Senin, 07 Juli 2014

KONSTRUKSI WACANA PAHLAWAN DEVISA, ANTARA ‘SANJUNGAN’ DAN ‘PENISTAAN’ DALAM FILM MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK

-->
 
-->
KONSTRUKSI WACANA PAHLAWAN DEVISA,
ANTARA ‘SANJUNGAN’ DAN ‘PENISTAAN’
DALAM FILM MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK

KAJIAN WACANA FEMINISME SARA MILLS 



 
1.1 Latar Belakang
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri, dalam artian dipekerjakan bukan karena prestasi akan penguasaan ilmu pengetahuan di suatu bidang, akan tetapi dipekerjakan karena ‘tenaga, okol, atau keterampilan mereka untuk menjadi buruh,’ entah menjadi buruh pabrik, muebel, PRT (pembantu rumah tangga). Bahkan TKI mendapat gelar kepahlawanan dari pemerintah, sebagai ‘Pahlawan Devisa’, karena setiap tahun mampu menghasilkan devisa puluhan triliun rupiah untuk Negara. Mampu menghasilkan uang hingga triliun-an rupiah tiap tahunnya karena banyak Negara-negara yang berkeinginan merekrut tenaga kerja dari Indonesia. Menurut surve suatu lembaga pengamat TKI, adapun Negara-negara yang merekrut Tenaga kerja Indonesia (TKI) diantaranya: negara Timur Tengah (Arab Saudi, Pakistan), Asia Timur (Jepang, Hongkong, Korsel dan Taiwan), Asia Tenggara (Malaysia, Brunai dan Singapura), bahkan ada pula dari beberapa Negara di benua Eropa dan Amerika. Dari beberapa Negara tersebut, lebih banyak merekrut tenaga wanita dari Indonesia (TKW) dibandingkan dengan laki-laki, dan kebanyakan TKW tersebut dipekerjakan sebagai PRT.
Kesulitan ekonomi keluarga menjadi alasan utama bagi mereka untuk berani mengadu nasib ke negeri orang. Selain itu, minimnya kesempatan kerja di dalam negeri juga dijadikan alasan. Melihat keberhasilan teman-teman yang sudah menjadi TKW terlebih dahulu dalam mengangkat derajat ekonomi keluarga juga menjadi salah satu motivasi kuat para TKW. Dengan banyaknya TKW yang bekerja di luar negeri, maka banyak juga devisa yang dihasilkan oleh mereka untuk Negara. Sebutan pahlawan devisa bagi mereka bukan basa-basi. Pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, kiriman uang dari TKI mencapai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16 triliun. Dari tahun ke tahun jumlahnya berlipat. Dan di tahun 2013, kiriman mereka diperkirakan mencapai US$ 7,1 miliar atau sekitar Rp 63 triliun.1 Walapun menghasilkan devisa yang banyak bagi negeri, namun TKW tetap saja mendapat perlakukan sebagai rakyat kelas dua oleh berbagai pihak. Mereka harus menghadapi perlakuan yang tidak baik dari calo-calo TKW, Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), bahkan perlakuan yang kurang baik juga didapatkan dari pramugari pesawat yang membawa mereka.
Dengan melihat kisah-kisah yang dialami para TKW Indonesia, maka tidak mengherankan bahwa ketika mendengar nama TKW, yang tercipta dalam benak seseorang adalah bahwa TKW selalu bernasib buruk dan mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari majikannya. Namun, cerita berbeda datang dari para TKW yang mengadu nasibnya di Negara Hongkong. Kehidupan TKW di Hongkong adalah seperti apa yang digambarkan dalam film Minggu Pagi di Victoria Park . karya Lola Amaria yang dirilis di bioskop nasional pada Juni 2010.3 Walaupun mereka hampir tidak pernah mengalami kasus kekerasan, namun bukan berarti TKW di Hongkong tidak mengalami masalah. Banyak dari mereka yang terjerumus ke dalam pergaulan yang salah sampai terjerat akan masalah hutang. Seperti yang dialami Sekar (Titi Sjuman) seorang TKW asal Jawa Timur dalam film Minggu Pagi di Victoria Park (selanjutnya disingkat dengan ‘MPVP’).
Dalam film, diceritakan Sekar terjebak hutang pada lembaga hutang bernama Super Credit. Ia dituntut untuk selalu membahagiakan orang tuanya. Dan karena Sekar tidak bisa membayar hutang dan bunganya, akibatnya passport Sekar ditahan sehingga ia tidak bisa bekerja secara legal. Sementara itu, Mayang (Lola Amaria) adalah seorang petani tebu yang pergi ke Hongkong untuk menjadi TKW atas suruhan sang Ayah. Ayah Mayang ingin ia mencari adiknya, Sekar, yang tidak pernah lagi memberi kabar pada keluarga. Sebenarnya, antara Mayang dan Sekar ada hubungan sibling rivalry alias permusuhan antar saudara. Dari permasalahan yang terjadi antara Mayang dan Sekar, penonton dapat mengetahui berbagai masalah lain yang dihadapi oleh para TKW di Hongkong.
Belum banyaknya film-film Indonesia yang bercerita tentang perjuangan dan kekuatan seorang wanita dalam memperjuangkan hidup di negeri orang. Film MPVP mencoba menarik perhatian penontonnya dengan menggunakan peluang kisah buruh migran sebagai TKW di Hongkong. Terdapat sebuah hegemoni dan dominasi media yang terus membunyikan adanya dominasi negara dan keluarga terhadap TKW. Relasi kekuasaan berperan dalam penciptaan ruang menjadi TKW yang dilakukan oleh negara. Keterlibatan peran negara terwujud dalam bentuk institusi dan kebijakan-kebijakan yang diciptakan guna melanggengkan wacana Pahlawan Devisa yang sekaligus merupakan bentuk komodifikasi dari wacana tersebut.
Berdasarkan pemaparan di atas, rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bahwa selama ini pertanyaan tentang mengapa wanita dianggap ‘marjinal’ di dalam bidang produksi dijawab dengan argumen bahwa mereka lebih dominan di dalam tontonan (spectacle). Marjinalisasi wanita di dalam bidang produksi dan dominasi mereka sebagai obyek ‘tontonan’ sering menjadi ideologi utama media-media, termasuk di Indonesia (Ibrahim dan Suranto, 1998:xiii). Selain permasalah tersebut, penelitian ini akan mengkaji makna yang terkandung dalam film sebagai salah satu media dalam upaya mengonstruksi wacana ‘Pahlawan Devisa’ dan peran pemerintah terhadap TKW di Hongkong yang terefleksi dalam film MPVP. Sedangkan tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui kehidupan TKW dan menjadi siapa para TKW Indonesia direpresentasikan dalam film MPVP. Sebab film sebagai media melalui ideologi yang dimilikinya tidaklah bersifat independen.


2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Wacana Feminisme Sara Mills: Perempuan Terkonstruksi Teks, Teks Merekonstruksi Perempuan
Adapun pendekatan teori yang digunakan untuk dijadikan perangkat analisis dalam penelitian ini adalah analisis wacana feminisme Sara Mills. Mills memusatkan perhatiannya pada wacana mengenai feminisme: bagaimana wanita ditampilkan dalam teks, baik dalam novel, film, gambar, foto, ataupun dalam berita. Titik perhatian dari perspektif wacana feminis adalah menunjukkan bagaimana teks bias dalam menampilkan wanita.4
Sara Mills menampilakan wanita dalam teks lebih melihat bagaimana posisi-posisi aktor ditampilkan dalam teks. Posisi-posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subjek pencerita dan siapa yang menjadi objek pencerita akan menentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan. Mills juga memusatkan perhatian pada bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks (Eriyanto, 2009:200).

2.1.2 Kerangka Analisis Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis Sara Mills: bagaimana aktor sosial dalam berita tersebut diposisikan dalam pemberitaan sapa pihak yang diposisikan sebagai penafsir dalam teks untuk mamaknai peristiwa dan apa akibatnya.5 Pendekatan yang ditawarkan Sara Mills tersebut didasarkan pada konsep yang dikemukakan oleh John Fiske tentang The Codes of Television, dimana konsep ini menyatakan bahwa peristiwa yang ingin di tayangkan telah dienkode oleh kode-kode sosial, yaitu Level Reality, Level Representation dan Level Ideology. Unit analisis yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah teks dalam film Minggu Pagi di Victoria Park. Teks di sini terorganisasi dalam kode-kode yang merepresentasikan bagaimana perempuan khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW) digambarkan dalam film MPVP.
1 Dikutip dari artikel, “Pahlawan Devisa Itu Terpuruk di Negeri Orang”. (http://berita.liputan6.com/sosbud/) diakses pada 14 Juni 2014.

2 Intan Paramaditha. 2008. “Perspektif Gender Dalam Kajian Film, dalam Jurnal Perempuan No. 61.” Yayasan Jurnal Perempuan.

3 Minggu Pagi di Victoria Park besutan Pic[k]lock Production. MPVP merupakan film drama Indonesia yang dirilis pada 10 Juni 2010 dengan disutradarai oleh Lola Amaria yang dibintangi antara lain oleh Lola Amaria dan Titi Sjuman. Adapun penghargan yang diperoleh: Titi Sjuman menang kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik versi Indonesian Movie Awards 2011. Sedangkan Ella Hamid mendaptkan penghargaan Pendatang Baru Wanita Terfavorit dan Fitri Bagus menang kategori Pendatang Baru Wanita Terbaik.

4 Sara Millis. “Diskursus Sebuah Piranti Analisis dalam Kajian Ilmu Sosial.” Jakarta: Penerbit Qalam. 2007.

5 Ibid, hlm. 74.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar