Kamis, 24 Oktober 2013

Psikoanalisis: Pengertian dan Hubungan dengan Karya Sastra Populer


 
Pengertian Psikoanalisis
Rene Wellek dan Austin Warren (1995:78) mengartikan bahwa istilah “psikologi sastra” mempunyai empat kemungkinan pengertian. Pertama, studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pribadi. Kedua, studi proses kreatif. Ketiga, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Keempat, studi tentang dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca).
Endraswara (2008:46), psikoanalisis merupakan istilah khusus dalam penelitian psikologi sastra. Artinya, psikoanalisis ini banyak diterapkan dalam setiap penelitian sastra, yang diambil dari teori psikoanalisis hanyalah bagian-bagian yang berguna dan sesuai saja, terutama yang berkaitan dengan pembahasan sifat dan perwatakan manusia.
Hjelle dan Ziegler (1992) mengartikan psikoanalisis menjadi dua bagian: pertama, sebagai teori mengenai kepribadian dan psikopatologi. Kedua, sebagai metode terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk menyelidiki pikiran dan perasaan individu yang tidak disadari.


Hubungan Psikoanalisis dengan Karya Sastra Populer
Teori psikoanalisis yang dikemukakan Freud dimanfaatkan untuk mengungkapkan gejala psikologi yang ada di dalam karya sastra. Analisis terhadap gejala psikologi yang ada pada bahasa yang diungkapkan pengarang dan juga digunakan untuk menilai karya sastra sebagai proses kreatif. Selain itu, psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk menganalisis secara psikologis tokoh-tokoh dalam drama dan novel. Karena terkadang pengarang secara tidak sadar maupun secara sadar memasukan teori psikologi yang dianutnya ke dalam intrinsik cerita. Dari situlah peran pembaca sebagai penganalisis, korektor sekaligus pengkritik terlihat sebagai pelaku utama dalam mengkaji karya sastra berdasarkan teori psikoanalisis. Akan tetapi, dalam melakukan hal itu pembaca memerlukan pendekatan teori resepsi dalam menjawabnya. Resepsi digunakan karena pembaca berperan dalam memandang karya sastra dari unsur makna dan bentuk sesuai penjelasan historis pemahaman.
Jadi, hubungan antara psikoanalisis dengan sastra populer terlihat dari pembaca. Psikoanalisis dipakai pembaca menganalisis karya satra dalam melihat keretakan (fissure), ketidakteraturan, perubahan, dan distorsi yang sangat penting dalam suatu karya sastra. Hasil dari analisis pembaca juga dapat mengklasifikasi pengarang berdasar tipe psikologi dan tipe fisiologisnya. Dalam pengungkapannya pembaca dapat mengambil bukti-bukti autentik itu dari dokumen di luar karya sastra atau dari karya sastra itu sendiri. Namun dalam menginteprestasikan karya sastra sebagai bukti psikologis, pembaca perlu mencocokannya dengan dokumen-dokumen di luar karya sastra.




Daftar Referensi

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Presindo.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar