Minggu, 08 April 2012

CERPEN: JALAN IMPIAN SANG MARABUNTA




JALAN IMPIAN SANG MARABUNTA
Oleh Midun Aliassyah




Pic. Jabar El


Bilamana impian adalah matahari? Kapan ia akan terbit menghampiri dan menyudahi keluh, kesah dan penderitaan tiada akhirnya ini. Harusnya ia sebongkah pijar mengiringi jalan hidup. Cerah cahyanya sebinar mata menggantung harap. Tapi semua ini tak ada, tak nyala! Hanya takdir bisu penuh kilu yang melumat tiada kasih dan haru, menyebabkan aku tetap tak beranjak. Sial.
”Titititit…tititit!!!” Jam beker karatan berbunyi tersendat-sendat di balik bantal kusam nan bau kecut. Bersarung angsa yang tak lagi ceria, satu betina dan tiga anak berenang tanpa busana, di air tak berwarna. Bantal kusam yang tak lagi jelas identitasnya! Ya, karena sarung bantal itu sudah tak layak untuk menjadi landasan kepala, luntur dari kewajaran. Tapi di balik kekusamannya, tersimpan berjuta-juta impian. Impian yang selalu menjadi angan, tak kunjung tiba menghampiri sang pemimpi. Hanya bisa menjadi sandaran tidur, tapi wujudnya mampu menjadi cahya terang dalam imajinasi pikiran.
Sumringah, udara pagi ini yang masih basah oleh bulu-bulu embun. Sang surya malu-malu menampakkan dirinya menyambut hangatnya kehidupan. Tapi tak mampu menutupi auranya dibalik awan yang menjadi temeng persembunyian di kala malam. Kilau cahya violate menerawang cakrawala Pertiwi, yang begitu kaya akan sumber alam dan nabati. Hingga membuat orang lain tertarik akan keelokan yang dimiliki, dan mengakibatkan buta atas apa yang harus dimiliki pribadi sendiri. Padahal hanya untuk sekedar memiliki dan menikmati! Memiliki kemakmuran dan kelayakan hidup bagi makhluk bernyawa yang bersarang di dalamnya. Jelas-jelas mereka ditakdirkan memiliki kelebihan dari pada makhluk lain. Ia diberi akal, tetapi ia hanya bisa pintar dalam melipat gandakan jumlah keturunan, dengan semboyan “banyak anak, banyak rejeki!” Bussettt…tapi kenyataannya sekarang sudah gak berlaku cak! Sekarang itu bukan jaman dokar lagi, tapi sudah jamannya Busway!! Terus, mereka tak mampu menyuapinya. Membuat Ia selalu menangis merintih dan kecewa. Karena ia merasa diacuhkan oleh menungso yang hidup serba dengan ketololan, berkembang biak di dalam kelaknatan, dan tak merasa punya dosa atas apa yang dilakukan. Sungguh-sungguh biadab kau?  Menungso,” lebih pantas menyebutnya.
Habis manis sepah di buang. Seperti inilah kondisi negeriku. Negeri impianku. Ditinggal begitu saja oleh orang yang tak bertanggung jawab. Tiga setengah abad sudah, Negeri impianku dirampas mahkotanya. Hilang dari kejayaan, tak lagi perawan, ternoda dari kelicikan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ia dibodohkan dari pengetahuan. Otak ditumpulkan, dimelaratkan! Cecungok-cecungok jadi budak. Budak yang tak terbayar jauh dari kebebasan. Menyebabkan Negeri impianku lemah tak berdaya, tak lagi berharap menggapai cita. Terpendam selama-lamanya di dalam angan dan asa.
Ya, beginilah.... sungguh malang Negeri impianku. Cecungok-cecungoknya  malas akan kemakmuran. Lumpuh memperdayakan sumber pangan. Buta akan kekayaan. ”Ya, beginilah... malang nasibku, seperti malangnya Negeri impianku.” 
***

Hidup.
Apa makna itu sebenarnya? Sebuah anugerah yang tak terhinggakah? Ataukah sebuah kutukan takdir hidup, tak berarah, tak bertujuan yang menakdirkan aku seperti ini! Hidup yang hilang dari kebahagiaan, bermelodi penderitaan dan  kegelisahan.
Waktu bergulir. Pagi menuju siang, siang menuju malam, dan menjadi hari. Dan seperti keadaanku sekarang ini, tak menentu! Kosong. Tiap hari kutelusuri Ibu kota dan melangkahi trotoar jalan. Aku masuki ruko-ruko yang bersegel di kacanya ”DIBUTUHKAN KARYAWAN!!” Aku terawang koran-koran, hingga ludes bagian kolom lowongan kerja. Tapi percuma, tak ada hasil yang seperti kuharapkan! Maklumlah, aku cuma berijazah lulusan SMP. Padahal dipersyaratan tak dibutuhkan, dan Orang-orang atasan juga sudah mewajibkan belajar 12 tahun. Tapi hanya saja bagi anak-anak terpelajar. Sedangkan aku sendiri, bukan anak terpelajar!  Kurang ajar?  Iya.
Memang benar, aku adalah orang yang terlaknat. Terlaknat dari orang-orang cendikiawan yang secara pendidikan terpenuhi. Bisa makan tiga kali sehari. Ada orang tua yang selalu mengasihi. Meninabobokkan setiap hari. Di didik mulai usia kecil hingga besar, dan mengenalkan Tuhan. Serta mendewasakan, hingga memiliki cita-cita dan mimpi. ”Cita-cita dan mimpi?” Uppsss….!!!
Namun semua itu berbeda! Semua itu tak terjadi di dalam peta jalan hidupku. Hidup sebatang kara, tak ada orang tua mengasihi dan menyayangi. Semenjak musibah beruntun yang terjadi di bandara udara Yogyakarta, hingga melenyapkan semua keluargaku. Sungguh tragis, dan waktu itu pula rasanya aku ingin mati saja bersama mereka.
Akhirnya semenjak usia 14 tahun hingga aku sekarang ini, aku hidup sebagai marabunta. Hidup di jalanan adalah hidupku. Tidak mengenal Tuhan adalah idealismeku. Nyawa adalah tekadku. Tetapi walaupun begitu, aku adalah orang yang mempunyai impian. Impian yang hanya orang tertentu saja yang berani memimpikannya. Dan akulah salah satu orang tertentu saja itu!
***

Hai bocah, mau jadi apa kau nantinya?” tegur Cak To ketika masuk kontrakan reotku yang tak terkunci pintunya.
”Tiap hari kerjaannya tiduran saja!”
”Belum waktunya dapat kerjaan Cak!!” jawabku sekenanya.
”Waktunya kapan? Bukannya kamu kemarin ke Kota ngelamar kerjaan?”
”Hasilnya nihil!” dengan santai aku menyalakan rokok kretek di depan Cak To. Kemudian seantero kamarku dipenuhi asap mbako lenteng cap murahan.
”Terus, inikah contoh pemuda yang mempunyai mimpi seperti yang kau katakan kemarin?” marah Cak To. “Pekerjaannya hanya tidur, menganggur setiap hari.”
”Dasar pemuda gelandangan, tak punya kerjaan. Terlaknat!!”
”Brukkkk!!!” Dibantingnya pintu reot kontrakanku. Lalu Cak To keluar dengan mebawa sejuta amarah.
Memang salahku, aku jadi gelandangan? Tak seharusnya kau memarahi dan memakiku. Seharusnya Orang yang tak bertanggung jawablah, yang pantas kau umpati. Gelandangan tak tau diri. Masuk negeriku tanpa permisi. Merampas harta yang kami miliki. Perempuan kami kau gagahi, laki-laki kau budaki. Kau bodohi negeri kami, tak lagi kami punya mimpi. Gelandangan kau suburi, hingga subur saat ini. Terlaknat! Kau sungguh penghianat! Umpatku dalam hati sepeninggal Cak To keluar dari kontrakan.
Pikiranku melayang-layang dalam angan. Terbang bebas dalam imajinasi pikiran, menyelumut ke sel-sel yang tak terdeteksi akal hingga jatuh pada satu pilihan. Walaupun pilihan ini kemungkinan besar hanya mampu menjadi semu dan kabur semata dalam dunia fana. Yaa, bahwa aku harus mampu membangun Negeri mimpi yang selalu aku impikan!
Aku ingin bermimpi. Aku ingin seperti burung, terbang bebas mengitari Negeri mimpi. Menyadarkan cecungok-cecungok yang tak tau diri. Aku ingin Negeri mimpiku seperti pelangi tempatnya para bidadari, selalu berwarna-warni memancarkan kemilau cahya keceriaan dan kedamaian. Aku ingin Negeri mimpiku kuat, kokoh berpondasi melambungkan cita-cita dan mimpi tinggi.
***

