Sepotong yang dibawa Jati….




Kompas, 13 Maret 2008

Jumat, 25 Februari 2011

Rumusan Masalah Penelitian

MASALAH PENELITIAN
( Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Metodologi Penelitian Bidang Studi )


Oleh Kelompok 2:

1. MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
2. YUAIDA DWI FATMAWATI (080210402017)
3. ACHMAD WAHYUDI (080210402023)
4. ARINI SUSANA (080210402031)
5. DIDIN DWI ERLIANI (080210402038)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011


MASALAH PENELITIAN
Masalah penelitian merupakan titik awal sebuah proses penelitian. Tidak akan ada proses penelitian tanpa adanya masalah yang dapat diidentifikasikan dan dirumuskan dengan jelas, dengan dukungan alasan yang aktual masuk akal. Dari teori-teori yang ada yang ada dan asumsi-asumsi yang disusun seorang penelitian dapat mengembangkan hipotesis. Dengan dirumuskannya masalah penelitian secara lebih rinci dan peneliti dapat menetapkan populasi penelitian, tehnik pengumpulan dan analisis data yang dapat diterapkan untuk menjawab permasalahan tersebut.
Masalah penelitian
Tiga hal yang harus dirumuskan sebelum suatu penelitian dapat dilakukan. Ketiga hal tersebut adalah masalah yang akan diteliti atau pertanyaan yang akan dijawab, metode penelitian atau cara yang akan ditempuh untuk menemukan jawaban dari permasalan tersebut, dan alas an mengapa penelitian tersebut dilakukan (Huda,1988:1). Identifikasi dan perumusan masalah yang akan diteliti merupakan langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti karena tanpa identifikasi dan perumusan masalah yang jelas sebuah penelitian akan kehilangan makna dan landasan ontologis sebagai kerangka kajian yang akan dilakukan.
Masalah adalah sesuatu yang memerlukan jawaban, penjelasan atau pemecahan. Masalah sering dirumuskan sebagai “kesenjangan anatara harapan dan kenyataan”. Masalah penelitian lahir karena keingintahuan. Seorang (calon) peneliti harus cukup peka untuk dapat mengidentifikasi aspek-aspek kehidupan dan peristiwa alam yang memiliki potensi untuk melahirkan masalah penelitian. Penanda terpenting dari masalah penelitian adalah adanya “keresahan” yang mungkin timbul sebagai akibat belum terjawabnya suatu masalah penelitian. Yang dapat berupa dorongan rasa ingin tahu yang kuat (curiousity) dalam diri peneliti, ketidaklancaran suatu proses atau rendahnya kinerja dan hasil kerja karena masih ada hal-hal yang belum terjelaskan dengan baik atau adanya elemen yang belum memenuhi tuntutan standar mutu proses yang bersangkutan.
Sebuah fenomena bukanlah masalah penelitian selama penelititidak mempersoalkan aspek-aspek tertentu yang memangpotensial untuk memerlukan permasalahan. Dengan kata lain masalah penelitian harus “digali” oleh peneliti dari konteksnya.
Sumber masalah penelitian
Sumber masalah penelitian adalah alam semesta dengan segala isi semua fenomena yang ada di dalamnya. Peneliti bertugas untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul dari keberadaan dan dinamika semesta tersebut. Dalam perakteknya, seorang peneliti sering mengalami kendala-kendala yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang dangkal trivial dan parsial atau isolated. Sebagian dari calaon peneliti dalam menemukan masalah penelitian sering menggunakan cara-cara yang praktis dengan menggunkan ‘sumber-sumber sekunder’ yaitu library atau kepustakaan. Salah satu ukuran yang biasa dipakai untuk menilai bahan pustaka sebagai sumber masalaah adalah aktualisasi atau kekinian isi sumber berita.
Howard dan Sharp mengurutkan gradasi nilai bahan-bahan pustaka tersebut sebagai sunber masalah penelitian sebagai berikut:
1. Tesis dan desertasi
2. Artikel dalam jurnal akademik dan profesional
3. Laporan penelitian
4. Buku dan tinjauan buku
5. Kominikasi dengan ahli-ahli bidang yang terkait
6. Pendapat para ‘pemakai’ hasil penelitian
7. Hasil diskusi dengan teman sejawat
8. Media lain dalam arti luas
Penyimpangan-penyimpangan dari sesuatu yang rutin sering dapat diidetifikasi dengan cermat oleh awam (sekalipun) yang akrab demngan situasi dan dan kebiasaan etempat yang telah berlangsung lama. Ini seringkali menjadi sumber masalah penelitian yang potensial, sehingga seorang calaon peneliti haris melakuka evaluasi yang seksama sebelium benar-benar diangkat sebagai suatu fokus kajian.
Teknik Pengembangan Masalah Penelitian
Menurut Howard & Sharp (1986) teknik pengembangan masalah penelitian menggunakan tiga pendekatan yakni analogi, mengembangkan peta permasalahan, dan analisis morfologi.
1. Analogi
Pendekatan analogi di dalam proses pengembangan penilitian sebagai inspirasi bagi peniliti untuk mengembangkan pemikiran yang sejalan dengan paradigma penilitian yang telah ada. Selain itu pendekatan analogi juga memberikan inspirasi digunakannya metodelogi yang telah terbukti sukses yang sebelumnya sudah dilakukan oleh peniliti lain.
Sebagai contoh peniliti yang tertarik akan masalah pengembangan kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia dapat menggunakan pendekatan penelitian yang sudah pernah diterapkan di negara lain.
2. Peta Permasalahan
Peta permasalahan dapat dimanfaatkan oleh peniliti untuk mengembangkan masalah penilitian dengan menjabarkan ide-ide terkait berlandaskan suatu konsep dasar. Sehingga diharapakan adanya peta permasalahan ini peniliti dapat menjabarkan masalah yang dikaji dan kemudian dapat memfokuskan kajiannya pada topik permasalahannya.
3. Analisis Morfologis
Analisis morfologis bertumpu pada suatu proses yang terdiri dari tiga langkah di dalam pengembangan masalah penilitian. Berikut ketiga langkah tersebut:
a) Identifikasi faktor-faktor utama dari suatu masalah.
b) Mendaftar berbagai tingkatan dari faktor-faktor tersebut.
c) Merumuskan berbagai pola hubungan yang mungkin terjadi antara faktor-faktor tersebut.

Fisibilitas Permasalahan
Sebelum penelitian diambil apakah suatu penelitian layak untuk dikerjakan atau tidak perlu dievaluasi menurut beberapa kriteria seperti disebutkan di bawah ini:
1. Kemungkinan diperolehnya data yang diperlukan
2. Dapat-tidaknya dikembangkan disain penelitian yang sesuai
3. Ketersediaan waktu yang dibutuhkan
4. Dikuasainya keterampilan teknik yang dibutuhkan
5. Ketersediaan dana
6. Resiko yang harus dihadapi
7. Kesesuaian dengan minat peneliti
Selain kriteria di atas peneliti perlu memperhatikan keaslian (orijinalitas) dan simetri permasalahan yang akan dikaji. Pertimbangan orijinalitas akan menghindarkan peneliti dari duplikasi atau replikasi yang tidak perlu. Simetris permasalahan (Howard & Sharp, 1986:37) berkaitan dengan perkiraan nilai hasil penelitian yang akan diperoleh.
Latar Belakang Dan Rumusan Masalah Penelitian
Dalam perencanaan penelitian yang diwujudkan dalam bentuk proposal jawaban peneliti terhadap pertanyaan “Mengapa masalah ini dipilih untuk diteliti?” dimuat dalam bagian yang disebut latar (belakang) masalah. Dengan menulis latar belakang masalah peneliti menyakinkan dirinya sendiri, anggota tim penelitiannya dan pihak-pihak terkait (supervisor, sponsor, penguji, panitia, dan sebagainya) bahwa penelitian yang direncanakannya benar-benar bernilai layak dilakukan, serta konsisten dengan kaidah-kaidah keilmuan yang ada.
Setelah memilih masalah yang akan diteliti dengan “justifikasi” yang cukup peneliti harus merumuskan masalahnya dalam suatu rumusan yang jelas. Perumusan itu hendaknya sedemikian rupa sehingga dengan membaca rumusan ini orang akan tau apa yang akan diteliti dan sekaligus memiliki gambaran tentang berbagai aspek penelitian tersebut: jenis data yang akan dikumpulkan dan teknik pengumpulkan data yang akan dipakai, populasi penelitian dan lain-lain. Menurut Ary dkk (1979) perumusan masalah yang baik harus memenuhi dua syarat: (1) menyebutkan dengan jelas apa yang akan dicari jawabannya dan (2) jelas ruang lingkupnya. Kedua syarat ini dapat dipenuhi apabila peneliti menyebutkan dengan jelas hal-hal sebagai berikut:
1. Variable-variabel yang terkait
2. Hubungan diantara variable-variabel tersebut
3. Populasi terkait atau sasaran kajian yang merupakan subjek-subjek yang paling jelas keterkaitannya dengan permasalahan yang dikaji
4. Berbagai atribut (lokasi, waktu, dsb) yang berfungsi membatasi lingkup kajian yang berkaitan dengan tempat dan waktu terjadinya permasalahan maupun identitas khusus dari populasi/bagian populasi yang bersangkutan.
Pada umumnya masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, variable tersebut. Ditinjau dari cakupan aspek yang terkait rumusan masalah penelitian dibedakan menjadi dua tingkatan rumusan masalah umum yang menunjukkan keseluruhan permasalahan penelitian secara utuh, dan rumusan masalah khusus yang berfokus pada aspek-aspek tertentu dari permasalahan yang dikaji.
Asumsi
Dalam konteks penelitian asumsi diartikan sebagi anggapan dasar, yaitu sesuatu yang diakui kebenarannya atau dianggap benar tanpa harus dibuktikan terlebih dahulu. Peneliti tidak perlu melakukan pengamatan atau pengukuran khusus untuk mengetahui kebenaran, tatapi langsung menggunakannya sebagai pijakan berfikir dalam penelitiannya.
Asumsi diajukan agar peneliti dapat mengembangkan rancangan penelitian yang valid. Dalam bahasa metodologi penelitiannya tidak terancam oleh sumber-sumber ketiodakvalidan. Rancangan penelitian adalah acuan untuk menyusun hipotesis penelitian. Karena itu itu harus bebas dari sumber-sumber ketidakvalidan.
Tidak semua penelitian memerlukan asumsi, jadi peneliti tidak perlu memaksakan suatu asumsi jika memang tidak secara fungsional dibutuhkan. Kadang-kadang asumsi juga tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi sudah diperhitungkan oleh peneliti untuk mengantisipasi hasil penelitian yang jauh menyimpang dari yang diharapkan.
Asumsi dibedakan menjadi tiga jenis menurut sifatnya, yaitu:
1. Asumsi konseptual
Asumsi konsepsual berakar pada pengakuan akan kebenaran suatu konsep atau teori.
2. Asumsi situasional/probabilistis
Asumsi situasional diperlukan apabila peneliti melihat atau mengantisipasi adanya kondisi local atau situasi yang bersifat sementara yang berpotensi mempengaruhi atau menentukan berlakunya suatu hokum atauprinsip sehingga dapat menggoyahkan rancangan penelitian yang telah disusun.
3. Asumsi prakmatik/operasional
Asumsi pragmatic bertolak dari masalah-masalah operasional yang sebenarnya masih di dalam jangkauan peneliti untuk mengendalikannya. Tetapi karena alasan-alasan praktis, kebenaran hal-hal yang seharusnya dikendalikan tersebut dijadikan asumsi saja.
Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah-masalah yang diteliti. Dinyatakan sebagai jawaban sementara karena kebenaran suatu hipotesis masih harus diuji dengan data yang akan dikumpulkan. Dalam penelitian kuantitatif hipotesis merupakan produk dari paradigma pendekatan ‘logiko-hipotetiko-verifikatif’ yaitu pendekatan berfikir deduktif yang mengandalkan pendayagunaan logika yang bersandar pada teori, prinsip, konsep, dan kaidah yang berlaku. Hasil berfikir deduktif inilah yang diwujudkan dalam bentuk hipotesis untuk dibuktikan kebenarannya.
Hipotesis disusun setelah peneliti melakukan kajian kepustakaan secara tuntas. Tetapi untuk menyegerakan pemahaman pembaca atas masalah dan konteks penelitian sering hipotesis sudah disajikan pada bagian awal sebuah laporan penelitian. Hal ini tidak menjadi masalah karena pembaca tidak tidak terlibat dalam proses pengembangan hipotesis tersebut dan hanya berkepentingan untuk mengetahui jalan pikiran peneliti dalam mencari jawaban atas permasalahan yang dikajinya. Hipotesis diperlukan untuk mengarahkan langkah-langkah penelitian selanjutnya, digunakan untuk analisis data. Perlu dicatat bahwa tidak semua penelitian memerlukan hipotesis.
Hipotesis dibedakan menjadi dua macam yaitu hipotesis alternatif (H1) dan hipotesis nihil (H0). Hipotesis alternatif adalah rumusan formal hasil analisis deduktif peneliti mengenai masalah yang dikajinya. Misalnya, “ Ada hubungan antara IQ dan pencapaian belajar untuk anak-anak di bawah tingkat kemampuan berfikir normal”. Hipotesis nihil disusun untuk kepentingan pengujian statistik, dan dinyatakan dengan kalimat negatif seperti, “Tidak ada hubungan antara IQ dan pencapaian belajar untuk anak-anak di bawah tingkat kemampuan berfikir normal”. Hipotesis inilah yang nantinya akan diterima atau ditolak dalam pengujian statistik.
Rumusan hipotesis yang baik menurut syarat-syarat seperti rumusan masalah penelitian, yaitu:
1. Menyebutkan variabel-variabel yang terkait
2. Menyebutkan hubungan di antara variabel-variabel tersebut
3. Menyebutkan populasi atau sasaran kajian
4. (kadang-kadang) berbagai atribut (lokasi, waktu,dsb) yang membatasi lingkup kajian.
Contoh rumusan hipotesis alternatif.
• Hubungan antara intelegensi dan nilai rata-rata semester lebih kuat di kalangan mahasiswa laki-laki daripada mahasiswa perempuan.
Contoh hipotesis nihil.
• Hubungan antara intelegensi dan nilai rata-rata semester tidak lebih kuat di kalangan mahasiswa laki-laki daripada mahasiswa perempuan.
###

Contoh Rumusan Masalah Penelitian


• JUDUL :
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPTIF MELALUI KUNJUNGAN LAPANGAN PADA SISWA KELAS IX SMP 5 TANGGUL
• RUMUSAN MASALAH :
Bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis paragraf deskriptif melalui kunjungan lapangan pada siswa kelas IX SMP N 5 Tanggul?
• ASUMSI :
Teknik pembelajaran kunjungan lapangan meningkatkan keaktifan siswa menulis paragraf deskriptif.
• HIPOTESIS :
H1 : Jika siswa kelas IX diberi perlakuan tindakan kelas berupa pembelajaran dengan kunjungan lapangan, kemampuan menulis paragraf deskriptif siswa kelas IX SMP 5 Tanggul akan lebih baik atau meningkat.
H0 : Jika siswa kelas IX diberi perlakuan tindakan kelas berupa pembelajaran dengan kunjungan lapangan, kemampuan menulis paragraf deskriptif siswa kelas IX SMP 5 Tanggul tidak akan lebih baik atau tidak meningkat.

Selasa, 22 Februari 2011

Cerpen Midun Aliassyah

Fatamorgana
Oleh: Midun Aliassyah & ZN


Rintik-rintik gerimis teratur berjatuhan di antara terik mentari yang panas menimbulkan bau yang tak sedap. Di ujung jalan terlihat cahaya terang pantulan senja yang indah. Aku duduk di depan teras kosanku yang sempit. Mata memandang senja terlihat bias warna merah keunguan. Melamun. Khayalanku terbang jauh, tinggi setinggi-tingginya. Terlintas dalam pikiranku, seandainya aku menjadi orang kaya dengan perusahaan sukses di bidang tekstil. Pastinya tiap hari aku akan menjadi orang kaya dengan mobil mewah buatan Jerman. Berdasi, memakai jas dan sepatu mengkilap dan menenteng tas sungguh nampak begitu wibawanya. Dan setiap aku berjalan melewati ruang-ruang karyawanku, pastinya karyawanku akan menyapa dan mengucap salam kepadaku.
“Selamat pagi pak!”
Tak ketinggalan, sekertaris cantik pastinya akan selalu memenuhi panggilanku kapanpun aku mau. Ahhh, begitu nikmatnya hidup ini….
Duuooorrr… secerah cahaya dari langit melerai disusul ledakan keras. Petir. Suaranya membuyarkan semua khayalanku secara tiba-tiba. Tapi memang, aku begitu menikmati khayalanku. Begitu gemuruh di langit berhenti sesegera mungkin khayalanku melambung lagi. Kali ini aku berandai-andai ingin menjadi seorang penulis best seller, teatris, atau mungkin sutradara film sukses. Anganku kali ini baru masuk akal. Cocok dengan jurusan kuliah yang aku tempuh. Sastra Indonesia.
Kubayangkan seandainya aku bermain drama, teater, mendeklamasikan puisi, atau bahkan menerbitkan beberapa karya tulisku keberbagai media masa. Hingga angganku berlanjut, seandainya aku menjadi seorang sastrawan legendaris seperti Chairil Anwar. Betapa sungguh bangganya aku. Meskipun badan berkalang tanah, namun nama tetap dikenang sepanjang masa. Dan seandainya aku bisa seperti Taufik Ismail, WS. Rendra ataupun sastrawan terkenal lainnya tentu aku akan mendirikan kelompok teater. Suatu wadah kesenian yang akan kuberi nama Fatamorgana. Ya, tepat sekali. Aku suka kata Fatamorgana yang berarti bayang-bayang semu. Tipuan mata.
Deghhh… kali ini aku lamuanku tersadar dengan sendirinya. Tanpa adanya petir ataupun suara gemuruh. Lalu kesadaran akal sadar, bahwa apa yang aku lamunkan tadi tak akan sanggup aku menggapainya semua. Memang aku sudah bisa menghasilkan beberapa karya. Tapi semua karyaku tak berharga. Semuanya berbau picisan. Tak mengandung makna berarti.
Tanpa aku sadari, ternyata aku telah merendahkan diri dan karya-karya yang selama ini aku hasilkan. Akal sehatku berkata. Bagaimana mungkin aku menjadi seorang sastrawan legendaris, sedangkan usahaku menjadi seorang penulis amatiran saja tak mampu. Tak tekun. Pemalas! Mungkin saja aku pantasnya menjadi seorang maling yang hanya memmikirkan bagaimana caranya agar dapat masuk rumah orang dengan selamat dan berhasil menguras seluruh harta pemiliknya. Jika demikian benarnya, tentu aku akan lebih bergantung pada nasib daripada berusaha dan berkarya.
Entah mengapa rasanya aku ingin berteriak melawan petir yang masih menyisa dengan suara yang meledak-ledak.
“Aaa…a…a… Dasar manusia bodoh!!”
Dengan sekejap semua orang menyemut di depan pagar kosanku. Mereka semua menatap tajam kearahku. Terlihat dari setiap tatapan matanya menunjukan amarah dan rasa kejengkelan. Tapi mataku tiba-tiba berani membalas tatapan tajam mereka. Satu-persatu. Aku tidak tau tujuan sebenarnya mereka menatapku seperti itu. Entah apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Aku hanya diam. Lalu tanpa kusadari tiga orang pemuda tinggi besar berotot melangkah mendekatiku. Tanpa alasan yang jelas, mereka menghadiahiku satu pukulan yang mendarat tepat di pipi kananku.
“Arrrgh!”
Sekejap pukulan keras itu membuatku tersungkur ke lantai. Beberapa orang pemuda lagi maju bersama tiga pemuda yang tadi menyerangku. Lalu dengan langkah sergap namun pasti mereka makin murka kepadaku. Menghantamkan kembali kepalan tangan dan tendangan kakinya. Membabi buta tanpa memedulikan keadaanku yang sudah sekarat.
“Dasar gembel, pembawa sial. Mati kau!” ucap salah satu seorang pemuda yang menganiayaku. Sedangkan keadaanku sendiri, sekarang yang aku rasakan hanya kegelapan yang ada. Aku juga tak bisa berbuat apa-apa selain diam menahan sakit yang terasa di sekujur tubuh. Aku tak mengira semua ini akan terjadi kepadaku. Khayalan atau kenyataan adanya? Tapi rasa amarah pemuda-pemuda itu kepadaku tak ada habisnya. Mereka tetap memukuliku habis-habisan. Seolah-olah aku di mata mereka seorang maling yang tertangkap basah saat beraksi.
“Kamu memang benar-benar sampah masyarakat!”
Hantaman demi hantaman tetap datang membuat aku makin tersungkur. Aku tak sanggup lagi menerima semua ini. Kucoba pejamkan mata erat-erat dan menutup mukaku dengan kedua telapak tangan. Namun tiba-tiba, sesuatu menghardikku….
“Hei!!! …. Jangan tidur saja kau! Sudah malam. Ayo berangkat ke kampus.”
Aku tersadar. Di sampingku ada temanku si Doni. Aku mengerjapkan kedua mataku. Lalu kuamati bagian tubuhku, ternyata di sekujur tubuhku tak ada tanda-tanda memar luka pukulan. Lalu rasa keherananku bertanya-tanya. Kemana perginya pemuda-pemuda yang memukuliku tadi? Tapi anehnya posisiku juga masih duduk manis di kursi. Dan kutolehkan ke arah barat, senja telah menghilang. Petir menghilang. Hujanpun sudah tak terlihat lagi air berjatuhan. Sekarang yang ada hanya kegelapan malam. Wahhh, mungkinkah tadi aku hanya bermimpi?
###

Malam semakin larut dalam kegelapan. Angin berhembus kencang memainkan tali helm yang aku pakai tapi talinya memang sengaja tidak aku ikatkan. Jalanan terasa makin malam makin enak untuk dipandang. Deretan kendaraan berlalu-lalang dengan sendirinya. Lampu terangnya makin menerangi garis tepi maupun tengah aspal. Sinarnya bak pengganti sinar terangnya sang rembulan dan bebintang yang malam ini mereka memang tak nampak di langit. Mungkin mereka semua malam ini ada rapat besar dengan orbit-orbit lain di luar angkasa. Rapat besar membicarakan masalah kiamat. Mungkin saja itu ada benarnya. Mereka semua merasa kesal dengan ulah manusia terhadapnya yang dikaitkan dengan datangnya kiamat. Karena akhir-akhir ini memang benar manusia gencar-gencarnya membicarakan datangnya kiamat di tahun mendatang. Ahhh, tapi kenyataan dan kebenarannya tentang datangnya kiamat kapan jadinya? Manusia hanya bisa pasrah. Biarkanlah takdir yang menjawab kiamatnya manusia….
“Hoe, Gading? Selamat yaa…..”
Bagus si sekertaris di organisasi yang aku pimpin dengan segerombolan mahasiswa lainnya menghampiriku. Ia nampak begitu bergembira akan kedatanganku. Barusaja aku hendak meletakkan helmku pada sepion kanan motor, ia secepat kilat menyambar dan memelukku dengan tiba-tiba. Aku sendiri merasakan keheranan pada tingkah sekertarisku ini.
“Selamat Bro… Fatamorgana sukses!”
Sukses. Apa maksud dari sekertaris dan juga sebagai kawan akrabku ini. Ada apa dengan Fatamorgana dengan kesuksesan? Lalu aku digiring Bagus menuju sanggar anak-anak Fatamorgana. Ternyata di dalam mereka terlihat sudah menantikan kehadiranku dari tadi. Anehnya mereka semua juga mengucapkan selamat kepadaku. Rasa kegembiraan juga terpancar dari raut wajah mereka.
Salah satu dari anak-anak perintis dan memperjuangkan keberadaan Fatamorgana agar mampu eksis di kampusku ini menyerahkan selebaran kertas kepadaku. Tapi sekilas aku melihat isi kertas itu membuat kesadaranku tergoncah. Dalam benakku bertanya-tanya.
Benarkah ini? Kenyataankah mimpiku dan teman-temanku akan keberadaan Fatamorgana yang selama ini kami nanti-nantikan keeksisannya di kampu kami?
Tubuhku tergoncang hebat. Keringatku mulai bercucuran dikit-dikit membasahi wajahku. Tapi satu yang aku rasakan. Ternyata usaha dan jerihpayahku yang akhir-akhir ini aku lakukaan dengan gigih bersama teman-temanku berhasil juga. Tepatnya Rektor telah menyetujui keberadaan Fatamorgana untuk ikut eksis berdiri di kampus Pelita ini. Yang memberikan wadah bagi mahasiswa yang akan haus akan dunia teater dan kesenian.
Benar-benar kabar yang membahagiakan. Lalu sesegera mungkin aku melakukan rapat bersama. Aku yang memimpin. Merapatkan akan pelaksanaan acara yang akan kami selenggarakan untuk ucap syukur atas keberhasilan uasaha yang kami lakukan.
Ahhh, sungguh adil. Usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh ternyata berbuah hasil yang tidak mengecewakan. Bertahap aku menata mimpiku yang selama ini aku angankan kebesarannya. Pastinya ini aku lakuakan juga bersama teman-temanku. Mimpi bagi penghaus dunia pecinta seni. Keberadaan Fatamorgana semoga saja mampu menjembatani impian yang kami bangun. Kini Fatamorgana merupakan kenyataan. Tidak lagi hanya sebatas angan atau bayang semu.
###
 

Jumat, 28 Januari 2011

POTRET PERMASALAHAN SOSIAL DALAM CERPEN URIP NGURIP KARYA MIDUN ALIASSYAH: TINJAUAN KRITIK SASTRA

POTRET PERMASALAHAN SOSIAL DALAM CERPEN URIP NGURIP KARYA MIDUN ALIASSYAH: TINJAUAN KRITIK SASTRA

(Disusun Sebagai Pengganti Ujian Akhir Semester Kritik Sastra)


Oleh:

MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Membaca cerpen Urip Ngurip karya Midun Aliassyah, yang dimuat di koran harian Radar Jember (Jawa Pos) edisi hari Minggu tanggal 13 Juni tahun 2010, seakan kita membaca wajah ekologis Indonesia serta masalah-masalah yang terdapat di dalamnya. Inilah yang coba dibeberkan pengarang kepada masyarakat (pembaca). Sehingga mereka mau mengintrospeksi diri mereka untuk selanjutnya diharapkan mereka bisa melakukan sesuatu hal untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Di dalam cerpen Urip Ngurip menyajikan masalah-masalah pelik tanpa disertai penyelesaian atas masalah-masalah sosial yang terjadi. Banyak masalah yang muncul akibat ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah terhadap permasalahan sosial. Mengakibatkan permasalahan soaial ini berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar yang menurun karena mereka kehilangan mata pencahariannya.
Permasalahan sosial ini kemudian menyebabkan meningkatnya kemiskinan. Sementara itu pihak pemerintah kurang peduli pada nasib. Pengrusakan dan penghancuran lingkungan pada zaman lampau membawa akibat-akibat yang panjang pada kehidupan masa kini. Semua dicoba ditransformasikan ke dalam kisah-kisah kehidupan yang dikaitkan dengan ekspresi menyimpan kegelisahan yang kuat melihat kurang responsifnya pemerintah terhadap berbagai macam pengrusakan lingkungan.
Cerpen Urip Ngurip menceritakan perjalanan hidup seorang pemuda yang menemui berbagai macam kepincangan dalam masyarakat yang berdampak bagi kelangsungan hidupnya. Masalah-masalah kemiskinan; keadilan; pengangguran; disorganisasi keluarga; pelanggaran tata tertib lalu lintas; kepadatan penduduk; polusi dan kebijakan pemerintah terhadap nasib rakyatnya diangkat Midun Aliassyah dalam cerpennya. Midun Aliassya juga mencoba mengungkapkan fakta berdasarkan pengamatan dan perenungannya terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Masalah-masalah sosial yang ia temui ia renungkan kemudian diolah, dengan imajinasinya ia tuangkan ke dalam sebuah cerpen.
Midun Aliassya melahirkan karya-karyanya karena ingin menunjukkan kepincangan-kepincangan sosial dan kesalahan-kesalahan masyarakat. Tentu saja hal ini tidak bisa dilepaskan dari peran Midun Aliassya sendiri sebagai anggota masyarakat yang selalu merasa terlibat. Idealisme dan pandangan Midun Aliassya akan berpengaruh dalam menanggapi masalah-masalah sosial yang disajikannya dalam sebuah cerpen. Secara tidak langsung Midun Aliassya akan mengungkapkan pendapat dan sikapnya atas masalah-masalah sosial yang terjadi dalam cerpennya tersebut. Masalah-masalah sosial yang disajikan Midun Aliassya atas fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat ke dalam cerpenya secara otomatis membuat cerpen tersebut mengandung kritik sosial yang ingin ia sampaikan kepada masyarakat agar mereka lebih peka terhadap lingkungan sosialnya.

1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan kritik permasalahan sosial apa saja yang terdapat dalam cerpen Urip Ngurip karya Midun Aliassyah?
Bagaimana pengaruh permasalahan sosial yang ada terhadap pola kehidupan tokoh utama?

1.3 Manfaat Penelitian
Mengetahui permasalahan kritik sosial apa saja yang terdapat dalam cerpen Urip Ngurip karya Midun Aliassyah.
Mengetahui pengaruh permasalahan sosial yang ada terhadap pola kehidupan tokoh utama.


BAB II
KAJIAN TEORI


2.1 Hakikat Kritik Permasalahan Sosial dalam Cerpen
Kata ‘kritik’ yang lazim kita pergunakan dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani krinein yang berarti ‘mengamati, membandingkan dan menimbang’. Dan kritik itu sendiri dapat didefinisikan sebagai pengamatan yang diteliti, perbandingan yang adil terhadap baik-buruknya kualitas nilai suatu kebenaran sesuatu (Tarigan,1985:187-188).
Sedangkan menurut KBBI (Alwi,2001:601) kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat dan sebagainya. Berdasarkan kedua pendapat tersebut bila dihubungkan dengan kritik terhadap suatu karya sastra ,kritik adalah tanggapan terhadap hasil pengamatan suatu karya sastra yang disertai uraian-uraian dan perbandingan-perbandingan tentang baik buruk hasil karya sastra tersebut. Kata sosial menurut KBBI (Alwi,2001:1085) adalah berkenaan dengan masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum. Dari definisi ‘kritik’ dan ‘sosial’ tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud kritik sosial adalah tanggapan terhadap karya sastra yang berhubungan dengan masyarakat atau kepentingan umum yang disertai uraian-uraian dan perbandingan tentang baik buruk karya sastra tersebut.
Ajib Rosidi dalam Tarigan (1985:175), mengatakan bahwa bentuk cerpen merupakan bentuk karya sastra yang digemari dalam dunia kesusastraan setelah perang dunia kedua. Bentuk ini tidak saja digemari pengarang yang dengan sependek itu bisa menulis dan mengutarakan kandungan pikiran yang dua puluh atau tiga puluh tahun sebelumnya barangkali menki dilahirkan dalam dalam sebuah roman, tetapi juga didiskusikan oleh para pembaca yang ingin menikmati hasil sastra dengan tidak usah mengorbankan terlalu banyak waktu. Dalam beberapa bagian saja dari satu jam seseorang bisa menikmati sebuah cerpen.
Cerpen atau cerita pendek sebagai salah satu prosa fiksi merupakan hasil pengungkapan pengalaman kehidupan sastrawan yang bersumber dari realitas-realitas objektif yang ada dilingkungan sosial. Banyaknya permasalahan pokok yang diangkat oleh pengarang melalui karya-karyanya menunjukkan betapa jelinya ia memotret berbagai gejolak yang ada di sekelilingnya. Pembaca yang kritis tentu tidak hanya memilih bacaan sastra yang murah, tetapi benar-benar memilih buku-buku yang dapat menambah wawasan hidupnya.
Karya sastra lahir tidak bisa lepas dari masyarakat karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat. Seperti apapun bentuk karya sastra (fantastis dan mistis) akan besar perhatiannya terhadap fenomena sosial (Glickberg dalam Endraswara. 2008). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya sastra akan tetap menampilkan kejadian-kejadian yang ada di masyarakat. Pengarang melalui karyanya bermaksud memperluas, memperdalam dan memperjernih penghayatan pembaca terhadap salah satu sisi kehidupan yang disajikan. Kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat terdiri dari berbagai macam permasalahan.
Endraswara (2008) mengatakan bahwa sosiologi sastra merupakan penelitian yang terfokus pada masalah manusia, karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi. Dari pendapat ini tampak bahwa perjuangan panjang manusia akan selalu mewarnai teks sastra. Tentu saja masalah-masalah yang disajikan seorang pengarang itu mengandung kritik yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya, atas apa yang ia lihat dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian diharapkan pembaca dapat menghayati kehidupan dengan lebih baik, diharapkan pula pembaca dapat mengendalikan kehidupannya dan kehidupan kemasyarakatannya.



2.2 Jenis-Jenis Permasalahan Sosial
Menurut Soekanto (2002:355) yang dimaksud masalah sosial adalah gejala-gejala abnormal yang terjadi di masyarakat, hal itu disebabkan karena unsur-unsur dalam masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan. Permasalahan sosial juga sebagai segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum atau suatu kondisi perkembangan yang terwujud dalam masyarakat yang yang berdasarkan atas studi. Mereka mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupan warga masyarakat secara keseluruhan.
Soekanto (2002:365-394) mengemukakan kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai problema sosial oleh masyarakat, tergantung dari sistem nilai-nilai sosial masyarakat tersebut, akan tetapi ada beberapa persoalan yang sama yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya, misalnya:
a)Kemiskinan. Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.
b)Keadilan. Keadilan diartikan sebagai orang-orang yang berperikelakuan dengan tidak melawan norma-norma hukum yang ada dan mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
c)Permasalahan kependudukan yakni masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah demografi, antara lain; bagimana menyebarkan penduduk secara merata dan bagaimana mengusahakan penurunan angka kelahiran.
d)Masalah lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup berhubungan dengan hal-hal atau apa-apa yang berada disekitar manusia, baik sebagai individu maupun dalam pergaulan hidup.


2.3 Faktor Penyebab Munculnya Permasalahan Sosial
Setiap masyarakat mempunyai norma yang bersangkut-paut dengan kesejahteraan kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial. Penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma tersebut merupakan gejala abnormal yang merupakan masalah sosial (Soekanto 2002:360). Faktor yang melatarbelakangi munculnya masalah sosial yang timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yaitu:
a)Faktor ekonomis. Problema-problema yang berasal dari faktor ekonomis antara lain kemiskinan, -pengangguran, dan sebagainya. Faktor ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat pada jaman modern yang serba canggih.
b)Faktor biologis. Penyakit baik itu jasmani maupun cacat fisik merupakan contoh masalah sosial yang bersumber dari faktor biologis.
c)Faktor Psikologis. Dari faktor psikologis muncul persoalan seperti penyakit syaraf (neurosis), bunuh diri, disorganisasi jiwa dan seterusnya.
d)Faktor kebudayaan. Persoalan yang menyangkut perceraian, kejahatan, kenakalan anak-anak, konflik rasikal dan keagamaan bersumber pada faktor kebudayaan.


BAB III
PEMBAHASAN


3.1 Kritik Permasalahan Sosial yang Terjadi di dalam Cerpen Urip Ngurip Karya Midun Aliassyah
Cerpen Urip Ngurip sekilas menceritakan perjalanan hidup seorang pemuda pengaguran, yang selama dia menjalani hidupnya menemui berbagai macam permasalahan sosial yang begitu pelik. Permasalahan-permasalahan sosial yang disajikan Midun Aliassyah di dalam cerpennya merupakan salah satu usahanya memberikan kritikan berdasarkan fenomena sosial yang pernah ditemuinya di dalam masyarakat.
Fenomena permasalahan sosial yang pernah dilihat pengarang itulah dituangkan ke dalam bentuk tulisan berupa cerita pendek. Untuk mengetahui lebih lanjut permasalahan sosial yang terjadi di dalam cerpen Urip Ngurip, berikut hasil analisis yang dilakukan peniliti.

a)Permasalahan Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu masalah pelik yang pada umumnya dijadikan sebagai pangkal dari suatu masalah, bahkan tak jarang dijadikan alasan dalam melakukan tindak kejahatan. Kritik atas kemiskinan ini terlihat dalam cerpen Urip Ngurip sebagai berikut.
Pola hidup yang dianggap tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari atau hidup susah dialami oleh tokoh Urip. Perjuanganya untuk memenuhi kehidupannya sangat begitu sulit dan tak bisa ia jalani. Dalam kesehariannya ia tinggal di sebuah kontrakan kecil yang berada di lingkungan kumuh di bawah kolong jembatan. Sebetulnya secara wajar kontrakan yang ditempati Urip tidak sangatlah layak untuk disebut kontrakan. Karena kondisinya yang begitu lusuh, kumuh dan jauh dari kelayakan. Berikut kutipan cerita yang mendukung:
Sampailah Urip di kontrakkannya. Sebetulnya kontrakkan yang ia tempati, tak layak disebut kontrakkan dan disewakan. Karena dilihat dari posisi bangunan berdiri dan lingkungannya, berada tepat di kolong jembatan layang. Bangunannya, beratap seng teyeng bekas buangan. Berdinding kardus mie rayapan. Berlantai tanah uraian sampah!! ”Hiii..., rumah tikus cocoknya.”

Hidup pas-pasan sebagai seorang pengelandang yang tidak memiliki keluarga merupakan hal yang biasa dialami Urip. Ia sejak usia 14 tahun sudah terpisah dengan keluarganya. Ia hanya hidup sendiri di jalanan, mengais-ngais sampah untuk makan. Hal ini disebabkan karena keluarga Urip meninggal dunia atas musibah jatuhnya pesawat di Jogjakarta, hingga satu keluarganyapun tak tersisa. Menyebabkan Urip mencari jalan hidupnya sendiri sesuai apa dan yang ingin ia kehendaki. Berikut kutipan cerita yang mendukung:

Tapi semua itu berbeda!! Semua itu tak terjadi di dalam peta jalan hidupku. Hidup sebatang kara, tak ada orang tua mengasihi dan menyayangi. Semenjak musibah beruntun yang terjadi di bandara udara Yogyakarta, hingga melenyapkan semua keluargaku. Sungguh tragis, dan waktu itu pula rasanya aku ingin mati saja bersama mereka.
Akhirnya semenjak usia 14 tahun hingga aku sekarang ini, aku hidup sebagai marabunta. Hidup di jalanan adalah hidupku. Tidak mengenal Tuhan adalah idealismeku. Nyawa adalah tekadku.

Walaupun hidup Urip mengalami kesusahan, untuk makan sesuap nasipun terasa sulit, ia mencoba mengadu nasibnya untuk melamar pekerjaan di ibu kota yang hanya bermodalkan selembaran ijazah SMP. Hal ini ia lakukan untuk merubah jalan hidupnya sebagai orang miskin. Berikut kutipan cerita yang mendukung:

Waktu bergulir. Pagi menuju siang, siang menuju malam, dan menjadi hari. Seperti keadaanku sekarang ini, tak menentu! Kosong. Tiap hari kutelusuri Ibu kota dan melangkahi trotoar jalan. Aku masuki ruko-ruko yang bersegel di kacanya ”DIBUTUHKAN KARYAWAN!!” Aku terawang koran-koran, hingga ludes bagian kolom lowongan kerja. Tapi percuma, tak ada hasil yang seperti kuharapkan! Maklumlah, aku cuma berijazah lulusan menengah pertama. Padahal dipersyaratan tak dibutuhkan, dan Orang-orang atasan terpelajar. Sedangkan aku sendiri, bukan anak terpelajar! Kurang ajar? Iya.,,

Permasalahan kemiskinan yang dialami Urip di atas menunjukkan, bahwa ternyata di lingkungan ibu kota begitu sangatlah sulit untuk mempertahankan hidup yang layak. Jika ingin hidup ini sebanding dengan orang-orang lain sangatlah membutuhkan usaha keras demi mempertahankan kesejahteraan dan kelayakan. Dan untuk mempertahankan semua itu derajat dan status sosial seseorang sangatlah menentukan. Jika tidak memiliki status sosial yang baik, maka tempat-tempat kumuh dan ketidakbiadan yang harus diterima. Hingga bisa benar-benar disebut sebagai status kaum rendah atau miskin. Kritik ini ditujukan kepada tokoh utama dalam cerpen Urip Ngurip. Kemiskinan yang dialami tokoh utama tersebut hendaknya menjadi motivasi untuk meningkatkan kesejahteraannya agar bisa hidup layak.

b)Permasalahan Keadilan
Kesenjangan sosial yang terjadi membuat adanya rasa ketidakadilan sosial adanya jarak antara si kaya dan si miskin. Fasilitas yang mudah bagi mereka yang berharta akan menimbulkan rasa iri bagi orang lain yang tidak bisa mendapatkannya, apalagi jika jarak antara mereka diikuti rasa lebih dari si kaya yang berharta.
Perbedaan kelas sosial seseorang kadang menimbulkan adanya perbedaan perlakuan dalam masyarakat. Pihak atasan yang merasa berkuasa dapat bertindak semau mereka karena menganggap anak buahnya menduduki kelas di bawah mereka dan bisa diperlakukan seenaknya tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka. Hal ini juga dialami oleh tokoh Urip. dimana ia sewaktu mencari pekerjaan sangatlah sulit. Ia diberlakukan tidak adil dan dilecehkan semena-menanya oleh orang yang memiliki status sosial dan pendidikan yang lebih baik daripada dirinya. Berikut kutipan cerita yang mendukung:

”Maaf mas, di sini hanya membutuhkan karyawan yang minimal berijazah menengah atas, dan tentunya memiliki pengalaman dalam hal bekerja!!”
”Oh ya?” jawab Urip sinis. ”Tidak berartikah ijazah menengah pertama?”
Telunjuk Urip menunjuk pada dua angka yang ada di selebaran kertas kusam. Dan dua angka itu kelihatan berbobot dari pada angka-angka yang lainnya.”Lihat mbak, aku memiliki nilai sembilan di mata pelajaran ilmu sosial dan PPKN!!” Urip melantangkan suaranya ketika menyebut angka sembilan untuk dua mata pelajaran itu.
”Tapi Mas…,” sanggah pelayan. Terlihat pada wajah menor sang pelayan, yang tebal oleh balutan kosmetik sekarang tak nampakkan lagi aura ke cantikannya. Alias takut dengan kelantangan Urip.
”Apa ini kurang cukup untuk membuktikan, kalau aku ini berpendidikan dan berpengalaman?” Naiknya emosi Urip.

Kritik terhadap permasalahan keadilan di atas menunjukkan betapa sulitnya orang yang mencari pekerjaan di ibu kota. Dengan segala persyaratan yang mengikat dan mengharuskan memiliki ijasah setingkat SMA dan setidaknya juga memiliki pengalaman bekerja sebelum ia akan menggeluti dunia pekerjaannya. Di dalam kondisi negeri yang seperti ini memanglah boleh-boleh saja mempersaratkan berbagai perihal untuk mengetes calon pekerja. Tetapi selayaknya hal itu juga disepadankan dengan kondisi negeri, dan keadaan status kemajuan pemikiran dan pergaulan masyarakatnya. Sehingga hal inilah yang mengakibatkan pengaguran yang ada di negiri ini dari tahun ke tahun semakin bertambah. Karena ketidakbijakan pemerintah dan birokrat pemerintah yang tidak mampu mengedepankan rakyatnya terutama bagi rakyat kelas bawah. Jika demikian sudah selayaknya pemerintah memperbaruhi realita yang ada dengan pemenataan kembali kebijakan-kebijakn yang salah dan menyeleweng.

c)Permasalahan Kependudukan
Penyebaran penduduk yang tidak merata merupakan salah satu masalah kependudukan di Indonesia. Urbanisasi yang dilakukan penduduk dengan harapan taraf hidupnya akan lebih baik di kota, membuat jumlah penduduk kota meningkat. Jakarta adalah kota yang banyak menjadi tempat impian banyak orang untuk menyandarkan hidupnya. Kepadatan penduduk ibu kota seperti Jakarta dan Surabaya bisa dilihat dari makin ramainya pemakai jalan raya, baik mereka yang menggunakan mobil pribadi ataupun mereka yang naik kendaraan umum sampai berdesak-desakan dan bergelantungan.
Di dalam cerpen Urip Ngurip ini permasalahan kependudukan sagatlah nampak atas apa yang dialami tokoh Urip di dalam kehidupannya sebagai warga yang tinggal di ibu kota. Kehidupan dan status kependudukan Urip sebagai sebagian masyarakat yang hidupnya selalu diselimuti kemiskinan dan kesusahan merupakan salah satu cerminan dampak dari keadaan penataan kependudukan di lingkungan ibu kota sangatlah tidak adanya suatu keadilan dan kesejahteraan. Berikut kutipan cerita yang mendukung:

Udara panas, pengap, bau busuk sampah: itulah bau yang dihirup Urip sehari-hari. Jika berada di dalam ruang, terdengar suara bising kendaraan yang seolah-olah melintas di atas atap kontrakkan. Ya beginilah, sudah takdir suratan….

d)Permasalahan Lingkungan Hidup
Permasalahan lingkungan yang dicoba diangkat dalam cerpen Urip Ngurip ini merupakan sebuah refleksi ungkapan kritik sosial terhadap kondisi lingkungan sosial hidup masyarakat pinggiran. Dalam hal ini pengarang mencoba menggambarkan kondisi yang sebenarnya terhadap lingkungan hidup masyarakat pinggiran. Terlihat dalam cerpen bahwa tokoh Urip bertempat tinggal di bawah kolom jembatan gantung yang ada di salah satu sudut kota. Betapa lingkungan hidup Urip sebenarnya tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal manusia. Untuk lebih jelasnya berikut kutipan cerita yang mendukung:

Urip berlalu sambil jalan, tanpa menoleh fenomena riuh yang terjadi di sisi kanan ataupun di sisi kirinya. Padahal takdir alam yang terjadi di siang panas kota Pahlawan sungguh menarik perhatian, untuk disimak dan dilihat dalam kaca mata pengamat.
Kutipan di atas menceritakan suasana keriuhan di siang hari kota Pahlawan. Yang penuh fenomena manusia yang sedang beraktivitas menjalankan hidupnya. Tetapi tidak hanya itu, fenomena lingkungan hidup yang dialami tokoh Urip dalam cerpen Urip Ngurip juga nampak dalam keseharian hidup Urip di kontrakannya. Berikut kutipan cerita yang mendukung:

Sampailah Urip di kontrakkannya. Sebetulnya kontrakkan yang ia tempati, tak layak disebut kontrakkan dan disewakan. Karena dilihat dari posisi bangunan berdiri dan lingkungannya, berada tepat di kolong jembatan layang. Bangunannya, beratap seng teyeng bekas buangan. Berdinding kardus mie rayapan. Berlantai tanah uraian sampah!! ”Hiii..., rumah tikus cocoknya.”

Kritik terhadap permasalahan lingkungan hidup di atas menunjukkan bahwa kondisi lingkungan ada di perkotaan tidaklah alami lagi. Udara, air, pepohonan sudah tercemar dan mati karena banyaknya polusi. Polusi yang ada di daerah perkotaan ini disebabkan adanya asap, baik asap kendaraan, asap pabrik ataupun asap rokok. Asap hasil pembakaran, berupa zat karbon dioksida merupakan gas yang berbahaya bagi pernafasan. Nafas akan terasa terganggu dengan menghirup gas tersebut.
Apalagi kalau berada di dalam bus angkutan umum yang ada di perkotaan yang penuh sesak, masih ada juga yang merokok, akan terasa menyiksa sekali bagi mereka yang tidak tahan asap. Ironis memang, sebenarnya para perokok itu tahu kalau merokok dapat membahayakan kesehatan jantung dan pemerintah serta perusahaan rokok tersebut sudah memperingatkan namun mereka masih saja mengkonsumsinya sehingga menjadi suatu kebutuhan. Asap dari pabrik juga berbahaya bagi kesehatan dan bisa merusak lapisan ozon yang melindungi bumi. Untuk itu pemerintah telah membuat kebijakan agar setiap pabrik yang menghasilkan asap untuk mengatasi polusi udara dengan proses penyaringan terlebih dahulu.

BAB IV
KESIMPULAN


Simpulan dari hasil kritik permasalahan sosial dalam cerpen Urip Ngurip karya Midun Aliassyah dapat diketahui, bahwa problematika sosial yang terjadi di dalam masyarakat, memang sangatlah tergantung dari sistem nilai-nilai sosial masyarakat tersebut. Beserta permasalahan-permasalahan yang terdapat di dalamnya. Inilah yang coba dibeberkan pengarang kepada masyarakat (pembaca). Hingga peniliti menemukan gejala itu secara kongkrit seperti yang telah diuraikan dalam pembahasan di atas.
Gejala-gejala sosial yang terjadi baik dari permasalahan kemiskinan, permasalahan keadilan, permasalahan kependudukan dan permasalahan lingkungan hidup. Akan tetapi ada beberapa persoalan yang sama yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya. Sehingga hal itulah yang menjadi pekerjaan utama bagi pemerintah untuk menindaklanjuti permasalahan sosial yang ada, sehingga masyarakat benar-benar merasa nyaman, tentran, aman dan sejahtera di dalam bermasyarakat baik dengan sesama ataupun dengan lingkungannya. Jika hal ini sudah terwujud, maka terciptalah kedamaian dan tidak adanya lagi keluh resah masyarakat.

DAFTAR RUJUKAN


Aliassyah, Midun. 2010. Urip Ngurip (Cerpen). Jember: Radar Jember (Jawa Pos).
Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra (Sebuah Pengantar Ringkas). Jakarta: Depdikbud.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogjakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1997. Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

http://assyita.blogspot.com/ Kritik Sastra Novel “Dilatasi Memori” Karya: Ari Nur Utami. (Diakses pada tanggal 30 Desember 2010)












SINOPSI CERPEN URIP NGURIP

Cerpen Urip Ngurip karya Midun Aliassyah yang dimuat di Radar Jember (Jawa Pos), pada edisi hari Minggu tanggal 13 Juni tahun 2010 sekilas menceritakan perjalanan hidup seorang pemuda pengaguran, yang selama dia menjalani hidupnya menemui berbagai macam permasalahan sosial yang begitu pelik. Urip merupakan nama tokoh sentral dalam cerpen tersebut.
Kehidupan Urip yang penuh dengan kesusahan dan kepelikan merupakan salah satu cerminan kondisi masyarakata bersetatus sosial rendah yang mencoba hidup di daerah perkotaan. Kesehariannya ia hanya makan tidur, tanpa menjalankan aktivitas yang berarti seperti para pemuda pada umumnya. Ia tinggal disebuah kontrakan, yang sebetulnya kontrakan itu tidaklah layak disebut kontrakan. Karena dari kondisi fisiknya tidaklah memenuhi syarat sebagai tempat tinggal manusia, melainkan sangatlah layak sebagai tempat binatang liyar seperti tikus dan kucing. Dan keberadaan bangunan itu berdiri, berada tepat di bawah kolong jembatan layang. Tapi apalah daya jika uang tak menjangkau, pastilah keadaan seperti ini sudah sangatlah layak untuk dijadikan tempat berteduh dari terik panas sinar matahari dan kucuran air hujan.
Walaupun kehidupan Urip seperti itu, ia memiliki suatu impian yang besar. Bisa dibilang hanya orang-orang tertentu saja yang berani memimpikannya. Yakni Urip mempunyai impian untuk membangun negeri impiannya dari keterpurukan dan keterlaknatan yang mendera. Ia ingin mencoba membangunkan kembali gairah negeri dan manusianya untuk kembali berjaya, kokoh bersanding dengan negara-negar maju lainnya. Bahkan ia juga mempunyai impian untuk mempersunting Narti anak dari seorang pemilik kontrakan yang ia tempati untuk dijadikan istrinya. Tapi pada akhirnya impian itu hanya sebatas impian saja. Tak berwujud dan hanya ada dalam bayang-bayang pikir semu Urip.

Beberapa Catatan untuk Urip Ngurip karya Midun Aliassyah (Kritik Cerpen)

Beberapa Catatan untuk Urip Ngurip karya Midun Aliassyah
Oleh: Muntijo

Dalam penciptaan sebuah karya sastra seorang sastrawan tidak pernah dalam kondisi/situasi yang kosong secara politik, sosial, budaya bahkan ideologi. Hal ini terjadi karena karya sastra merupakan hasil curahan keindahan yang dihasilkan oleh sastrawan, dan seorang sastrawan adalah manusia yang hidup di arena politik dalam arti luas, lingkungan sosial dan budaya tertentu bahkan memiliki kecenderungan ideologi tertentu pula. Karena karya sastra (cerpen) adalah curahan keindahan maka setiap kata dan gaya bahasa maupun gaya penceritaan dan gaya pencitraan dipilah dan dipilih untuk mewakili dan menggambarkan keindahan tersebut.
Berdasarkan hal di atas, cerpen Urip Ngurip karya Mas Midun Aliassyah yang dimuat Radar Jember, Minggu 13 Juni 2010 patut diberi beberapa catatan. Karena karya sastra sangat dipengaruhi oleh sastrawannya, maka terlebih dahulu akan ditunjukkan latar belakang Mas Midun Dia berasal dari Nganjuk. Jadi jelas orang Jawa dan mampu berbahasa Jawa. Penguasaannya terhadap bahasa Jawa tampak pada Urip Ngurip ini, untuk lebih jelasnya dibahas dibagian belakang. Dia adalah mahasiswa Universitas Jember (Unej) yang lebih dikenal sebagai penyair daripada sebagai seorang cerpenis (puisi-puisinya dimuat erje, 20/5/10) sehingga pengaruh gaya bahasa puisi tampak jelas pada (khususnya bagian pertama) cerpen Urip Ngurip.
Sumringah, udara pagi ini yang masih basah oleh bulu-bulu embun. Sang surya malu-malu menampakkan dirinya menyambut hangatnya kehidupan, tapi tak mampu menutupi auranya dibalik awan yang menjadi tameng persembunyiann di kala malam. Kilau cahya violate menerawang cakrawala pertiwi…
Penggunaan gaya bahasa bermajas yang lebih sering digunakan dalam puisi menambah unsur keindahan cerpen ini. Namun, dalam memilih kata, Mas Midun kurang jelai (padahal dia adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) sehingga juga memengaruhi kenyamanan pembaca dalam menikmati cerpennya. Hal ini tampak pada bagian kedua Urip Ngurip,
…Maklumlah, aku cuma lulusan ijazah menengah pertama.
Apa yang dimaksud dengan lulusan ijazah? Mungkin lebih baik jika ditulis ‘aku cuma memiliki ijazah menengah pertama’ atau ‘aku cuma lulusan sekolah menengah pertama’ bukankah menjadi lebih mudah untuk dipahami oleh pembaca.
Kekurangtepatan yang lain, ‘tidak mengenal Tuhan adalah idealisku’ Mungkin yang dimaksud adalah ‘tidak mengenal Tuhan adalah idealismeku’. Makna dari idealis dan idealisme jauh berbeda. Idealisme adalah pahamnya, sedangkan idealis adalah orang yang menganut paham tersebut.
Dari unsur intrinsik yang lain, yaitu masalah sudut pandang pengarang. Dalam membuat prosa (cerpen ataupun novel) ada beberapa cara penceritaan oleh pengarang diantaranya: orang petama pelaku utama, pengarang menyebut tokoh utama dalam prosanya dengan menggunakan kata ganti ‘aku’; orang kedua, pengarang ikut terlibat dalam cerita namun sebagai orang kedua, jadi tokoh utama disebut ‘kamu’; orang ketiga serba tahu, pengarang tidak terlibat langsung dalam cerita, namun mengetahui segala yang terjadi bahkan alam pikiran tokoh dalam cerita. Pengarang menggunakan kata ganti ‘dia’ atau nama tokoh secara langsung.
Dalam Urip Ngurip, terjadi kerancuan sudut pandang yang diambil oleh Mas Midun. Dia mencampuradukkan antara sudut pandang orang pertama pelaku utama dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Hal ini tampak hampir pada setiap plot (bagian cerpen yang dibedakan oleh latar tempat dan situasi) khususnya pada tiga plot terakhir dari cerpen yang terdiri dari lima plot ini.
Brukk!! Dibantingnya pintu reot kontrakan Urip. Kemudian Cak To meninggalkannya dengan amarah besar.
Memang salahku, aku jadi gelandangan? Tak seharusnya kau memarahi dan memakiku. (plot ketiga)
Pada paragraf pertama, pengarang menggunakan kata ganti nama ‘Urip’ dan kata ganti orang ketiga ‘-nya’ untuk menyebut tokoh utama. Hal ini menunjukkan posisi pengarang sebagai orang ketiga serba tahu. Namun, paragraf selanjutnya pengarang menggunakan kata ganti ‘aku’ untuk menyebut tokoh utama (Urip). Hal ini berarti sudut pandang pengarang telah berpindah menjadi orang pertama pelaku utama.
Pencampuradukan sudut pandang pengarang seperti itu juga terpadapat pada plot keempat,
“Waduh!!!” tiga bulan!! Segitu banyaknya! Pakai apa aku membayarnya! Sekarang gopekpun tak ada di kantongku.
Bandingkan dengan,
Lalu, Urip memberanikan diri untuk berbicara jujur sesuai denan keadaannya sekarang ke Narti.
Begitu juga dengan plot yang terakhir,
“Akan kuwujudkan negeriku!!!” Ku bangun istana megah di dalamnya. Ku sunting bidadari pelangi untuk permaisuriku. Ku olah hasil buminya…
“Oh, begitu bangga aku menjadi orang nomor satu. Bangga atas impianku!!” bangga Urip atas negeri mimpinya…
Dalam plot yang keempat ini jelas terlihat. Padahal sama-sama menjelaskan kalimat langsung yang diucapkan oleh tokoh Urip, tapi sudut pandang yang digunakan berbeda.

