Senin, 02 November 2015

Legenda Air Terjun Sedudo Nganjuk

SEDUDO
 Legenda, dalam rimba peradaban yang tak teruntuhkan masa
 



KONON, air paling jujur mencerminkan peradaban. Kejernihannya mampu merengkuh tilas waktu. Membekukan angkara, mencairkan segala rupa yang dinamai kesucian. Sosoknya tenang dan mengalir, seiring irama, telah menyuarakan pada pelayaran kisah. Kisah sebuah keluarga pengagum air. Dari bumi Pace kisah ini bergema. Menyenandung kesakralan Gunung Wilis. Nyaring tanpa sungkan, merindu masa lampau. Dan demikianlah kisah ini bermula.
“Bagaimana peradaban dibangun dengan kejujuran air?”
Sejatinya pengagum. Segala sesuatunya ingin diketahui. Lewat percakapan keingintahuannya didapat. Sambil bergurau. Khidmat. Sesekali pun berdebat. Ya, saat berdebat inilah, membuat aku bangga menjadi bagian keluarga ini. Walaupun terkadang membuat aku sakit hati. Lantaran aku seringkali dibiaskan.
Namun tak apalah. Aku tahu bagaimana cara mereka menganggapku ada. Lagi pula tidak selayaknya aku mengeluh sakit hati. Selayaknya aku bercerita keharmonisan.
Dikala malam mulai singgah menyepi. Alam melarutkan rasa kantuk. Meninabobokan lelah. Mengusir kekalutan siang, mengundang berupa-rupa harum wewangian. Mistik. Menyeruak ke dalam sudut-sudut rumah. Lewat celah-celah dinding anyaman bambu. Bersamanya kabut kemarau menggugah dingin. Membuat sesiapa ingin berselimut dalam kidung malam.
“Yah…, kenapa diam?”
“Iya. Maaf Nak.” Aku melihat Ayahanda tertegur linglung. Atas apa yang ditanya Bara.
“Peradaban kok bisa dibangun dari kejujuran air?”
“Sejatinya air bertalian hidup dengan yang lain.”
“Maksud Ayah, berteman dengan tanah, udara, dan juga api kah?”
Ayahanda tersenyum. Degup bangganya tertolehkan ke rasa penasaran Bara yang bersandar di pangkuannya. Dan aku semakin khidmat menyimak obrolan mereka.
“Iya Nak.” Ia mengangguk meyakinkan.
“Mereka satu-kesatuan hidup yang tak terpisahkan. Mereka tercipta untuk saling melengkapi bumi.”
“Api dan air kan saling bermusuhan?”
“Bermusuhannya api dan air bukan saling tikam-menikam demi kekuasaan. Tak seperti peperangan yang kau lihat antar kerajaan itu. Justru, sifat air yang cair dan mendinginkan. Api yang berupa bara dan memanaskan. Ibarat kebohongan akan teredamkan oleh kejujuran. Mereka saling beradu untuk kedamaian.”
“Sekarang paham maksud cerita Ayah. Aku ingin menjadi air. Jujur bersikap biar disayang Ayah.” Si Bara kecil menggeliat senang di pangkuan Ayahanda.
“Pasti kalian menjadi putra yang jujur. Ayah sayang kalian.” Didekapnya kedua putranya yang mulai merajuk diserang kantuk. Sedangkan aku terkesima diam dari balik jendela kamar. Dinginnya desau angin malam tak aku hiraukan. Lagi-lagi aku belajar kehidupan dari keluarga ini.
Dari kejahuan, sayup-sayup suara burung hantu mulai menandai kesunyian. Re-ke-teg bambu-bambu beradu, terdengar dari kebun belakang rumah. Waktunya kegelapan malam meraja. Kegelapannya menidurkan keresahan dan mendongengkan mimpi.
*

Sangking khidmat menyimak cerita Ayahanda tadi malam, membuatku kalang kabut. Mbangkong. Mendapati sang surya sudah nampak dari balik kaki gunung Wilis. Dahan pinus berayun-ayun, gegap gempita, seiring desau angin menyambut kehidupan. Pohon jati tak berdaun, meranggas kemarau, bertelanjang diri tanpa sedaun pun menutupi. Kehidupan kembali bersinergi, mengeja masa meraup asa.
Tanpa aku sadari, dari balik punggung siul burung Prenjak menghardik. Siulannya sengaja ditujukan menertawaiku. Aku tak terima dengan ulahnya. Aku terpanggil mengejarnya dari pohon jati satu ke pohon lainnya. Semakin aku berusaha mendekatinya, semakin pula Prenjak muda memacu kecepatan terbangnya. Ia terbang melesat, aku kalap mengejar. Menyerah kalah. Barangkali sebab usia tua yang tak lagi mendaya.
