Minggu, 26 Mei 2013

Sukses Terbesar dalam Hidup (bagian)



SEPENGGAL ASA MEMBIDIK DUNIA
 oleh Midun Aliassyah



Sukses, merupakan implementasi keberhasilan dari usaha besar seseorang dalam mewujudkan suatu harapan. Bagaimana kesuksesan selalu menjadi barometer berhasil tidaknya atas kinerja yang dilakukan oleh suatu individu ataupun kelompok. Sebagaimana saya, selalu bersikap optimis dalam menjalankan segala apa yang sudah saya rencanakan agar terwujud sukses. Akan tetapi, untuk menuju kesuksesan tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan, pastinya penuh tantangan dan hambatan baik yang terduga maupun tidak terduga. Disitulah kekuatan mental seseorang diuji.
Dalam hidup saya, kesuksesan besar yang pernah saya raih yakni bagaimana saya dapat membuktikan kepada orang tua dan orang-orang terdekat bahwa saya mampu untuk mempublikasikan hasil pemikiran saya ke orang banyak. Mempublikasikan hasil tulisan fiksi saya kebeberapa penerbit dan media masa secara nasional. Berkarya dengan permainan kata dan peristiwa hingga terciptanya suatu cerita utuh. Saya gemar menulis puisi, cerpen, dan juga novel yang saya gali terus kegemaran itu semenjak SMP. Bagaimana saya seusia SMP itu, selalu berandai-andai bagaimana caranya karya-karya tulis yang saya hasilkan bisa dibaca orang? Sedangkan ketika saya mencobanya menawarkan ke kakak-kakak saya agar mau membacanya, mereka selalu menampiknya dan mengatakan kalau tulisan yang saya hasilkan jelek. Tapi dari situlah saya mampu berpikir ke arah perkembangan tulisan yang saya hasilkan, dengan mencari sisi kejelekan itu dan merubahnya menjadi daya tarik baca. Kegemaran menulis fiksi ini menuai masa puncaknya semasa menjadi mahasiswa sarjana. Saya mulai percaya diri menawarkan karya saya ke berbagai media masa, penerbit, dan juga mengikut sertakan dalam aneka perlombaan menulis. Semakin banyak saya berusaha mempublikasikan karya, bukannya semakin banyak pula karya saya yang dimuat atau menang perlombaan. Kegagalan selalu saya dapat, tapi saya tidak menyerah, sebab saya selalu yakin kegagalan awal dari kesuksesan. Berusaha dan terus berdoa untuk menghasilkan karya terbaik merupakan langkah tepat.
Bagi saya, menulis realitas kehidupan yang dituangkan kedalam fiksi merupakan profesi yang mahal. Karena tidak semua orang bisa berimajinasi sempurna selain pengarang cerita. Bagaimana pengarang mampu membungkus luasnya isi dunia hanya dalam satu, dua paragraf. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Marilah kita membiasakan menulis dari hal sekecil apapun yang terjadi di lingkungan sekitar kita.

*Essay (sebagian) memenuhi salah satu persyaratan beasiswa Afirmasi LPDP (Kementerian Keuangan)

Sabtu, 25 Mei 2013

KUMPULAN STATUS FACEBOOK

Risalah 'Status' Facebook


Wall Facebook, akun milik Midun Aliassyah

         Kliping merupakan kegiatan mengumpulkan suatu objek dengan objek-objek lain ke dalam satu kumpulan/ wadah. Ya seperti itulah yang ingin saya lakukan di postingan kali ini. Saya ingin mencoba mengkliping status-status Facebook yang asli saya tulis atau status dari hasil pemikiran saya sendiri. Dalam artian ide, kata-perkata, jadilah kalimat dan paragraf merupakan hasil kreativitas saya sendiri. 
           Status-status Facebook yang akan saya kliping di laman blog ini, yakni status yang berkaitan tentang kegelisahan, ungkapan kegembiraan, ucapan selamat, atau bahkan gambaran di mana saya mengalami keadaan terpuruk! Pada intinya kolom status Facebook lah menjadi tempata pelampisan saya untuk mengunkapkan segala sesuatu apa yang saya rasa atau alami. Berikut status-status akun Facebook saya yang mulai saya kliping dari tahun 2011, 2012, dan 2013. 
          Semoga dengan adanya klipingan ini, status-status Facebook saya bisa abadi, sarana intropeksi diri, referensi masa depan. hehe............


"Bila 'Cantik itu Luka', aku tidak ingin tergesa-gesa bersuara dengan segala pujian paling indah ketika kau melayangkan perpisahan.
Sebab itu hanya akan membuatmu gundah saat di pembaringan tidur panjang. Tunggulah, dan bersabar hati hingga kedatangan senja berulang seratus kali.
Dan aku, sesegera mengeja suatu kata puitik pada epitafmu yang telah kusam, 'Cantik itu Suatu Berkah Buatmu!'
"
                                                                                                                                        25 Mei 2013


"Kepingan Wajah Ibu; Sungguhpun kepingan itu berceceran di dasar samudera, pasti aku akan menyelami dan menemukan kepingan-kepingan itu. Akan aku rekatkan berwujud wajah Ibu...."
                                              15 Mei 2013


"Ketika tahu akan Freeport, langsung terkonsep dibenak bagaimana kaya rayanya alam Papua, dan teringat pula betapa pedihnya perjuangan hidup rakyat disana yang terkisah dalam novel 'Tanah Tabu' karya Anindita S Thayf.
Papua lagi berduka, semoga dukamu tak berkepanjangan, dan kesejahteraanmu menuai kenikmatan seperti saudara-saudaramu di pulau lain......"
14 Mei 2013


"Ketika kawan sejawat saya asyik menyeduh karir dan gaji dari kerja keras mereka,
saya masih saja berkutat menjamahi teori yang semakin menyadarkan kebodohan saya, ohh, semoga (mampu) bernasib baik seperti kawan sejawat,
#Saya bangga dengan nasib baik kalian, kawan......
"
 13 Mei 2013


"Menilik kembali pada sejarah,
betapa faktualnya, Agama selalu dimusuhi oleh para pemikir falak.
Dan karena itu, bila fobia terhadap agama-agama bermunculan, tidak perlu adanya kerisauan....
"
 13 Mei 2013


"Yai Tiada Umat, mendesah perihal kiamat, entah apa yang mau diperbuat,
sampai si sarung membalut tujuh-belasan jimat, gondal-gandul; perangainya bak monyet kalap kecebur empang, mlengos sini-sana-situ, eehh, tak tahunya ternyata ia mencari imannya yang katanya dipinjam sama calo maksiat!
"
 13 Mei 2013


"Tahukah kau, aku purna mengeja atma, sekali mengintai letak pembaringanmu terjamah setangkai mawar putih pada longgokmu, aku kedua, sebegitukah? Masamnya kelu melibas kegagahan yang aku punya sekali-tigakali kau kata setiap kita bersua pelbagai muslihat cinta, kau dan aku samahalnya anti dengan itu, betapa picik dan sakit berkeyakinan akan hal itu, candu abadi.
Tak urung aku mengurai derma pada epitafmu, sesaat ekstase, bersimbah kenang yang beberapa pekan merajai keabnormalanku, sekali lagi aku kilu aku mengingat kita pada pusara waktu sama-sama mentelanjangi masa, dan kau tahu, aku yang tak berwarna kau coba skemakan nirwana yang begitu bungah kesumba pada dadaku, lalu kau mendurma pemanggil Tuhan, aku skeptis dan menahu begitukah caramu.
Tahukah kau, pada pusaramu ini aku merindu yang tak sanggup tertahan lagi.....
"
8 Mei 2013


"Tanya Malam,
:: Sahabat semasa kuliah sudah pada menikah, pastinya diimbangi pekerjaan menjamin, dan saya sangat bangga dengan jalan mereka,
sedangkan saya masih disini, disini, (sekali lagi) disini berpangku dagu mengurai; 'seperti apa takdir jalan saya?', meniti harap tiada menepi, entah pertemuan apa yang Kau janjikan dan menjanjikan itu, aku terpatri.
Kesabaran menjadi lagu termanis, mengikis kepahitan upaya yang semakin menipis,
semoga, dunia imajiner yang berkesudahan, dan yakin....
"
8 Mei 2013

""Buntu, ngandat, mau dikemanakan lagi, ada sesuatu yang belum aku tahu dari kamu, dan aku menjamin sesuatu yang belum aku tahu itu sesuatu boombastis...."
6 Mei 2013

 "Baru tahu kalau e-KTP dilarang untuk di fotokopi, sesuai surat edaran Mendagri (Gamawan Fauzi) Nomor 471.13/1826/SJ. Padahal tadi sore baru saja mengembangbiakkan itu kartu sampai beranak-pinak. Terus kalau begitu, kalau ada urusan administrasi yang mensyaratkan fotokopi KTP untuk dilampirkan gimane jadinya....."
6 Mei 2013

"Selangkah lebih tertinggal dari posisi teman, selamat jalan....."
5 Mei 2013
 
"Menyinggung persoalan agama sungguh sensitif sekali, sedikit mencoelpun bisa jadi dianggap pembangkang, bagaimana jadinya...."
4 Mei 2013

"Aku ingin tertawa di atas penderitaanmu sebagai pengarang.”
“Kenapa?”
“Kau tak ubahnya presiden dari negeri bualan.”
“Atas dasar apa kau menyamakanku?”
“Iya sama. Tak beda jauh. Sama-sama pandai berbual atas dasar eksistensi semata.”
“Lantas?”
"Haha, Tidak apa-apa sih, cuma aku semakin kasihan!"
4 Mei 2013


"Aku ingin kembali menuliskan tentang kamu, tapi tidak sebinal dulu.
Kamu memang penuh inspirasi, aku mengagumimu.....
"
29 April 2013

"Jika benar, dunia dipenuhi kaum perempuan dibandingkan jumlah laki-laki, seharusnya tidak ada lagi polemik patriarki, 10:1 begitu, otoritas dan sentral.... hehe 
#Merdeka, kartini-kartini masa kini......"
27 April 2013

"Mungkin sebaiknya, melakukan penebusan terhadap tuntutan itu dengan sesuatu yang tidak mengecewakan selayaknya lebih dari sekedar intimidasi....."
 27 April 2013

"Bagi saya, menulis realitas kehidupan yang dituangkan kedalam fiksi merupakan profesi yang mahal. Karena tidak semua orang bisa berimajinasi sempurna selain pengarang cerita. Bagaimana pengarang mampu membungkus luasnya isi dunia hanya dalam satu, dua paragraf. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Marilah kita membiasakan menulis dari hal sekecil apapun yang terjadi di lingkungan sekitar kita."
 22 April 2013


"Bagaimana saya selalu merindukan keajaiban datang, sebagaimana saya selalu meyakini bahwa Tuhan selalu ada buat saya....."
  19 April 2013


"Sudahkah saya sejahtera di atas tanah kelahiran sendiri?
#SadarkahSaya......
"
17 April 2013


 “Aku ingin menyentuh surga diiringi rasa kesetiaan yang amat dalam aku pendam, walaupun itu terasa tak mungkin bagimu!”
 13 April 2013


"Sudah waktunya untuk memulai, bukan?
Dari sisi mana, terserah, mainkan imajinasi masing-masing.....
"
 5 April 2013


"Pengalaman, ya memaknainya sebagai pengalaman lebih arif, daripada dimaknai sebagai suatu kegagalan."
16 Maret 2013


"Klise: Kuliah selesai, langsung harus dapat kerjaan, bergaji besar, nenteng BB limited edition, beli mobil, & mobil itu sebagai indikator kesuksesan!
Sayang, nasib seperti itu tidak berpihak pada saya.
"
23 Februari 2013 

"Mukena bermotif surga, aku kenakan untuk Emak tercinta....."
23 Februari 2013

"Bunga tanah bencana, merekah di antara nyala dupa, menyerbak sedap kedurjaan pada sangkala pamor ukiran maha karya.
Entah karena apa, indra tak menyapa.....
"

13 Februari 2013

"POTRET: Kalau perempuan dilarang duduk mekangkang saat dibonceng sepeda motor, apa mungkin alangkah baiknya duduk 'jongkok' di atas jok!
 Kan jadi gak kelihatan itu....."
 3 Februari 2013

"Sesampai aku singgah di ujung labirin itu, aku tak ingin berpaling untuk mengintai jejak bayang yang mengundus berlawanan. Sebab aku tak ingin purna sebelum sampai di titik kenyataan.... "
1 November 2012

"Aku mengargai kematian sebagaimana aku memindai masa...."
1 November 2012

"Pada masa,
Kaki berpijak tanah, tangan bergelantungan lembut menggiringi sayupan angin, mata menggantung langit pada pusara yang tak terjangkau, akal bermuslihat abstrak tentang apa, siapa aku, dan mengapa aku disini?
Selayaknya, aku berbuat memanusiawikan keadaan yang didogmakan.
"
19 Mei 2012

"BULAN BIRU-
menunggui dengan segenap harap, ditemani sepiring jenang gendol dan segelas air kelapa muda yang dari tadi aku biarkan tergeletak tanpa sesegera aku lahap. Sebuah ritual klasik, tentang pelayaran kisah. Aku berbuat menunggui, melakoninya entah karena kepastian logika atau skeptisisme terhadap keberuntungan.
Sayangnya, hal ini tidak membuat jemu dan jera sebab keterasingan pudarnya malam. Bulan Biru, bagiku sebuah sajian nostalgia berbalut sukma Wulan dan Kenanga.
"
6 Maret 2012


SEPENGGAL BULAN KABUNG
Wajah Bulan:

Sejak dulu.

Entah kenapa, aku begitu suka dengan bulan. Kagum akan hasrat rupa.

Bingkai Jendela:
Menerawang sambil membayang keterpautan antar logika, samar, andai...andai..., dan andai aku serupa arjuna; pengantar cahaya pada sekeliling mata. Ahh, sendu di balik terbukanya dunia.

Tilas Hujan:
Teringat, yaa, masa lalu, dalam suram genang anugerah. Mengoyak nuraga, akan kezaliman harga diri berbuah aib.

Mati atas ingin, dan berharap takdir suratan.

Rupa Sembab:
Tepatnya, benar-benar teringat, keelokan aksara yang terukir pada penanda hayat. Setangkas hati, aku berseru, "Selamat menuai masamu!"
20 Februari 2012

"Tidak ingin selalu berlayar bersama kekalutan Samawi, cukup berlabuh di satu sisi dan karam di lautan darat."
13 Februari 2012

"Lembah itu semakin kerontang, jika aku tak menyetara dengan zat mineral!"
7 November 2011

"Bersama bibir merah itu, aku memberanikan diri untuk merekah dalam daya!"
 6 November 2011

"...dan kini kata tak meneguhkan, sebab Si Malaikat raja perakit diksi, ampuh semahajana. Beralih merenggut kunci, frase, ditolak, lantas ke klausa, hambar, dan...sampai di kalimat pasi. Ya, ini mampu menepis nyala, namun sedikit, sejengkal saja. Mencoba membumbui dengan tanda kuasa, sebelumnya bertanya, hingga melengkung tanda, mencoba seru, dan sekali lagi menegak tanda. Lantas, haruskah koma untuk memisahkan suatu rincian, tetap nihil, beralih ke titik, sebuah noktah. Bintik kecil peneguh kunci kuasa. Atas dasar, lafal kembali terucap di balik 2 sisi penting yang bertolak belakang. Dan kini, saya menyatakan sanggup, merengkuh dan memapah asa. Terbuka saja, reinkarnasi."
2 November 2011


The Journey; Situs Majapahit, Mojoagung, Mojokerto



MENJELAJAHI SITUS-SITUS PENINGGALAN 
KERAJAAN MAJAPAHIT, MOJOAGUNG, MOJOKERTO




       Awal tahun 2013. Sekian lama tidak ketemu sahabat perempuan saya sewaktu kuliah, Yuaida Dwi Fatmawati. Sahabat yang begitu baik hati, suka menolong, penyabar. Bagaimana dia salah satu teman di mana selalu ada dan membantu saya ketika mengalami paceklik, atau populer dengan kangker (kantong kering), akibat saya belum mendapatkan jatah transferan dari orang tua. Krisis finansial. Yahh, betapa melasnya saya ketika masa-masa seperti itu hadir membelit kehidupan saya di tanah rantau. Akhirnya jalan penolongnya ya nyari pinjaman uang ke teman alias ngutang, maklumlah fenomena seperti itu sudah menjadi hal biasa bagi mahasiswa rantau. Dan ke Aida lah, saya sering ngutang. Aida pun selalu baik hati. Atas sifat kebaik hatiannya tersebut sosok dia tidak akan terlupakan dalam hidup saya.
       Sampai selulus dari Universitas Jember pun dia tetap menjadi salah satu sahabat terbaik saya. Sampai suatu saat saya berkeinginan bersilaturahmi ke rumahnya, di Mojoagung (kurang tahu alamat lengkapnya, hehe). Sesampai disana saya disambut baik oleh Aida dan keluarganya. Satu jam kemudian Aida mengajak saya jalan-jalan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang kesemuannya tidak jauh dari rumahnya. Ternyata oh ternyata, saya diajak mengunjungi situs-situs peninggalan kerajaan Majapahit. Mulai dari bekas kerajaan, candi-candi, tempat pemandian, dan juga patung Budha yang katanya menjadi salah satu patung Buddha terbesar di Asia. Ohya, berikut foto situs-situs yang saya kunjungi dengan Aida. Sedikit atau bahkan banyak narsisnya, tapi tidak apalah, yang penting bisa eksis. hehe....................


  1. CANDI TIKUS

Situs 1 yang saya kunjungi. Candi Tikus



Midun Aliassyah, ikut mampang. hehe.....

Leha-leha ala Midun Aliassyah.....


2. CANDI BAJANG RATU



Candi Bajang Ratu nampak depan

Midun Aliassyah


 3. WIHARA PATUNG EMAS BUDDHA TIDUR


Patung Emas Buddha Mojokerto
Replika Kehidupan Umat Budha


 
Shasono Bhakti, Mojokerto



4. PENDOPO AGUNG, MOJOAGUNG


Pelataran Pendopo Agung, Mojoagung, Mojokerto
Replika Kepala Mahapatih Gajah Mada & Midun Aliassyah





Begitulah, perjalanan wisata saya ke situs-situs bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit, yang terletak di kecamatan Mojoagung, Mojokerto. Dengan berkunjung ke situs-situs tersebut, selain refreshing kita bisa sekalian belajar ilmu sejarah, arkeologi secara langsung. Ohya, saya coba tunjukkan foto sahabat saya dan sekaligus menjadi penujuk wisata saya. hehe........



Yuaida Dwi Fatmawati, sahabat karib saya..... :)

Jumat, 24 Mei 2013

Cerpen Mata Menggantung Dunia



MATA MENGGANTUNG DUNIA
Oleh Midun Aliassyah*






Saat itu, entah Tuhan berada di mana!
Pada mulanya adalah sebutir air mata. Sekelompok sel kecil berbentuk anggur yang berbaris di pinggir kelopak mata atas dan bawah, tepat di balik bulu mata. Menjadikan mata menggantung lara, dan aku memercayainya jika air mata yang aku punya merupakan anugerah. Bukan air mata biasa, pasti sedikit orang bernasib sama denganku. Aku cukup bangga, dengan penderitaan yang aku alami. Karena kebanggan inilah yang membuatku bertahan hidup.
Kali ini, aku benar-benar merasa tersiksa. Siksaan yang melebihi deritanya ketika aku tak makan lima hari. Dan perihal tidak makan itu memang sudah menjadi garis nasib yang menjadikan kebiasaan, dan aku sangat memahami. Tetapi apa yang aku derita, serasa berlari mendekati ajal. Badan demam, menggigil, tulang terasa lunglai, linu merejang, tak ada daya di bawah guyuran hujan deras bulan Desember. Di bawah naungan pohon jambu yang rimbun memang bisa dijadikan tempat berteduh, tapi percuma, sebab kali ini hujan turun deras sekali.
Aku sadar, kalau sebenarnya tempat yang aku jadikan berteduh bukanlah tepat. Tapi mau bagaimana lagi. Sebelumnya, aku benar-benar kebingungan dan tenaga yang aku punya sudah habis untuk mencari tempat layak, rasa capek sungguh menyergapku luar biasa. Gara-gara setelah lari terpontang-panting di sela-sela jalan kecil gank perumahan Bandur Permai. Atas usaha yang aku perbuat untuk menghindari kejaran Om Surya. Dan gerimis pun datang saat aku terengah-engah menata nafas setelah berhasil menghindari kejaraan penjabat gila yang ingin mencelakakanku. Helaian rambutku mulai basah, rasa dahaga mulai menyerang, dan aku benar-benar butuh sesuatu untuk diminum. Tapi apa aku punya? Tidak. Dengan terpaksa aku menengadahkan tangan untuk menampung air hujan. Tangan kecilku ternyata tak cukup untuk menjadi cawan, akhirnya kepalaku menengadah ke langit gelap dan mulut terbuka lebar. Lumayan, tak ada gelas mulut pun tetap mampu meneguk air.
 Langit semakin menggelegar, petir kelihatan terang menghunus ke daratan bumi. Semakin lama hujan pun semakin ganas menjatuhkan diri dari langit. Lebat, butirannya begitu kasar bersentuhan dengan pipi. Air mataku bercampur dengan kesucian hujan. Putih merah. Kepala terasa terpukul-pukul oleh benda kecil yang tak wujud itu, sakit. Kemudian aku berteduh di bawah pohon jambu yang tak jauh dari tempatku berdiri. Dengan harapan aku bisa terlindungi dari amarah hujan. Tapi berselang beberapa waktu kemudian, tubuhku menggigil, aku merasakan kedinginan yang amat sangat. Gigiku bergemrutuk mengadu, kedua tanganku menyilang mendekap erat badan, lama-lama kedua kaki tak mampu menopang lagi. Air mataku berhenti menetes, terganti dengan air mata bumi. Akhirnya aku merebahkan tubuh di atas trotoar di pinggiran jalan. Dan aku tak tahu, sekarang berada di mana. Yang pasti sekarang aku berteduh di bawah pohon jambu lebat, berbuah kesumba ranum, tumbuh subur di depan rumah sederhana yang memiliki pagar tak cukup tinggi untuk dijangkau. Aku merasakan penderitaan. Antara harapan dan ajal.
*** 

Pagi sudah berayun-ayun memainkan embun yang berjatuhan. Siang beranjak, diterjang mentari yang memanggang ujung daun dan menelanjangi kegagahan gedung-gedung bertingkat. Dan petang yang dinantikan masih terlelap, dan sebentar lagi akan terjaga kembali mengiringi rona-rona gemilang lampu pijar penerang kehidupan Kota.
Terpojok. Aku selalu sendiri menggiring hingar-bingar kekalutan orang-orang Kota. Terkadang aku menyelinap pada bayang tungkai yang melenggang begitu saja. Terkadang pula aku berusaha meraih keegoisan mereka jika tak memedulikanku. Atau aku berpura-pura untuk mengutil belas kasihnya dengan cara merupa wajah melas demi sekeping recehan di antara kartu kredit tersimpan. Itu saja yang aku lakukan terhadap orang-orang Kota, dan tak lebih karena aku sadar sebagai seorang Anjal, si Anak Jalanan.
“Anjali....”
            Serasa ada yang mengenal identitasku. Dengan sergap kutoleh sumber suara itu berasal.
“Akhirnya aku menemukanmu!”
Benarkah orang ini mengenal namaku? Tapi siapakah dia. Sebelumnya aku tidak pernah menemui wajah Laki-laki seperti ini. Memakai baju rapi dan beralas sepatu pantofel yang sedikit membuat penglihatan jadi silau ketika memandang.
“Ayo ikut saya. Ada orang yang menunggumu di sana!”
Laki-laki itu berkata seraya senyum kepadaku, dan sekejap itu aku menganggap dia bukanlah orang jahat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah mobil mewah yang ada di seberang kanan jalan. Dan aku melihat sesaat, langsung terkesima. Aku mengikuti ajakan si laki-laki dan melangkahkan kaki mengarah ke tempat mobil itu terparkir.
Tanpa basa-basi aku disuruhnya masuk ke dalam mobil. Sedikit terlintas keraguan di benakku, tetapi, hmm...aku merasakan kenikmatan. Ternyata mobil ini kemewahannya tidak hanya terlihat dari luar. AC, full musik, dan juga tempat duduk yang nyaman. Di dalam mobil aku berkenalan dengan Laki-laki paruh baya. Ia berpawakan lebih elegan. Laki-laki ini juga sangat baik, keramahan dan rasa peduli ia curahkan kepadaku. Padahal aku gadis bau, tak baik untuk dihirup hidung Laki-laki kaya seperti dia. Perihal bau sepertinya memang kodratku, maklum saja, karena aku tidak mengenal mandi, ganti baju, intinya aku tidak mengenal kebersihan. Dan ternyata ia tahu kalau aku kelaparan, dan diajaknya aku ke suatu rumah makan yang ada di pusat kota.
Sebelum sesampainya di rumah makan yang dituju, aku diajak Om Surya mampir ke toko pakaian. Ohiya, aku sekarang memanggil laki-laki paruh baya ini dengan sebuatan Om Surya. Dia yang menyuruhku, aku-pun tidak keberatan. 
Wahh...aku begitu kagum dengan semua apa yang aku lihat sekarang. Beraneka pakaian anak terpajang rapi di sana-sini. Mengagumkan. Jujur, ini baru pertama kalinya aku masuk ke toko pakaian anak, biasanya aku hanya cukup memandangi dari luar atau hanya bisa iri melihat orang tua menggandeng ananknya keluar dari toko sambil menjinjing tas pembungkus pakaian yang dibeli.
Sekarang aku seorang gadis cantik. Itu pujian dari Om Surya. Dan aku senang jika ada orang menyebutku cantik. Menawan. Satu jam kemudian, tidak membutuhkan waktu lama aku sudah menghabiskan semua makanan yang terhidang di depanku. Om Surya tidak ikut makan, ia hanya senyum-senyum melihat aku terburu-buru melahap semua makanan. Aku begitu kekenyangan. Dan hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku.
***

“Perkenalkan namaku Anjali. Nama kamu siapa?”
Aku menedekatinya, ingin kupeluk begitu saja gadis yang malang ini. Dia terlihat manis, seusia denganku. Gadis ini pun juga memakai pakaian yang bagus. Namun sayangnya ia tidak memiliki sepasang mata cantik sepertiku. Gadis malang ini ternyata tidak menggubris kedatanganku. Ia masih diam saja, duduk sambil memegangi boneka Tedy Bear lucu di atas ranjang tidur.
“Beginilah kondisi Rara. Anak Om satu-satunya. Ia menderita seperti itu semenjak kelas lima SD. Gara-gara peristiwa nahas yang sulit untuk Om ceritakan.”
 Suara Om Surya terdengar sayu, aku jadi sedih mendengarnya.
“Bagaimana Anjali, apakah kamu mau membantu Om?” Om Surya mendekatiku, tangan kanannya mengelus-elus helaian rambutku. Aahh...serasa aku memiliki seorang Bapak.
“Menolong untuk apa Om?” aku mencoba menimpali pertanyaan.
“Memberikan pertolongan demi kesembuhan Rara. Biar dia mampu melihat keindahan dunia.” Dari kedua pelupuk mata Om Surya meneteskan air.
Om Surya kemudian memeluk tubuh mungilku.
“Bagaimana, apa kamu bisa menolongnya?” Dari pelukan, Om Surya beralih menatap kedua mataku. Dan aku lebih tak kuasa memandangnya. Dan ini sudah menjadi kebiasaan, karena aku tak suka jika ada seseorang menatap mataku. Intinya aku tak rela orang lain melihat sesuatu dari mataku.
***

Keesokan harinya, aku diajak Om Surya berkunjung ke salah satu rumah sakit terkenal yang ada di kota. Ternyata di rumah pesakitan ini, aku akan dipertemukan dengan dokter spesialis yang biasa merawat Rara.
Sepanjang menyusuri koridor rumah sakit, Om Surya selalu menggandeng tanganku. Seperti anak dan bapak. Ketika kami lewat, orang-orang yang ada di rumah sakit selalu memerhatikan aku dan Om Surya. Ada yang memberikan anggukan hangat, sekedar sapaan, bahkan ada pula yang menjabat tangan Om Surya. Walaupun sapa atau jabat tak ada yang mengarah padaku, tapi aku cukup bangga berada di sisi Om Surya. Serasa aku menjadi artis yang disambut sang penggemar.
Ketika mendatangi dokter, Om Surya dapat menemuinya tidak sesulit orang-orang lain. Dan aku dengar dari perbincangan orang-orang di depan ruang, bahwa ada yang sudah mengantri dua jam. Aku heran kenapa Om Surya berbeda! Tapi tak apalah, pikirku mungkin Om Surya merupakan sahabat dokter, jadi ia tidak perlu mengantri.
“Oh ini ya anak yang menjadi pendonor mata untuk Rara. Mata kamu cukup elok.” kata Pak Dokter setelah menyapaku.
Om Surya mengangguk. Dan sekejap itu, kebingungan merajai otakku. Sebenarnya apa tujuan dari Om Surya mengenalku? Apa benar yang dibilang Pak Dokter? Dan anehnya, pertanyaan yang seharusnya aku pertanyakan di awal, kenapa baru aku pertanyakan sekarang!
Saat itu pula aku keluar dari ruang periksa. Aku berlari di antara gerombolan orang. Tak aku pedulikan teriakan Om Surya memanggil namaku. Tidak sedikit orang yang memerhatikan. Aku tak peduli, terus berlari ke arah pintu  keluar rumah sakit.
 Ternyata Om Surya tidak menyerah begitu saja. Ia tetap mengejarku. Akupun semakin mengencangkan langkah lariku. Tak peduli ada orang, ataupun sesuatu yang menghadang jalan. Dan tanpa aku sadari, air mataku serasa akan mengalir. Aku takut jika hal ini terjadi. Sebab aku tak ingin ada orang melihat air mata yang aku punya. Ini harta satu-satunya yang paling berharga, aku harus menjaganya. Air mata merah.
  Dalam lari, aku tak henti-hentinya berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi. Mengulang peristiwa, pertama kali kenalan dengan Om Surya, Rara dan juga seorang Dokter yang memberitahuku dari percakapannya, bahwa Om Surya ternyata seorang Wali Kota. Perkenalan sesaat, namun membekas amat dalam batin. 
Lagi-lagi aku menyalahkan diriku, aku terlalu liar untuk mengenal orang. Seharusnya tak semudah itu aku percaya dengan orang yang baru aku kenal. Walaupun orang yang mengenalku seorang Wali Kota yang kaya harta. Aku benar-benar menyesal berkenalan dengannya, Om Surya. Mungkin ini pelajaran berarti bagiku. Orang kaya selalu berkuasa di atas penderitaan orang terlantar sepertiku. Jadi semau-maunya ia ingin berbuat apa, walaupun itu akan berakibat menyakitkan atau menghilangkan nyawa. Tetapi baginya, mungkin ini suatu hal biasa jika ia lakukan terhadap kaum sepertiku. Aku bersumpah, tidak akan lagi memercayai orang seperti Om Surya.
***