Konstruksi Sosial dan Ideologis (keagamaan)
Usaha Mas Midun mengostruksikan Urip sebagai kaum yang termarginalkan, maupun konstruksi sosial cerpen Urip Ngurip secara keseluruhan tidak kuat (tidak jelas). Di satu sisi Urip Ngurip menggambarkan kehidupan Ibukota,
Tiap hari kutelusuri Ibuk kota. Ku langkahi trotoar jalan…(plot pertama)
Menujulah Urip ke kontrakannya. Yang sebetulnya kontrakannya tak layak disebut kontrakan dan disewakan. Karena dilihat dari tempatnya, berada di kolong jembatan layang. Bangunannya, beratap seng teyeng bekas buangan…(plot keempat)
Penggambaran kehidupan ibukota juga tampak pada penggunaan kata-kata yang dipilih, diantaranya, sekarang sudah gak berlaku, bang!; juga dalam ucapan tokoh Narti, “gini Bang!!” Jelas Narti, “aku kesini disuruh Babe untuk menagih uang kontrakan yang belum abang bayar…” penggunaan ‘abang’ dan ‘babe’ merupakan usaha untuk menggambarkan bahwa kehidupan itu terjadi di Jakarta karena disanalah diksi (pilihan kata) semacam itu digunakan masyarakat. Namun, hal ini tidak sejalan sebangun dengan pernyataan dalam cerpen Urip Ngurip, Cak To orang asli Surabaya. Orang yang berasalh dari Surabaya dipanggil ‘babe’ oleh anaknya?, juga ucapan Cak To, “Tiap hari kerjanya tidur melulu” penggunaan kata ‘babe’ dan ‘melulu’ melemahkan usaha mengonstruksikan Cak To sebagai orang asli Surabaya.
Di samping itu, Mas Midun banyak menggunakan kata bahasa Jawa dalam Urip Ngurip antara lain: menungso, berselonjor, teyeng (berkarat) pada frase seng teyeng, emperan, mbako lenteng dan reot. Interferensi (masuknya) bahasa Jawa dalam cerpen ini, seperti telah disebut diatas, karena Mas Midun orang Jawa sehingga bahasa Jawa adalah bahasa Ibu baginyua. Namun, interferensi ini melemahkan usaha untuk mengonstruksikan lingkungsn sosial ibukota dalam cerpen Urip Ngurip.
Selain dari penggunaan diksi yang campur-aduk, usaha pengonstruksian kehidupan Urip bertentangan antara satu bagian dengan bagian lain. Bahkan dalam satu paragraf, satu kalimat tidak mendukung (menguatkan) kalimat yang lain, justru melemahkannya.
Dalam plot pertama, paragraf ketujuh,
…Maklumlah, aku cuma lulusan ijazah menengah pertama. Padahal di persyaratan tak dibutuhkan, dan orang-orang atasan juga sudah mewajibkan belajar sembilan tahun. Tapi hanya saja bagi anak-anak terpelajar. Sedangkan aku sendiri, bukan anak terpelajar! …
Urip mengaku sebagai orang yang tak terpelajar karena tidak menempuh wajib belajar sembilan tahun yang diwajibkan oleh orang-orang atasan. Sudah dikatan sendiri bahawa wajib belajar sembilan tahun, Urip memiliki ijazah sekolah menengah pertama, berarti dia telah menempuh pendidikan dasar sembilan tahun, enam tahun di SD dan tiga tahu di SMP. Pernyataan ketidakterpelajaran dirinya dibantah sendiri oleh Urip pada plot keempat dalam percakapannya dengan pelayan “Apa ini kurang cukup untuk membuktikan, kalau aku ini berpendidikan dan berpengalaman?” sangat bertentangan dengan pernyataan bukan anak terpelajar! Seperti telah disebutkan di atas tadi.
Pertentangan antar bagian dan pelemahan konstruksi yang dibangun dalam Urip Ngurip yang lain terjadi dalam pengonstruksian religiusitas yang dimiliki tokoh Urip.
…Tidak mengenal Tuhan adalah idealis(me)ku… pada bagian ini tokoh Urip digambarkan sebagai seseorang yang tidak mengenal tuhan apalagi memiliki tuhan.
Pernyataan ini bertentangan dengan beberapa kalimat lain dalam cerpen Urip Ngurip, diantaranya pada kalimat terakhir paragraf pertama, oh tidak Ya Tuhan… Bagian lain yang menyatakan Urip bertuhan adalah,
“Tuhan…” keluh Urip kepada Tuhannya. Sehingga muncul pertanyaan, sebenarnya Urip mengenal Tuhan atau tidak?

Nasionalisme
Disamping ketidakjelasan usaha penceritaan dan pencitraan dalam cerpen Urip Ngurip, sebenarnya ada tema besar yang di usung oleh Mas Midun dalam cerpen ini, yaitu rasa nasionalisme yang tinggi. Hal ini ditampakkan pada kecintaan Urip kepada Negeri Mimpinya,
Kilau cahya violate menerawang cakrawala Pertiwi, yang begitu kaya akan sumber alam dan nabati…
Urip marah kepada orang yang telah menjajah negerinya (Indonesia)
“Habis manis sepah dibuang” seperti inilah kondisi negeriku. Negeri mimpiku. Ditinggal begitu saja oleh orang –yang tak bertanggung jawab. Tiga setengah abad sudah, negeri impianku dirampas mahkotanya. Hilang dari kejayaan,…
“gelandangan tak tau diri. Masuk negeriku tanpa permisi. Merampas harta yang kami miliki. Peremapuan kami kau gagahi, laki-laki kau budaki. Kau bodohi negeri kami, tak lagi kami punya mimpi… terlaknat! …”
Tidak hanya itu, kecintaan terhadap negeri ini sebenarnya tercermin dari usahnya menggambarkan tokoh Urip, warga negara yang masih belum ‘merdeka’ di era yang merdeka. Tidak mungkin orang yang tidak memiliki rasa nasionalisme mau menggambarkan dan menyuarakan keadaan sosial masyarakat negeri ini yang masih jauh dari kemakmuran dan kesejahteraan.


Muntijo, Mahasisawa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember


Alamat rumah,
Pelosok Jember, Dusun Mangaran desa Sukamakmur kecamatan Ajung.
Telp. 085336117036

Selasa, 25 Januari 2011

PENAFSIRAN ASPEK LEKSIKAL, KONTEKSTUAL DAN INFERENSI DALAM LIRIK LAGU KERONCONG ALUN-ALUN NGANJUK KARYA NOVITA ANGGRAINI (TINJAUAN ILMU WACANA)

PENAFSIRAN ASPEK LEKSIKAL, KONTEKSTUAL DAN INFERENSI DALAM LIRIK LAGU KERONCONG ALUN-ALUN NGANJUK KARYA NOVITA ANGGRAINI (TINJAUAN ILMU WACANA)


Oleh:

MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010


1. Hakikat Wacana
` Kridalaksana (2001) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hirearki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Menurut Leech (1974) di dalam Yuwono (2005) wacana dapat diklasifikasikan atas: wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresi, seperti wacana pidato wacana fatis apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan dalam pesta wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media masa wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan, seperti wacana puisi dan lagu wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau rekreasi dari mitra tutur atau pembaca. Wacana yang akan dianalisis dalam makalah ini adalah lirik lagu Camelia karya Ebiet G Ade yang dikategorikan sebagai wacana estetik.

2. Sejarah Musik Keroncong
Sekitar tahun 1930, di koya Surakarta sudah banyak bermunculan jenis musik orkes keroncong. Orkes yang disebut keroncong harus memenuhi syarat baku ialah memiliki biola, seruling, gitar, stringbas dan dilengkapi pula oleh alat-alat tiup. Nama-nama orkestra keroncong pada jaman itu antara lain Monte Carlo, Sinar Bulan yang akhirnya pecah menjadi dua. Dan selanjutnya lahir pula orkes bernama Sinar Muda dan orkes Bunga Mawar. Di Surakarta pertama-tama dikenalkan gaya baru dalam tabuhan yang berkendangan mempergunakan cello yang dipetik. Hasil dari kendangan tersebut menghidupkan warna musiknya menjadi lebih segar. Keroncong jaman dulu tidak memerlukan seorang dirigen sebagai pembimbing langsung pemain orkestra. Hal ini serasi dengan orkestra gamelan yang melibatkan puluhan yaga.
Menurut penuturan Gesang, keroncong adalah musik kebersamaan tetapi meminta mutu perorangan. Menurut pengamatan para tokoh musik sebelum jaman Jepang apa-apa yang dinamakan langgam itu pada mulanya adalah lagu keroncong atau yang dimainkan dengan gaya roffel berupa adaptasi dan sering kali ada adaptasi dari lagu-lagu jazz yang diperoleh dari cara mendengarkan dan menghafal lagu-lagu dari film-film Amerika atau dari piringan hitam (Sumarlam, 2004:113)

3. Mengapa Lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini Dijadikan Obyek Analisis Wacana Makalah Ini?
Ada beberapa alasan mengapa lagu Alun-Alun Nganjuk diplih sebagai objek dalam analisis wacana di makalah ini. Salah satu hal yang menjadi alasan adalah latar belakang lagu ini dan latar belakang penyanyinya yang berasal dari kabupaten Nganjuk. Sedangkan peniliti sendiri juga berasal dari kabupaten yang sama dari asal muasal lagu dan penyanyi lagu Alun-Alun Nganjuk. Selain alasan itu, lagu ini bisa dibilang sangatlah fenomenal di sekitar kalangan masyarakat Nganjuk maupun kota-kota lain yang ada di Jawa Timur.
Lagu Alun-Alun Nganjuk ini dinyanyikan oleh salah seorang penyanyi jebolan KDI 5 (Kontes Dangdut TPI). Tapi sebelumnya sosok penyanyi juga sudah dikenal oleh masyarakat Nganjuk sebagai penyanyi orkes panggilan. Eksistensi Novita Anggraini di blantika musik Indonesia selama kurang lebih lima tahunan ini menjadi evidensi bahwa dia adalah musisi baru yang layak diperhitungkan yang dan dihargai. Melalui lagu Alun-Alun Nganjuk yang begitu fenomenal dan monumental di hati masyarakat. Lagu cinta ini menjadi akrab di telinga masyarakat karena seringnya diperdengarkan oleh penyanyi sendiri ataupun dinyanyikan oleh penyanyi lain, bahkan lagu ini begitu populer dinyanyikan pengamen-pengamen jalanan. Hanya dalam waktu singkat setelah perilisan, lagu ini langsung meledak di pasaran. Alun-Alun Nganjuk memiliki syair yang sangat indah dengan diksi kejawen yang mudah diterima di telinga. Namun mengandung makna atau pengertian yang dalam. Sampai saat ini, setelah hampir lima tahun perilisan, lagu Alun-Alun Nganjuk masih sering terdengar di media. Karena alasan-alasan tersebut, lagu Alun-Alun Nganjuk dipilih peniliti sebagai objek kajian wacana dalam makalah ini.

4. Biografi Novita Anggraini
Novita Anggraini yang lebih akrab dipanggil Vita adalah jawara di ajang Kontes Dangdut TPI (KDI) 5 tahun 2008. Gadis kelahiran Nganjuk, 10 November 1987 ini adalah anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Darmoko dan Wiwik. Vita dan keluarganya berdomisili di Nganjuk dengan alamat Gugus wilis III, Jarakan, Kramat, Nganjuk. mereka (keluarga vita) hidup dengan kesederhanaan. Darmoko adalah seorang PNS di dinas pariwisata di Surabaya. Sedangkan Wiwik, ibu vita hanya ibu rumah tangga. keduanya dikaruniai anak lima orang. Tiga wanita dan dua laki laki. Sebelum Vita dikenal masyarakat luas setelah menjadi jawara KDI 5, ia sebelumnya sudah merilis beberapa album keroncong. Diantaranya Trisna kutha bayu I dan album kedua berjudul Trisna kutha bayu II. Ia juga sempat merilis album campursari bertitel TRESNO KUTO BAYU.
Novita Anggraini sebagai juara pertama KDI 5 mendapat hadiah sebesar Rp150 juta, penyanyi yang mengidolakan Iis Dahlia ini berkeinginan untuk memiliki album solo dangdut yang diramu dengan hip hop. Catatan perjalanan Vita dalam mengikuti audisi KDI 5 dapat diketahui sebagai berikut:
 Jalan panjangnya di KDI 5 dimulai dari audisi yang diikutinya di Surabaya.
 Datang ke kontes KDI 5 dengan membawa modal berupa prosentase SMS di Gerbang KDI sebanyak 35,73%.
 Kelebihan Vita antara lain tampil memukau di atas panggung, pribadi yang lucu, dan menggemaskan.
 Pemerintah Kabupaten Nganjuk telah berkoar di depan semua rakyatnya untuk mengirimkan dukungan SMS untuk Vita.
 Karakter suara sinden Vita yang kuat bisa membawanya menjadi penyanyi dangdut terkenal.
5. Penafsiran Aspek Leksikal, Kontekstual dan Inferensi dalam Lirik Lagu Keroncong Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini (Tinjauan Ilmu Wacana)

A. Analisis Aspek Leksikal
Aspek leksikal atau kohesi leksikal adalah hubungan antar unsur dalam wacana secara sistematis (Sumarlam, 2009:35). Kohesi leksikal dalam wacana ada enam macam, yaitu (1) repetisi (pengulangan), (2) sinonimi (padan kata), (3) kolokasi (sanding kata), (4) hiponimi (hubungan atas-bawah), (5) antonimi (lawan kata), (6) ekuivalensi (kesepadanan).
Di dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini semua aspek leksikal digunakan oleh pencipta lagu untuk menghasilkan lirik lagu sebagai sebuah wacana yang padu. Pemakaian kohesi leksikal dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tampak dalam penjelasan berikut ini.

1) Repetisi
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (Sumarlam, 2009:35). Unsur yang mengalami pengulangan pasti menjadi perhatian penuh bagi penciptanya. Macam-macam repetisi antara lain:




a) Repetisi Epizeuksis
Repetisi epizeuksis adalah pengulangan satuan lingual (kata) yang dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan repetisi tersebut.

b) Repetisi Tautotes
Repetisi tautoes adalah pengulangan satuan lingual atau kata hingga beberapa kali dalam sebuah konstruksi. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan repetisi tersebut.

c) Repetisi Anafora
Repetisi anafora ialah pengulangan satuan lingual berupa kata atau frasa pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya (Sumarlam, 2009:36). Repetisi anafora dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini dapat dilihat pada kutipan berikut.
Apo kowe ora ngerteni (4)
(Apa kamu tidak menungguku)
Kowe tak kangeni (5)
(Padahal kamu aku rindukan)

Pada kutipan lagu di atas terjadi repetisi anafora berupa pengulangan kata kowe pada baris keempat dan kelima. Repetisi semacam ini dimanfatkan oleh pencipta lagu untuk menyampaikan maksud bahwa kowe (tokoh pertama dalam lagu ini) sangat mencintai seseorang yang ditunjukan dengan kata kowe atau ‘kamu’.

d) Repetisi Epistrofa
Repetisi epistrofa adalah pengulangan satuan lingual kata, frasa pada akhir baris atau akhir kalimat. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan repetisi tersebut.

e) Repetisi Simploke
Repetisi simploke adalah pengulangan satuan lingual pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat seara berturut-turut. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan repetisi tersebut.

f) Repetisi Mesodiplosis
Repetisi mesodiplosis adalah pengulangan satuan lingual di tengah-tengah baris atau kalimat seara berturut-turut. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini ditemukan repetisi tersebut.
Apo kowe ora ngerteni (4)
(Apa kamu tidak menungguku)
Kowe tak kangeni (5)
(Padahal kamu aku rindukan)

Pada kutipan lagu di atas terjadi repetisi mesodiplosis berupa pengulangan kata kowe pada baris keempat dan kelima.

g) Repetisi Epanalepsis
Repetisi epanalepsis adalah pengulangan satuan lingual yang kata atau frasa terakhir dari baris atau kalimat yang merupakan pengulangan kata atau frasa pertama. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan repetisi tersebut.

h) Repetisi Anadiplosis
Repetisi anadiplosis pengulangan kata atau frasa terakhir dari baris atau kaliamat itu menjadi kata atau frasa pertama pada baris atau kaliamat berikutnya. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan repetisi tersebut.
i) Pengulangan Jumlah Suku Kata
Di dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak terdapat pengulangan jumlah suku kata dalam baris-baris liriknya bila kita mengamati dengan teliti.

2) Sinonimi (Padan Kata)
Sinonimi adalah suatu istilah yang dapat dibatasi sebagai (1) telaah mengenai bermacam-macam kata yang memilki makna yang sama, atau (2) keadaan di mana dua kata atau lebih memiliki makna yang sama (Gorys Keraf, 2005:34).Sinonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain (Abdul Chaer dalam Sumarlam, 2009:39). Kepaduan wacana didukung oleh sinonimi yang merupakan salah satu aspek leksikal. Fungsi sinonimi adalah menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana.
Sinonimi dapat dibedakan menjadi lima berdasarkan wujud satuan lingualnya, yaitu (1) sinonimi antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat), (2) kata dengan kata, (3) kata dengan frasa atau sebaliknya, (4) frasa dengan frasa, (5) klausa/kalimat dengan klausa/kalimat.
Di dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini terdapat tiga bentuk sinonimi yaitu sinonimi morfem (bebas) dengan morfem (terikat), sinonimi kata dengan kata dan sinonimi kata dengan frasa. Sinonimi tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut:
a) Sinonimi Morfem (Bebas) dengan Morfem (Terikat)
Lali tenan to dhik karo aku iki (12)
(Apa kamu lupa sungguhan dik dengan aku ini)
Ning terminal stasiun nggonku nggoleki (13)
(Di terminal dan stasiunlah aku mencarimu)

Pada kutipan di atas morfem bebas aku bersinonim dengan morfem (terikat) –ku dalam atiku.

b) Sinonimi Kata dengan Kata
Ning alun-alun tak goleki (6)
(Aku mencarimu di alun-alun)
Ning terminal stasiun nggonku nggoleki (13)
(Di terminal dan stasiunlah aku mencarimu)

Tampak pada kutipan (6) dan (7) di atas yaitu sinonimi kata dengan kata yaitu kata goleki dengan kata nggoleki yang memiliki arti mencari. Kedua kata tersebut memiliki makna sepadan.

c) Sinonimi Klausa dengan Kata
Sumilir angin wates nggugah kangene ati (3)
(Hingga hembusan angin malam menggugah rindu di hati)
Kowe tak kangeni (5)
(Padahal kamu aku rindukan)

Pada kutipan (3) diatas, terdapat sinonimi antara klausa dengan kata yaitu klausa nggugah kangene ati dengan kata tak kangeni pada kutipan (5) yang keduanya memiliki makna yang sepadan yaitu ‘merindukan’.

d) Sinonimi Kata dengan Krasa
Ning alun-alun goleki (6)
(Aku mencarimu di alun-alun)
Terminal stasiun tak ubengi (7)
(Bahkan aku mengelilingi terminal dan stasiun)

Kepaduan wacana tersebut didukung oleh aspek leksikal berupa sinonimi antara kata goleki ‘mencari’ pada baris ke-6dengan frasa tak ubengi ‘mengelilingi’ pada baris ke-7.

3) Antonimi (Oposisi Makna)
Antonimi dapat diartikan sebagai satuan lingual yang maknanya beralawanan atau beroposisi dengan satuan lingual yang lain. Antonimi disebut juga oposisi makna. Pengertian oposisi makna mencakup konsep yang betul-betul berlawanan sampai kepada yang hanya kontras makna saja. Berdasarkan sifatnya oposisi makna dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu :
a) Oposisi Mutlak
Oposisi mutlak adalah pertentangan makna secara mutlak. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan oposisi tersebut.

b) Oposisi Kutub
Oposisi kutub adalah oposisi makna yang tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat gradasi. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan oposisi tersebut.

c) Oposisi Hubungan
Oposisi Hubungan adalah oposisi makna uyang bersifat saling melengkapi. Karena bersifat saling melengkapai maka kata yang satu dimungkinkan ada kehadirannya karena kehadiran kata yang lain yang menjadi oposisinya; atau kehadiran kata yang satu disebabkan oleh adanya kata yang lain (Sumarlam, 2009: 41-42). Kutipan kata yang mengandung oposisi hubungan dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini sebagai berikut.

Ning alun-alun tak goleki (6)
(Aku mencarimu di alun-alun)
Terminal stasiun tak ubengi (7)
(Bahkan aku mengelilingi terminal dan stasiun)

Pada data diatas terdapat oposisi hubungan antara kata alun-alun ‘tempat wisata’ pada kutipan (6) dengan kata Terminal stasiun ‘tempat berhintannya bus dan kreta api’ pada kutipan (7). Kata alun-alun kehadirannya akan lebih bermakna apabila ada Terminal stasiun dan sebaliknya sebagai tempat penantian sang kekasih pergi.

d) Oposisi Hirarkial
Oposisi Hirarkial adalah oposisi makna yang menyatakan deret jenjang atau tingkatan. Satuan lingual yang beroposisi hirarkial pada umumnya kata-kata yang menunjuk pada nama-nama satuan ukuran ukuran (panjang, berat, isi), nama satuan hitungan, penanggalan dan sejenisnya. Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan oposisi tersebut.

e) Oposisi Majemuk
Oposisi Majemuk adalah oposisi makna yang terjadi pada beberapa kata (lebih dari dua). Dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan oposisi tersebut.

4) Hiponimi (Hubungan Atas-Bawah)
Hiponimi adalah semacam relasi antara kata yang berwujud atas-bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain (Gorys Keraf, 2005:38). Hiponimi dapat diartikan sebagai satuan bahas (kata, frasa, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Unsur atau satuan lingual yang mencakupi beberapa unsur atau lingual berhiponim itu disebut “hipernim” atau “superordinat” (Sumaralam, 2009:45). Penggunaan hiponimi dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini:
Midero sajagad raya (9)
‘berkelilinglah sejagad raya’
Kalingana wukir lan samudra (10)
‘terhalang gunung dan lautan’
Lha kae lintange mlaku (6)
‘lha itu bintangnya berjalan’.


Pada kutipan lirik diatas, yang merupakan hipernim atau super ordinatnya adalah jagad raya ‘alam semesta’. Sementara itu yang termasuk dalam alam semesta sebagai hiponimnya adalah wukir ‘gunung’, samudra ‘samudra’ dan lintang ‘bintang’.

5) Ekuivalensi (Kesepadanan)
Ekuivalensi adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma (Sumarlam, 2009:46). Kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjukkan adanya hubungan kesepadanan. Lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini terdapat dua morfem asal yang memiliki ekuivalensi dengan kata bentukan yang telah mengalami proses afiksasi. Penjabaran ekuivalensi pada lagu tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut.
a. Mecak’e endahing wengi kutha Nganjuk iki (2)
(Suasana keindahan malam di kota Nganjuk ini)
Sumilir angin wates nggugah kangene ati (3)
(Hingga hembusan angin malam menggugah rindu di hati)

b. Ning alun-alun tak goleki (6)
(Aku mencarimu di alun-alun)
Disekseni lampu alun-alun iki (11)
(Lampu alun-alun menjadi saksinya)

Pada data (a) hubungan makna antara kata wengi kutha dengan angin wates semua dibentuk dari bentuk asal yang sama yaitu suasana. Demikian pula pada data (b) yaitu hubungan makna antara kata alun-alun ‘manis’ dan lampu alun-alun yang mempunyai kata dasar alun-alun.

B. Analisis Aspek Kontekstual
Analisis kontekstual adalah analisis wacana dengan bertumpu pada teks yang dikaji berdasarkan konteks eksternal yang melingkupinya.baik konteks situasi maupun konteks cultural. Pemahaman konteks-konteks tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai prinsip penafsiran dan analogi. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah :

1) Penafsiran Personal
Berkaitan dengan siapa yang menjadi partisipan di dalam suatu wacana. Halliday dan Hasan (1992:16) menyebut penutur dan mitra tutur atau partisipan dengan istilah “pelibat wacana”. pelibat wacana biasanya menunjuk pada orang-orang yang berperan dalam wacana, kedudukannya, jenis hubungan perannya, ciri fisik dan non-fisik, serta emosi penutur dan mitra tutur.
Untuk mengetahui pelibat wacana dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini, mari kita simak kutipan berikut:
Lunga tak anti-anti kapan nggonmu bali (1)
(Ketika kamu berpergian aku bertanya kapan kamu kembali)
Apo kowe ora ngerteni (4)
(Apa kamu tidak menungguku)
Kowe tak kangeni (5)
(Padahal kamu aku rindukan)
Ning alun-alun tak goleki (6)
(Aku mencarimu di alun-alun)
Terminal stasiun tak ubengi (7)
(Bahkan aku mengelilingi terminal dan stasiun)
Senajan setahun tak enteni (8)
(Walaupun satu tahun pasti aku tunggu)
Tresnamu sing tak gondheli (9)
(Rasa sayangmu yang aku harapkan)

Berdasarkan referensi pronomina persona mudah diketahui bahwa pelibat wacana dalam lagu tersebut adalah persona pertama tunggal aku ‘aku, saya’ dan pronomina persona kedua tunggal -mu ‘dirimu’. Unsur (seseorang atau nama orang) yang diacu oleh pronominal persona aku ‘aku’ tidak dapat ditemukan di dalam lagu tersebut karena sifat acuannya yang eksoforis. Sementara itu, unsur yang diacu oleh pronomina persona -mu ‘dirimu’pada kutipan di atas dapat ditemukan lagi di dalam bait selanjutnya karena sifat acuan yang endoforis. Pertanyaan yang muncul sebenarnya siapakah sesungguhnya aku ‘saya’ dan siapakah -mu ‘dirimu’ dalam lagu tersebut?
Aku sebagai penafsiran personal dalam lagu tersebut setidak-tidaknya mempunyai beberapa tafsiran yakni :
a. Pengarang lagu itu sendiri
b.Orang yang khusus menyanyikan lagu itu untuk dipopulerkan
c.Siapa saja yang membaca lirik lagu atau sengaja menyanyikan lagu tersebut.
d.seorang lelaki atau perempuan yang sedang dimabuk asmara.
Sedangkan -mu ‘dirimu’ atau adalah penafsiran terhadap pelibat wacana yang bisa ditafsirkan sebagai :
a. Ditujukan untuk seseorang yang dikasihi sang pengarang.
b. Kata sapaan dari seorang lelaki untuk kekasihnya atau sebaliknya.
c. Siapa saja yang menjadi pujaan hati atau orang yang didambakan.

2) Penafsiran Lokasional
Berkenaan dengan penafsiran tempat atau lokasi terjadinya suatu situasi (keadaan, peristiwa, dan proses) dalam rangka memahami wacana. Berdasarkan perangkat benda yang menjadi konteksnya kita dapat menafsirkan tempat terjadinya suatu situasi pada tuturan dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini sebagai berikut :
Mecak’e endahing wengi kutha Nganjuk iki (2)
(Suasana keindahan malam di kota Nganjuk ini)
Ning alun-alun tak goleki (6)
(Aku mencarimu di alun-alun)
Terminal stasiun tak ubengi (7)
(Bahkan aku mengelilingi terminal dan stasiun)

Pronominal demonstrative seperti kutha Nganjuk dan alun-alun, terminal stasiun merupakan tempat yang mengacu secara eksplisit (bisa saja tidak benar-benar dialami oleh pengarang saat menceritakan lagi tersebut) sehingga tidak ditemukan suatu situasi atau tempat karenanya sulit ditafsirkan.

3) Penafsiran Temporal
Berkaitan dengan pemahaman mengenai waktu. Berdasarkan konteksnya kita dapat menafsirkan kapan atau berapa lama waktu terjadinya situasi (peristiwa, keadaan, proses) dapat terlihat dalam lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini sebagai berikut:

Mecak’e endahing wengi kutha Nganjuk iki (2)
(Suasana keindahan malam di kota Nganjuk ini)
Sumilir angin wates nggugah kangene ati (3)
(Hingga hembusan angin malam menggugah rindu di hati)

Pronomina demonstrative waktu Mecak’e endahing wengi ‘ketika keindahan malam datang’ mengacu pada Sumilir angin wates itu ditafsirkan bahwa mungkin sang pengarang mengarang lagu itu terinspirasi ketika malam datang dan saat yang tepat untuk berkasih mesra oleh sepasang kekasih adalah ketika malam datang.

4) Penafsiran Analogi
Prinsip analogi digunakan sebagai dasar, baik oleh penutur maupun mitra tutur, untuk memahami makna dan mengidentifikasi maksud dari (bagian atau keseluruhan ) sebuah wacana. Dan dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini penafsiran analogi ditemukan dalam wacana sebagai berikut:
Sumilir angin wates nggugah kangene ati (3)
(Hingga hembusan angin malam menggugah rindu di hati)

Dari penganalogian Sumilir angin wates nggugah kangene ati (3) ditafsirkan bahwa semilirnya angin malam mengingatkan rasa rindu yang membuncah saat ditinggal sang kekasih. Sehingga dari analogi sebab akibat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa maksud dari lirik lagu tersebut adalah lagu dari seorang pria atau perempuan yang sedang merindukan sang kekasih pujaan hatinya.





C. Analisis Aspek Inferensi
Adalah proses yang harus dilakukan oleh komunikan (pembaca/ pendengar/ mitra tutur) untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat dalam wacana yang diungkapkan oleh komunikator (pembicara/ penulis/ penutur).
Inferensi dapat diambil dari sebuah tuturan bergantung pada konteks yang menyertainya. Terdapat empat macam konteks yaitu: konteks fisik, konteks epistemis, konteks linguistic, dan konteks sosial.
1) Inferensi Fisik
Inferensi fisik yang terdapat di dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini dapat diketahui sebagai berikut:
Mecak’e endahing wengi kutha Nganjuk iki (2)
(Suasana keindahan malam di kota Nganjuk ini)
Sumilir angin wates nggugah kangene ati (3)
(Hingga hembusan angin malam menggugah rindu di hati)

Dari data di atas menunjukkan bahwa adanya konteks fisik yakni bahwa kerinduan sang kekasih begitu dinanti-nanti di saat malam tiba di kota Nganjuk.

2) Inferensi Epistemis
Inferensi epistemis yang terdapat di dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini tidak ditemukan konteks tersebut.

3) Inferensi Linguistik
Inferensi linguistik yang terdapat di dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini dapat diketahui sebagai berikut:
Lunga tak anti-anti kapan nggonmu bali (1)
(Ketika kamu berpergian aku bertanya kapan kamu kembali)
Lali tenan to dhik nggonmu janji-janji (10)
(Apa kamu lupa sungguhan dik, dengan janji-janjimu)
Disekseni lampu alun-alun iki (11)
(Lampu alun-alun menjadi saksinya)
Lali tenan to dhik karo aku iki (12)
(Apa kamu lupa sungguhan dik dengan aku ini)

4) Inferensi Sosial
Inferensi linguistik yang terdapat di dalam lirik lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini dapat diketahui sebagai berikut:
Senajan setahun tak enteni (8)
(Walaupun satu tahun pasti aku tunggu)
Tresnamu sing tak gondheli (9)
(Rasa sayangmu yang aku harapkan)
Lali tenan to dhik nggonmu janji-janji (10)
(Apa kamu lupa sungguhan dik, dengan janji-janjimu)
Disekseni lampu alun-alun iki (11)
(Lampu alun-alun menjadi saksinya)
Lali tenan to dhik karo aku iki (12)
(Apa kamu lupa sungguhan dik dengan aku ini)
Ning terminal stasiun nggonku nggoleki (13)
(Di terminal dan stasiunlah aku mencarimu)

Dari data di atas dapat diketahui bahwa adanya inferensi sosial yang terjadi antara dua sang kekasih yang sedang dilanda kerinduan. Karena sudah beberapa lama berpisah tanpa bertemu kembali. Namun rasa kerinduan itu tak memudar sedikitpun, hingga ia sanggup menanti sang kekasih walaupun ia akan datang bertahun-tahun lamannya.
6. Kesimpulan
Dari proses analisis data yang telah dilakuakan, telah ditemukan simpulan terhadap analisis wacana lirik Lagu Alun-Alun Nganjuk Karya Novita Anggraini berdasarkan dari tiga aspek yang terdapat di dalam kajian wacana, yakni aspek leksikal, kontekstual dan aspek inferensi.
Ketiga aspek di atas secara umum dapat diketahui bahwa ketiga aspek tersebut digunakan oleh pencipta lagu Alun-Alun Nganjuk untuk menghasilkan lirik lagu sebagai sebuah wacana yang padu. Bahkan aspek tersebut memiliki nilai yang sepesifik di setiap bait-bait lirik lagu Alun-Alun Nganjuk karya Novita Anggraini. Bahkan ketiga aspek tersebut saling dominan menjadi tumpuan terbentuknya keindahan makna lirik lagu yang diciptakan pengarang, sehingga menghasilkan lirik lagu yang sangat menyentuh jiwa seseorang yang sedang ditinggal sang kekasih.
Begitu populernya lagu ini dikalangan masyarakat, bisa diakibatkan pengarang lagu yang begitu piawai dalam memilih diksi yang pas dan konteks yang menyentuh jika seseorang akan rindu kepada kekasihnya. Sehingga lagu ini begitu mudah diterima masyarakat luas.



Daftar Rujukan


Anggraini, Novita. 2005. Alun-Alun Nganjuk (Video Clip). Ndaru Breng: Nganjuk.

Kartomihardjo, Soeseno. 1992. Analisis Wacana dan Penerapannya (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar). SKIP: Malang.

Sumarlam. 2009. Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra.

Sumarlam, dkk. 2004. Analisis Wacana, Iklan, Lagu, Puisi, Cerpen, dan Novel Drama. Bandung : Pakar Raya.
http://awan80.blogspot.com/analisis wacana lagu camelia karya ebiet g ade kajian tekstual dan konteks situasi.html. (Diakses pada tanggal 5 Desember 2010)
http://iphototv.blogspot.com/2008/08/pemenang-kdi-5-novita-anggraeni-vita.html. (Diakses pada tanggal 5 Desember 2010)
http://istana-musik.blogspot.com/2009/01/kumpulan-lagu-lagu-vita-kdi.html. (Diakses pada tanggal 5 Desember 2010)



Lampiran Lirik Lagu:
ALUN-ALUN NGANJUK
Karya, Vita Anggraini


Lunga tak anti-anti kapan nggonmu bali (1)
(Ketika kamu berpergian aku bertanya kapan kamu kembali)
Mecak’e endahing wengi kutha Nganjuk iki (2)
(Suasana keindahan malam di kota Nganjuk ini)
Sumilir angin wates nggugah kangene ati (3)
(Hingga hembusan angin malam menggugah rindu di hati)
Apo kowe ora ngerteni (4)
(Apa kamu tidak menungguku)
Kowe tak kangeni (5)
(Padahal kamu aku rindukan)
Ning alun-alun tak goleki (6)
(Aku mencarimu di alun-alun)
Terminal stasiun tak ubengi (7)
(Bahkan aku mengelilingi terminal dan stasiun)
Senajan setahun tak enteni (8)
(Walaupun satu tahun pasti aku tunggu)
Tresnamu sing tak gondheli (9)
(Rasa sayangmu yang aku harapkan)
Lali tenan to dhik nggonmu janji-janji (10)
(Apa kamu lupa sungguhan dik, dengan janji-janjimu)
Disekseni lampu alun-alun iki (11)
(Lampu alun-alun menjadi saksinya)
Lali tenan to dhik karo aku iki (12)
(Apa kamu lupa sungguhan dik dengan aku ini)
Ning terminal stasiun nggonku nggoleki (13)
(Di terminal dan stasiunlah aku mencarimu)