Aku beranjak menuju pintu dapur rumah. Menoleh aktivitas sekeliling. Aku dapati Ayahanda sedang menaruh dandang di atas tungku. Kerumunan tiwul menyembul dari dandang yang tak bertutup. Sungguh sedap disantap saat tiwul masih hangat dengan tumbukan cabai rawit. Pedas-panas. Seperti itulah sensasi yang terujar dari Ayahanda. Tapi jujur, jika pun sensasinya selezat itu tidak pernah sekalipun membuatku tertarik mencicipi. Mencium baunya, membuatku cepat-cepat menghindar dari jangkauannya.
“Air… airr… aaiiirrrr… menyegarkan badanku.” Teriak Bara. Ia bersemangat mandi pagi. Teriakannya bersumber dari balik salah satu batu besar yang memadati aliran air sungai Temburi. Selain hamparan hutan, sungai Temburi sejatinya sumber penghidupan penduduk Pace.
Tidak ingin Bara mengetahui kehadiranku, aku bergegas menjauh darinya. Sebab ketika Bara mandi, samahalnya ia akan mendatangkan musibah. Ia akan begitu kegirangan memercikkan air ke tubuhku. Padahal aku tidak selalu menyukai air. Aku benci basah.
Aku mencari sosok lain. Pastinya selain Bara ataupun Ayahanda. Namun semakin aku pergi menjauh dari rumah dan menapaki perbukitan, belum aku jumpai pula sosok itu. Entah di mana keberadaannya. Sambil mencari, sesekali aku mengumpat diri. Gara-gara mbangkong aku kehilangan jejaknya. Benar-benar menyesal. Aku sibak dahan-dahan pinus yang menghalangi jangkauan penglihatan. Dan akhirnya, aku dapati sosoknya.
“Tolong bantu menyingkirkan semut-semut merah itu.”
Tanpa ia berteriak-teriak dari atas pohon pinus pun, pasti aku dengan senang hati membantunya. Ini sudah tugasku. Memunguti semut-semut merah yang mendiami sarang burung Walet. Kita selayaknya sahabat.
Perkenalkan sahabatku ini. Awan, namanya. Ayahanda dikaruniai dua putra. Walaupun sekandung, dipandanganku keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Bara sosok ragil yang mulai terlihat gagah dan cerdas di usia kekanakannya. Ia banyak tingkah. Sedangkan Awan, si sulung yang lebih pendiam dan berbadan kurus tinggi. Di antara mereka bertiga, kedekatanku hanya dengan Awan. Semenjak ia usia balita, aku sudah mengenalnya. Mengenal bau ingus, cara ia merengek ketika lapar, ataupun bau badannya.
Sebagai anak seorang tabib, Awan seringkali ditugasi mencari sarang burung Walet untuk diolah menjadi obat. Resep obat sarang Walet menjadi primadona para pasien yang berobat ke Ayahanda. Sarang ini bisa mengobati berbagai penyakit. Terkadang Awan juga mencari beraneka tanaman obat lainnya yang tumbuh liar di perbukitan kaki gunung Wilis.
“Kik….kik….kikkk,” terdengar suara Kidang di balik rimba yang terhampar lebat di tubuh gunung Wilis. Aku melihat Awan sudah selesai memasukkan sarang Walet ke keranjang punggung untuk dibawa pulang. Bila kik-kikan induk Kidang mulai terdengar itu pertanda waktu kami untuk menyelesaikan aktivitas buruan. Kik-kikan sang induk yang lagi menyusui anaknya itu akan berbunyi selalu tepat waktu. Tepat sang surya mulai condong di barat. Ketepatan inilah dijadikan penduduk Pace yang berprofesi berburu apapun di hutan akan mengakhiri pekerjaannya. Tanpa dipandu pulang pun, mereka dengan sendirinya akan bergegas pergi.
Sesampai di rumah, senja sudah mengangkasa begitu elok di ufuk barat. Kilauan abu-abu awan maghribnya, sedikit demi sedikit memudar dari pandangan. Tanpa segan, rasa lapar menyerangku. Tapi aku balas menghardiknya untuk bersabar. Menunggu Awan beranjak dari dapur menyelesaikan makan malamnya. Dan kemudian ia akan mengambilkan biji jagung seperti biasanya. Butiran-butiran jagung muda, gurih dan menyehatkan. Awan tidak akan pernah lupa dengan hal ini. Karenanya aku selalu bersahabat setia dengan Awan.
“Banyak pasien hari ini?” Tanya Awan, sembari ia membantu Ayahanda membereskan berbagai wadah ramuan obat yang berserakan di atas meja praktiknya. Di ujung meja, temaram api oncor mencahayai obrolan mereka.
“Lumayan Nak. Ohya, tadi Gerhana berobat sama ayahnya.” Timpal balik Ayahanda.
“Dia tergigit ular lagikah?”
“Tidak. Ayahnya yang berobat. Bisulan di sekujur tubuh.”
“Kok bisa?”
“Maklum, ia kena tulah leluhur. Menebang anak beringin di makam Ki Kanjeng tanpa pamit.”
Tiba-tiba raut muka Awan meradang. Diikuti gelengan kepala. Aku tahu ia membatin gelisah-marah. Ada-ada saja perilaku warga Pace yang tidak patut ditiru. Bagi Awan, alam begitu melimpah ruah sumber dayanya. Tapi anehnya, masih ada saja yang menebangi pepohonan.
“Tadi Gerhana juga berpesan, kapan kamu mengajak dia berburu jamur lagi?”
Nah, ini yang aku rindukan. Berburu jamur di hutan. Menemukan jejak jamur, samahalnya menjajaki teka-teki berpetualangan. Aku rindu mengundus keberadaan jamur yang tumbuh di bantaran sungai. Tumbuh di antara ilalang kering, di batang pepohonan jati, ataupun di ranting-ranting yang berserakan di bantaran sungai.
Jamur kuping. Bentuknya yang lucu, kenyal, kemerah-merahan. Begitu imut menggemaskan. Aku percaya, kalau jamur kuping tidak lain dari kuping kurcaci. Para kurcaci yang tinggal di lembah pucuk gunung Wilis. Ketika kurcaci mati, kuping-kupingnya akan abadi berwujud jamur. Pernah sesekali aku bercerita asal mula jamur kuping ini ke Awan. Seketika ia membantah tidak percaya. Dianggapnya aku sedang mengutarkan mimpi.
Namun sekarang aku tidak lagi bermimpi. Rasa penasaran yang terpendam hingga belasan tahun lamanya, kini akhirnya terkuak. Membuat aku terharu menyimaknya.
“Aku kangen sosok ibu. Bagaimana cara menemuinya, Yah?” lagi-lagi Bara. Ia membuat Ayahanda tersontak di malam buta.
“Hmm… sudahlah Nak. Sudah malam!” Nampak gusar Ayahanda menjawab.
“Tidak. Selagi Ayah belum memberitahu, aku tidak tidur. Sekarang usiaku semakin dewasa. Dulu Ayah berjanji akan bercerita keberadaan ibu.”
Keingintahuan Bara tidak bisa dicegah. Ia memburu keingintahuannya. Semakin Ayahanda diam tidak menjawab, ia semakin polah di atas dipan reot yang tiap malamnya dijadikan sandaran mimpi. Tingkah Bara tidak terkendalikan. Kepalan tangannya ia pukul-pukulkan di tubuh dipan. Kereotan dipan terdengar memekik kesakitan. Tanpa disadari, kaki kecil Bara yang tidak terkendalikan menendang oncor yang disandarkan di ujung bawah dipan. Seketika, “Brakkk….” Oncor terjatuh. Apinya meluap.
“Cepat siram dengan air kendi di sampingmu?” ulah kesigapan Ayahanda yang biasa meletakkan kendi di meja kecil dekat dipan. Awan pun tanggap, dan…
“Byuurr…byuurr….” Api padam. Amarah Ayahanda padam.
Di luar sana. Burung hantu berlagu. Suaranya syahdu mencekam. Diiringi temaram sinar rembulan, masuk menyeruak jengah. Berpendar dari selah-selah genting yang tak tertata rapi.
Setelah Ayahanda memungut oncor basah yang tergeletak di kolong dipan, ia kembali merebahkan diri bersama dua putranya. Ia sadar, dalam keadaan begini tidak perlu ada amarah. Ia sentuh kepala Bara dengan penuh kasih sayang.
“Bara… jangan kamu ulangi lagi ya. Ayah percaya kamu sudah tumbuh dewasa.”
Entah merasa bersalah atau tidak, Bara seketika diam. Ia luluh akan tutur Ayahanda.
“Mungkin memang sudah saatnya ayah bercerita.” Ayahanda menarik nafas sebelum melanjutkan bercerita.
“Ibu…. ibu kamu tidak lain dari pepohonan yang tumbuh di hutan gunung Wilis!” tanpa keraguan ia mulai bercerita.
“Maksud Ayah, aku anak pepohonan?”
Kecerdasan Bara membuat Ayahanda tertawa kecil.
“Ha..haa… bukan. Maksud ayah, semenjak kamu balita, ibu kamu menjelma diri, di antara pepohonan kokoh itu. Jadi kalau kangen sosok ibu, jangan pernah ada niatan menyakiti pepohonan-pepohonan itu. Dengan mencintai dan merawat alam, kangenmu akan terobati.”
Takjub. Bilamana air mata bagian dari ungkapan ketakjuban, pada saat inilah aku ingin meneteskan butiran-butirannya. Sayangnya aku tidak tahu, bagaimana caranya.
Ayahanda memang sosok ayah sesungguhnya. Tuturannya tidak lain dari sabda alam yang sering kali aku agungkan. Syarat makna. Lantas, bagaimana tanggapan Bara, setelah rasa keingintahuannya terjawab? Entah, aku tidak memerhatikan. Seketika perhatianku tertuju pada sahabatku, Awan. Semenjak Ayahanda dibuat gusar dengan keingintahuannya Bara, sahabatku tidak bergeming sedikitpun. Ia lebih memilih posisi telentang miring. Memunggungi Bara yang disampingnya dan juga Ayahanda. Dan aku tahu, sahabatku berlinangan air mata.
*

Pada masa beradu kegersangan kemarau. Meresahkan angin barat bertiup tanpa sabar. Ranting-ranting pepohonan jati bersilat garang. Rintihannya mengeluh sengsara. Serbuk bunga jambu gugur sebelum masamnya. Beterbangan ke segala penjuru. Menebar serabut-serabut putih. Berjatuhan. Laksana hujan salju di tanah tropis.
Begitupun gunung Wilis. Raganya semakin memanas. Kemarau panjang, membuat kesegaran alam tidak lain dari khayalan. Alam semakin tua mengeja usia. Ilalang kering tak ubahnya kemilau rambut uban. Reranting pepohonan menari-nari goyah sebab dehitrasi.
Menuanya alam bukan berarti menuanya masa depan Awan. Jiwanya semakin dewasa. Raganya semakin perkasa. Dewasanya usia, ditandai pula dewasanya bersikap. Entah tutur sikap untuk dirinya sendiri ataupun bagi yang lain. Dan aku, semakin gamang dengan masa depan. Tapi aku yakin, kegamangan itu suatu saat akan luntur selagi bersahabat dengan Awan.
Dan saat kedewasaan inilah, Awan mengenal perempuan. Bermula ketika kemarau benar-benar lagi berkuasa. Angin bertiup gersang. Mengundang berbagai macam penyakit yang entah dari mana rimbanya. Penduduk Pace, semakin gelisah meratapi kehidupan. Hutan tak lagi menyuburkan pundi-pundi alam. Ladang tanaman merekah kerontang tanahnya. Barisan hewan ternak puasa sepanjang waktu. Saat di mana alam benar-benar sekarat.
Satu, persatu penduduk Pace berdatangan ke rumah Ayahanda. Mengeluh kesakitan. Berbagai penyakit ingin disembuhkan. Dengan rasa sabar dan kepedulian, Ayahanda meramu ramuan sesuai keluhan. Tanpa lagi mengenal siang kemarau, tanpa lagi takut akan kegelapan malam, warga datang tiada henti. Saat genting seperti inilah, aku tidak lagi menemukan perbedaan Awan dan Bara. Mereka sama-sama anak dermawan.
Keluarga tabib dermawan. Kebaikannya tersiar di jagat orang. Tidak hanya penduduk Pace yang berbincang. Keluarga Kepatihan Anjuk Ladang, juga seringkali datang merujuk sebotol air ramuan. Maklum saja bila Ayahanda berteman baik dengan orang kerajaan ataupun pembesarnya. Salah satunya, ia sejak lama berkawan baik dengan Raja Kediri. Dan kunjungan Raja Kediri saat senja tiba inilah yang mengajarkan Awan jatuh hati kepada perempuan.
“Bukan berarti saat aku terkena musibah, lalu berkenan bertamu ke kediamanmu.”
Ungkap malu-malu Raja Kediri. Seusai ia dan rombongannya dipersialahkan duduk di hamparan tikar pandan.
“Oh tidak apa-apa kawan. Ada apakah gerangan engkau jauh-jauh dari Kediri datang menyambang?” Walaupun kenal akrab, Ayahanda berujar santun dan penuh hormat kepada tamunya.
“Sudi kiranya, kawan mau membantu penderitaan putri saya.”
Ayahanda tersentak kaget. Saat di mana Raja Kediri menunjukan jarinya mengarah putrinya. Aku lihat Ayahanda semakin mengamati penderitaan yang ditujukan pada putri kawannya. Memang ia terlihat amat paling menderita di antara rombongan raja yang datang.
Obrolan mereka pun tidak berlangsung lama. Tanpa menghiraukan waktu semakin petang, Raja Kediri beserta rombongan pergi meninggalkan putrinya.
Sang Putri yang sungguh malang. Seharusnya kecantikannya membuat sesiapa terpana ketika memandang. Tubuhnya semampai. Layak berpredikat putri kerajaan. Helaian rambutnya tergerai panjang menghitam. Tapi sungguh malang, bila kecantikan itu sebuah luka. Alias, sekujur kulit Sang Putri dihinggapi bisul yang menjijikan. Sampai-sampai seseorang akan kesulitan saat mewarnai kulitnya itu sebangsa apa. Putih atau kegelapan.
“Awan, Bara… kalian malam ini mengalah. Biarlah Sang Putri tidur di dipan kalian.” Tutur Ayahanda yang menemui kedua putranya di dapur. Mereka bersembunyi mulai dari kedatangan Raja Kediri bertandang ke rumah.
Terlihat, sebetulnya Bara tidak rela dipannya dipakai tidur Sang Putri. Aku pun sebenarnya juga tidak menyalahkan ketidakrelaan Bara. Bagaimana tidak, bau bisul Sang Putri sungguh menyengat basi. Memualkan. Sepertinya setiap bisulnya didiami makhluk kecil yang menyebabkan bau begitu menyengat. Namun berkat Awan, ketidakrelaan Bara luluh seketika. Mereka bertiga malam ini tidur tergeletak di lantai dapur.
Kehadiran Sang Putri, membuat kekacauan nafsu makan keluarga Ayahanda. Walapun ia seorang tabib yang pastinya seringkali menemui perihal menjijikan yang diakibatkan suatu penyakit. Tapi tidak ada yang terpaling menjijikan dibandingkan bisul Sang Putri.
Aku yakin, Ayahanda begitu menaruh haru dan kasihan kepada putri kawannya. Walaupun Bara selalu saja menghindar dari jangkauannya, Ayahanda malah dari subuh buta berbincang-bincang dengan Sang Putri. Dan tahukah pula, di antara mereka berdua ada sahabatku yang sesekali nyengir-nyengir sendiri. Ya, Awan. Seolah-seolah ia bersuka cita menemukan sahabat baru. Bersemangat bertanya tentang berbagai hal mengenai Sang Putri. Di balik bisulnya yang menganga, ternyata Sang Putri sosok perempuan yang humoris dan cerdas.
“Mungkin sudah tidak selayaknya ayah membebani tugas kepadamu. Tapi apa boleh buat. Ayah tahu kamu anak baik. Untuk itu, ayah membebankan tanggung jawab kepadamu. Antarkan Sang Putri sampai Roro Kuning.”
Seusai berpamitan, Awan dan Sang Putri menelusuri ruas hutan dan menapaki bukit demi bukit. Kepercayaan yang diberikan Ayahanda menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Walau dalam keluarganya, Awan dikenal anak pendiam. Namun keberduannya bersama Sang Putri malah membuat Awan selayaknya laki-laki banyak tahu.
Awan bercerita, bagaimana keluarganya sebagai pengagum air. Segala sesuatunya tentang air seringkali diperbincangkan. Air sebagaimana sumber kehidupan yang tidak akan habis seiring bergantinya peradaban. Bahkan begitu percaya dirinya, ia menirukan ekspresi Ayahanda ketika bercerita, “Bumi ini bermula dari air. Airlah sumber kehidupan pertama kali!”
Ternyata Sang Putri begitu menikmati bualan Awan. Sesekali terkekeh. Saat itulah aku tahu, bahwa senyuman Sang Putri merupakan senyuman termanis yang dimiliki perempuan. Mungkin sebab inilah, Awan tidak terlihat merasa jijik sekalipun berdekatan dengan Sang Putri. Aku semakin menaruh kagum kepada sahabatku.
“Kakanda apa tidak merasa jijik berdekatan dengan saya?” Tanya Sang Putri kepada laki-laki yang dari awal bertemu tidak menaruh curiga apapun terhadap dirinya.
Awan pun tersentak dengan pertanyaan mengejutkan Sang Putri.
“Kenapa harus jijik? Setiap orang memiliki cara pandang berbeda-beda tentang kehidupan. Bagiku perihal paling menjijikan adalah menjemput kematian tanpa berbuat kebaikan kepada orang lain.”
Seketika Sang Putri tahu bahwa Awan benar-benar laki-laki baik. Dan ia mengalihkan topic pembicaraan.
“Sungai apa ini?” memang patut dipertanyakan. Semenjak perjalanan, rutenya seringkali melewati bantaran sungai yang mengalir deras airnya.
“Sungai Temburi. Tahukah kamu. Sungai ini satu-satunya sumber penghidupan penduduk Pace di kala kemarau datang.” Awan kegirangan menjawab.
Tanpa sekalipun memberi jeda bertanya, Awan masih bercerita keistimewaan sungai Temburi.
“Airnya selalu jernih menyejukan. Walaupun tak ada rerumputan, hewan ternak masih bisa bertahan hidup gara-gara air sungai ini.”
“Kamu tahu muasal sumber air ini mengalir?” Sang Putri semakin penasaran.
“Nah itu yang membuat kami terbungkam. Sampai sekarang pun penduduk Pace belum ada yang tahu sumber mata airnya ada di mana. Sebab inilah aku ditantang ayah mengembara di hutan demi mencarinya.”
“Kamu mau melakukannya?”
“Ya kenapa tidak. Suatu saat pasti aku menemukannya!”
Perjalanan yang melelahkan, tapi penuh suka cita. Akhirnya Awan dan Sang Putri sampai di Roro Kuning. Mereka disambut baik oleh dua tabib yang dulunya pernah berguru ke Ayahanda. Sebelum Awan berpamitan pulang, ia menyerahkan sebongkah garam dan tiga botol ramuan kepada Sang Putri. Pesan Ayahanda, kedua wasiat itu digunakan saat Sang Putri melakukan semedi di bawah guyuran air. Sang Putri akan bersemedi selama tujuh hari.
Roro Kuning merupakan salah satu air terjun yang berada di gunung Wilis. Airnya sejak lama dipercaya masyarakat sebagai penyembuh dari segala kutukan apapun. Menurut Ayahanda, penderitaan Sang Putri tidak lain wujud guna-guna atau sihir yang dilakukan oleh Raja kerjaan lain. Raja yang menaruh dendam terhadap kerajaan Kediri.
*

“Jangan beri aku alasan untuk mencintaimu lagi!”
Begitu beramarah mengungkapkannya. Bara naik tikam. Matanya memerah garang. Dahinya menyatu padu. Tinjuannya tertuju pada dinding rumah. Segala apapun yang ada di sekitarnya menjadi lapiasan. Berbagai botol ramuan pecah berserakan. Meja pun ia tendang kuat-kuat. Terbelah menjadi beberapa bagian. Beberapa warga yang saat itu mengantri berobat, seketika berlari tanpa arah. Ayahanda begitu terpukul dengan ulah Bara. Ia tidak mampu mencegah amarah putra ragilnya.
“Apa yang terjadi? Kenapa semuanya berantakan!”
Sesampainya di rumah, Awan dibuat bingung oleh keadaan. Ia mendapati Ayahanda duduk termangu di antara botol pecah dan bau ramuan yang menyesakkan. Rasa penasarannya ia ungkapkan berkali-kali. Ayahanda tetap saja tak bergeming. Kemudian Awan mendekati dan merengkuh punggung ringkih ayahnya.
“Ini perbuatan Bara. Ia merasa dikhianati Sang Putri.”
“Bagaimana bisa?”
Panjang lebar Ayahanda bercerita. Sepulang dari semedinya di Roro Kuning, kecantikan Sang Putri memancar begitu rupawan. Bisul yang menjangkiti sekujur kulitnya hilang tanpa bekas. Saat perubahan itulah, ternyata membuat Bara seketika jatuh cinta kepada Sang Putri. Cinta itu berlanjut hingga pandangan berikutnya. Karena Sang Putri sempat menginap di rumah Ayahanda hingga tiga hari lamanya.
Amarah itu memuncak ketika kedatangan Raja Kediri yang berniat menjemput pulang Sang Putri. Pada saat pamitan itulah, Raja Kediri juga menyampaikan maksud lain. Ia meminta restu Ayahanda. Sesampai di kerajaan, Sang Putri akan dinikahkan. Dipersunting oleh anak raja yang ketahtaannya dikenal hebat oleh Raja Kediri. Sebetulnya anak raja itu, pernah menolak lamaran Raja Kediri. Namun semenjak tersiar kabar, Sang Putri sembuh dari bisulnya ia menerima lamaran itu.
Tubuh Awan seketika gemetaran. Ia limbung di pangkuan Ayahanda. Untuk kedua kalinya aku melihat Awan berlinangan air mata. Bahkan ia meronta-ronta di atas botol-botol pecah. Darah pun mulai bercucuran. Aku tahu beberapa bagian kaki Awan luka.
“Kenapa harus orang lain yang merenggutnya? Padahal akulah yang tahu pertama kali kesempurnaan itu!”
“Sudahlah anakku.” Ayahanda menenangkan.
“Tidak hanya satu perempuan di bumi ini yang menjelma bidadari.”
Namun tetap saja, ucapan Ayahanda tidak membuat keadaan putranya tenang. Apalagi Ayahnda semakin gusar mengingat Bara belum kembali ke rumah.
Keesokan harinya. Halaman rumah Ayahanda begitu semarak akan rupa-rupa. Berbagai rupa wajah penduduk Pace yang memadati halaman rumah. Penduduk Pace bertumpah ruah. Anak kecil hingga nenek-kakek tua ikut merupa kegembiraan. Lebih semaraknya lagi, rupa dua belas gadis cantik yang berjalan padu mengarak bunyi gamelan. Inilah tarian, ‘Mongde’. Kesenian yang begitu mentradisi penduduk Pace. Dan aku mengamati pertunjukan ini begitu khidmat.
Kian lama gadis-gadis itu berjalan memutar dalam bentuk lingkaran. Para gadis bergincu merah. Berikat udheng gilig di kepala. Berbaju putih, bercelana panji hitam. Dibalut jarit parang kuning terikat kuat di pinggang. Gadis-gadis gagah itu disebut prajurit. Pementasan kesenian Mongde dimulai.
Penonton bersorak riuh saat prajurit serempak mengacungkan keris pada langit. Perpaduan musik gamelan semakin keras dibunyikan. Ada kemunculan lakon lain yang dinamai Penthul dan Tembem. Inti dari kesenian Mongde yakni terjadi adegan peperangan Lombo Rangkep. Penthul dan Tembem yang berlaga. Pada saat peperangan berlangsung, akan terdengar suara alat musik yang ditabuh bergantian.
“Mung…Mung…Munggg….” Telingaku semakin peka.
Terdengar Penitir ditabuh keras tanpa jeda. Bentuk Penitir serupa kempul. Dan berselang kemudian terdengar suara yang tak kalah kerasnya mengikuti irama, “...Dhe..Dhe..Dhe..” alat suara ini biasa disebut Bendhe. Dari bebunyian Penitir dan Bendhe ditabuh, menghasilkan alunan syahdu. Sinkronisasi nada; “Mung, Dhe, Mung, Dhe....” dari perpaduan bebunyian itulah kesenian ini dinamai, Mongde.
Pertunjukan Mongde usai, setelah Tembem mengalahkan Penthul dalam peperangan Lombo Rangkep. Namun sebelum pertunjukan benar-benar diakhiri, penduduk dibuat semakin bersorak gembira saat Tembem memanggul Awan di pundaknya. Tak mau kalah, Bara pun juga dinaikan di atas pundak Penthul. Hal itu dilakukan setelah mereka memeluk Ayahanda. Berpamitan untuk melakukan pengembaraan. Tepatnya, demi menghapus rasa kekecewaan dan penghianatan yang diperbuat Sang Putri. Sebab itu Ayahanda menyuruh kedua putranya untuk menemukan sumber mata air sungai Temburi.
Selangkah demi selangkah pengembaraan dimulai. Menelusuri hutan Gunung Wilis tak selamanya mendatangkan rasa senang. Semakin menjajaki arah puncak, rimba kegelapan semakin menyambut tak bersahabat. Apalagi ketika petang menjelma. Seolah-olah sekawanan makhluk rimba mengawasi dengan mata jahatnya. Siap menerkam jika kami terlelap.
Tepatnya sudah hari kelima, kami hampir sampai di salah satu puncak Gunung Wilis. Namun sumber mata air itu tidak kunjung kami temui. Terlebih mengenaskan, persediaan bekal makan mulai habis. Selama perjalanan kami hanya mengandalkan bekal yang dibawa. Kemarau tak bisa menghasilkan pundi-pundi alam yang bisa diharapkan.
“Aku mulai lapar.” Keluh Bara memelas.
“Tidak ada makanan lagi untuk memulihkan tenaga.” Awan pun menanggapi gusar.
“Yasudah, kita malam ini tidak usah melanjutkan perjalanan. Istirahat di antara tumpukan daun pohon ini.” Kedua tangan Awan direbahkan di atas tumpukan daun. Aku melihat sekeliling. Banyak pepohonan besar tumbuh besar memadati bentangan alam. Sangking besarnya, menghalangi sang surya menyentuh dataran tanah. Dan tak tahunya, kami benar-benar terlelap kelelahan.
“Buukkk….” Tiba-tiba ada yang membekap tubuhku.
Aku meronta. Namun ternyata semakin kuat dekapannya membuatku kesulitan untuk meoleh siapa dia. Bekapannya diperkuat, tubuhku merasa kesakitan.
“Hei… kamu gila apa? Lepaskan!!!” Awan bangkit dari tidurnya. Ia terdengar menghardik kepada sesiapa yang membekapku.
“Laparku tidak bisa semakin tertahan!” ia berujur. Dan aku tahu dari suaranya. Ternyata Bara yang ingin memakanku.
“Tidak seharusnya kau makan dia sebagai santapanmu!”
“Kenapa tidak? Ini hanya seekor burung Gagak. Kodratnya untuk disantap.”
“Benar-benar gila. Lepaskan dia!!!”
Mereka terdengar saling beradu emosi. Hanya indera pendengaranku yang masih berfungsi. Indera lain terbekap tanpa aksi.
“Apa yang harus dimakan? Dedaunan kering ini.” Tangan kiri Bara terlepas menggenggamku. Seketika aku merasakan kelegaan dari ancaman maut. Aku lihat tangannya ia gunakan memunguti dedaunan. Daun kering yang ia hamburkan ke arah Awan.
Awan sengaja tak menghidar dari hamburan daun yang menerjang wajahnya.
“Apa kau lupa? Keberadaan Ibu yang selalu mengamati di sekeliling kita.”
Bara diam. Sepertinya ia terpengaruh dengan omongan Awan. Pandangan Bara ia tolehkan ke sekelilingnya. Ia dapati barisan pepohonan besar tumbuh mengangkasa. Tak dinyana, Bara menangis sesenggukan. Dan aku terlepas dari genggamannya.
Pada saat itu sesuatu datang tiba-tiba. Tetesan air. Mungkinkah ini air hujan. Ternyata memang benar. Air hujan yang menghidupkan kegersangan.
Seketika daun-daun basah kuyup. Kami bertiga saling pandang. Mungkin dipikiran kita masing-masing sedang mempertanyakan, keajabaian dari mana ini? Kehidupan kembali datang. Kami semakin keheranan, saat daun-daun kuyup merekah dan di balik merekahnya muncul jamur kuping begitu banyaknya. Kami pun menyambutnya kegirangan.
Kegirangan kami semalam menghantarkan tidur terpaling nyaman. Paginya kami melanjutkan perjalanan. Semakin bertenaga menapaki pucuk gunung Wilis. Sebelum kami benar-benar sampai di puncak Wilis, kami beradu nyali dengan memanjat tebing yang di samping bawahnya jurang menganga.
Kami selamat. Lagi-lagi kami dibuat tertegun oleh keajaiban alam. Di balik tebing yang kami panjat, ternyata terhampar daratan. Keindahan daratan ini begitu elok. Di tengah-tengah daratan yang tak luas ini, terdapat sumber mata air.
“Inilah tujuan akhir pengembaraan.” Awan mengungkapkannya dalam linangan air mata.
“Apakah disinilah kita akan bertapa?” Bara masih tidak percaya dengan apa yang dilihat.
“Bukan di daratan ini. Tepatnya di gua yang tersembunyi di balik air terjun yang mengalir ini.” Telunjuk Awan ia arahkan ke pinggir tebing.
Sebelum mata air ini mengalir sampai di sungai Temburi, alur airnya ternyata melewati dua tebing. Dan masing-masing tebing di tengah-tengahnya terdapat gua. Sesuai amanat Ayahanda, mereka berdua akan bertapa di dalam gua entah hingga berapa lamanya.
“Sekarang kita perlu sesuatu untuk membungkam lubang mata air itu. Bila airnya mengalir kita tidak bakalan bisa menerjang derasnya dan singgah kedalam gua!” kegusaran Awan mendatangkan sesuatu dalam pikirku. Membungkam lubang mata air dengan batu besar di ujung itu bakalan tidak mungkin.
Namun di saat ketidakmungkinan merajai, aku menemukan sesuatu untuk mewujudkan harapan keabadian mereka. Entah gimanapun derita atau kebahagiaan yang aku dapat. Seketika itu aku dekati lubang mata air. Paruh yang selama ini menjadi perisai, tertancap tepat pada lubang mata air. Saat itulah aku pertama kali menemukan cara bagaimana mengurai air mata.
Sebelum kegelapan menghardik kesadaran, aku mendengar sesuatu yang terujar dari mereka. Semacam sumpah sebelum melakukan pertapaan.
“Sing mendudo”. Terdengar gaungnya dari gua yang terletak paling atas.
“Sing ora kromo.” Gaungnya terdengar lebih lirih.
Sing mendudo, Awan menyatu dengan sumpahnya. Sing ora kromo, penyesalan berujung keabadian Bara.
Mereka menyatu dengan alam. Gunung Wilis berkhidmat dalam kuasanya. Mengabadikan dua air terjun, “Sedudo” dan “Singokromo”.
*


*Naskah legenda ini, pernah diikutkan dalam "Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015". Diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar