Senin, 07 Juli 2014

Sarapan Iwak Tongkol, buat Bu Bambang….

Sarapan Iwak Tongkol, buat Bu Bambang…. 


(Entah…tersematkan semenjak kapan dan dari silsilah siapa, atau mungkin itu perwujudan estimasi seseorang, sebab dari polahnya terkonstruksi selayaknya biduan, ‘Bu Bambang’.) 
Pagi gembrayang. Tolek mbedadal mendang gempar. 
Mondar-mandir nang embong Terban. Terkulai telanjang Iwak Tongkol di tangan kanan, tertelungkap rapat Iwak Tongkol di tangan kiri. 
Tiap sepotong Iwak Tongkol tersaji dalam rantang. 
Kanan, terkulai memerah binal, cabe merah membumbu balado dijelujuran. 
Kiri, tertelungkup rapat dalam balutan daun pisang bekas bakaran, merupa gosong. 

Tok-Tolek, melenggang dihadapan Bu Bambang, pastinya penuh sopan, selayaknya laki dirinai keperjakaan. Bu Bambang mengerjap tawaran Tolek. Ehh…jilialah, Bu Bambang bernafsu yang kanan. Cep-incep, seketika roman kewarasan Bu Bambang terbakar, gerah. Mendesah-desah, huh..hah..huh..hah, sambil jempalikan memindai posisi pakaian, baju terusan, (entah apa sebutannya). Dahi mengkerut, rambut yang biasa tergerai hitam melambai, awut-awutan, menggila, mata bulatnya membabi, dan kemudian mulailah mencak-mencak kepedasan sambil mengibas-ngibaskan baju terusannya. Ehh…jilialah, Bu Bambang tak sadar, baju terusannya tersingkap! Dan, entah rejeki nomplok atau suatu ujian kealiman. Dalam posisi demikian, Tolek dan Tomcuk seketika langsung metenteng. 

Tiuunggg…. “Mulus tenan kentol-le Bu Bambang!” “@##$%&@#$$%&#.......” Tolek membatin, “Matamu cuk…!!” aku yang ngasih Iwak Tongkol, ora jelalatan koyok ngunu. Disunat pok, Wak Kaji, kapok koen!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar