Minggu, 19 Desember 2010

POTRET DEWI SARTIKA DI DALAM PROSES KREATIF NOVEL DADAISME: TINJAUAN KRITIK SASTRA

POTRET DEWI SARTIKA DI DALAM PROSES KREATIF NOVEL DADAISME:
TINJAUAN KRITIK SASTRA


Oleh:

MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010

A.KAJIAN TEORI
1.Kritik Sastra: Psikologi Sastra, Karya dan Pengarang
Pengertian kritik sastra menurut Guntur Tarigan (Tarigan 1993 : 188) ialah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan atau penilaian yang adil terhadap karya sastra. Jadi secara sederhana, kritik sastra dapat diartikan sebagai penilaian terhadap mutu karya sastra berdasarkan kriteria dan pendekatan tertentu. Di dalam melakukan proses penilaian ini, pengritik setidaknya memiliki teori kajian dalam menelaah sebuah karya sastra. Pengritik bisa menilai sebuah karya sastra dapat dinilai dari bidang ilmu sastra, baik dari segi ilmu sosiologi sastra, psikologi sastra ataupun antropologi sastra.
Perihal mengenai definisi proses penilaian dan pengkajian terkait teori di atas, peniliti di sini akan melakukan penilaian terhadap karya sastra pada proses penilaian dari segi ilmu psikologi sastra. Baik dari psikologi karya dan juga psikologi pengarang. Peniliti melakukan penilaian karya sastra ini, mengambil novel Dadaisme sebagai obyek penilitian. Pengarang novel tersebut bernama Dewi Sartika. Novel Dadaisme ini adalah pemenang I sayembara novel 2003 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sehingga sangat begitu menarik jika peniliti melakukan kritik sastra dari segi psikologi sastra baik karya ataupun psikobudaya pengarangnya.
Kekayaan jiwa yang ada dalam isi karya yang diciptakan pengarang merupakan pengalaman berharga yang menempa pengarang agar lebih dewasa. Atas dasar ini, orisinalitas karya akan lebih terjaga. Hal ini seperti telah dikemukakan oleh Suwardi Endraswara (Metode penilitian Psikologi Sastra. 2008:96), faktor budaya, pribadi, dan moral yang mengitari jiwa akan menjadi landasan pengarang di dalam menuangkan ide ke dalam bentuk cerita, baik berpengaruh dari segi internal maupun eksternalnya. Kebanyakan pengarang dalam menggambarkan proses kreatif pada dirinya mengakui bahwa menulis dan mengarang membutuhkan iklim tertentu. Maka peneliti, juga perlu merunut budaya apa saja yang dapat mempengaruhi kreativitas sastrawan.
2.Sinopsis Novel Dadaisme
Novel Dadaisme karya Dewi Sartika menceritakan tokoh-tokoh yang unik, dengan benang merah perselingkuhan dan anak-anak yang lahir darinya. Tiap tokohnya mempunyai konflik yang sedemikian rumit, namun mereka mempunyai cara sendiri untuk menyelesaikan permasalahannya masing-masing, misalnya dengan mengakhiri hidup orang lain atau dengan bunuh diri. Kekacauan tokoh dan alur dalam novel ini pada hakikatnya merupakan gambaran manusia masa kini, yakni tentang orang-orang yang sibuk menghadapi berbagai masalah tanpa sempat mendalami masing-masing masalahnya.
Tokoh utama bernama Nedena, anak berumur 10 tahun yang dianggap gila akan sikapnya yang aneh untuk anak seusianya. Sejak lahir Nedena tidak mempunyai ayah sedangkan Ibunya telah meninggal dunia tetapi ia mempunyai bibi yang bertanggung jawab mengasuhnya.. Ia sangat pendiam dan tidak dapat berbicara, bukan karena dia bisu namun kegembiraannya seperti tertelan oleh waktu. Ia sangat membenci warna biru, bahkan ia tidak tahu kenapa. Ia beranggapan bahwa warna biru itu warna yang jelek, sehingga setiap kali ia menggambar langit, ia mewarnainya dengan beragam warna kecuali warna biru. Setiap ia merasa kesepian, akan datang seorang malaikat kecil bernama Michail yang mempunyai satu sayap hitam tidak seperti malaikat pada umumnya yang memiliki dua sayap putih.
Malaikat itu seperti gambaran imajinasi antara ada dan tiada yang selalu datang mememani orang yang sedang dalam kesedihan. Karena dianggap gila dan aneh oleh orang-orang termasuk bibi dan gurunya di sekolah, ia dibawa dan di rawat oleh seorang Psikater bernama Dr. Aleda. Mereka mengharapkan agar Nedena kembali normal. Kebetulan Dr. Aleda tertarik untuk menyelidiki sikap aneh Nedena tersebut. Selama Dirawat, Michail selalu menemani Nedena kemanapun. Suatu hari Nedena menjalani terapi hipnosa, ia ditanya-tanya tentang masa lalunya, tetapi ia tidak ingat. Bahkan ingatannya seperti pembekuan waktu. Ketika ia di minta untuk menggambar kesukaannya, ia menggambar anak kecil dengan satu sayap hitam menyerupai malaikat.
Selain Nedena, hal serupa juga dialami seorang anak bernama Flo yang beusia 14 tahun. Gambar kesukaannya pun menyerupai gambaran yang digambar Nedena. Ia juga bersikap aneh, namun sikap anehnya tidak menonjol sehingga ia seperti anak normal lainnya. Suatu malam, ia membantai keluarganya, mulai dari ayah, ibu, kakak, dan adiknya. Setelah ia membantai keluarganya ia mengundang beberapa teman kelasnya ke rumahnya dengan alasan ada sebuah pesta. Anehnya ia tidak menyadari bahwa ia telah membunuh keluarganya. Bahkan saat ditanya tentang keluarganya, ia menjawab bahwa keluarganya sedang dirumah dan masih hidup.
Misteri terpecahkan saat Dr. Aleda melakukan hipnosa kepada Nedena, mula-mula Nedena menyebut dan memanggil-manggil nama “Michail”. Dia mulai bicara walau dalam keadaan tidak sadar. Lambat laun ia teringat masa lalunya yang entah berberapa tahun yang lalu, tampaknya saat Nedena berusia 6 tahun. Tanpa sadar ia menceritakan kejadian-kejadian yang mengunci pita suaranya. Pada saat itu Nedena ingin memiliki mainan yang bewarna biru, namun ibunya malah memarahinya. Nedena ingin main api yang baru menyala yang bewarna biru, tapi api itu membesar dan Nedena lari keluar rumah karena Nedena takut dimarahi ibunya. Kemudian api itu membakar rumah Nedena sedangkan Ibunya masih tertidur didalam rumah. Nedena merasa ia yang telah membuat ibunya meninggal. Saat ia kembali ke alam sadarnya, ia seperti kebingungan dan menangis.
Lama-kelamaan Dr.Aleda menyukai anak manis ini, ia ingin mengadopsi Nedena. Terlebih dahulu ia meminta izin pada suami dan madunya, dan merekapun setuju. Aleda sangat senang, ia ingin segera memberi tahu dan menjemput Nedena. Saat ia dalam perjalanan kembali ke kantor psikaternya, sepintas ia melihat sosok yang hanya ada dalam bayangan dan gambar-gambar Nedena, Aleda tampak bingung dengan apa yang dilihatnya. Saat ia kembali ke kantornya, perasaannya sangat tidak enak. Saat ia sampai di ruangannya, ia menjerit pilu bertapa tragisnya melihat Nedena yang menggantungkan leher kecilnya dengan seutas tali di ruang praktiknya.

3.Biografi Dewi Sartika Pengarang Novel Dadaisme
Dewi Sartika adalah pemenang I sayembara novel pada tahun 2003 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), melalui karyanya yang berjudul Dadaisme. Saat itu namanya mulai dikenal masyarakat atas prestasi yang diraihnya. Walaupun darah minang di keluarganya sangat kental, ia lahir di kota Cilegon pada tanggal 27 bulan Desember tahun 1980.
Dewi Sartika sudah aktif menulis sejak ia duduk di bangku SD. Bisa dibilang ia pertama kali memulai niatnya untuk benar-benar serius terjun ke dunia tulis-menulis ketika usia SMA. Hal ini terbukti cerpen pertamanya yang bertema remaja di muat di majalah sekolah dengan judul Kakekku Arjuna,dan menjadi pilihan favorit redaksi majalah.
Riwayat pendidikan Dewi Sartika, yakni ia lulusan dari SMPN 10 Bandung (angkatan 1995), dan melanjutkan di SMUN 7 Bandung (angkatan 1996), hingga ia melanjutkan kuliah dengan memilih Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai program pendidikannya di Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI Bandung (angkan 2000). Hingga ia menghasilkan beberapa novel Dadaisme, Natsuka, My Silly Enggagement, Numeric Uno, Dunia-Duniya dan novel yang terbaru berjudul Ranah Sembilan. Selain Dadaisme, karya Dewi Sartika yang pernah mendapat penghargaan yaitu Natsuko sebagai buku remaja terbaik IKAPI 2005, dan satu cerpennya masuk dalam antologi cerpen terbaik majalah Republika. Perempuan yang memiliki hobi membaca, menulis, makan, mendengarkan musik dan ngisengin adiknya ini, memiliki cita-cita sebagai seorang sutradara terkenal. Hal ini dirintisnya sejak usia dini dengan menulis skenario di salah satu TV swasta yang bertajuk The Coffee Bean Show. Di sela kesibukkannya, ia meluangkan waktunya untuk menyapa para penggemarnya yang tergabung (dewi.sartika@yahoo.com) dalam milis. (www.sembilan-publishing.com).

B.PEMBAHASAN
Representasi Psikobudaya Dewi Sartika dalam Proses Kreatif Novel Dadaisme: Tinjauan Kritik Sastra
Psikologi telah menyentuh semua aspek kehidupan. Psikologi juga mampu mempengaruhi kehidupan manusia melalui hukum dan peraturan yang berlaku di masyarakat. Sebagian besar karya sastra lahir dari adaptasi kehidupan masyarakat, bahkan bisa dikatakan karya sastra sebagai sejarah perjalanan kehidupan manusia yang hakiki. Menurut Max Milner dalam buku Freud dan Interpretasi Sastra yang diterjemahkan oleh Apsanti dkk, dalam sastra kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui tentang diri kita sendiri. Seperti halnya dalam novel Dadaisme yang memunculkan pandangan dunia tragis. Pengalaman manusia postmodern yang kehilangan dan mencari pegangan. Di dalam mengatasi masalah yang muncul dalam kehidupan metropolis, wilayah perantauan.
Salah satu ciri aliran Dadaisme adalah menempatkan sesuatu yang sifatnya kebetulan sebagai bagian penting dalam proses berkarya. Teknik bercerita yang digunakan oleh Dewi Sartika dalam novel Dadaisme-pun demikian. Dewi menempatkan sifat kebetulan melalui relasi antartokohnya.
Dewi Sartika menawarkan solusi untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, mencari kembali poros kebudayaan. Dia menganggap budaya Minangkabau yang dilandasai prinsip kemenduaan dapat membangun harmoni, tetapi kemungkinan Dadaisme baru sebuah alternative. Belum ketahap menemukan cara, seperti rumah tampak jalan tak tahu karena pengembaraan yang begitu lama, begitu jauh. Sehingga peniliti di sini dapat menyimpulkan gejala-gejala yang dialami Dewi Sartika di dalam proses kreatif novel Dadaisme, sebagai berikut.

1.Cara Berpikir Pengarang Terhadap Karya dan Paham Modernisasi
Banyak penikmat sastra terpukau, setelah membaca novel Dadaisme. Baik dari penikmat kalangan masyarakat biasa, ataupun sastrawan dan para kritikus sastra. Mereka tidak segan-segan mengatakan, bahwa Dadaisme ini novel luar biasa dan membawa pembaruhan tersendiri dikhasanah dunia sastra Indonesia. Hal ini terungkap dari pendapat ketua dewan juri sayembara novel DKJ tahun 2003, Prof. Budi Darma, memberikan catatan khusus untuk Dadaisme. Menurut novelis dan kritikus sastra Indonesia itu, kekacauan tokoh dan peristiwa, perselingkuhan, anak-anak haram yang tidak normal, dan poligami dalam novel ini pada hakikatnya merupakan gambaran manusia masa kini. Juga masa ketika masing-masing orang sibuk menghadapi masalah tanpa sempat mendalaminya.
Pendapat Prof. Budi Darma atas gaya tulisan dan tema yang diambil penulis novel Dadaisme, menunjukan bahwa penulis novel Dadaisme ini memiliki cara berpikir yang cerdas sehingga menghasilkan suatu karya yang menggugah realita kehidupan jaman sekarang. Bisa dibilang cara berpikir pengarang modern, hal ini nampak pada paragraph pembuka di halaman pertama.

Sebut saja kota ini sebagai Metropolis dan ada banyak alasan kenapa tidak pernah bisa disebutkan namanya sebuah kota yang bila disamakan layaknya kota-kota di belahan bumi, di manapun berada. Penuh dengan gedung-gedung besar, jalan layang membelah langit, mulusnya aspal yang berkilat disiram cahaya matahari.Tidak lupa lampu-lampu berkelip-kelip atau lebih mudah mengejanya: neon berwarna. (Dadaisme; 1)

Kutipan di atas merupakan alinea yang mengawali cerita. Metropolis yang tidak perlu dirujuk pada suatu ruang nyata, referensi yang jelas. Bila dilihat dari kode budaya, metropolis mengindikasikan wilayah rantau, nama yang tidak perlu merujuk ke suatu wilayah konkrit, tempat segala kegamangan dan ketidakpastian, harapan dan sekaligus kebebasan dapat diperoleh. Berarti dapat disimpulkan tokoh Nedena berada di wilayah rantau, dalam pengertian harfiah maupun filosofis. Pada paragaraf selanjutnya, pengarang mencoba memberikan gambaran umum kota metropolitan tersebut. Tetapi pengarang cara ganbaranya tidak mampu dipahami pembaca secara jelas, pengarang terlalu abstrak mengmbarkannya.

Seperti apa gambaran kota metropolis? Seperti seorang pelukis melukis gambar Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, ataupun lainnya. Ada banyak mobil entah mengapa benda padat berbentuk aneh itu dinamakan mobil? Bangunan-bangunan yang persegi empat memanjang ke atas, seakan hendak menarik langit dari peraduannya yang angkuh. (Dadaisme;1)

Dari kutipan di atas pembaca dipaksa mengikuti gambaran cerita yang membingungkan. Gambaran kota-kota besar disebutkan, walaupun sebenarnya tujuan pengarang ingin menyampaikan gambaran kota metropolitan itu seperti apa.
Selain itu pengarang juga memberikan cara berpikir modern, pada cerita tokoh Nedena, Bibi. Pengarang dalam memberikan solusi pada tokoh Nedena yang dicurigai guru di sekolahnya menderita gangguan kejiwaan. Guru memberikan menyarankan kepada Nedena dan Bibiknya, bahwa Nedena seharusnya dibawa ke psikiater. Bukan menyarankan ke dukun atau orang pintar seperti yang dilakukan orang-orang desa. Hal tersebut menunjukkan daya pikir masyarakat sekarang di era globalisasi.

“Saya pikir, sebaiknya Nedena dibawa ke psikolog saja. Saya memiliki kenalan di kota. Dia seorang psikolog ahli, dia bisa menangani masalah-masalah seperti ini.” Tawar Guru tersebut pada bibi Nedena. (Dadaisme; 3)

2.Pengarang dan Kebudayaan
Dewi Sartika lahir di Cilegon, tetapi darah Minangnya sangat melekat dalam diri dan keluarganya. Hal ini berbeda dengan karya-karya yang dihasilkan pengarang-pengarang Minangkabau yang lain, yang lebih memiliki gambaran eksplisit tentang Minangkabau. Dadaisme mengangkat persoalan yang berbeda. Kemungkinan penyebab utama dari perbedaan ini adalah latar belakang Dewi Sartika.
Dewi Sartika selama hidupnya dilalui sebagai orang Minangkabau perantauan. Ia bisa bergaul dengan semua teman dari suku bangsa yang lain, tetapi akan selalu diingatkan bahwa dia orang Minang yang harus menjaga diri dan nama baik. Secara sosiologis dia dapat berada di mana saja, dan mampu beradaptasi dengan baik, tetapi mereka akan tetap mempertahankan ke Minangkabauannya secara ideologis. Terbukti di dalam isi novel ini ada beberapa percakapan antar tokoh yang disajikan pengarang dengan menggunakan bahasa Minangkabau. Pengarang memanfaatkan bahasa ibunya tersebut tidak sedikit, ada 25 kali antar tokoh menggunakan bahasa Minang di dalam percakapannya.

“Wow! Rancanabana pengantin uni. Warnonyo aneh, bakilau dan suntingnyo gadang!” puji Issabella ketika Etek Is datang membawa sejumlah peralatan pengantin yang jadi.
“Etek indak mangarti. Yusna tu tak mau menjadi pengantin.” Sungut Yusna.
“Yo, Etek mengerti. Tapi Issabella kan indok tahu opo-opo. Janganlah tumpahkan kemarahanmu padonyo.” Nasehat Etek Is. (Dadaisme; 41)

Di dalam cerita Dadaisme pengarang juga mengambarkan bagaimana persiapan orang Minangkabau sebelum menyelenggarakan prosesi pernikahan sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka.

Rumah Datuk Malinda tampak ramai oleh para tetangga yang merapikan rumahnya. Hari sabtu besok ijab Kabul akan dilakukan dan pesta meriah akan dilangsungkan. Tulisan MOHON DOA RESTU dan SELAMAT DATANG sudah ditempel di beberapa temapt di rumah tersebut. Etek Is bangga akan pekerjaannya mengubah sudut ruang tamu menjadi tempat singgasana sang pengantin nanti. Tinggal tugasnya mendandani pengantin hingga secantik putri. (Dadaisme; 42)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa kebudayaan merupakan sebagai keberpihakan pandangan pengarang terhadap sesuatu yang diidealkan dalam adat. Sehingga dunia rantau Dewi Sartika yang secara sosiologis berhubungan dengan pluralitas budaya dan pemikiran, dalam perkembangan peradaban yang mengglobal, di sisi lain berhadapan dengan ideologi Minangkabau yang dipandang sakral. Bagi pengarang sendiri perantauan menjadi batu ujian membentuk diri menjadi pembentukan manusia Minangkabau sejati.
Walaupun demikian, nilai otentik yang didasarkan pada nilai guna itu sesungguhnya masih tetap melekat dalam diri manusia. Perubahan nilai itu dalam novel secara eksplisit dapat digambarkan oleh perjodohan Yusna dan Rendi yang didasarkan adanya pertolongan finansial yang diberikan Sutan Bahari, ayah Rendi kepada keluarga Yusna. Sutan Bahari menginginkan anaknya yang terbiasa hidup di rantau dan tidak mengenal tradisi Minangkabau menikah dengan gadis sekampung, bukan gadis lain suku. Ayah Yusna tidak dapat menolak ketika Sutan Bahari memintanya untuk melamarkan Yusna kepada persukuan istrinya.

Sutan Bahri adalah seorang pengusaha Minang yang sukses di pulau Jawa. Usahanya bisa dihitung dari supermarket dan beberapa perhotelan yang tersebar di Jakarta, Bandung dan Bukit Tinggi. Sutan Bahri adalah orang yang etguh memegang adat. Keinginannya untuk menikahkan putranya dengan gadis Minang pun menjatuhkan pilihan pada Yusna, putrid seorang datuk yang terkemuka bersuku Koto. Uang jemputan sudah ditetapkan, dan pakaian pengantin sudah dipesan. (Dadaisme; 41)

3.Kebebasan dan Daya Citra Pengarang
Globalisasi ekonomi dan sistem informasi yang terbuka untuk diakses manusia paling primitif pun, memberi peluang terhadap terjadinya perubahan adat dan sistem sosial tradisional di Minangkabau. Menjamurnya sarana kesehatan modern, pusat-pusat perbelanjaan sebagaimana yang tumbuh di kota-kota memberikan perantauan baru bagi orang Minangkabau. Hal ini pengarang mencoba mengambarkan kebebasan globalisasi itu pada orang Minangkabau namapak pada cerita yang dialami anatar tokoh Yusna. Pergaulan bebas dan prostitusi sudah menjadi budaya baru, dan kehamilan Yusna dapat dilihat sebagai rembesan peradaban baru yang sudah menjalar mencapai dunia tradisionalis atau dapat dikatakan sebaliknya, dunia tradisional telah dihisap masuk ke dalam budaya global.
Alasan Sutan Bahari menjodohkan anaknya Rendi dengan gadis sekampung dengan menggunakan kekuasaan uangnya, yang jelas-jelas di situ bahwa Sutan Bahri adalah orang yang sangat disegani di Minangkabau dan memegang adat istiadat nenek moyang yang sangat kuat ditentang oleh pengarang. Dalam cerita terbukti, Sutan Bahari berpikir melihat nilai ideal dalam relasi antar orang sekampung di tengah sistem nilai yang berubah. Hal ini nampak saat prosesi pernikahan akan berlangsung, Yusna calon pengantin perempuan melarikan diri. Sehingga keluarga Yusna dan keluarga Rendi binggug akan ketiadaan pengantin perempuan. Tetapi adanya Issabella prosesi pernikahan tetap berlangsung, karena ia dengan terpaksa menyanggupi untuk menikah dengan Rendi. Adanya jalan keluar tersebut, Sutan Bahri menyanggupi tanpa pertimbangan yang matang dan tidak mempertahankan hal jodoh yang seperti diperhitungkan sebelumnya.

“Kau tahu, Nak. Mula-mula papa berharap kau menikah dengan Yusna. Tapi ketika papa melihat Isabella, dia tampak pantas untukmu. Kau tahu Nak, dia gadis yang kuat dan bias memberimu anak, berapa pun yang kau inginkan. Papa tidak sabar ingin menimang cucu…” suara Sutan Bahari terdengar gembira. Tawa riang anak-anak kecil yang berlari-lari dengan kaki rapuhnya, memeluknya. Pipi bayi yang montok, ranum dengan tawa yang mengemaskan. Nafas kehidupan baru di dalam keluarganya. Dutan Bahari merindukan itu semua. (Dadaisme; 64)

4.Konsep Kreatif Pengarang dan Kombinasi Pikir yang Berbeda
Konsep kreatif pengarang nampak dari keseluruhan episode cerita. Pengarang membawa pembaca akan ketidak jelasan atau keruwetan alur di dalam setiap bagian episode di dalam ruang cerita yang sempit. Pembaca harus setia dan sabar membuntuti ke mana jalan cerita: dari Nedena ke Yossy, dari Kota Metropolis ke kampung (tidak disebut), ke kota lagi, ke Padang, ke Bandung, ke Jo dan Bim, ke Aleda, ke Magnos, demikian seterusnya sampai berakhir di ruang tempat Nedena gantung diri. Bisa saja semua tujuan kombinasi pengarang, yang menggambarkan keruwetan jaman modern di masa sekarang dan yang akan datang.
Proses kreatif yang ditampilkan Dewi Sartika dalam Dadaisme, bisa dibilang melampaui dari hal kewajaran seperti apa yang ditampilkan oleh pengarang lain. Seperti halnya gangguan kejiwaan yang dialami tokoh Nedena. Warna langit secara umum selalu digambarakan berwarna biru sesuai dengan warna kenyataanaya. Tetapi ketidak kewajaran dialami oleh tokoh Nedena. Ia tidak pernah memberi warna langit dengan warna biru, melainkan warna merah muda, kuning, ataupun ungu.
Lukisan di dinding rumah yang berlatar langit dan pemandangan desa selalu menggambarkan langit dengan warna biru. Tapi tidak selalu dengan lukisan anak itu. Dia tidak menggambarkan langit seperti warna angkuh itu.Dia menggambarkan langit dengan waran merah muda dan matahari berwarna oranye seperti jeruk. (Dadaisme; 6)
Langit adalah tempatnya, dia boleh menuangkan warna apa saja yang diinginkannya. entah itu merah muda. Bahkan dia pernah mewarnai langit dengan warna kuning dan matahari berwarna hitam. (Dadaisme; 6)

Selain keanehan atau gangguan kejiwaan yang dialami tokoh Nedena, pengarang juga memberikan ketidakwajaran pada sosok malaikat yang seperti kebanyakan diyakini manusia di bumi. Secara harfiah malaikat adalah makhluk yang sempurna yang diciptakan Tuhan. Oleh karena itu, bentuk dan keadaan malaikat pastilah sempurna. Tetapi itu semua berbeda dengan gambaran malaikat yang ditawarkan Dewi Sartika. Ia mencoba menggambarkan sosok malaikat pada tokoh Michail.

“Kaulihat kan, Nedena. Sayapku Cuma satu. Aku tidak bisa terbang menggapai langit ketujuh. Malaikat-malaikat lainnya bersayap dua dan berwarna putih, sedangkan sayapku berwarna hitam. Aku tidak pernah bisa menyampaikan pertanyaanmu itu ke langit.” Jawab Michail kepada Nedena. (Dadaisme; 10)

Tidak hanya itu saja, cara berpikir Dewi Sartika terhadap kombinasi pikir dengan keilmuan juga jauh berbeda. Hal ini nampak dalam tokoh novel Dadaisme, di dalam mengartikan surga dan neraka itu seperti apa.
Gamabaran Surga:
“Michail…. Surga itu langitnya berwarna apa? Apa berwarna biru?” tanya Nedena kepada Michail.
“Tidak. Langit surga berwarna perak. Terkadang berubah warna menjadi emas.” (Dadaisme; 5)

Gambaran Neraka:
Tokoh Nedena menggambarkan neraka itu dengan tidak sesuatu hal buruk, panas api, dan banyak siksaan yang menyakitkan, melainkan sebaliknya.
Tapi, aku juga tidak pernah mengaggap neraka itu buruk! Memang semua orang bilang, neraka itu tempat yang menyakitkan. Tapi, tidak ada bukti bahwa neraka itu panas dan menyakitkan. (Dadaisme; 262)

C.KESIMPULAN
Dewi Sartika bisa dibilang, memang baru hadir di dunia kesusastraan Indonesia. Ia anak muda yang memiliki kemauan tinggi, bercita-cita menjadi seorang sutradara professional. Walaupun kemampuannya dibidang perfileman belum seberapa, tetapi ia memiliki kelebihan di bidang tulis menulis. Sehingga memungkinkan psikobudaya Dewi Sartika sangat menarik untuk diteliti, mulai dari kondisi kehidupan pengarang, aspek budaya pengarang, cara berpikir dan proses kreatif pengarang terhadap novel Dadaisme. Selain itu Dadaisme sendiri merupakan novel yang patut dikaji para peniliti sastra, baik memberikan penilaian ataupun menganalisis karya berdasarakan nilai intrinsic dan ekstrinsik yang ada di dalam karya.
Secara tinjauan kritik sastra, peniliti dapat menemukan keunggulan dan kekurangan yang ada di dalam novel Dadaisme ataupun keunikan dan kekreativitasan pengarang di dalam proses berkarya. Hal ini dapat dilihat dari tema novel Dadaisme yang memunculkan pandangan dunia tragis yang ada di dalam masyarakat. Pengalaman manusia postmodern yang kehilangan dan mencari pegangan. Dalam mengatasi masalah yang muncul dalam kehidupan metropolis, wilayah perantauan. Dewi Sartika menawarkan solusi untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, mencari kembali poros kebudayaan. Dia menganggap budaya Minangkabau yang dilandasai prinsip kemenduaan dapat membangun harmoni, tetapi kemungkinan Dadaisme baru sebuah alternative.


D.DAFTAR RUJUKAN

Antara Dunia Kebingungan dan Pencarian Pegangan. Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika. www.cermin-sastra.blogspot.com. (Di akses tanggal 4 November 2010).
Biografi Singkat Dewi Sartika. www.sembilan-publishing.com. (Di akses tanggal 4 November 2010).
Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: MedPress (Aggota IKAPI).
Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: MedPress (Aggota IKAPI).
Sartika, Dewi. 2004. Dadaisme. Yogyakarta: Matahari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share Article