”Maaf mas, di sini hanya membutuhkan karyawan yang minimal berijazah SMA, dan tentunya memiliki pengalaman dalam hal bekerja.
”Oh ya?” jawabku sinis. ”Tidak berartikah ijazah menengah pertama?”
Telunjukku menunjuk pada dua angka yang ada di selebaran kertas kusam. Dan dua angka itu kelihatan berbobot dari pada angka-angka yang lainnya.”Lihat mbak, aku memiliki nilai sembilan di mata pelajaran ilmu sosial dan PPKN!aku melantangkan suara ketika menyebut angka sembilan untuk dua mata pelajaran itu.
”Tapi  Mas…,” sanggah pelayan. Terlihat wajah menor sang pelayan, yang tebal oleh balutan kosmetik, namun semenjak suaraku membentak aura kecantikan itu tak nampak lagi. Alias takut dengan kelantangan suaraku.
”Apa ini kurang cukup untuk membuktikan, kalau aku ini berpendidikan dan berpengalaman?”
”Sretttt!!!” kutarik kembali ijazah yang ada di atas meja kaca.
”Masya Allah,” sebut pelayan. ”Orang ini apa gak punya kesabaran ya? Amit-amit dehh…”
Dengan perasaan ngilu dan kecewa, keluarlah aku dari toko busana itu.
”Dasar perempuan sekarang, cantik-cantik cerewet!” umpatku kesal.
”Mentang-mentang punya ijazah tinggi, semena-mena saja membuat persyaratan demi kualitas pelayan. Apalagi atas dasar untuk masa depan lah! Memang kurangajar itu orang. Bisanya cuma semena-mena saja sama orang sepertiku. Cuiihhh….” aku meludah di atas kekesalan. Tak sadar air liurku jatuh tepat di atas kertas berwarna hijau muda. Sekilas terlihat kertas itu terpampang gambar mobil, sepedah motor, TV dan uang yang berhamburan di sudut kanan atas. Tepatnya kertas yang aku ludahi itu adalah sebuah brosur undian berhadiah. Tapi sayangnya aku tidak melihat kemewahan itu, walaupun selirikkan.
Aku berlalu sambil jalan, tanpa menoleh fenomena riuh yang terjadi di sisi kanan ataupun sisi kiri. Padahal takdir alam yang terjadi di siang panas kota Pahlawan sungguh menarik perhatian, untuk disimak dan dilihat dalam kaca mata pengamat. Akupun masih kesal atas kejadian di toko busana tadi.
”Terus nantinya menjadi alasan sebagai tuntutan perkembangan dan kemajuan jaman, bertujuan demi masa depan anak bangsa lah… Dan pastinya mereka akan mendiskriminasi orang-orang bawahan yang tak berpendidikan tinggi sepertiku! dalam batinku. Pasti ini pengaruh kebijakan Orang atasan, yang semena-mena saja mewajibkan belajar 12 tahun. Padahal mereka menetapkan kebijakan itu tanpa menyadari keadaan sekitar! Beginilah sikap Orang-orang atasan, yang tak sudi melihat orang bawahan. Jika posisinya sudah di atas, yang bawah ditekan! Dampaknya ya, seperti aku ini. He..he..he..!!
Sampailah aku di kontrakkan. Sebetulnya kontrakkan yang aku tempati, tak layak disebut kontrakkan dan disewakan. Karena dilihat dari posisi bangunan berdiri dan lingkungannya, berada tepat di kolong jembatan layang. Bangunannya, beratap seng teyeng bekas buangan. Berdinding kardus mie rayapan. Berlantai tanah uraian sampah. Lebih pantas menyebutnya rumah tikus.
Udara panas, pengap, bau busuk sampah: itulah bau yang aku hirup sehari-hari. Jika berada di dalam ruang, terdengar suara bising kendaraan yang seolah-olah melintas di atas atap kontrakkan. Ya beginilah keadaanku, sudah takdir suratan.
Siang ini hatiku benar-benar merasa tak tenang. Rebahan saja tak enak aku lakukan. Mau menyeduh kopi, tapi tak ada yang mau diseduh. Mau ngutang di warung Mbk Lastri, itu tak enak. Jika hal ngutang aku lakukan nantinya hanya akan membuat uring-uringan Mbk Lastri. Jelas saja utangku kepadanya, sudah berpuluh-puluh bilangan angkanya. Lalu aku berpikir sejenak, dalam posisi tubuh aku sandarkan pada tiang penyangga atap. Aku berpikir, sambil berandai-andai saja aku.…??? Sedetik, dua detik, semenit…. Tak dinyana, tak ada angin, tak ada awan mendung terlihat di langit pertanda akan datangnya hujan. Tiba-tiba saja di kala sedang nyantai-nyantainya, terdengar suara teriakkan keras dari luar kontrakkan.
”Mas Gerhanapp... keluar sekarang! Aku mau ngomong penting sama Mas!” terdengar teriakkan keras Narti dari depan pintu kontrakkan. Dari dalam kontrakkan aku pun menyahut.
”Ya Dek, sayangku, cintaku.aku melangkah gontai menuju pintu. ”Kreekkk!!!”
”Sayang, saying, ngaca dulu siapa Mas?”
”Gitu aja marah. Kalau marah kelihatan tuanya lo...!!”
”Ada apa sa-yang…. Eh, maksudku Dek Narti. Siang panas gini teriak-teriak manggilin Mas. Minta dikawinin ya??” aku menemui Narti dengan wajah dan rambut awut-awutan.
”Heh, ngawur!!!” bentak Narti. ”Ini masalah serius Mas.”
”Gini Mas…” jelas Narti. ”Aku ke sini disuruh Bapak untuk menagih uang kontrakan yang belum Mas bayar. Tiga bulan Mas!” Narti menodongkan tiga jemarinya di depan dadaku.
Waduhh...tiga bulan! Segitu banyaknya. Pakai apa aku membayarnya! Sekarang gopekpun tak ada di kantongku. Cari kerjaan, tak ada yang mau menerimaku. Ahh...beginilah nasib gelandangan sejati. Selalu susah, gelisah, karena uang dan diuber-uber hutang.
Aku  beranikan diri untuk berbicara jujur ke Narti. Sesuai dengan keadaan apa yang aku alami sekarang.
”Maaf Dek, bukannya mas tidak mau melunasi pembayaran sekarang. Tapi kondisi keuanganku sekarang tidak mendukung. Alias, tidak punya uang sama sekali. Sumpah Dek!!!” keluhku sambil menaruh muka melas di hadapan Narti.
Kemudian aku lihat raut wajah Narti memerah, setelah mendengar penjelasanku.
 ”Alasan saja kau ini Mas. Tiap akhir bulan, hanya janji kosong yang kau bayarkan. Bulan pertama, Mas tak membayar karena belum dapat kerjaan. Bulan kedua, dengan alasan yang sama. Bulan ketiga, sekarang!” memuncaknya amarah Narti. ”Mas tidak bisa membayar, karena beralasan belum dapat kerjaan. Iyakan??!!”
Aku hanya bisa diam mendengarkan marahan Narti.
”Mana janji Mas ke Narti? Kalau Mas akan cari kerjaan mapan. Cari uang sebanyak-banyaknya, untuk membelikan cincin berlian untuk Narti. Mana janji ngelamar Narti? Mana rasa cinta Mas?! Buktikan Mas, buktikan ke Narti dan juga Bapak jika mas itu mampu!” dalam keadaan marah Narti tiba-tiba menangis sesenggukan. Meneteskan air mata kekecewaan. 
”Aku benci Mas Gerhana. Benci, benci!!!” dipukul-pukulinya dadaku dengan kedua tangan Narti.
Lalu Narti meninggalkanku dengan keterpanaan. Keterpanaan yang ia tinggal karena kekecewaannya atas kelakuanku. Kelakuan yang selama ini Narti harapkan sebagai cinta sejatinya. Tapi, cinta itu hanya omong-kosong, tak berisi dan tak pula terjadi. Ternyata saat itu pula sungguh memudar begitu cepat rasa cinta tulus Narti kepadaku. Pupus harapan dan tak lagi bisa ditegakkan. Begitu dalamnya cinta Narti, dan begitu pula kekecewaannya. Begitu dalam dan dalam, tak dapat terbayangkan. Membuat Narti berjanji pada dirinya, ia takkan memaafkan kesalahanku. Tidak akan memaafkan. Tidak akan memaafkan dan meninggalkan cintanya untukku selama-lamanya.
***

Keesokkan harinya aku mendatangi rumah Narti, anak pemilik kontrakan yang aku tinggali. Tepatnya ke rumah Cak To. Aku ingin meminta maaf atas kelakuan yang aku perbuat kemarin.
Malu-malu aku mendekati Cak To. Yang sedari tadi enak-enakan ngopi di emperan rumah. Tak daya mulut ingin bertanya, kira-kira kekasih Narti sedang di mana, dan bagaimana gerangan? Sebelum kalimat tanya itu terlontar. Tak terduga dalam benakku sebelumnya. Bahwa Cak To sudah mampu menduga maksud dan tujuan kedatanganku.
”Narti,  aku jodohkan!!!”
Gubrakk… Apa? Tidak salah dengarkah daku? Narti mau dijodohkan. Dengan siapa? Tidak denganku kah!! Siapa yang merebut hati kekasihku, Narti. Siapa dia, Siapa? Apakah dia pemuda mapan daripada aku? Tampan, kaya, punya kerjaan, banyak uang! Dan apakah dia sanggup membelikan cincin berlian, seperti apa yang aku janjikan kepada Narti?
”Kenapa Cak? Kenapa anak Cak tidak dinikahkan saja denganku?”
”Narti anakku, anak kandungku! Terserah aku, mau aku jodohkan dengan siapa? Yang penting tidak aku jodohkan dengan pemuda gelandangan, tak punya pekerjaan sepertimu!!” jawab ketus Cak To.
Sesudah aku mendengarkan penjelasan Cak To, aku meninggalkan halaman rumah Narti dengan perasaan kecewa tanpa daya. Hancur hati. Gagal sudah cinta dan impianku, untuk hidup abadi berdampingan bersama Narti di Negeri impian.
Sementara, pada jeda yang aku buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda berpijar, dan ketika sebuah lagu sedu menyeret kembali ke masa laluku bersama Narti. Aku menjadi teringat.
Tergambar wajah sang kekasih, malu-malu berada dalam pelukan. Hingga kesunyian udara malam bergerak mendesaukan suara manja sang kekasih. Bulan seolah-olah mampu melengkungkan senyum manisnya. Dan gambaran itu, hanya terjawab oleh sketsa fenomena malam.
***

Aku tak tau dengan hidupku. Hancur sudah hidup dan harapan. Begitu hancurnya, menjadi abu yang tak mungkin disatukan kembali.
Namun, upppssss..... Insting ku menjalar. Memutar memori, dari nol derajat ke batas normal Sembilan puluh derajat. Ada sesuatu, yang membuat ku tak sanggup melupakan dan memendamnya begitu saja. Dan juga pula ada satu  hal yang tidak bisa hancur  begitu saja! Tidak bisa hancur, karena alasan di tinggalkan cinta Narti. Tak bisa! Tidak bisa hancur dalam hidupku! Yaitu, Negeri impianku.
”Akan aku wujudkan negeri impian!” Obsesiku dalam bayang akal. Aku bangun istana megah di dalamnya. Akan aku sunting bidadari pelangi untuk permaisuri. Mengolah hasil bumiku:  melimpah ruah rempah-rempah. Kemudian akan aku angkat harkat martabat kaum penggelandang sepertiku. Dan aku bebaskan dari orang-orang yang tak bertanggung jawab. Aku jabat gelandangan menjadi menteri-menteri. Merdekalah para budak. Tegak berdiri kokoh dan berwibawa, di mata negara lain.
Sungguh ini impianku. Aku berjanji ingin memulai lagi dari lembaran baru dalam hidupku. Saatnya bangkit, berdiri, beranjak, berlari mengejar ketertinggalan waktu yang telah terbuang. Dan akhirnya….
”Oh, begitu bangga aku menjadi Orang nomor satu. Bangga atas impianku!!” Banggaku atas Negeri impian. Negeri impian yang hanya menjadi semu, dan tak ber-alur begitu saja dalam diri.
***
*Cerpen ini pernah dimuat di harian Radar Jember (Minggu, 13 Juni 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar